
Aku terbangun begitu cahaya matahari menelisik memasuki kamar melewati jendela. Marko masih tertidur, aku membangunkannya. Dia bergelung malas. Kembali tertidur. Baiklah, jika dia tidak ingin bangun aku tidak akan memaksanya. Mungkin dia kelelahan. Aku melangkah keluar dek. Vero sudah berada di ruang kemudi. Mengendalikan kapal. Bundara dan Jora mungkin masih tertidur.
Sejauh ini hanya ada laut membentang. Melihat laut yang begitu luas membuatku menyadari satu hal. Dunia tak sebatas hanya sebuah daratan. Jika ditambahkan dengan laut, begitu besarnya dunia ini. Mungkin menjadi pengembara seperti Happy menyenangkan. Melihat tempat baru, menjelajahi berbagai tempat, melewati segala rintangan, mengenal orang-orang dengan suku yang berbeda.
Matahari mulai terlihat lebih jelas. Langit membiru. Lautan berkilauan ditimpa cahaya matahari yang baru saja terbit. Angin kesiur berhembus melewati sela-sela rambutku. Aku menghirup udara segar khas lautan. Udara di sini tidak terasa kotor. Mungkin karena jauh dari daratan. Beberapa burung camar beterbangan di sekitar kapal, bagai mengiringi perjalanan kami. Sejauh ini tidak ada bahaya apapun yang mendekat. Ombak bahkan terlihat tenang.
Bundara, Jora, dan Marko telah terbangun . Mereka duduk di dek kapal. Mengambil makanan untuk mengisi perut mereka, aku juga ikut bergabung. Sarapan adalah hal yang sangat penting bagi tubuh. Asal kami memakan sebuah roti di pagi hari, kami bisa kuat tidak makan seharian.
“Vero, kau tidak makan?” Bundara menawarkan roti pada Vero.
Vero menggeleng pelan. “Aku sudah makan sebelum matahari terbit.”
“Sungguh? Kau habis kesambet apa, Vero? Jangan-jangan karena perjalanan ini membuatmu menemukan jati dirimu.” Bundara berseru terkejut. Setengah menghina.
Vero hanya membalas dengan senyuman sembari mengepalkan tangannya. Lantas kembali mengemudi.
“Sepertinya aku mulai menyukai kapal melayang ini.”
Eh, bukannya kemarin dia bilang membencinya? Kami semua memasang wajah heran. Mungkjn benar kata Bundara, Vero kesambet sesuatu.
“Setidaknya karena kapal ini aku bisa melihat sunset dan matahari terbit lebih nyata. Kalau kita menggunakan pesawat, akan berbeda lagi ceritanya. Oh aku sungguh menyukainya...”
Kami semua menggelengkan kepala tidak mengerti. Vero benar-benar bertingkah sangat berbeda hari ini. Sekali lagi, dia seperti orang yang berbeda.
Kapal terus melaju membelah lautan. Layar di samping kapal mengepak anggun. Hingga, pandangan kami tertuju pada sekumpulan hewan.
Itu kawanan lumba-lumba! Mereka melompat dari air dengan anggunnya. Percikan air di sekitar mereka membuat pemandangan layaknya sebuah lukisan. Sungguh mengesankan melihatnya secara langsung. Kukira mereka sudah lama punah dan menjadi salah satu binatang legenda yang kubaca di buku ceritaku sewaktu kecil. Kami semua berseru takjub. Jora mulai menggambar mamalia air tersebut. Menggerakkan penanya dengan cekatan. Sungguh kesempatan langka bisa melihat secara langsung makhluk tersebut. Sayangnya kami tidak punya kamera atau alat apapun yang bisa mengabadikan momen ini.
Kawanan lumba-lumba mulai menjauh. Mungkin mereka tengah bermigrasi. Seperti yang dikatakan Happy, mencari tempat hangat ketika dingin dan mencari tempat sejuk ketika panas.
Lima jam kemudian.
Kami saling melontarkan teka-teki di dalam dek. Vero ikut bergabung. Dia mengaktifkan kemudi otomatis. Membuat kapal tetap melaju walau tanpa ada yang mengemudikannya.
Sesekali mereka tertawa. Vero dan Bundara meledekku. Hanya aku satu-satunya yang tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Aku tidak tahu apanya yang lucu dari candaan dan teka-teki mereka. Apakah aku sungguh sepolos itu? Entahlah, aku tidak terlalu bisa menilai diriku.
Kami sungguh tidak menyadari, candaan ini membuat kami semua terlena. Di luar sana, sebelum kami menyadari apa yang terjadi, angin berhembus semakin kencang. Ombak-ombak mulai meninggi, langit mulai terasa gelap. Kapal mengalami guncangan hebat. Membuat kami tersengal.
Vero segera berlari ke ruang kemudi. Dia terkejut menyaksikan pemandangan yang menghadang beberapa meter dari posisi kami. Astaga, itu badai!
“Vero! Putar kemudi!” aku memberi perintah.
Kami terlalu menganggap enteng lautan. Terkadang di balik ketenangan, bahaya bisa mendekat. Seperti sungai yang mengalir tenang dengan puluhan buaya yang berenang di bawahnya.
Vero bergegas memutar kemudi, membelokkan kapal. Berusaha menjauh dari badai mengerikan yang terhidang di depan kami. Angin menderu semakin kencang, membuat layar-layar kapal bergerak tidak karuan. Vero menekan tombol penutup layar. Dalam sekejap, layar telah terlipat.
Namun yang lebih parahnya, sebuah ombak setinggi lima meter hendak menyapu kami. Langsung saja, kapal terhentak dengan keras. Air memasuki ruangan dek membuat basah kuyup tubuh. Hujan deras turun, petir menggelegar, langit bergemuruh. Kami hanya bisa bertahan di dalam dek dengan sabuk pengaman terpasang. Vero sudah tidak bisa mengendalikan kapal yang terombang-ambing tidak karuan. Ini lebih mengerikan dari pada menuruni air terjun.
Aku memasang helmku. Bersiap atas kemungkinan terburuk. Setidaknya kapal ini cukup kuat menahan terjangan ombak yang menghantam badan kapal tanpa ampun. Angin semakin kencang. Dadaku berdegup dengan cepat. Badai ini begitu mengerikan. Jika kapal ini kapal biasa, kami tidak akan bertahan dalam lima menit. Dilahap ganasnya lautan.
Vero masih mencoba mengendalikan laju kapal. Ingin sekali aku menggantikannya, namun apa yang bisa kulalukan? Melihat tombol-tombol tersebut saja aku bergidik ngeri.
Ombak semakin meninggi. Membuat kapal terangkat setinggi beberapa meter. Aku mengatupkan rahang. Berpegangan kuat dengan kursiku. Air berkali-kali menyiram tubuh. Membuat kami menggigil kedinginan.
Tiba-tiba, ombak setinggi delapan meter hendak melahap kapal. Vero berteriak.
“OMBAK BESAR!!”
__ADS_1
BYAR!
Kapal terguncang sangat kuat. Mengeluarkan suara dentuman. Lampu di dalam kapal berkedip-kedip. Aku mendesah, jangan sampai mesin kapal mati.
Benar saja, kapal ini tidak kuat menahan deburan ombak yang semakin mengamuk. Lima menit kemudian, turbo kapal mati. Membuat Vero harus menggunakan cara manual. Yaitu mengarungi laut layaknya kapal sungguhan. Vero kembali membuka layar. Menyesuaikannya dengan arah angin.
Namun, rintangan yang lebih besar datang. Membuat kami akan sibuk membantu Vero mengendalikan kapal. Secara tiba-tiba, lampu di dalam dek mati. Mesin kapal mati total. Vero tidak bisa menggerakkan layar. Dia menekan-nekan tombol. Menggerutu.
“LIAN, SELURUH MESIN KAPAL MATI! KITA HARUS MENGGERAKKAN LAYAR SECARA MANUAL!” Vero berseru dengan suara lantang. Berusaha mengalahkan suara badai yang berkecamuk.
Aku mengangguk, menatap ke arah yang lainnya. Serempak, kami semua melepaskan sabuk pengaman. Aku berusaha menjaga keseimbangan di tengah guncangan kapal. Kami semua mengambil berbagai peralatan. Terutama tali pengait agar kami tidak terlempar dari kapal nantinya.
Setelah kami mengenakan berbagai perlengkapan, kami mulai mendekati layar. Tak lupa memasang tali pengait ke tiang-tiang kapal. Kami meraih tali layar. Bundara dan Jora memegang bagian kanan, aku dan Marko memegang bagian kiri. Kami serempak menarik tali tersebut. Membuat layar mengembang dengan sempurna. Vero yang memberi perintah seberapa kuat kami harus menarik tali.
“KANAN!”
Aku dan Marko mengendurkan tarikan, lantas Jora dan Bundara menariknya dengan kuat.
“LURUS!”
Kami berempat menarik kencang. Sesekali salah satu dari dari kami tergelincir. Lantas berusaha bangkit di tengah kencangnya angin dan licinnya lantai kapal.
“AWAS ADA OMBAK DIBAGIAN KIRI!”
Aku dan Marko serempak tiarap sembari masih memegang tali. Ombak mengenai kami.
“KIRI!”
Aku dan Marko berusaha bangkit. Kami menarik tali sekencang mungkin, lantas Jora dan Bundara mengendurkannya.
Kami terus bertahan di tengah amukan badai. Jika ada ombak setinggi lima meter lebih, kami akan tiarap mencengkeram tali dengan erat. Tanganku mulai pegal. Rasa dingin menusuk kulit membuat sekujur tubuhku mulai kaku. Namun aku lebih khawatir dengan kondisi Marko dan Jora. Mereka yang paling lemah secara fisik dan mental.
Marko mengangguk mantap, mengacungkan jempolnya. Dia masih sanggup.
Petir menggelegar lebih dahsyat. Membuat sekitar kami berpendar sesaat. Angin semakin kencang, membuat suasana semakin mencekam. Vero masih berusaha menghidupkan kembali mesin. Hingga dia tahu penyebab kerusakan kapal.
“Lian! Aku tahu penyebab mesin kapal mati!”
Aku menoleh. “Apa?”
“Sepertinya ada sesuatu yang tersangkut di engine kapal. Aku tidak tahu benda apa itu!”
Aku mengangguk.
“Jora kau gantikan posisiku! Bundara, kau sanggup jika menarik tali sendirian, kan?”
Bundara tertawa. “Tentu saja!”
Jora perlahan berjalan ke arahku. Sesekali dia nyaris terpeleset. Aku dengan cepat menyambar tangannya sebelum dia terjatuh. Setelah memastikan genggamannya mantap, aku segera beringsut dari tempatku, melepas tali yang mengait di tubuhku, menuju bagian belakang kapal.
Aku masih bisa berkomunikasi dengan mereka melalui helm. Jika terjadi sesuatu, aku bisa mendengar seruan Vero. Aku mulai mengaitkan tali di belakang ruang dek. Perlahan menuruni kapal. Aku sedikit ngeri melihat ombak yang mengamuk di bawah sana. Namun, keselamatan bersama lebih penting.
Aku menuruni dinding kapal dengan sangat hati-hati. Menuju bagian engine kapal yang terletak di bagian belakang. Aku mengambil nafas dalam, lantas meluncur ke bawah air. Sangat sulit melihat pemandangan di bawah sini. Sesekali ombak membuatku terdorong ke sana kemari. Aku terus berpegangan dengan tali. Perlahan mendekati engine kapal.
Vero benar, ada benda yang tersangkut di engine tersebut. Tidak jelas bentuknya. Aku menarik benda tersebut, mengerahkan seluruh tenagaku. Nafasku mulai habis, tapi aku tetap berusaha melepaskan benda tersebut. Aku menggeram, memusatkan seluruh kekuatanku di bagian tangan.
Berhasil! Benda tersebut terlepas. Engine kembali menyala. Aku tersentak. Nafasku sudah habis, aku berusaha untuk kembali ke permukaan. Namun pandanganku mulai remang dan tubuhku terasa lemas. Aku bahkan menelan air laut. Di detik-detik aku nyaris pingsan. Seseorang menarik tali yang terkait di tubuhku.
__ADS_1
Aku berhasil kembali ke permukaan. Hanya saja tubuhku terasa lemas. Mereka semua membantuku, menarik tali dan mengangkat tubuhku ke atas kapal. Sedikit demi sedikit, aku telah berada di atas kapal. Mereka membaringkanku.
“Lian, kau baik-baik saja?” Bundara bertanya. Menggoyang-goyangkan wajahku.
Aku mengangguk. Melepaskan helmku, membiarkan wajahku terkena tetesan hujan. Aku sedikit menelan air, membuatku terbatuk-batuk.
“Vero, kita harus segera berlabuh! Cari pulau terdekat!” Jora memberi perintah.
Vero mengangkat tangan hormat. Kembali ke ruang kemudi. Sementara itu mereka membopong tubuhku masuk ke dalam dek. Membaringkanku di atas kursi penumpang. Aku ingin sekali mengucapkan terima kasih, tapi kerongkonganku terasa tercekik.
Badai mulai mereda. Hanya saja hujan masih turun. Aku tidak bisa bangkit atau sekedar mengucapkan sepatah dua patah kata. Mereka melepas berbagai perlengkapanku. Memberikanku selimut kering. Tubuhku menggigil hebat. Wajahku pastilah sangat pucat.
“Lian, kau baik-baik saja?” Jora bertanya cemas.
Aku nyaris tidak bisa mendengar suaranya. Pandanganku masih kabur. Mungkin efek dari air laut yang asin membuat mataku buram.
“Bundara, ambil air hangat dan handuk kering! Marko, tolong ambil kotak obat.” Jora kembali memerintah.
Tanpa harus diperintah dua kali, mereka bergegas.
Aku ingin sekali bilang baik-baik saja, tapi mulutku mendadak kelu, di beberapa bagian tubuhku mulai kaku. Aku bahkan bertanya-tanya pada diriku sendiri. “Bukankah tadi aku baik-baik saja?”
Jora mulai terisak. Walau aku tidak bisa melihat wajahnya yang tersembunyi di balik helm, aku tahu dia sedang menangis. Sekali lagi, aku ingin mengatakan jika aku baik-baik saja. Menenangkannya. Tapi aku sama sekali tidak berdaya.
Beberapa menit kemudian, Bundara dan Marko telah kembali. Jora dengan cekatan membasahi wajahku dengan handuk hangat. Dia menyuruh Bundara untuk mendudukkanku. Meminumkanku air hangat.
Tapi aku tidak bisa merasakan apapun. Aku malah menggigil hebat. Tanganku bergetar. Keringat dingin mengucur deras dari keningku, dadaku terasa sesak dan nafasku terasa panas. Guncangan kapal membuat kepalaku pusing dan perutku mual. Jora terus memanggil namaku agar aku tetap sadar. Sementara itu Vero berseru.
Marko mendekatiku. Dia mencoba memeriksa tubuhku. Dia terkejut begitu melihat kakiku. Ada sesuatu yang menancap di sana. Sebuah duri. Hanya saja aku tidak bisa merasakannya. Dia mengambil duri tersebut.
“Tampaknya Kapten terkena racun echinoidea atau hewan lainnya. Aku pernah membacanya di sebuah buku.” Marko berujar lirih.
Jora mengambil beberapa obat. Menyuntikkannya ke dalam tubuhku. Mungkin semacam obat penawar racun.
“PULAU!”
Mereka bertiga menatap ke arah depan. Sementara itu pandanganku perlahan meredup. Nafasku terasa tipis. Astaga, ada apa ini?
Vero mempercepat laju kapal. Dia bahkan tidak melihat ada deretan karang di sekitar pulau. Seketika, kapal menabrak salah satu karang. Membuat kapal nyaris terpelanting. Mereka menahan tubuhku agar aku tidak terjatuh. Vero masih mengendalikan kapal. Berusaha menghindari karang.
Aku terus membujuk diriku tetap sadar. Kali ini kapal kembali terguncang. Mereka tidak sempat memegangi tubuhku. Terpental beberapa meter. Aku bahkan terjatuh dari kursi. Dengan tubuh lemasku, aku mencoba berpegangan di kaki kursi walau tanganku terasa kaku. Untung saja segala perabotan di dalam kapal di hubungkan dengan lantai kapal. Kami akan kerepotan jika barang-barang tersebut terseret ke sana kemari.
Kapal terguncang untuk ke sekian kalinya. Walau samar-samar, aku bisa mendengar Vero berteriak. Menyemangati dirinya sendiri untuk terus berusaha mengendalikan kapal. Sementara itu, Jora, Bundara, dan Marko berusaha menghampiriku di tengah guncangan.
Peganganku merenggang. Kapal terguncang Kembali. Tubuhku terpelanting menabrak salah satu lemari. Aku meringis kesakitan. Aku tidak mengenakan pelindung, tentu saja rasanya sangat sakit. Ditambah kepalaku yang terasa pusing. Keadaan ini membuatku sangat tersiksa.
Akhirnya kapal terhenti. Vero menurunkan jangkar. Mereka semua bernafas lega. Namun tidak bagiku. Perlahan kesadaranku mulai hilang. Jora berteriak memanggil namaku. Aku sudah tidak bisa mendengar suaranya. Mataku mulai tertutup. Aku sudah tidak kuat lagi. Mereka mendekatiku. Menepuk-nepuk wajahku. Aku tak sadarkan diri. Gelap
__ADS_1