
BRUGHHHHH!!!
"Ughhhh!
Lenora jatuh tersungkur di hadapan sosok laki-laki yang nampak agung dan berwibawa, bahkan untuk melihat saja Lenora tidak berani. Banyak sekali para dewa dan dewi yang hadir di sana, mereka menatap sosok Lenora seperti menatap setumpuk sampah yang menjijikan.
"Yang mulia dewa agung, dia adalah sampah yang membuat masalah sebelumnya. Dia sudah menyakiti banyak sekali dewa dan dewi hanya untuk melindungi para iblis itu, bahkan.... dia juga memiliki anak dengannya! bukankah itu lebih menjijikkan dari pada sampah?!" Jelas sang Kasim yang membawa Lenora tadi.
"Benar yang mulia dewa agung, dia bahkan lebih kotor dari seorang jala*ng yang ada di rumah pelacuran." Sambung yang lain dengan terus mengolok olok Lenora yang hanya diam di bawah.
"Yang mulia dewa agung, bahkan hukuman mati pun tidak lah cocok untuknya. Akan terlalu mulia jika dia langsung mati!"
"Bahkan, untuk diasingkan pun dia masih belum cukup untuk menebus dosanya."
"Dosa yang ia lakukan sangatlah banyak! sehingga hukuman seperti itu masih tidak pantas untuk sosoknya yang begitu menjijikkan ini."
"....." Sosok laki-laki itu hanya diam dan menatap Lenora yang masih ada di bawah dengan kepala tertunduk, Lenora sebenarnya bisa saja melawan namun dia teringat bahwa anaknya masih kecil dan Lenora masih ingin bertemu dengannya, sehingga saat ini Lenora hanya bisa pasrah dan mulai menerima hukuman, setelah itu barulah dia memikirkan cara untuk melenyapkan mereka semua!
"Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan?" Tanya sosok tersebut dengan suara yang terdengar sejuk di telinga, namun tak dapat Lenora pungkiri bahwa suara tersebut seperti pisau yang tajam.
"Apa yang harus saya katakan? bukankah anda tidak akan mempercayai ucapan saya? jadi, lebih baik saya diam dan mendengar semua hinaan mereka yang lebih suci dan bersih dari saya." Ucap Lenora dengan tersenyum kecil, laki-laki itu menatap Lenora yang tengah menatapnya dengan sekuat tenaga, dari tatapan Lenora tidak memperlihatkan kesedihan atau keputusasaan. Yang ada hanyalah tatapan penuh kebencian dan kemarahan.
"Kau!"
"*******!"
"Sangat tidak sopan!"
"Menjijikkan!"
"Sebaiknya lenyap kan dia sekarang!"
Lagi dan lagi Lenora hanya tersenyum mendengar hinaan mereka yang sepertinya sangat membenci dirinya, Lenora bangkit dari duduknya dan menatap seorang wanita yang terlihat duduk anggun di kursinya.
__ADS_1
"Kau? Bukankah kau juga sama-sama tergila-gila nya pada suamiku? bahkan, kau menjebaknya juga. Bahkan, kau lebih kotor dariku. Setidaknya,aku tidak murahan seperti mu..." Ucap Lenora pada sosok wanita yang langsung bangkit dari kursinya itu.
"APA MAKSUDMU HAH?!" Marahnya dengan wajah yang memerah, Lenora terkekeh dan menatap kembali dewa agung itu.
"Yang mulia, seharusnya anda tidak seperti ini. Apakah karena saya seorang dewi baru sehingga langsung mendapatkan tuntutan langsung? apakah karena dia sudah lama berada disini sehingga kalian akan tutup mata dan telinga karena ulahnya itu? begini kah sistem yang ada disini?" Tanya Lenora dengan tegas.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!! disini kau yang sedang di tuntut!" Marah seorang laki-laki yang menjadi suami wanita cantik tadi, dia adalah laki-laki yang sudah menghamilinya.
"Yang mulia, saya tahu anda sudah lama hidup disini. Saya hanya wanita rendahan yang sekarang sudah menjadi sosok ibu dan istri, sejujurnya saya tidak rela karena harus di pisahkan dengan keluarga kecil saya. Jika saya boleh memilih, saya tidak pernah mengharap kan gelar ini sejak dulu. Anda boleh mencabut gelar saya jika anda menginginkan nya....." Jujur Lenora dengan menundukkan kepalanya.
"....."
Diam, mereka semua diam. Mereka tidak percaya jika Lenora tidak menginginkan gelar tersebut, di antara mereka semua gelar tersebut yang paling tinggi setelah yang mulia agung dan beberapa tingkat di bawahnya juga.
"Satu pekan! berkumpul lah dengan keluarga mu sebelum akhirnya kau dihukum!" Ucap yang mulia dewa agung dengan tegas.
"Yang mulia...." Kaget mereka.
"Terimakasih yang mulia...." Lenora tersenyum dengan menundukkan kepalanya, Lenora menatap mereka semua dengan seringai di bibirnya, bahkan Lenora mengatakan sesuatu menggunakan bibirnya.
"Yang mulia dewa agung, dia...." Ucap mereka dengan melapor namun dewa agung itu hanya diam dengan ekspresi datarnya.
Lenora segera pergi dari sana menuju istana Bing, Lenora melihat Archon yang sedang duduk dengan Diego dan Molly. Mereka terlihat sedih dan pendiam, itu bukan ekspresi yang sering mereka perlihatkan sebelumnya.
"Apa yang kalian lakukan disini? dimana Zaphier?" Tanya Lenora yang datang dengan langkah kaki yang anggun.
"Lenora?" Kaget mereka yang langsung memeluknya, Lenora hanya tersenyum.
"Syukurlah jika kau baik-baik saja, apa kau terluka?" Tanya Archon dengan memutar tubuh Lenora secara terus menerus.
"Aku baik-baik saja." Senyum Lenora dengan menatap mereka bertiga.
"Syukurlah, apa mereka tidak jadi menghukum mu? aku tahu kau tidak salah...." Ucap Diego dengan menggerutu kesal.
__ADS_1
"....." Lenora hanya diam dengan ekspresi yang terlihat sendu.
"Ada apa? apa kau..." Kaget mereka.
"Aku akan menemui Bing dan Zaphier, malam nanti berkumpul lah di aula. Ada sesuatu yang ingin aku katakan..." Ucap Lenora dengan serius.
"Molly...."
"Tidak apa-apa." Ucap Lenora dengan menepuk pundak Molly.
Lenora kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mereka, di sana Lenora melihat sosok Bing yang sedang menidurkan Zaphier yang nampak masih asik bermain.
"Bing..." Panggil Lenora dengan tersenyum lebar.
"Lenora?" Kaget Bing yang langsung menghampirinya, Bing segera memeluk tubuh Lenora dan mengecup kedua pipinya dengan perasaan yang lega.
"Syukurlah kau kembali.... Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa mu Lenora." Jujur Bing dengan membenamkan wajahnya di pundak Lenora.
"Aku.... Aku baik-baik saja, apakah Zaphier belum tidur siang?" Tanya Lenora dengan melihat anaknya yang sedang memperhatikan mereka berdua.
"Belum, dia terus bermain sejak tadi." Balas Bing dengan menarik tangan Lenora dan membawanya ke ranjang.
Lenora segera naik dan bersandar pada ranjang, setelah itu segera menggendong tubuh Zaphier yang terlihat senang. Bing juga merebahkan kepalanya di paha Lenora dan mulai memejamkan matanya, terlalu banyak yang terjadi beberapa hari ini yang membuatnya lemah.
"Bing.... Aku akan pergi, bisakah kau menjaga Zaphier untukku?" Ucap Lenora yang membuat mata Bing kembali membuka.
"Apa maksudmu Lenora? kau akan meninggalkan kami lagi?" Tanya Bing dengan ekspresi yang serius.
"Aku.... Aku harus menjalankan hukuman, bagaimana pun aku belum bisa mengalahkan mereka. Untuk sekarang, aku hanya bisa pasrah dan menurut." Jujur Lenora dengan dengan mengelus pipi Zaphier yang nampak mulai tertidur.
"Berapa lama?"
"Aku tidak tahu, yang mulia dewa agung belum memutuskannya dan hanya memberiku waktu satu pekan." Jelas Lenora dengan menyandarkan kepalanya di pundak Bing yang langsung merangkul dan mencium puncak kepalanya.
__ADS_1
"Aku akan selalu menunggumu, ingatlah bahwa kau punya rumah untuk pulang." Ucap Bing dengan membelai pipi Lenora dan menatap mata Lenora yang terlihat meremang karena air mata.
"Aku akan ingat itu, Bing."