
“Kudengar kau mendapatkan penghargaan saat pergi ke Kota Keios. Apa itu benar, Nak?”
Aku mengangguk mantap. “Yeah, aku mendapatkan penghargaan dalam bidang arsitektur dan geologi.”
“Ceritakan bagaimana kau bisa mendapatkan penghargaan tersebut.”
“Aku hanya mengutarakan ideku untuk membangun sebuah kota yang ditutupi oleh puing-puing bangunan dengan teori kamuflase. Pemerintah dan para petinggi-petinggi di sana tertarik dengan penjelasanku mengenai kota di bawah puing tersebut.”
“Hanya itu saja?”
Aku mengangkat bahu. Memang itu yang terjadi. Aku hanya menjelaskan argumenku pada mereka dan mereka menyukainya. Apalagi yang harus aku beri tahu.
Ador menggelengkan kepala. “Sudah dua tahun berlalu tapi sikap dan perilakumu masih sama saat usiamu masih dua belas tahun. Setidaknya ceritakan bagaimana rupa kota itu dan orang-orang di sana.”
Aku menghembuskan nafas pelan. “Tidak ada yang menarik. Kota mereka hampir mirip dengan kota kita. Bahkan kurasa lebih kecil dari kota ini. Butuh waktu sekitar seminggu untuk menuju kota tersebut.”
“Seminggu? Yang benar saja?”
Aku mengangguk. Menegaskan kembali pertanyaan Ador. “Kami harus transit di beberapa negara untuk mencapai kota tersebut. Letaknya di benua Asialia. Salah satu benua paling jauh dari negara kita. Benua itu sendiri terbentuk akibat gempa bumi dahsyat yang terjadi di abad dua puluh dua. Benua itu terpisah ribuan mil dari benua kita. Ditambah lagi benua itu berada di seberang samudera Paslanfic yang dikenal sebagai samudera paling mematikan di dunia ini. Karena itu jalur penerbangan dibuat berputar untuk menghindari samudera tersebut. Yang itu artinya kami harus transit diberbagai negara dan kota.”
Ador mengangguk paham. “Kenapa mereka tertarik dengan teorimu mengenai kota kamuflase tersebut?”
Aku mengangkat bahu. “Entahlah, tanyakan saja pada mereka.”
Ador menepuk jidatnya. “Oke, kau mulai terdengar menyebalkan.”
Aku hanya tersenyum simpul.
Jadilah kami menyantap berbagai hidangan sampai tandas tak tersisa. Pesta kecil ini membuatku nyaris lupa dengan tujuan awalku kemari.
“Ador, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu.”
Ador yang tengah membereskan piring-piring terhenti dan menatap ke arahku. “Hei, biasanya kau menggunakan kata ‘anda’ tapi hari ini kau sangat santai kepadaku layaknya seorang teman. Jangan-jangan kehidupanmu di akademi sudah membuatmu berpikir cukup umur untuk memanggilku tanpa menggunakan kata ‘anda’?”
Aku melambaikan tanganku. “Suka-sukaku ingin menyebut ‘anda’ atau ‘kau’. Tidak ada peraturan di negara ini mengenai gaya bahasa dengan orang yang lebih tua. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan kepadamu.”
“Baiklah, kau memang selalu benar. Apa yang ingin kau tanyakan?” Ujar Ador sembari duduk di atas kursi dan menyilangkan tangannya di depan dada.
“Ini soal perkataanmu tiga tahun yang lalu. Soal pembentukan fisik bionikku yang hanya bisa terjadi saat aku mencapai usia lima belas tahun.”
__ADS_1
Ador memutar bola matanya dan memegang dagunya. Tampak jelas jika dia tengah berpikir keras.
Aku nyaris saja menepuk jidatku. Sepertinya Ador mulai terserang penyakit lupa. Jika dia benar-benar lupa akan menjadi sebuah masalah serius. Aku tidak akan pernah tahu maksud dari perkataannya dua tahun lalu.
Ador terkekeh. “Sepertinya aku berhasil menipumu. Aku hanya bercanda, Nak. Tentu saja aku mengingat hal tersebut.”
Aku tertawa. “Sudah aku duga kau mencoba menipuku.” Walau sejatinya aku tidak suka bercanda namun aku harus menyamai gayaku dengan Ador demi membuatnya terus menerus percaya padaku.
“Tapi mari kita bicarakan hal itu di ruang simulasi. Aku tidak ingin anak-anak lain mendengar pembicaraan penting ini. Akan menjadi masalah serius seandainya ada anak lain yang mendengarkan pembicaraan ini.”
Tiba di ruang simulasi, Ador mulai menerangkan soal tubuh bionik tersebut. Aku duduk di atas lantai. Mendengarkan dengan santai penjelasan panjang lebarnya mengenai tubuh bionik milikku.
“Sebelum aku menerangkan masalah tersebut, aku ingin kau menunjukkan padaku tameng yang pernah kau latih dulu.”
Aku mengangguk. Itu hal yang sangat mudah. Semudah aku menjentikkan jari. Hologram-hologram berbentuk heksagaon itu mulai bermunculan di sekitarku. Aku tidak mengeluarkan banyak pikiran. Seakan tameng-tameng itu bekerja secara alami. Ador mengangguk takjub sembari terkekeh.
“Kita tidak akan tahu apakah tameng itu sama persis dengan tiga tahun yang lalu sebelum mencobanya.”
Aku tersenyum simpul. Tentu saja tameng ini akan berbeda.
Sepuluh bola baseball dilesatkan secara bersamaan ke arahku. Semua bola itu terpental begitu menyentuh tameng-tameng tersebut. Aku menyilangkan kedua tanganku di dada. Berlagak seakan aku sudah berada di level yang berbeda.
“Tidak masalah. Tantangan apapun pasti akan aku lalui dengan mudah.”
Kali ini tiga robot binatang buas mulai diaktifkan. Robot-robot itu berdesing sejenak. Mata bulatnya bak lensa kamera bependar terang seakan menatapku dengan tatapan lapar. Aku hanya duduk di posisiku tanpa bergerak sedikitpun. Ador memerintahkan ketiga robot tersebut menyerangku secara bersamaan melalui tiga titik berbeda. Aku dengan cepat membentuk tameng raksasa dan mendorong ketiga robot tersebut secara bersamaan, ketiga-tiganya terpental dan menabrak dinding kemudian tergeletak dan tidak bergerak sedikitpun.
“Aku masih belum puas, Bocah.”Ador tersenyum licik.
Kali ini empat senapan laras panjang muncul di empat titik berbeda. Aku mulai berdiri dari tempatku duduk dan menatap ke arah empat senapan tersebut. Ador bergegas ke luar ruangan dan menyaksikannya melalui jendela yang berada di sisi ruangan. Begitu Ador memberi perintah pada ke-empat senapan tersebut, peluru dilesatkan. Aku dengan santai membuat empat tameng mengelilingi sekelilingku. Peluru-peluru tersebut lantas terpantul dan berserakan di atas lantai.
“Ini sangat mudah, Ador.”
Ador tertawa renyah. “Kau memang anak yang penuh kejutan.”
“Tapi sungguh sangat tidak terduga kau akan benar-benar membunuhku menggunakan peluru-peluru tersebut. Kau anggap apa diriku ini, benda? Atau boneka?” Aku memicingkan mataku. Menatapnya dengan tatapan sinis.
Ador melambaikan tangannya dan kembali masuk ke dalam ruangan. “Tentu saja itu bukan peluru asli. Itu hanyalah peluru karet yang ditembakkan dengan kecepatan senapan sniper. Tidak mungkin aku menciptakan alat berbahaya untuk membunuh seseoarng. Tapi jika kau tahu, peluru tadi bisa membuatmu memar selama satu bulan jika sampai terkena. Itulah yang terjadi padaku saat membuatnya. Alat itu tidak sengaja menembak pahaku.” Ador mengusap pahanya sembari meringis kesakitan. Tengah melakukan reka adegan berdasarkan kisah yang dia ceritakan. “Rasanya sangat sakit, Nak. Aku bahkan tidak berjalan selama satu bulan. Terpaksa menggunakan kursi roda. Kalau kau tidak percaya, kau bisa tanyakan ke anak-anak lainnya.”
“Apa alat itu juga untuk menguji anak-anak lainnya?”
__ADS_1
“Tentu saja tidak. Anak-anak lain tidak bisa disamakan denganmu, Zenzen. Manusia itu terlahir dengan kemampuan yang berbeda-beda. Dan anak-anak sepertimu itu memang sangat langka di dunia ini. Hanya segelintir saja yang memiliki kemampuan sepertimu. Karena itu kau seharusnya patut mensyukuri apa yang kau miliki.”
Aku tersenyum nyengir. Lantas menatapnya dengan tatapan menyelidik. “Jadi kau membuatkan senapan itu khusus untukku?”
Ador berdehem sejenak dan membenarkan kacamatanya. “Itu tidak penting sekarang. Ini saatnya memulai kembali pelajaranmu yang terputus selama dua tahun. Hah.... Sungguh tidak diduga jika ini sudah dua tahun lamanya sejak kau pertama kali masuk ke akademi. Waktu memang cepat sekali berlalu. Aku semakin tua dan kau semakin hebat. Dan hari ini kau akan mendapatkan satu kehebatan lainnya.”
Aku tidak menanggapi ocehannya. Ador memang selalu begitu. Dia selalu mengawali penjelasannya dengan mengoceh sejenak.
“Kau ingat yang terjadi saat usiamu dua belas tahun dimana kau menghancurkan sebuah robot menggunakan energi internal?”
Aku memutar bola mataku. “Maksudmu tenaga yang mengeluarkan cahaya remang berwarna jingga yang muncul saat aku mengepalkan tanganku?”
Ador mengangguk. “Apakah kau pernah menggunakannya lagi setelah kejadian tersebut?”
Aku memegangi daguku. Benar juga. Aku tidak pernah menggunakannya lagi setelah simulasi tersebut. Mungkin karena Ador menyederhanakan tubuh bionikku untuk beberapa saat sehingga aku lupa jika tubuh bionikku memiliki sistem seperti itu. Ditambah lagi Ador membuatkanku tubuh baru, karena itulah aku dibuat lupa dengan hal tersebut.
Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Ador.
“Sudahku duga. Tapi itu tidak masalah. Dengan dirimu yang sekarang aku pasti bisa mengaktifkan kembali sistem tersebut. Coba ingat-ingat kembali bagaimana kau melakukannya.”
Aku mengangguk dan mencoba mengepalkan tanganku. Aku memejamkan mataku dan mulai memfokuskan pikiranku. Mencoba mengalirkan energi WAVE tepat ke tanganku. Saat aku membuka mataku, bukannya kekuatan itu yang muncul melainkan tameng heksagon tersebut.
Ador menepuk jidatnya. Aku yakin dia sangat kecewa denganku. Mungkin dia berpikir aku akan dengan mudahnya melakukan hal tersebut karena aku pernah melakukannya sekali di simulasi pertamaku.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kenapa aku bisa lupa bagaimana caranya aku melakukan hal tersebut? Padahal aku yakin sekali bisa melakukannya dengan sangat mudah.
Aku menatap ke arah Ador sembari menunjuk telapak tangan kananku. “Sepertinya tubuh bionik ini sudah rusak. Atau jangan-jangan kau mencoba menipuku? Kau pasti tidak menambahkan fitur tersebut, bukan?”
Ador mengusap-ngusap keningnya. “Ini bukan tubuh bioniknya yang rusak melainkan kaunya yang rusak, Bocah. Oke, mau tidak mau aku harus membuatmu mengingat kembali bagaimana perasaanmu saat mengeluarkan energi tersebut.”
Ador mengulang kembali simulasi yang pernah aku lakukan tiga tahun yang lalu.
Namun hasilnya sangat berbeda dengan apa yang aku lakukan tiga tahun lalu. Aku bisa mengalahkan robot-robot tersebut dengan sangat mudah. Bahkan aku tidak perlu repot-repot menggunakan tameng-tameng transparan untuk melindungi diriku dari serangan-serangan tersebut. Entah karena tubuh bionik ini yang terlalu over power atau memang ini murni dari diriku sendri. Hanya saja energi itu tidak kunjung mucul.
“Stop!”Ador akhirnya menghentikan simulasi.
__ADS_1