Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran

Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran
Bing yang mulai lemah


__ADS_3

Tukang pandai besi terlihat diam membisu saat Lenora memberikan desainnya itu, mereka baru pertama kali melihat susunan yang begitu rapih dan terperinci.


"Nona ini...."


"Buat secepat mungkin, untuk jumlahnya sudah tertera di sana. Semakin cepat selesai maka semakin besar juga bayarannya...." Ucap Lenora dengan yakin.


"Baik nona, kami akan secepatnya bekerja." Angguk mereka dengan penuh semangat, toko pedang itu di tutup untuk sementara waktu oleh mereka agar mereka fokus membuat pesanan Lenora yang jumlahnya tidak main-main.


"Lenora, setelah ini kau akan kemana? aku yakin kau tidak mungkin diam dan bersantai..." Ucap Archon.


"Aku akan melatih tubuhku, kalian juga olahraga lah agar kekebalan tubuh kalian tetap terjaga." Ucap Lenora.


"Ehh baiklah." Angguk mereka termasuk Simon juga.


Mereka berpencar di sana, Lenora pergi ke hutan dengan membawa banyak sekali daging untuk dia masak di sana. Bahkan, Ramon yang baru beberapa hari menetes saja sudah terlihat semakin besar dan dewasa.


"Ibu..." Ucapnya dengan muncul di balik tangan Lenora yang di balut pakaian panjangnya.


"Tunggu sebentar.." Ucap Lenora dengan membantunya untuk keluar.


Lenora sendiri heran, bukankah seharusnya naga itu sangat menyeramkan dan garang? tapi Kenapa Ramon berbeda, dia terlihat manja dan lucu.


"Nona..." Sapa mereka dengan menundukkan kepalanya pada Lenora yang muncul dengan Ramon.


"Bantu aku membersihkan daging-daging ini..." Ucap Lenora dengan mengeluarkannya dari ruang dimensinya itu.


"Baik nona.."


Sebagian dari mereka membantu Lenora membuat api, sebagiannya lagi membuat bumbu yang Lenora sebutkan, bahkan ada beberapa dari mereka juga yang mengambil buah di hutan untuk Lenora.


"Setelah selesai makan, kalian lawan aku tanpa menggunakan kekuatan. Aku rasa tubuhku sangat lemah..." Ucap Lenora.


"Baik nona." Angguk mereka yang memang tahu bahwa Lenora akan pergi menyusul Bing, perjalanan yang di tempuhnya pun bukan seminggu dua minggu.


••••


Skip!


Hampir satu bulan Lenora berada di hutan dengan para iblis itu, kekuatan fisik Lenora kembali seperti dulu. Lincah dan gesit, bahkan para iblis itu pun kewalahan dengan Lenora yang memang sangat brutal jika sudah menyerang.


"Nona, anda mau keluar sekarang?" Tanya mereka dengan ekspresi tak rela nya.


"Ya, sepertinya pesanan ku sudah selesai. Kalian tenang saja, aku sudah meminta Oliver untuk mengirimkan kalian daging setiap harinya, tenang saja..." Ucap Lenora dengan tersenyum kecil meskipun tidak terlihat oleh mereka.

__ADS_1


"Baik nona."


Mereka terlihat senang dan nyaman dengan keberadaan Lenora di sana, namun mereka tidak bisa mencegahnya karena mereka pun tidak ingin membuat Bing menunggu terlalu lama kedatangannya.


"Ibu... Apa aku berat?" Tanya Ramon yang memang hampir sebesar kambing dewasa, Ramon terbang di dekat Lenora yang nampak sibuk dengan pikirannya.


"Ya, aku sudah tidak bisa menggendong mu lagi." Balas Lenora dengan tersenyum kecil.


"Aku mengerti ibu." Lembutnya.


"Setelah sampai di desa nanti, kau akan ibu masukan kembali kedalam ruang dimensi."


"Baik."


Setelah sampai di perbatasan, Lenora melihat keempat rekannya sudah ada di sana dengan perubahan yang luar biasa. Tubuh mereka terlihat jauh lebih bugar dan segar, bahkan otot perut Archon saja sudah terlihat jelas.


"Bagaimana? apakah sudah selesai?" Tanya Lenora dengan mengikat rambutnya.


"Sudah, mereka sudah menyelesaikannya semalam." Balas Simon.


"Oke."


•••••


Wajahnya selalu pucat dan tubuhnya yang mudah lelah, sudah banyak tabib yang memeriksanya namun tidak ada yang tahu tentang penyakitnya.


Apakah karena kutukan itu?


"Yang mulia, apakah ini semua karena kutukan itu?" Tanya sang bawahan dengan memberikan obat pada Bing.


"Maksud mu Lenora yang mengambil kekuatan ku? itu tidak mungkin!" Balas Bing dengan mata yang terpejam.


"Saya rasa hal itu ada sedikit kaitannya ...." Ucap nya dengan menatap Bing yang terlihat kasihan.


••••


Semua perlengkapan sudah banyak di bawa oleh mereka, masing-masing dari mereka membawa tas besar yang menempel di punggungnya. Mereka juga tidak mengerti dengan barang-barang yang di bawa Lenora, semuanya terlihat aneh dan unik.


"Nona..." Panggil Simon dengan menatap Lenora.


"Ayo..."


Mereka masuk kedalam hutan tersebut yang langsung berubah suasana, Lenora terdiam beberapa saat. Perasaan tersebut sangat familiar, udara di hutan itu nampak seperti hutan biasa pada umumnya.

__ADS_1


"Apakah ada yang aneh di hutan seperti ini?" Tanya Molly yang terlihat siap siaga.


"Entahlah, yang mulia bilang semua kekuatan kita tidak berlaku disini. Ada banyak sekali bahaya yang kita tidak tahu...." Jelasnya dengan sedikit khawatir, khawatir terjadi sesuatu pada Lenora.


"Aku mengerti." Angguk Lenora dengan terus berjalan.


KRAKKK!


Mereka segera waspada dan melihat ke sekeliling, Lenora yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Mungkin, bagi mereka kehilangan kekuatan adalah hal yang sulit, sehingga mereka terlalu takut seperti sekarang ini.


"Tunggu sebentar..." Ucap Lenora dengan menghentikan langkah kakinya, dia melihat sebuah gua di sana.


"Ada apa?" Tanya Diego.


"Mana peta?" Tanya Lenora dengan mengulurkan tangannya pada Simon yang langsung memberikannya dengan cepat.


"Kenapa ada gua di awal? bukankah seharusnya ada di pertengahan setelah kita menyebrangi laut?" Tanya Lenora dengan menatap gua tersebut yang terlihat gelap karena tertutup akar dan tumbuhan menjalar.


"Itu benar, apakah petanya salah?" Tanya Archon yang berdiri di samping Lenora.


"Saya tidak tahu nona, tuan Bing tidak menjelaskannya secara jelas. Namun, tuan Bing bilang nona harus menemukan buah kehidupan dewa." Balas Simon.


"Buah kehidupan dewa? seperti apa bentuknya?" Heran Lenora, dia baru pertama kali mendengarnya.


"Buah tersebut berwarna merah dengan banyak duri di sekelilingnya, batang dan daunnya terdapat racun yang sangat mematikan. Buah tersebut hanya ada satu di setiap pohonnya..." Jelas Simon.


"Merah berduri? beracun?" Gumam Lenora dengan memikirkannya sekejap, sebelum akhirnya dia mengangguk paham.


"Aku paham, sebaiknya kita lihat kedalam. Aku rasa ada sesuatu yang menarik di sana...." Ucap Lenora dengan tersenyum lebar, saat ini Lenora sudah tidak memakai cadar lagi karena hanya ada mereka di sana.


"Apakah tidak apa-apa?" Takut Diego yang berdiri di belakang Lenora.


"Entah." Balas Lenora dengan santai.


"Lenora....!" Kesal Diego namun Lenora hanya terkekeh.


"Kenapa kau menjadi penakut seperti ini?" Tanya Lenora dengan menatap Diego yang hanya diam tanpa menatap ke arah Lenora.


Mereka masuk secara perlahan-lahan kedalam gua tersebut dengan Simon yang berada di urutan paling depan, bagaimana pun Simon tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu pada Lenora.


"Ukhukk Ukhukk Ukhukk...." Mereka terbatuk-batuk setelah masuk kedalam gua tersebut, gua yang terlihat terbelangkai dan banyak sekali tengkorak manusia?


"Akhhhhhhhhhh!!!" Pekik Diego namun segera di bungkam rapat oleh Archon.

__ADS_1


Diego terkejut dengan banyaknya mayat yang terlihat masih segar, ada apa ini sebenarnya?


__ADS_2