
Gaun putih dengan sulaman angsa membuat Lenora terlihat bersinar malam ini, terlebih semua perhiasan yang ia kenakan sangat bernilai tinggi dan sangat jarang ada yang memiliki nya. Lenora diam di dalam kereta kuda yang menurutnya sangat nyaman seperti di mobil, dia melihat Diego yang sedang tertidur di pundak nya dan Archon yang sedang makan.
"Kau yakin, tadi tidak terjadi sesuatu?" Tanya Archon dengan menatap Lenora.
"Ada." Balas Lenora singkat.
"Dia datang?" Tanya Archon.
"Hmm, tapi tidak apa-apa. Aku bisa mengatasinya...." Angguk Lenora dengan tersenyum.
"Jika dia macam-macam, segera panggil aku." Ucap Archon dengan serius.
"Tentu saja..."
Pesta kali ini terlihat begitu ramai dari pada di siang hari tadi, bahkan lapangan yang ada di pusat kota kini sudah terisi penuh oleh rakyat yang datang berbondong-bondong. Entah untuk melihat pertunjukan atau pun karena ingin mendapatkan makanan gratis, yang jelas sepertinya semua rakyat ikut hadir di sana.
"Yang mulia..." Sapa seseorang pada Archon.
"Lindungi Lenora, jangan sampai ada seseorang yang menyentuh nya." Datar Bing pada bawahan yang ternyata sudah menunggu mereka sejak tadi.
"Baik yang mulia." Angguk mereka yang segera membukakan jalan untuk Lenora.
Mereka berjalan dengan di kelilingi oleh orang-orang yang terlihat kuat dan hebat, hingga semua rakyat langsung menyingkir dari sana. Lenora juga berpapasan dengan ibu-ibu yang tadi siang berbincang dengan nya, mereka terlihat ketakutan karena tidak menyangka bahwa Lenora memiliki pengawal yang luar biasa.
"Silahkan nona, untuk para wanita ada disini... Kami akan memantau nona dari kejauhan." Ucap mereka dengan menundukkan kepalanya pada Lenora.
"Terimakasih." Angguk Lenora.
"Sudah menjadi kewajiban kami nona...."
Lenora melihat ke sekeliling nya, terdapat banyak sekali wanita yang hadir di sana namun dalam jejeran kursi Lenora semua wanita di sana pasti berstatus sebagai putri dan bangsawan. Sedangkan di belakang nya lagi seorang rakyat yang masih memiliki kedudukan, dan kursi paling belakang diisi oleh wanita yang berstatus biasa.
__ADS_1
"Halo, kita bertemu lagi nona...." Sapa seseorang yang duduk di samping Lenora.
Lenora melihat sosok Aeera yang datang dengan pakaian merah terang dengan hiasan yang menurutnya sangat berlebihan dan juga make up yang lumayan tebal namun terlihat cocok untuk nya.
"Ahh ya..." Angguk Lenora dengan tersenyum tipis meskipun tidak terlihat sama sekali.
"Ngomong-ngomong, anda dari keluarga bangsawan mana ya? sepertinya saya baru pertama kali melihatnya...." Ucap Aeera yang terlihat memperhatikan cincin dan juga gelang Lenora yang terlihat simpel namun berkilau.
"Saya hanya wanita biasa." Balas Lenora sejujurnya, yang kaya adalah Archon bukan dirinya. Betul tidak?
"Nona, jangan terlalu merendahkan diri sendiri. Saya Aeera Lou. Putri pertama dari kediaman Lou..." Ucap nya dengan mengulurkan tangannya pada Lenora.
"Lenora..." Balas Lenora dengan jujur, itu adalah nama asli nya sedangkan nama pemilik tubuh ini Ellenora atau yang sering di panggil Elle.
"Marga mu?" Heran Aeera karena dia sangat penasaran dengan marga Lenora.
"Itu tidak penting." Balas Lenora dengan mengalihkan pandangannya pada Diego dan Archon yang tengah memperhatikan nya dari sebrang, Lenora melambaikan tangannya dengan anggun pada mereka berdua dan memberikan kode bahwa di sampingnya ada Aeera.
Lenora ingin sekali membungkam mulutnya, banyak sekali tanya. Apakah wanita di sampingnya seorang wartawan?
"Ya."
Aeera memperhatikan Archon dan Diego yang terlihat berwibawa di antara yang lainnya, bahkan kekasihnya saja kalah dengan Archon yang hanya menunjukkan sepasang mata nya saja.
Semua orang yang semula berisik kini langsung terdiam saat melihat sosok Bing dan Oliver di sana, mereka serentak menundukkan kepalanya untuk menyambut kedatangan pemimpin mereka namun lagi-lagi hanya merupakan bertiga yang nampak acuh dan biasa saja.
Tatapan mata Bing dan Lenora bertemu, dengan penuh godaan Lenora mengedipkan sebelah matanya pada Bing yang membuat laki-laki itu tersentak sebelum akhirnya memalingkan wajahnya. Hal itu membuat Lenora terkekeh pelan, menggoda laki-laki seperti Bing sangat menyenangkan untuk nya.
"Baiklah, sesuai janji yang sudah di tulis. Siapa yang menang dalam pertandingan ini akan mendapatkan hadiah yang istimewa dari yang mulia, semua nya bebas menunjukkan bakat nya. Bahkan, bisa membawa pasangan kalian untuk menari di sini...." Jelas sang kasim dengan suara yang lantang.
"Nona Aeera, dia di kenal sebagai burung merak yang di mana setiap kepakan ekor nya memperlihatkan keindahan yang sempurna... Untuk acara kali ini, mari kita buka dengan nona Aeera... Mari nona." Ucap Kasim tersebut dengan tersenyum ramah pada Aeera yang langsung mendapatkan tepukan tangan itu.
__ADS_1
Aeera menundukkan kepalanya pada Bing dan Oliver sebelum akhirnya dia mulai menggerakkan tubuhnya yang terlihat gemulai, Lenora menilai tarian tersebut yang mirip seperti tarian yang sering ia lihat di club. Sebuah tarian yang penuh dengan godaan dan gerakan yang seksi...
Tepuk tangan terdengar begitu riuh saat Aeera berhenti menari, terlihat ekspresi puas dari Oliver tapi tidak dengan Bing yang masih biasa saja.
"Baiklah, untuk selanjutnya nona yang di pilih oleh pangeran Oliver. Silahkan nona...." Ucap sang Kasim pada Lenora yang langsung mengangguk pelan.
Langkahnya terlihat anggun dan mahal, bahkan rambutnya yang berwarna perak nampak berkibar lembut karena tertiup angin. Aroma manis dari stroberi menguar dari dalam tubuhnya yang membuat para laki-laki sontak menelan ludahnya.
"Saya tidak bisa menari, karena itu lah saya membutuhkan bantuan dari anda yang mulia....." Ucap Lenora dengan suara yang lembut dan halus nya.
"...." Semua orang diam, mereka menatap Lenora penuh ke khawatiran. Mereka merasa jika Lenora menggali kuburan nya sendiri, sedangkan untuk Lenora... Dia menatap Bing dengan penuh kepuasan.
"Nona! Anda jangan macam-macam!! memangnya siapa an..." Ucapan sang Kasim itu langsung terhenti saat melihat Bing yang bangkit dari singgasananya.
"Yang mulia?" Kaget nya namun Bing tetap melangkahkan kakinya ke tengah-tengah panggung yang hanya ada Lenora di sana.
"Apa yang kau inginkan!" Tanya Bing dengan suara yang pelan.
"Menari, bukankah sudah aku katakan aku tidak bisa menari!" Balas Lenora dengan menatap Bing yang terlihat kesal.
"Kau!!"
"Apa kau ingin aku mengatakan pada pangeran Oliver bahwa kau..."
"Hanya satu kali putaran!!" Tegas nya dengan memotong ucapan Lenora yang nampak tersenyum puas.
Lenora mendekati Bing dan melingkarkan salah satu tangan nya di leher Bing yang nampak tinggi itu, Bing sendiri dengan sedikit gugup mulai melingkarkan salah satu tangan nya di pinggang Lenora yang nampak pas menurut nya.
Lenora mulai berputar dengan tangan yang memegang Bing, mereka melakukan gerakan-gerakan yang lembut atau bisa di sebut gerakan dansa yang modern.
Awalnya Bing tidak bisa melakukannya namun Lenora terus menuntun nya hingga akhirnya dia mulai paham dengan gerakan-gerakan nya, saat Lenora berputar, cadar nya sedikit terkena angin hingga terkadang memperlihatkan bibir nya yang seksi dan indah.
__ADS_1
Semua orang yang menonton itu hanya cengo, para wanita tidak percaya jika Bing mau melakukan dansa, dan untuk para laki-laki mereka berharap cadar yang di gunakan Lenora terlepas. Mereka sangat sangat gemas dengan cadar Lenora yang sesekali di benarkan oleh Bing, seakan-akan tidak rela jika wajah Lenora di lihat oleh banyak nya laki-laki asing.