
Bing menggeram saat merasakan bibir lembut Lenora yang bermain di bibirnya, kedua tangan Lenora melingkar di lehernya dan tangan Bing juga melingkar di pinggang Lenora.
Harum tubuh Lenora membuat Bing pusing karena gairah nya, Lenora memiliki aroma yang sangat memabukkan.
Merasakan bahwa Bing mulai mengambil alih, Lenora hanya tersenyum secara diam-diam. Dia merasakan jika ciuman Bing mulai menyusuri leher nya, semuanya terjadi begitu saja.
Di tempat yang terbuka namun sepi, indah dan sangat harum membuat keduanya begitu menikmati suasana yang begitu damai dan tenang.
Sedangkan untuk orang-orang yang berada di luar gua, mereka sangat khawatir dengan apa yang terjadi di dalam karena sudah hampir dua hari Lenora belum keluar juga.
"Tuan Simon, apakah nona Lenora baik-baik saja?" Tanya seorang prajurit dengan terus waswas.
"Apa menurut mu aku tahu?" Kesal Simon, dia juga sangat penasaran namun mengingat pesan Lenora kemarin dia tidak berani masuk.
Sedangkan untuk Lenora, dia meringis sesaat karena sekarang tubuh nya benar-benar remuk! remuk yang tidak bisa di sembuhkan dengan kekuatannya. Dia melirik ke arah Bing yang masih terlelap dengan memeluk nya, tubuh nya yang sempurna membuat Lenora mengagumi nya.
"Bing.... Bangun, aku lapar." Ucap Lenora dengan menepuk nepuk pipi Bing dengan lembut.
"Hmm..." Bing menggeliat kan tubuh nya dan memeluk pinggang Lenora dengan lembut.
"Bing, cepatlah! atau, aku akan keluar sendiri!" Kesal Lenora.
"Ahh baiklah, ayo..." Patuh nya dengan membawa Lenora ke air mengalir itu, Lenora yang sedikit malu karena tubuh mereka benar-benar polos.
Namun, Bing tidak peduli dan segera membantu Lenora mandi. Mereka mandi dengan waktu yang cukup lama, hingga akhirnya keduanya selesai dan segera keluar dari gua tersebut.
"Apa yang kau lakukan?" Heran Lenora karena melihat Simon yang terlihat menendangi salah seorang prajurit yang terlihat mengejek nya.
"Nona? syukurlah anda sudah Kel... Tuan? Anda sudah sehat?" Kaget Simon dengan melihat Bing yang nampak terus menempel pada Lenora.
"Menurut mu?" Balik tanya Bing.
__ADS_1
"Lepas." Ucap Lenora, kenapa Bing selalu menempel pada nya?
"Tidak."
"Bing! jika kau tidak melepaskan aku, jangan harap aku mau bertemu dengan mu lagi." Ancam Lenora yang membuat Bing tersentak dan langsung melepaskan rangkulannya dari Lenora.
"Aku akan mengantarmu..." Ucap Bing.
"Tidak perlu, ada sesuatu yang harus aku urus." Balas Lenora dengan tersenyum miring.
"Baiklah..."
"Kalau begitu aku permisi, sampai jumpa..." Pamit Lenora namun segera di hentikan kembali oleh Bing.
"Ada apa lagi?" Heran Lenora.
"Kau belum mencium ku Lenora." Ucap Bing tanpa dosa sedikit pun, bahkan membuat semua prajurit terbatuk-batuk.
"Untung saja kau tampan!" Ucap Lenora dengan berjinjit dan mengecup bibir Bing singkat sebelum akhirnya dia pergi dari sana.
Simon bengong dengan mulut yang terbuka lebar, dia bahkan sangat kesulitan untuk kembali sadar jika saja salah seorang prajurit tidak menepuk pundaknya mungkin dia akan tetap seperti itu dalam waktu yang lama.
"Yang mulia, jangan katakan jika anda dan nona Lenora sudah.... Sudah.... sudah melakukan nya kemarin?" Tanya Simon dengan ekspresi tak percaya nya.
"Jangan pedulikan urusan ku dengan Lenora, sebaiknya kau pikirkan cara untuk membuat tubuh mu kembali seperti semula! aku menyuruh mu untuk menjaga Lenora, bukan menyuruh mu hibernasi menjadi babi seperti ini!" Ucap Bing dengan penuh ejekan.
Para prajurit yang mendengar ucapan Bing langsung tertawa terbahak-bahak, bahkan ada juga yang terbaring di tanah karena tak kuat menahan tawa. Ini pertama kali nya Bing membuat lelucon seperti ini, bisanya Bing akan terlihat angkuh dan menyeramkan namun sekarang sudah lebih bersahabat. Apakah ini berkat Lenora? jika iya, mereka berharap Lenora akan selalu ada di samping Bing.
Sedangkan untuk Lenora sendiri, dia berada di salah satu dahan pohon yang ada di belakang rumahnya. Di sana sudah terdapat banyak sekali sayuran yang di tanam oleh Molly dan Diego, di sana juga Lenora bisa melihat mereka berdua yang sedang menyiram tanaman.
Lenora tidak menemukan sosok Archon di sana, namun setelah beberapa saat lamanya nya akhirnya Lenora melihat Archon yang datang dengan membawa seekor kijang.
__ADS_1
Mereka terlihat berdebat satu sama lain, Lenora memilih untuk menyelinap dan masuk ke dalam rumah. Lenora duduk bersantai di ruang tamu dengan tangan yang memegang kue kering yang tersaji di meja, dia masih melihat Molly yang terus memarahi Archon. Sepertinya, saat dia pergi telah terjadi sesuatu pada mereka berdua.
"Lenora?" Kaget Diego yang terlihat sedang membawa sayuran di keranjang, sayuran tersebut langsung ia lepaskan begitu saja dan segera berlari menuju ke arah nya.
Di peluk nya tubuh Lenora oleh Diego yang terdengar menangis itu, Lenora hanya tersenyum dan menepuk nepuk punggung Diego agar tenang.
"Kenapa kau pergi begitu lama? bukankah kau bilang hanya beberapa bulan saja?" Tangis nya dengan menatap Lenora yang terlihat sangat jauh berbeda.
"I-itu, kau yakin dia Lenora?" Tanya Molly dengan sedikit tak percaya.
"Memangnya siapa? dia... dia memang Lenora, kau semakin cantik. Tidak! bahkan sangat cantik, namun karena aku mengenal mu sebagai tuan ku jadi aku sangat yakin jika ini kau...." Peluk nya lagi.
"Kau yakin nona Lenora?" Tanya Molly dan hanya di balas senyum tipis oleh Lenora.
"Apakah aku pergi terlalu lama sehingga kalian tidak mengenali aku lagi?" Tanya Lenora.
"Ah nona.... Syukurlah anda baik-baik saja." Senang Molly dengan ikut memeluk Lenora.
"Kau tidak merindukan aku Archon?" Tanya Lenora namun Archon hanya mendengus, dia memilih untuk duduk di salah satu kursi.
Melihat itu, Lenora hanya terkekeh. Dia bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Archon yang terlihat tidak peduli pada nya, namun bisa Lenora lihat ekspresi nya yang benar-benar menahan tangis namun laki-laki di depannya sangat gengsi untuk mengakui rasa sedihnya itu.
"Maaf, maafkan aku.... Aku tidak bermaksud meninggalkan kalian." Jujur Lenora dengan memeluk Archon, dia sangat merindukan pelukan hangat Archon yang sering ia rasakan ketika ia merasa sedih dan putus asa.
Lenora bisa merasakan basah di pundaknya, dia tahu bahwa Archon tengah menangis sekarang meskipun tanpa suara. Namun hal itu sangatlah menyesakkan dada, Lenora benar-benar beruntung memiliki mereka yang bisa ia jadikan rumah nya untuk pulang.
"Ngomong-ngomong, kau sudah berada di tingkat mana sekarang? aku tidak bisa mendeteksi mu Lenora." Ucap Archon dengan mendorong tubuh Lenora pelan.
"Ahh, entahlah. Aku sendiri tidak tahu, mungkin di tingkat surgawi." Balas Lenora dengan santai.
"APA? SURGAWI?" Pekik mereka bertiga dengan melotot tak percaya.
__ADS_1
Bahkan, Archon sendiri memerlukan ratusan tahun untuk bisa mencapai level tinggi, itu pun tidak sampai puncak. Namun Lenora?
Buat kalian yang lagi nunggu cerita ini, jangan lupa baca karya aku yang lain. Reinkarnasi Dewi kematian, itu udah tamat ya. Dan jangan lupa like dan komen nya jugaa....