
Para anggota dari kekaisaran Derrick sibuk melawan ular itu, bahkan sampai ada yang mati juga namun mereka belum bisa menaklukkan ular tersebut. Lenora melirik Yasha yang terlihat santai, sepertinya Yasha memang tidak terlalu membutuhkan ular tersebut karena dia sudah punya Sphinx yang hebat.
"Apakah kalian sudah menyerah?" Tanya Lenora pada pasukan itu yang terlihat sudah terluka parah.
"Apa yang kau lakukan? apa kau sengaja melakukannya hah?!!! kenapa kau tidak membantu mereka?" Marah Riona dengan menatap tajam Lenora yang terlihat biasa saja.
"Membantu? memangnya siapa mereka yang pantas aku bantu?" Tanya Lenora dengan menatap datar Riona yang langsung terdiam seketika.
"Kau!! Kau sudah mengambil lencana kekaisaran dan sekarang kau....!!! dasar jala...."
Tubuh Riona terhempas hingga menabrak pohon saat ular itu menyerangnya, Riona jatuh tergolek dengan darah yang keluar dari mulutnya Derrick yang melihat itu segera menghampirinya dan membantu Riona untuk duduk.
Ular itu mendekati Lenora dan menundukkan kepalanya di hadapan Lenora yang terlihat biasa saja, Lenora mengelus kepala ular itu. Dia bisa merasakan adanya aura Archon di tubuh Lenora, sejak dulu memang semua jenis ular spirit akan tunduk pada Lenora karena raja ular saja tunduk kepada Lenora, dia adalah Archon.
"Bagaimana bisa kau terluka? apakah orang-orang sudah menemukan keberadaan mu?" Tanya Lenora saat melihat ekor ular itu yang terluka.
"Benar yang mulia, mereka menyerang hamba." Balas nya dengan menundukkan kepalanya di tanah, ular itu terlihat lelah.
"Riza, kemari." Ucap Lenora yang membuat Riza terkejut namun tetap menurut.
"I-iya kak..." Ucapnya dengan gugup.
"Kau bisa mengontraknya, tapi dia harus memulihkan dirinya terlebih dahulu. Pakailah ini..." Ucap Lenora dengan memberikan sebuah batu ruang yang berupa cincin giok pada Riza yang terlihat kaget karena Lenora benar-benar mengabulkan keinginannya.
"Terimakasih kak." Senangnya yang sudah tidak sungkan lagi hingga membuat Lenora terkekeh.
__ADS_1
"Istirahat dan pulihkan tubuh mu, mulai sekarang dia adalah tuan mu." Ucap Lenora pada ular itu yang langsung memberi hormat pada Riza.
"Salam hormat tuan." Ucapnya yang kini mulai bisa di dengar oleh Riza.
"Panggil aku Riza saja, jangan menganggap aku tuan mu. Anggap aku teman mu saja..." Ucap Riza dengan mengelus ular tersebut yang tercium aroma racun yang kuat.
"Baik teman." Ucap ular tersebut dengan senang karena Lenora tidak salah memilih kan tuan untuk nya.
Ular tersebut langsung menghilang dan masuk kedalam giok yang di kenakan Riza yang terlihat terus tersenyum-senyum, Lenora melirik ke arah Rize yang terlihat senang juga. Syukurlah, mereka tidak seperti saudara yang sering ia lihat. Selalu berselisih dan iri terhadap keberhasilan saudaranya sendiri......
Tidak ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun saat melihat ular tersebut menjadi milik anak kecil, mereka tidak ada yang berani mengomentari Lenora. Karena melihat kedekatan Lenora dengan ular tadi, sudah seharusnya mereka mengetahui dan sadar bahwa Lenora bukan orang sembarangan.
"Menjijikkan!" Ucap Lenora dengan melirik Riona yang sedang di obati oleh mereka, Derrick terdiam dengan sangat amat malu. Bukankah sekarang mereka sudah menjadi bawahan Lenora?
"Ayo pergi." Ajak Lenora pada anggota nya yang langsung bergegas juga, mereka kembali melakukan perjalanan dan pergi dari sana. Tujuan Lenora ikut berburu karena ingin membuat semua kaisar tunduk padanya agar memudahkan dia untuk menyerang Vandoria.
Mereka terlalu ceroboh hingga mengundang masalah yang besar, jika itu terjadi maka Lenora sendiri yang akan bergerak maju. Sangat merepotkan bukan?!
"Berhenti, bisakah kita istirahat sebentar?" Tanya Derrick yang menggendong Riona itu, terlihat pucat karena pukulan ular tadi. Lenora bukannya tidak ingin membantu, tapi Lenora lebih senang wanita itu seperti ini dari pada sehat yang nantinya akan melakukan hal lain lagi padanya.
"Kalian lelah?" Tanya Lenora pada semua anggotanya yang langsung mengangguk.
"Istirahatlah..." Ucap Lenora dengan duduk di bawah pohon besar, semuanya langsung mencari tempat ternyaman disana.
Harusnya tidak ada hewan yang membahayakan bagi Lenora karena kekuatan Lenora sudah berada di tingkat Dewi. Seharusnya itu bukan masalah bagi Lenora bukan?
__ADS_1
"Kak, aku sangat lapar dan haus." Ucap Riza dan Rize pada Lenora yang langsung menatap ke arah mereka berdua.
"Mau makan apa?" Tanya Lenora dengan tersenyum kecil, meskipun tidak terlihat namun bisa mereka rasakan.
"Ehh terserah kakak saja..."
"Tunggu sebentar." Ucap Lenora yang beranjak dari sana, semua orang yang melihat itu hendak mencegahnya namun Lenora sudah pergi dengan cepat.
Untuk Lenora, dia duduk di balik pohon besar dan segera mengambil beberapa buah yang ukurannya kecil untuk ia bagikan pada mereka. Buah tersebut ia ambil dari ruang dimensinya, tidak hanya itu Lenora juga mengambil beberapa kue kering yang selalu tersedia di ruang dimensinya, sepertinya Bing yang menaruhnya.
Setelah beberapa saat, Lenora kembali datang dengan tangan yang penuh oleh makanan. Diego yang mencium aroma kue bulan langsung menghampiri Lenora dan mengambilnya dengan cepat, matanya berbinar senang karena dia sudah lama tidak memakan kue itu. Kue bulan merupakan kue favorit nya dengan Archon, begitu pun dengan Lenora.
"Makanlah." Ucap Lenora pada Riza dan Rize yang ikut memakan buah dan beberapa kue kering nya yang terasa sangat enak.
Mencium aroma buah yang segar dan manis, membuat semua orang yang ada di sana ingin sekali merasakannya. Mereka sudah berkali-kali menelan ludahnya saat pasukan Lenora memakannya dengan lahap, mereka juga baru pertama kali melihat buah itu.
Lenora menghampiri Yasha yang sedang duduk bersebelahan dengan Derrick yang tengah menyelimuti tubuh Riona, tanpa banyak bicara Lenora mengeluarkan banyak makanan juga untuk mereka. Lenora tidak sekejam itu....
"Terimakasih nona." Ucap mereka dengan senang.
"Hmm..." Dehem Lenora yang memilih untuk duduk bersandar tanpa memakan apapun, Lenora memilih untuk bersandar pada Diego yang asik memakan kue.
Kini, Lenora berada di dalam dimensi. Sepertinya Lenora mulai sadar bahwa saat ini Bing selalu mengawasinya, Lenora berjalan-jalan di tepi danau dengan perasaan lega.
"Bing, jika kau mendengar dan melihat aku.... Aku harap kau tidak terlalu mencemaskan aku, karena disini aku juga hidup dengan tenang. Dan untuk anak kita, apakah dia sudah besar? berapa usianya? apakah dia tampan dan menggemaskan?" Ucap Lenora yang memilih untuk duduk di tepi danau dengan kaki yang menjuntai ke air.
__ADS_1
Bing dan sosok laki-laki yang berusia sekitar 8 tahunan itu terdiam, Zaphier melirik Bing yang hanya tersenyum.
"Mama, aku akan segera menyusul mu. Tunggu aku, aku akan berlatih sekuat mungkin agar aku bisa melindungi mama...." Ucap Zaphier dengan berjalan mendekati Lenora dan berdiri di belakang Lenora tanpa bisa menyentuhnya.