
Tidak terasa, dua bulan telah berlalu.
Dua orang petugas penjara mendatangi sel kami. Tampaknya mereka hendak menemuiku. Vero menatapku dengan wajah sedih. Sedangkan Bundara menatapku dengan wajah yang tidak terdefinisikan. Aku tengah megganti bajuku. Melepaskan baju tahanan. Dua prajurit tersebut lantas melepaskan gelang yang melekat di pergelangan tanganku selama aku tinggal di penjara ini.
“Hari ini adalah hari kebebasanmu, Lian.” Ujar salah satu prajurit. Aku hanya menggangguk. Tidak banyak berbicara.
“Hwueeee.... Aku akan merindukanmu, Sobat Kecil!” Vero memelukku, menganggapku layaknya anak kecil. Mengacak kasar rambutku. Aku hanya pasrah.
Kali ini Bundara juga ikut memelukku. Seketika aku tercekik. Pelukannnya begitu erat, membuatku nyaris tidak bisa bernafas. Sekali lagi aku hanya pasrah.
“Setelah ini aku sarankan kau untuk pergi ke Akademi Langit, Lian. Mungkin tempat itu bisa membantumu menemukan tujuanmu.” Bundara memberi saran, disusul anggukan Vero.
“Aku setuju dengan Bundara. Pergilah ke tempat tersebut, Lian! Dan aku sarankan kau jangan sampai berbuat ulah di sana. Pelatihnya sangat tegas. Dia dijuluki Killer Master.” Vero mengatakan kalimat tersebut dengan wajah datar sembari mengangkat kedua tangannya. Menakuti.
“Jangan mengada-ngada, Vero!” Bundara berseru ketus. Menyikut bahu Vero.
“Yah, pokoknya jaga dirimu baik-baik, Sobat kecil. Pastikan kau makan tiga kali sehari, menggosok gigi sebelum tidur, minum air pu...” Kalimat Vero terhenti. Bundara baru saja menjitak kepalanya. Dia mengaduh kesakitan. “Sakit! Kenapa kau jahat sekali, Bun? Aku kan hanya mengkhawatirkan Lian.” Wajah Vero terlihat masam. Dia memegangi kepalanya.
Aku hanya menatap mereka yang kini kembali bertengkar. Mungkin aku akan merindukan saat-saat seperti ini.
Hari itu merupakan hari perpisahanku dengan dua orang tersebut. Vero dengan segala kejenakaannya dan Bundara dengan kesangarannya. Mereka teman yang menyenangkan, sekaligus menghibur. Sungguh!
Sebelum keluar area penjara aku sempat mampir ke kediaman Ruzdora. Sekedar mengucapkan terimakasih dan kalimat perpisahan. Selama dua bulan inilah dia membantuku untuk pulih. Membuatku mampu tertidur. Walau sesekali aku masih sering terbangun.
Aku menjumpai Ruzdora tengah berada di pekarangan rumahnya. Dia tengah menyiram tanaman-tanaman miliknya. Begitu melihatku, dia terkekeh. Menjabat lembut tanganku.
“Oi! Ada apa ini? Hari ini kau tidak mengenakan baju tahanan. Jangan-jangan kau sudah bebas? Itu artinya ini pertemuan terakhir kita. Apa rencanamu setelah ini, Nak?” Dia bertanya dengan wajah sedih. Tampaknya dia tak bisa melepas kepergianku begitu saja. Terutama setelah dua bulan kami menjadi rekan. Atau mungkin lebih dari itu.
“Aku akan pergi ke Akademi Langit.” Aku asal menjawab. Hanya itu yang terbesit di benakku.
“Aku akan menghubungi Nona Kei jika kau akan pergi ke sana. Mau bagaimanapun kau masih dibawah pengawasan walikota. Kalau begitu semoga kau berhasil, Nak. Sesekali mampirlah ke rumah orangtua ini. Dengan senang hati aku akan menyeduhkanmu teh herbalku. Kebetulan, aku tengah meracik teh baru.” Ruzdora kembali terkekeh.
Aku menelan ludah. Tentu saja aku tidak mau. Ruzdora tertawa, seakan bisa membaca pikiranku.
“Tunggu sebentar! Ada yang inginku berikan padamu.” Ruzdora berlari ke dalam rumahnya. Apakah dia akan memberi teh teh tidak sedap itu lagi?
Prediksiku salah. Ruzdora membawakanku sebuah tas ransel berwana hijau tua.
“Ambilah tas ini, Lian! Di dalamnya sudah kusiapkan pakaian dan beberapa makanan. Ditambah aku memberi obat-obatan dan juga teh herbalku. Setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantumu.”
Aku menerimanya. Ruzdora memelukku untuk terakhir kalinya. Menepuk-nepuk pelan bahuku. Lantas melepas kepergianku.
***
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar menyaksikan pemandangan Kota Keios.
Aku pernah mendengar penjelasan dari Vero bahwa Kota Keios terletak di bawa h reruntuhan puing. Mereka menimbun Kota ini dengan puing sebagai kamuflase. Menyembunyikan kota ini dari RP-2. Aku bisa menyaksikan tiang-tiang penyangga yang menjulang, ditambah lampu-lampu raksasa yang tergantung di langit-langit Kota Keios. Sesekali aku berpikir, Teknologi macam apa yang mereka miliki sampai bisa menutupi seluruh kota dengan puing? Dan lebih menakjubkannya lagi, puing-puing tersebut disusun sedemikian rupa agar tidak berjatuhan atau runtuh.
Aku menaiki salah satu angkutan umum. Menelusuri jalanan kota yang lengang. Aku menatap takjub bangunan-bangunan megah dengan arsitektur yang unik. Bagi anak desa sepertiku melihat pemandangan ini sangatlah spektakuler. Bangunan paling megah di desaku ialah milik Kepala Desa. Itupun hanya sebatas rumah dengan dua lantai di tambah ornamen yang mengeluarkan cahaya remang.
Aku tiba di tempat tujuanku. Akademi Langit.
__ADS_1
Aku menatap gerbang dengan tulisan Akademi Langit di atasnya. Terlihat megah. Mobil terus melaju. Jejeran pepohonan memenuhi tepi jalan. Membuat sejuk pemandangan. Kini mataku tertuju pada empat patung raksasa yang berdiri gagah di atas sebuah air mancur sembari menunjuk ke arah tertentu. Entah apa maksud dari patung tersebut. Angkutan umum terus melaju membelah jalanan.
Kini aku telah tiba di gedung utama. Gedung tersebut memiliki tiga lantai, berwarna biru dengan beberapa ornamen berwarna putih. Cocok sekali dengan namanya. Aku mulai melangkah masuk. Aku menatap lantai gedung yang bergerak-gerak. Menampilkan proyeksi luar angkasa. Lengkap dengan planet-planet dan benda-benda langit lainnya. Aku terus menelusuri lorong gedung.
“Kau pastilah orang baru. Nona Kei sudah memberitahuku tentang kedatanganmu” Suara seseorang mengejutkanku.
Aku menatap sosok tersebut. Dia mengenakan jaket berwarna biru tua dengan garis berwarna putih yang melingkar di lengan kanannya. Terdapat tulisan Akademi langit tepat berada di bagian dada. Sosok tersebut tersenyum ramah.
“Akan aku antarkan kau ke asramamu.” Dia menuntunku.
Aku mengikuti sosok tersebut sembari memperhatikan sekitarku. Kami menelusuri tepi lapangan. Bisa kusaksikan sekumpulan orang tengah berlatih di lapangan tersebut. Gerakan mereka serempak, di sertai teriakan penyemangat.
Kami kembali menelusuri lorong. Tampaknya lorong ini merupakan pemisah bangunan.
Tibalah kami di gedung asrama. Tidak jauh berbeda dengan gedung utama. Yang membedakan ialah warnah dari cat tersebut. Bangunannya didominasi warna hitam. Terdapat monitor raksasa yang menampilkan jadwal kegiatan asrama. Dindingnya dipenuhi lampu berwarna kebiruan bak bintang yang menghiasi angkasa.
“Kau tidak perlu khawatir soal biaya karena Akademi Langit gratis bagi orang-orang yang ingin menjadi parjurit. Kamarmu ada di lantai dua, kau bisa melihat namamu terpampang di pintu kamar. Aku hanya bisa menuntunmu sampai di sini. Tenang saja, terdapat monitor di setiap ruangan gedung asrama yang akan memberi tahu semua kegiatanmu. ”
Aku mengangguk. Sudah terbiasa dengan hal ini. Ini tidak ada bedanya dengan gelang penjara yang selalu memberi tahuku jadwal penjara.
“Kalau begitu, aku ucapkan selamat datang di Akademi Langit. Motto kami ialah, mengangkat tinggi tujuan dan masa depan umat manusia. Semoga harimu menyenangkan.” Dia beranjak. meninggalkanku.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Kuharap tempat ini mampu menemukan tujuanku. Mampu menghilangkan rasa sakit yang masih tersisa. Aku melangkah memasuki gedung asrama. Bisa kusaksikan murid-murid lain yang berlalu lalang. Beberapa ada yang memperhatikanku, berbisik. Beberapa lagi hanya memandang sekilas, tidak peduli. Aku langsung menuju lantai dua.
Benar saja, terpampang jelas namaku di salah satu pintu kamar. Dan nama seorang lagi. Seketika pintu kamar tersebut terbuka otomatis. Mengeluarkan suara mendesis. Dan kujumpai kamar layaknya hotel bintang lima.
Seluruh ruangan dipenuhi dengan warna putih. Terdapat monitor yang tergantung di pojok ruangan. Aku menuju ke salah satu ranjang, tertulis namaku di dipannya. Semua seragamku sudah disiapkan.
“Kau anak baru?”
Aku mencari asal suara. Seseorang telah berdiri di depan pintu. Tampaknya dia seusia denganku, namun seragam yang dia kenakan berwarna abu-abu. Rambutnya pirang dan sedikit ikal. Matanya berwarna biru. Dia terlihat lebih pendek dariku. Mungkin.
Aku mengenakan seragam yang telah tersedia. Warnanya berbeda dengan milik orang yang kutemui di gedung utama. Mungkin warna menunjukkan status atau kedudukan. Baju yang kukenakan bewarna putih dengan garis biru melingkar. Dan tentunya terdapat tulisan Akademi Langit.
Aku memutuskan untuk berkeliling. Akademi langit memiliki lima gedung. Dan masing-masing gedung memiliki warna dan desain yang berbeda. Salah satu tempat yang menarik perhatianku ialah museum. Aku bisa melihat sejarah pembangunan Akademi Langit. Namun, aku lebih tertarik pada sebuah artikel yang memuat insiden kebangkitan RP-2 dan ledakan nuklir yang terjadi enam tahun yang lalu. Bahkan di dalamnya terdaftar korban dari Kota Keios.
Artikel itu sama sekali tidak memicu ingatanku. Itu artinya alat ini benar-benar memblok ingatanku, membuatku tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi saat usiaku berumur 10 tahun. Aku kembali berkeliling. Berharap mendapatkan informasi yang dapat menjawab semua pertanyaanku.
Tempat ini begitu luas. Cukup lama bagiku untuk menelusuri seluruh penjuru Akademi Langit. Kini aku menatap kembali para murid yang tengah asik berlatih. Beberapa ada yang melatih fisik mereka dengan olahraga lainnya. Sepertinya mereka dikelompokkan berdasarkan status mereka.
Lelah berkeliling aku kembali ke kamarku. Mendapati Marko tengah berbaring di ranjangnya. Dia menutupi wajahnya dengan lengannya. Nafasnya tersengal. Dia tampak sangat lelah. Pastilah hasil dari latihannya. Aku memutuskan tidak mengganggunya.
Malam menjelang.
Inilah saat tersulit bagiku. Traumaku belum menghilang sepenuhnya. Aku masih dibayang-bayangi benda tersebut. Semua itu selalu berputar di benakku bagai melihat sebuah rekaman. Aku selalu melihat saat-saat dimana aku dikejar dan diserang benda tesebut. Semua itu selalu di akhiri dengan wajah Liana. Aku memutuskan bangun dari tempat tidurku. Mengambil teh pemberian Ruzdora. Ini satu-satunya cara agar aku bisa tidur dengan nyaman. Walau aku sangat membenci rasanya.
Aku menyeduh teh tersebut. Beruntungnya di kamar ini juga terdapat dapur pribadi. Aku meneguk paksa teh tersebut. Menelan semuanya sekaligus. Semua ini sungguh menyiksaku. Aku kembali ke ranjangku. Namun, aku dikejutkan oleh Marko yang terduduk di ranjangnya sembari menatap tajam ke arahku.
“Anak baru, kau tidak bisa tidur?” Dia bertanya datar. Keringat mengucur deras dari keningnya. Matanya terlihat lelah. Apakah dia juga punya masalah tidur sepertiku?
Aku menggeleng tipis. Mungkin saja aku mengganggunya. Bisa jadi dia sangat sensitif. Mendengar suara sedikit lantas terbangun. Aku meminta maaf. Bilang aku hanya belum terbiasa tinggal di tempat ini. Dia kembali berbaring, menutupi wajahnya dengan lengannya.
Alarm pada monitor berbunyi. Membangunkanku dari tidurku.
Aku mengerjap-ngerjap. Padahal rasanya baru sebentar aku tertidur. Aku bangkit dari tempat tidurku, mendapati Marko sudah tidak ada di ranjangnya. Kini pandanganku tertuju ke arah monitor yang menampilkan jadwal Akademi Langit. Aku bergegas untuk bersiap-siap.
__ADS_1
Pukul enam pagi. Seluruh murid baru dikumpulkan di lapangan. Kami semua disuruh berbaris. Setiap harinya Akademi langit mampu menerima puluhan murid baru. Hal itu wajar, karena Akademi Langit salah satu aset berharga bagi Kota Keios. Kini aku berbaris dengan murid baru lainnya.
Seseorang melangkah di hadapan kami. Wajahnya terlihat tegas dan terdapat guratan luka di dekat matanya. Menunjukkan pertarungan yang telah dia alami. Tubunya besar dan tinggi membuat perawakannya terlihat tegap. Dia Memakai jubah berwarna hitam. Warna paling gelap di Akademi Langit. Dan itu artinya pangkatnya pastilah tinggi. Usianya mungkin berkisar 30 tahun. Dia terlihat penuh wibawa.
“Pagi semuanya!” Dia berseru. Suaranya memecah kesunyian. Terdengar lantang sampai membuat semangat kami berkobar.
“Pagi!” Kami menjawab serentak.
“AKU TIDAK BISA MENDENGAR SUARA KALIAN! BAGAIMANA BISA KALIAN MENJADI SEORANG PRAJURIT JIKA SUARA SAJA MACAM TIKUS MENCICIT?” Dia berseru lebih keras. Mengejutkan kami.
“PAGI!” Kami bersorak lebih lantang. Suara kami menggema di seluruh penjuru Akademi Langit.
“LEBIH KERAS!”
“PAGI!!”
“LEBIH KERAS!!”
“PAGI!!!” Aku sudah mengeluarkan suara paling kerasku. Aku tidak bisa lebih dari itu. Bisa-bisa pita suaraku rusak hanya demi mengucapkan kata tersebut.
Untungnya beliau tidak lagi meminta kami mengulangi kata tersebut. Dia mengagguk puas.
“Aku Master Sejah, pemimpin dari Akademi Langit. Sebelumnya aku berterima kasih atas keberanian kalian untuk mendatangi tempat ini. Sebagaimana kalian tahu, sangat jarang ada pemuda yang berani menjadi seorang prajurit. Terutama prajurit garis depan, yaitu prajurit pemusnah RP-2.”
“Hari ini aku sangat berharap di antara kalian ada yang menjadi salah satu prajurit tersebut. Tahun ini kami banyak kehilangan, mereka gugur dengan terhormat demi masa depan umat manusia. Namun, tentu saja aku hanya berharap. Tidak ada paksaan.”
“Satu hal yang aku tegaskan untuk kalian, aku sangat tidak suka keterlambatan. Jadi, pastikan kalian semua mengikuti jadwal yang ada di Akademi Langit dengan tepat waktu. Siapapun yang tidak patuh, jangan salahkan aku jika menghukum kalian dengan berlari 100 kali bolak balik dari gedung utama sampai air mancur empat mata angin.”
Kini aku tahu maksud dari empat patung yang berada di atas air mancur tersebut. Empat patung itu tak lain sebagai penunjuk mata angin.
“Hanya itu yang bisa aku sampaikan pada kalian. Setelah ini, kalian semua akan dibimbing oleh para senior. Patuhilah mereka layaknya kalian patuh padaku. Mengerti?”
“SIAP MENGERTI!” sekali lagi kami menjawab serempak.
“Sebagai penutup, teriakkan motto Akademi Langit!”
“MENGANGKAT TINGGI TUJUAN DAN MASA DEPAN UMAT MANUSIA!”
“APA MOTTO KITA?” Master Sejah berteriak lebih keras sembari mengacungkan jari telunjuknya. Seakan tengah menunjuk ke arah langit.
“MENGANGKAT TINGGI TUJUAN DAN MASA DEPAN UMAT MANUSIA!!”
“TUJUAN SIAPA?”
“UMAT MANUSIA!”
“MASA DEPAN SIAPA?”
“UMAT MANUSIA!” Sial! Jika begini terus aku bisa kelelahan sebelum melakukan semua jadwal yang berlaku.
Master Sejah beranjak, digantikan para senior yang berdiri dihadapan kami.
“Untuk pagi ini, kalian semua akan berlari mengelilingi lapangan sebanyak 20 kali sembari meneriaki motto Akademi Langit. Dilanjutkan dengan push up sebanyak 30 kali. Dan diakhiri dengan squat jump sebanyak 30 kali. Anggap saja ini hanya pemanasan. Mengerti?”
“SIAP MENGERTI!” Astaga! Apakah dia baru saja bilang ini sebuah pemanasan? Itu artinya latihan sebenarnya pasti akan lebih melelahkan. Namun, satu hal yang terbesit dibenakku. Bukankah curang jika aku menggunakan alat bantu yang terdapat di dalam tubuhku?
__ADS_1