
"Ukhukk Ukhukk Ukhukk......" Lenora terbangun dari tidurnya, sesak di dada dan pusing di kepalanya membuat Lenora menggeram kesal. Lenora melihat ke sekeliling yang nampak aneh, apa ini?
BRAKKKKKK!!
"Heh, seharusnya kau seperti ini sejak dulu. Jangan harap kau bisa menemui pangeran mahkota! aku yang lebih pantas untuk menjadi ratu kerajaan bukan kau, jala*ng!" Ejek seorang wanita yang terlihat cantik dengan ekspresi galaknya itu, Lenora mengeryit heran sebelum akhirnya ia merasakan kembali rasa sakit di kepalanya.
"Hiduplah dengan penuh siksaan, semua kekuatan mu tersegel dan sekarang kau hanya gadis biasa yang menjadi seorang sampah! Entah bagaimana caranya, kau harus menjadi ratu di sana. Jika ingin seluruh kekuatan mu kembali seperti semula....!" Ucap seseorang yang ada didalam benaknya.
"Heh sampah! apa kau mendengar apa yang aku katakan? kau.... Kau punya penyakit menular ya?" Takutnya karena saat menatap Lenora, dia bisa melihat ekspresi tajam Lenora yang terlihat akan marah.
"Kau sudah gila! Aaaaaaa tolong.... Putri ketiga sudah gila...!!" Teriaknya dengan heboh dan berlari dari kamar Lenora saat ini.
"Apa mereka menginginkan aku untuk menikah lagi? hah.... Sepertinya mereka terlalu rendah menilai ku." Ucap Lenora dengan bangkit dari duduknya, Lenora menghampiri cermin yang memperlihatkan wajah jeleknya, tubuh gendut dan wajah yang di penuhi oleh jerawat.
"Aku tahu, sebelumnya wanita ini sangat cantik namun dia terkena racun yang membuatnya seperti ini." Ucap Lenora dengan berjalan ke dekat jendela, Lenora melihat ke luar kamarnya dan melotot.
"Apa ini?! apa ini makam? kenapa sangat mengerikan?" Kaget Lenora, banyak sekali sampah yang ada di sana dan juga rumput yang sudah memanjang, sepertinya sosok wanita yang Lenora tempati sekarang sudah benar-benar di asing kan di kediaman belakang.
••••••
Bing menggendong Zaphier yang sedang bermain, sebelum akhirnya dia pergi setelah meletakkannya di atas ranjang. Bing melihat-lihat buku tebal yang ada disana, dan membawa beberapa bagian.
"Jika kau bosan kau bisa baca buku ini semua, aku tahu kau cerdas seperti mama mu. Papa akan pergi ke ruang latihan, jangan menangis!" Ucap Bing pada Zaphier yang sedang menatapnya.
"....."
"Mama mu sudah sering menderita karena papa, sebenarnya papa menyesal karena sudah membuatnya hamil. Kau tahu? saat kau berada dalam kandungan, kau selalu menyakitinya. Sedihnya, papa tidak ada disaat kondisinya seperti itu. Jadi, papa harap kau tumbuh dengan kuat agar kau bisa melindunginya dan membawanya pulang." Bing terus berbicara, entah anaknya mengerti atau tidak yang jelas dia tahu bahwa Zaphier sama seperti Lenora.
"...."
Bing pergi setelah dia rasa cukup, setelah kepergian Bing Zaphier melirik buku yang ada di sampingnya. Dengan penuh usaha dia membalikkan tubuhnya hingga menjadi posisi telungkup, setelah itu berusaha mendekati buku tersebut dan mulai membuka nya dengan cukup sulit.
Namun hal itu ia lakukan dengan sungguh-sungguh hingga ia bisa melihat tulisan rumit yang anehnya dia paham mengenai hal itu.
__ADS_1
•••••••
Hal yang pertama kali Lenora lakukan disana adalah mencari tahu tentang tempat yang ia tinggali itu, hingga akhirnya Lenora merasa beruntung karena tempat tersebut berada di kerajaan Balveron yang artinya dia berada di tanah kekuasaan Envios, apakah tuhan sedang berpihak padanya?
Setelah melihat situasi yang cocok untuk keluar, Lenora segera menyelinap dari sana dengan sedikit hati-hati karena tubuhnya benar-benar lemah dan tidak bertenaga, Lenora mencari letak istana kerajaan yang ternyata sangat jauh. Setelah mencari ide, Lenora memilih untuk pergi lewat hutan karena itu jalan yang paling dekat.
Suasana yang malam dan gelap gulita, membuat Lenora kesulitan untuk mencari jalan. Namun, Lenora tidak pantang menyerah karena Lenora ingin mencari sosok Envios terlebih dahulu agar dia bisa bebas untuk berlatih.
Lenora terus berjalan hingga matahari yang sebelumnya pergi kini mulai muncul kembali, itu tandanya Lenora berjalan semalaman.
Sebuah istana besar yang tidak terlalu besar menurutnya karena istana milik Bing jauh lebih besar dari itu, memang terlihat ketat penjagaan nya dan juga banyak sekali pengawal yang bertugas disana.
"Bagaimana caranya agar aku bisa masuk?" Gumam Lenora dengan terus menggigit ujung jarinya, dia memikirkan cara yang tepat untuk bisa masuk kesana, namun apa yang akan ia lakukan?
"Ibu...."
"Ehh?" Lenora terlonjak kaget dari tempatnya, seekor naga hitam yang begitu menyeramkan ada di belakangnya, Lenora terdiam beberapa saat sebelumnya akhirnya tersenyum lebar.
"Ramon?ahhh anakku yang malang...." Senang Lenora dengan memeluk lehernya yang begitu besar, bahkan Lenora terlihat kecil untuk Ramon.
"Tidak apa-apa aku paham, aku merasa senang karena akhirnya ada seseorang yang mengikuti ku." Senyum Lenora.
"Ibu, aku akan membantu ibu agar bisa masuk kesana namun ibu hanya membutuhkan waktu singkat saja." Ucap Ramon dengan serius.
"Benarkah? cepat lakukan, aku akan segera masuk." Senang Lenora.
"Baik ibu..." Ramon mulai mengeluarkan sihirnya hingga membuat semua pelayan yang ada disana langsung diam seperti patung namun mereka masih terlihat normal seperti biasa, melihat itu Lenora segera berlari kencang untuk menyelinap disana.
Lenora seperti maling yang akan ketahuan, dia melihat ke sekeliling istana yang nampak ramai. Apakah ada perayaan?
DUGHHH!
"Pelayan dari mana ini? sangat menjijikkan!" Marah seorang wanita yang memakai pakaian mewah dan berkelas.
__ADS_1
"...."
"Cepat menyingkir!"
Lenora diam di tempat dengan menatap sosoknya yang nampak angkuh dan arogan, sebelum akhirnya Lenora menyingkir namun seseorang justru malah menendangnya hingga membuat Lenora jatuh tersungkur.
"Hahah, rasakan!" Sinis wanita tersebut dengan menginjak kaki Lenora hingga membuat Lenora meringis kesakitan.
"Ada apa ini?" Tanya seseorang dengan suara baritonnya.
"Y-yang mulia... Ini... Pelayan ini sudah mengganggu langkah saya, saya hanya memberikannya pelajaran." Jelasnya dengan gugup.
Lenora menatap sosok laki-laki itu dengan tatapan yang sulit untuk di mengerti, hingga akhirnya laki-laki itu sadar dan langsung menghampirinya.
"Non..!"
"Yang mulia, kaki saya sakit." Potong Lenora, ternyata Envios menyadari sosoknya, apakah terlihat begitu jelas? padahal dia sedang berada di tubuh orang lain.
"..... Pengawal! seret wanita itu dan hukum dia untuk tidak menginjakkan kakinya lagi ke istana ini." Marah Envios.
"Y-yang mulia, apa maksud anda? seharusnya dia yang di hukum... Yang mulia!!!"
Envios tidak peduli, dia segera membantu Lenora untuk masuk kedalam ruangan nya setelah itu barulah dia menundukkan kepalanya.
"Nona, bagaimana mungkin anda bisa ada disini?" Tanyanya dengan sangat penasaran.
"Panjang, sangat panjang ceritanya....Tapi, bagaimana kau tahu jika ini aku?" Heran Lenora.
"Meskipun nona memakai tubuh orang lain, tapi jiwa nona masih terlihat jelas oleh saya. Apa nona lupa bahwa kami sudah memakan buah dewa kehidupan?" Jelasnya yang membuat Lenora mengangguk paham, jadi karena itu mereka menyadarinya? ternyata buah tersebut sangat bermanfaat juga.
"Saya juga sudah menemukan teman anda, dia ada di sini." Ucap Envios dengan tersenyum.
"Eh?"
__ADS_1
"Lenora....!!!" Ucap seseorang yang langsung memeluknya erat.