Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran

Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran
Membuat senjata


__ADS_3

Oliver yang melihat kedatangan Lenora langsung sumringah dan hendak memeluknya namun segera di halangi oleh Simon yang terlihat datar dan dingin, padahal sebelumnya Simon nampak biasa saja. Apa karena sekarang dia sudah menjadi bawahan Lenora? entahlah....


"Oliver, aku tidak bisa berlama-lama disini. Semua urusanku dengan keluarga Lou sudah selesai, aku ingin menyusul Bing!" Ucap Lenora dengan tenang namun penuh keseriusan.


"Nona...." Kaget Molly, Archon dan Diego.


"Aku sudah memikirkannya matang-matang, bukankah lebih cepat lebih baik? aku bingung, sebenarnya untuk apa aku ada disini? namun, setelah bertemu dengan Bing, aku bisa merasakan tujuan hidupku yang sebenarnya. Aku harap, kalian mengerti...." Lenora menatap mereka bertiga bergantian.


"Nona, saya sudah berjanji... Saya akan mengikuti kemanapun anda pergi, jika anda sudah tidak menginginkan saya lagi, saya ingin anda membunuh saya sekarang juga...." Tunduk Molly di bawah kaki Lenora yang nampak terkejut itu.


"Aku lemah, aku tidak bisa di bandingkan dengan pengawalnya yang mulia Bing. Sama seperti Molly, jika kau sudah tidak menginginkan aku lagi maka lebih baik kau membunuh ku Lenora...." Sambung Diego yang ikut membungkuk di hadapan Lenora.


"Aku tidak seperti mereka, aku lumayan kuat untuk tidak menjadi beban mu nanti. Aku harap, kau tidak keberatan jika aku ikut bersama mu..." Ucap Archon dengan duduk di hadapan Lenora tanpa membungkukkan kepalanya.


"Aku...." Oliver terlihat bingung dan tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Lenora sekarang, dia ingin ikut namun dia memiliki tanggung jawab yang sangat besar sekarang.


"Jika kalian ikut bersamaku, kalian akan terus berada dalam bahaya. Aku tidak mau karena aku kalian akan terluka...." Ucap Lenora dengan pelan.


"Saya tidak peduli nona.." Tegas Molly.


"Lenora, kita hidup bery bukan satu atau dua hari. Bukankah kau sudah menganggap kami keluarga?" Tanya Diego dengan menatap Lenora.


"Aku...." Lenora melirik Simon yang hanya mengangguk kecil.


"Baiklah, sore nanti kita akan berangkat." Senyum Lenora.


"Saya akan menyiapkan semuanya!" Senang Molly yang langsung beranjak dari sana.


"Lenora..." Panggil Oliver.


"Kau tenang saja, aku sudah membuat para iblis itu untuk tidak akan menyerang kalian. Kau tenang saja, aku harap kau bisa menjaga kepercayaan Bing!" Ucap Lenora.


"Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakannya lagi..." Angguk Oliver.


"Bagus!" Senang Lenora.


••••

__ADS_1


Lenora menatap Simon yang terlihat gugup dan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, saat ini mereka berlima sudah berada di sebuah hutan yang entah ada di mana yang jelas mereka baru keluar dari ruang teleportasinya.


"Kau yakin tidak salah?" Tanya Archon dengan melihat peta yang menurutnya sangat aneh.


"Saya tidak pernah masuk nona, saya hanya berdiri disini dulu. Yang mulia bilang, di dalam kekuatan kita tidak akan berfungsi." Jelas Simon yang lagi-lagi membuat mereka terkejut bukan main.


"Maksud mu, kita hanya mengandalkan kekuatan fisik saja?" Tanya Lenora dengan kedua alis yang mengkerut.


"B-benar nona." Angguk nya dengan tersenyum pongah.


"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal bodoh!" Kesal Lenora dengan menendang kaki Simon yang langsung meringis kesakitan itu.


Lenora sudah sering masuk keluar hutan yang menyeramkan seperti di hadapannya ini, semuanya tidak ada yang biasa. Mereka harus memiliki kesiapan lebih dan juga peralatan yang cukup, terlebih mereka juga harus membawa bekal yang lumayan banyak.


"Lalu bagaimana?" Tanya Archon dengan tangan yang penuh dengan makanan, bahkan sejak tadi Archon tidak berhenti makan.


"Pulanglah! mau bagaimana lagi?aku akan membawa kalian ke tempat pandai besi. Ayo..." Ucap Lenora dengan membalikkan badannya lagi.


"Nona, untuk pedang saya memilikinya. Anda tidak perlu pergi ke sana...." Ucap Simon namun segera di pelototi oleh Lenora.


"Baiklah, ayo." Ajak yang lainnya yang kembali bersiap untuk melakukan teleportasi.


Tujuan mereka yang paling utama adalah tempat pembuatan pedang, di sana mereka berlima saling pandang dan menatap Lenora kompak yang terlihat sedang berfikir.


"Permisi...." Sapa Lenora dengan suara halusnya.


"Ya? ada yang bisa kami bantu nona?" Tanya seorang laki-laki yang berperawakan gempal itu dengan menatap Lenora dari atas hingga bawah.


"Kami akan membuat beberapa senjata namun, kami membutuhkannya dalam waktu yang cepat! kami akan membayarnya 5 kali lipat jika kalian menyelesaikannya lebih awal." Jelas Lenora yang membuat orang itu melotot senang.


"T-tentu saja, barang seperti apa yang nona inginkan?" Tanyanya dengan antusias.


"Aku akan memberikan desainnya malam ini, untuk sekarang kalian buatkan saja belati kecil yang jumlahnya sangat banyak dalam satu wadah, buat sebanyak 5 pasang." Jelas Lenora.


"Oh baik nona, kami akan segera membuatnya." Senangnya.


"Oke, sebagai bayaran awal aku akan memberikannya sekarang. Sisanya setelah kalian menyelesaikan tugasnya nanti..." Lenora memberikan dua kantung koin emas yang membuat Archon, Diego dan Molly heran. Dari mana Lenora mendapatkannya?

__ADS_1


"Baik nona, terimakasih nona..." Mereka terlihat senang dan segera mengerubungi pemilik toko besi itu, melihat semangat mereka Lenora hanya tersenyum kecil dan segera beranjak dari sana.


"Lenora, dari mana kau mendapatkan semua itu?" Tanya Archon, biasanya Lenora akan meminta uang padanya.


"Kenapa?" Heran Lenora.


"Tidak ada."


"Bing yang memberikannya." Santai Lenora, Simon sendiri sudah tidak heran karena setengah harta dari istana Oliver menjadi milik Lenora sekarang.


"Berapa banyak?"


"Hmm... Mungkin cukup untuk aku membangun sebuah istana yang besar." Pikir Lenora dengan menghitung banyaknya emas yang ia dapatkan dari Bing.


"....." Archon dan Diego melotot tak percaya, untuk Molly sendiri dia sudah menduganya.


•••••


"Yang mulia.....!!"


Bing membaringkan tubuhnya dengan sedikit tertatih, tubuhnya di penuhi dengan luka. Para bawahan yang melihat itu langsung menghampirinya dan membantunya untuk pergi ke dalam kamar, mereka terlihat khawatir dan juga cemas.


"Ukhukk......! Aku akan melakukan pelatihan tertutup, sebagian kekuatan ku telah hilang." Ucap Bing dengan mata yang terpejam.


Mereka saling pandang, Kenapa kekuatan Bing menghilang sebagian? jika itu ulah para dewi, itu tidak lah mungkin terjadi. Lalu kenapa?


"Yang mulia, bagaimana bisa?" Heran mereka.


"Aku tidak tahu....."


•••••


Lenora diam beberapa saat, di hadapannya banyak sekali kertas yang baru selesai ia rapihkan. Terlihat gambar gambar yang terlihat rumit namun tersusun dengan jelas dan rapih sehingga dapat di mengerti dengan mudah.


"Lenora, gambar apa ini?" Heran Diego yang di balas anggukan oleh yang lainnya, mereka juga sangat penasaran dengan gambar yang baru selesai di buat oleh Lenora itu.


"Senapan, bom, granat dan nuklir! ini semua sangat berbahaya...." Balas Lenora dengan tersenyum puas saat melihat hasil gambarnya yang ternyata masih dia ingat dengan jelas.

__ADS_1


__ADS_2