Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
TERLUPAKAN


__ADS_3

 


 


Tatu mengajakku ke sebuah ruangan dengan berbagai belalai dan selang-selang serta tangan-tangan mekanis yang menjulur. Di ruangan tersebut terdapat kursi berwana putih cemerlang yang ditempatkan tepat di tengah ruangan. Kursi itu Satu-satunya barang yang terlihat masih bagus di antara barang-barang lainnya. Di samping kursi tersebut terdapat panel dengan beberapa tombol dan hologram. Sejujurnya tempat ini malah mengingatkanku pada ruang sekap di Kota Parit. Hari dimana aku ditangkap oleh Zenzen.


“Nah, Lian, bisakah kau duduk di kursi itu.” Pinta Tatu padaku.


Aku mengangguk. Tatu melangkah menuju panel dengan berbagai tombol di samping kursi dan mulai mengotak –ngatik benda itu. Dalam sekejap, seluruh ruangan dipenuhi pendar biru yang indah. Selang-selangnya bercahaya dan beberapa alat berdesing pelan. Sebuah hologram lebar seukuran layar bioskop terpampang di hadapanku.


“Ini akan sedikit sakit, tapi bisakah kau menahannya?” Tatu mencoba meyakinkanku.


Aku mengangguk. Demi mengetahui masa laluku, aku rela melakukan apapun.


Tatu menekan sebuah tombol, sebuah tangan mekanik mendekat ke arah belakang leherku. Tangan itu berdesing pelan dan mengeluarkan benda seukuran jarum suntik dan mulai menancapkannya ke leherku. Aku menutup mataku. Setidaknya jarum ini tidak sesakit jarum di ruang sekap. Aku bisa merasakan jarum itu terhenti. Seketika, cahaya biru merambat di sekitar leherku. Hologram di hadapanku menampilkan sesuatu. Sesuatu yang selalu ingin aku ketahui sejak lama. Sesuatu yang akan menjawab semua pertanyaan besar di dalam hidupku.


Semua yang terjadi delapan tahun lalu,  akan terjawab dalam proyeksi tersebut.


 


 


***


 


 


“Ibu sedang apa? Kenapa ruangan ini banyak benda-benda aneh yang berserakan?” Aku bertanya polos sembari memegangi sebuah benda.


Wajah ibu terlihat kusut, rambutnya tergerai berantakan. Terdapat kantung mata yang terlihat jelas. Aku yakin ibu tidak tidur selama berhari-hari. Dia menggunakan masker berwarna kuning transparan yang tersambung dengan tabung.


“Batrice, sebaiknya kau beristirahat. Sudah berapa hari kau tidak tidur?” Ujar seseorang yang merupakan ayahku.


“Lian, bisakah kau menggunakan maskermu? Setidaknya sampai proyek pembuatan pesawat luar angkasa telah usai.” Ibu tersenyum lembut.


Aku menggeleng tegas. “Benda itu terlalu berat untuk aku bawa.”


Ibu mendekat ke arahku, aku bisa menyaksikan betapa lelahnya Ibu. Dia memegang pelan bahuku.


“Kau ini memang aneh. Semua orang terlalu mengkhawatirkan diri mereka sakit karena udara kotor ini tapi kau malah tidak memakai masker. Apa alasanmu tidak mau memakainya?” Ibu mengusap pelan rambutku.


Aku menghela nafas pelan. “Tentu saja karena tidak bebas. Terutama jika aku sedang bermain dengan teman-temanku. Yeah, walau satu dua suka meledekku. Tapi ada beberapa yang baik. aku benci dibatasi oleh sesuatu. Padahal dunia ini begitu luas, tapi kenapa harus ada sesuatu yang membatasinya?”


Ibu mengerjabkan kedua matanya. “Hei! Kau ini benar-benar anak berusia sepuluh tahun atau bukan sih? Darimana kau mendapatkan pola pikir seperti itu?” Ibu mengacak kasar rambutku sembari tertawa.


Ayah mendekat ke arah Ibu. “Nah, tadi Lian sudah bilang, kan? Hidup tidak menyenangkan jika ada pembatasnya. Sekarang satu-satunya pembatasmu adalah proyek tersebut. Jika kau bisa melepaskan pembatas itu sejenak saja, setidaknya kau bisa bahagia.”

__ADS_1


“Ayah benar, Ibu. Aku pernah membaca sebuah buku di salah satu perpustakaan kuno milik Ibu. Dulu bentuk binatang tidak seperti sekarang. Tapi mereka berevolusi lantaran perubahan iklim dan berbagai perubahan bumi lainnya. Jadilah bentuk mereka yang sekarang. Lantas, mengapa hewan-hewan itu bisa hidup di tengah udara kotor? Mengapa burung-burung tidak perlu memakai masker seperti kita? Itu karena mereka tidak melakukan penolakkan. Melainkan menerima segalanya.”


Ibu dan Ayah terdiam menatapku.


“Baiklah, sepertinya Lian mulai terlihat sepertimu, Batrice.” Ayah termangu.


“Tidak, tidak, Lian benar. Seharusnya kita tidak melakukan penolakkan, melainkan menerima segalanya!” Wajah Ibu terlihat sangat serius. “Aku harus segera menghubungi markas dan membatalkan proyek pengiriman manusia ke luar angkasa.” Ibu beranjak disusul ayah yang mencoba untuk menenangkannya.


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, mengangkat bahu dan meninggalkan ruangan tersebut. Aku menelusuri lorong rumah dan menjumpai seorang wanita yang tengah menggendong anak perempuan berusia dua tahun. Anak kecil itu adalah adikku. Dia masih belum pandai berbicara.


“Kau mau kemana, Lian?” Tanya wanita itu yang merupakan pengasuh Liana.


“Aku mau bermain sebentar.” Aku hanya melambaikan tangan.


“Sebaiknya kau pulang sebelum malam.”


Aku tersenyum sembari mengangguk tegas. Melambaikan tanganku dan berlari keluar  rumah.


Aku menaiki sebuah drifting scooter berwarna kuning dan abu-abu perak kesayanganku. Melintasi berbagai bangunan dengan pipa-pipa baja yang melintang. Sesekali aku menyapa beberapa pekerja yang tengah memperbaiki berbagai macam kerusakan di sepanjang bangunan raksasa itu. Mereka balas menyapaku sembari melambaikan tangan. Beberapa bahkan menyuruhku pulang dan mengenakan maskerku. Aku melintas tak peduli. Mendengar omelan mereka sudah menjadi hal yang wajar bagiku.


Skuterku melayang melintasi sebuah kompleks perumahan dengan bangunan yang berbentuk kubus dan didominasi dengan warna kuning dan abu-abu. Bentuk perumahan di tempat tersebut nyaris serupa. Beberapa anak kecil seusiaku tengah bermain di sepanjang jalan. Mereka juga mengendarai skuter sama seperti milikku.


“Hei! Itu Lian si Kebal Udara Kotor!” Seru seorang anak kecil sembari tertawa.


Aku menghentikan laju skuterku. “Maaf saja, tidak memakai masker bukan berarti aku ini kebal.” Tidak terima dengan julukan asal tersebut.


“Lian, aku dengar di pelosok kompleks ini ada sebuah tempat luas dimana tidak ada siapapun di sana.” Ujar seorang anak laki-laki. Wajahnya terlihat bersemangat.


“Benarkah ada tempat seperti itu? Setahuku hampir seluruh area di sini dipenuhi dengan bangunan metalik yang terlihat sangat membosankan. Maksudku tidak menarik bagi anak kecil seperti kita.” Aku berujar tidak percaya.


“Hei! Kau tidak percaya, heh? Baiklah aku akan tunjukkan kepadamu.” Anak laki-laki itu berseru tidak terima.


“Tunggu sebentar! Aku ingin mengajak seseorang lagi.” Aku menghentikan mereka yang hendak pergi.


“Jangan-jangan kau mau mengajak dia, ya?” Tanya seorang gadis berambut panjang.


“Ou! Lian yang malang, kau ini terlalu universal sekali sampai-sampai mengajak gadis itu bermain. Kau tahu sendiri jika anak itu sulit sekali diajak berbicara.” Ujar seorang anak laki-laki lainnya dengan nada merendahkan.


Aku menghela nafas sejenak. “Tidak ada salahnya jika menambah teman, kan?”


Aku beranjak dan menghidupkan skuterku. Menuju salah satu rumah dengan pekarangan yang ditumbuhi berbagai pohon. Rumah tersebut adalah rumah paling hijau sepanjang aku menjumpai rumah-rumah lainnya. Melihat rumah itu selalu membuatku merasa segar. Udara di rumah itu bahkan memilki perbedaan drastis walau masih dalam area yang sama. Tempat itu sangat sejuk dan menyenangkan.


Aku cukup melambaikan tanganku ke sebuah hologram yang melayang di pelataran rumah tersebut. Sebuah wajah gadis yang kukenali muncul dalam hologram tersebut. Seperti biasa, matanya tertutupi poni dari rambut kecokelatannya.


“Hai Jora! Ayo kita main.” Aku melambai ke arahnya sembari tersenyum lebar.


“Emm, baiklah.” Dia terdengar tidak bersemangat.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, gadis tersebut telah keluar dengan mengenakan masker. Wajahnya terlihat murung. Sudah menjadi hal biasa melihat penampilannya yang demikian.


“Lian, kau tahu sendri jika aku tidak bisa mengendarai skuter seperti kalian.” Gadis itu mengeluh pelan.


“Kau ini bicara apa? Tidak ada satupun anak kecil di kota ini yang bisa menolak  drifting scooter. Jadi jangan risaukan hal itu, kau bisa menumpang di skuterku dan biarkan aku yang mengendarainya.”


“Baiklah...” Jora berujar lirih.


Jora perlahan menaiki skuterku yang melayang beberapa senti di udara. Lantas melaju menelusuri jalanan dengan mulus. Jora sempat berseru ketakutan. Mencengkram bahuku sekuat mungkin. Namun aku tidak peduli, mempercepat laju skuterku. Beberapa anak- anak yang sempat sebal menungguku akhirnya tertawa. Mereka melaju bersamaku. Salah seorang anak mempercepat laju skuternya. Balapan tanpa alasanpun terjadi. Lupa jika aku tengah membonceng Jora dibelakangku.


Kami telah tiba di tempat tujuan. Sebuah pagar kawat membatasi area tersebut. Kami bisa melihat padang rumput di seberang pagar. Pagar itu bahkan tidak diberi pengaman ataupun kamera pengawas. Kami membuka pintu pagar yang telah berkarat. Angin berhembus memainkan anak rambut. Udara terasa sejuk, tidak ada hawa panas atau pengap dari industri.


Masih menggunakan skuter, kami melaju di antara rerumputan yang tersibak pelan. Terhenti di sebuah pohon di atas bukit ilalang. Pohon tersebut memiliki akar yang bergelantungan. Beberapa bunga dan lumut merambat di sekitar pohon tersebut. Langit sudah senja. Cahaya jingga menelisik di antara dahan pohon yang lebat. Kami memarkirkan skuter kami di bawa pohon tersebut.


“Sudah aku bilang, kan? Tempat ini keren. Kita bisa membuat markas di sini.” Ujar seorang anak sembari menunjuk ke arahku.


Aku tidak menghiraukan ucapan anak itu, lebih tertarik menatap matahari yang mulai tenggelam. Cahaya jingga dan semburat merah tampak menggurat angkasa bagai lukisan. Dedaunan kering menari-nari ditiup angin yang berhembus pelan. Rerumputan dan ilalang menggelitik pelan kaki kami. Anak-anak tengah sibuk berlarian di antara rerumputan. Melakukan permainan kejar tangkap. Satu dua bersembunyi di balik batu atau semak-semak.


Jora menjauh dari keramaian. Duduk di sebuah batu besar yang terlihat mulus. Dia memang selalu seperti itu. Menganggap dirinya dikucilkan. Merasa tidak enak, aku menghampiri anak itu. Mengajaknya berbicara.


“Jora, kau tidak mau bermain dengan anak-anak yang lain?” Tanyaku.


Jora menekuk kedua lututnya. “Aku tidak mau tinggal di sini.”


“Eh? Apa maksudmu?”


“Lian, pernahkah kau berharap untuk pergi ke angkasa sana?”


Matanya tertutupi rambutnya yang berwarna kecokelatan. Udara terasa sejuk dan damai. Menghempaskan dedaunan kering yang berjatuhan di sekitar kami.


“Aku benar-benar ingin kesana.” Gadis itu kembali berujar. Kali ini aku bisa melihat matanya yang tersembunyi di balik rambutnya. Mata berwarna hijau cemerlang yang begitu sejuk.


“Kau yakin mau ke sana?” Aku bertanya meyakinkan.


Gadis itu mengangguk lirih. Kembali mendekap kedua kakinya. “Ibuku bilang, kalau kita menaiki pesawat itu, kita tidak akan lagi memakai masker ini kemana-mana. Kita bisa menyaksikan dunia yang lebih luas dari pada yang kita bayangkan. Ayahku juga bilang demikian, dia bilang di luar sana banyak bintang yang indah sekali.”


Aku memegangi daguku. “Entahlah, sebenarnya aku tidak terlalu yakin soal itu. Jika mengatakan dunia luar itu luas, bumi kita juga luas. Hanya saja kita belum pernah menjelajahinya. Coba kalau kita sudah berkeliling, bisa saja kita menemukan hal baru. Contohnya padang rumput ini dan matahari yang terbenam itu. Kalau kau pergi ke luar sana, aku tidak yakin kita bisa menyaksikan pemandangan yang sama.” Aku menunjuk ke arah langit yang semakin gelap. Beberapa bintang mulai terlihat.


“Astaga! Aku lupa!” Aku menepuk jidatku. Aku harus pulang sebelum gelap. Perjalan kemari cukup menghabiskan banyak waktu. Lokasi ini sangat jauh dari komplek.


“Ada apa, Lian?”


“Aku harus pulang sebelum gelap. Gawat, ibuku bisa memarahiku nanti.” Aku mengacak rambutku.


Jora tersenyum tipis. Lantas tertawa. “Kau ini benar-benar lucu, Lian.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2