Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran

Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran
Menghabiskan waktu terakhirnya


__ADS_3

Oliver menatap Bing yang datang dengan Lenora, dia menghela nafas berat sebelum akhirnya menghampiri Bing dan menundukkan tubuhnya sebagai tanda penghormatan, semuanya langsung mengikuti apa yang di lakukan Oliver. Mereka terlihat tidak bisa melepas kepergian Bing, semuanya terlihat sendu dan bahkan ada sebagian orang yang sudah menangis.


"Aku akan mengembalikan semua yang seharusnya memang menjadi milikmu, jadilah raja yang bijaksana dan lindungi lah mereka seperti kau melindungi keluarga mu sendiri." Ucap Bing dengan menepuk pundak Oliver yang justru langsung memeluknya, terasa tangisan kecil darinya.


"Yang mulia.." Ucap Kasim dengan memberikan sebuah gulungan pada Bing.


Bing mengambil gulungan tersebut dan membawanya ke tempat duduknya, dia menatap Lenora yang hanya mengangguk dengan tersenyum kecil meskipun terhalang cadar wajahnya.


"Mulai sekarang, kerajaan Luminos akan kembali di pimpin oleh Oliver yang menjadi putra tunggal dari kerajaan ini. Jangan pernah ada yang membandingkan saya dengannya karena kami memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, lakukanlah seperti kalian saat masih berada dalam kendaliku. Berikan hormat kalian pada raja Oliver....!!" Ucap Bing dengan suara yang menggelegar di sana.


"Salam hormat yang mulia Oliver...." Kompak semuanya dengan menundukkan tubuhnya.


Oliver mengangguk dan berjalan ke arah Bing, dia kembali menundukkan tubuhnya sebelum akhirnya duduk di kursi tahta tersebut dengan memperhatikan banyaknya rakyat yang hadir di sana bahkan sampai ke halaman juga.


Bing merasa lega, dia meninggalkan Oliver agar bisa berinteraksi lebih lanjut dengan rakyatnya sebelum memulai pestanya, Bing membawa Lenora ke ruang kerjanya yang mungkin akan menjadi milik Oliver juga nantinya.


BRUGHHH


"Ughh!" Lenora mengaduh kesakitan karena Bing yang langsung menubruk tubuhnya hingga dia terbaring di ruang istirahat yang ada di ruang kerjanya itu.


Lenora menatap Bing yang berada di atas tubuhnya dengan membaringkan kepalanya di atas dadanya, Lenora segera mengelus rambutnya dan menepuk nepuk punggungnya lembut.


"Kau sudah bekerja dengan baik Bing.." Ucap Lenora dengan melepaskan cadarnya, dia mengecup puncak kepala Bing yang terasa menghela nafas berat.


"Aku tidak peduli dengan tahta, aku hanya ingin membawa mu pergi bersamaku Lenora." Jujur Bing dengan menatap dalam mata Lenora yang hanya berkedip-kedip lucu.


"Aku...."

__ADS_1


"Maaf.." Bing merapihkan rambut Lenora dan menariknya untuk duduk di atas pangkuannya, meskipun terasa aneh namun Lenora membiarkannya saja.


"Aku tidak tahu, berapa lama lagi aku bisa mengejar mu. Entah itu satu tahun, sepuluh tahun, seratus tahun, bahkan seribu tahun pun aku akan tetap berusaha mencari mu." Ucap Lenora dengan merebahkan kepalanya di pundak Bing yang tengah memeluknya erat.


"Aku tahu...."


Tangan Bing mengelus lembut pinggang Lenora bahkan ke depan juga, Lenora tahu apa yang ingin di lakukan Bing sekarang. Dengan perlahan, Lenora melingkarkan kedua tangannya di leher Bing dan mulai menyatukan bibir mereka berdua.


Keduanya larut dalam ciuman yang mulai panas itu, Bing melepaskan mantel yang di pakai Lenora hingga memperlihatkan pakaian seksinya yang memperlihatkan lekuk tubuhnya itu, ciuman Bing mulai turun ke leher Lenora dan membuat beberapa tanda di sana.


"Binghhh..." Lenora memegang erat pundak Bing saat merasakan bagian atasnya terasa dingin karena sudah terbuka, isapan lembut di setiap kulitnya membuat Lenora berusaha untuk tidak berisik, namun Bing justru semakin menjadi-jadi hingga membuat Lenora tidak peduli apakah suaranya keras atau tidak, yang jelas dia sangat menikmatinya.


••••••


"Di mana Lenora dan Bing?" Tanya Oliver pada Archon yang datang dengan membawa Molly dan Diego.


"Kami baru saja tiba, mungkin mereka memiliki urusan." Balas Archon dengan duduk di sana tanpa menghiraukan tatapan orang-orang yang menurut mereka Archon sangat keterlaluan.


Lenora mengeratkan pelukannya pada Bing yang masih tertidur pulas itu, di lihatnya wajah tampan Bing yang membuat Lenora sangat menyukainya.


"Ayo mandi..." Ajak Bing dengan membuka matanya dan mengecup kening Lenora yang hanya memejamkan matanya dan kembali menelusup kan wajahnya di dada bidang Bing yang masih belum memakai apapun.


"Tunggu sebentar, aku masih ingin memeluk mu Bing." Jujur Lenora dengan mengeratkan pelukannya di tubuh Bing yang hanya terkekeh.


"Bagian tubuh depan mu masih polos Lenora, dan itu menempel pada tubuhku. Bagaimana menurutmu?" Tanya Bing dengan tangan yang memegang milik Lenora yang saat itu juga hendak bangkit namun di tahan oleh Bing yang kembali mengurungnya di bawah.


"Bing, aku.... Kita sudah melakukannya seharian ini, aku takut mereka mencari kita karena tidak muncul sampai sekarang." Ucap Lenora dengan memegang kepala Bing yang berada di atas dadanya, sepertinya Bing menyukai hal tersebut.

__ADS_1


"Aku tidak peduli Lenora..." Balasnya dengan suara yang serak, Bing kembali menyatukan tubuh mereka berdua hingga membuat Lenora mendongakkan kepalanya dengan kedua tangan yang memegang erat seprei ranjang, setiap gerakan yang di lakukan Bing membuat Lenora kehilangan kesadarannya.


"Ughhh Binghh..." Lenora menarik leher Bing dan segera ******* bibirnya, keduanya berciuman dengan penuh gairah. Bing menggigit gemas bibir Lenora karena merasakan bagian bawahnya terasa hangat oleh cairan Lenora yang sudah keluar berkali-kali itu, hingga akhirnya Bing pun segera membenamkan miliknya sedalam mungkin agar cairannya tidak ada yang terbuang.


Bing menggigit gemas dada Lenora saat merasakan sesuatu yang keluar dari dalam miliknya, Lenora sendiri sudah merasa lemas dan hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan Bing padanya.


"Kau benar-benar yang terbaik...." Ucap Bing dengan mencium pipi Lenora sebelum akhirnya mengangkat tubuhnya untuk ia bawa ke dalam ruang dimensinya, Bing membawa Lenora ke danau yang sering mereka kunjungi itu.


"Bing, kapan kau pergi..." Tanya Lenora dengan menatap Bing.


"Sekarang..." Balasnya dengan mengusap rambut Lenora yang terlihat berbusa itu.


"..... Aku mengerti." Angguk Lenora dengan membalikkan tubuhnya agar membelakangi Bing.


"Aku tidak bisa melindungi mu setiap saat namun..... Aku akan membuat mu selalu terjaga, uruslah dia. Dia yang akan membawa mu ke tempat ku nanti...."


Bing memasangkan sebuah cincin kecil yang terlihat sederhana namun berkesan sangat mewah, Lenora menatap Bing dan segera memeriksa isi dari cincin tersebut.


"I-ini....." Kaget Lenora dengan menatap Bing yang hanya tersenyum.


"Beruang milikmu dan juga ular itu juga sangat lemah, mereka masih belum bisa untuk melindungi mu." Jelas Bing yang mengarah pada Diego dan Archon.


"Mereka temanku Bing." Ucap Lenora dengan sedikit cemberut.


"Sama saja, apa kau menyukainya?" Tanya Bing.


"Tentu saja, siapa yang tidak suka jika di beri hadiah seekor naga?" Heran Lenora.

__ADS_1


"Baguslah jika kau senang, ayo bersiap. Aku akan segera pergi, tolong sampaikan maaf ku pada Oliver dan kedua orangtuanya. Aku.... Menunggu mu datang menemui ku Lenora, aku sangat menantikannya...." Bing memeluk Lenora penuh kelembutan, Lenora sendiri hanya menghela nafas berat dan memeluk Bing tak kalah eratnya.


Tanpa terasa, air matanya menetes dan Lenora terisak dalam pelukan Bing.


__ADS_2