Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran

Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran
Beruang salju


__ADS_3

Diam, semuanya diam saat beruang putih itu berubah menjadi wanita cantik dengan rambut putihnya. Semuanya langsung terpana melihat kecantikannya yang begitu lembut, namun tidak dengan Diego dan Yudha beserta pasukannya yang sudah melihat wajah asli Lenora yang jauh lebih cantik darinya.


"Diego? akhirnya kau menyusul ku kemari hahaha...." Senangnya yang langsung berlari menghampiri Diego dan hendak memeluknya namun Diego langsung bergegas pergi dan bersembunyi di belakang tubuh Yudha.


"J-jangan mendekat!! Lenora, tolong aku...." Panik Diego, dia tidak menyukai sosok wanita itu yang menurutnya sangat agresif!


Lenora terkekeh dan segera menatap wanita itu yang tengah menatapnya juga, dia menatap Lenora dengan tajam sebelum akhirnya tersenyum.


"Kau tuannya? kalau begitu kau juga tuanku..." Ucapnya dengan menundukkan kepalanya.


"Siapa nama mu?" Tanya Lenora pada wanita itu yang ikut duduk di samping Lenora dengan tersenyum lebar.


"Zevlynka... Kau bisa memanggilku Jeje." Balasnya dengan tersenyum.


"Jeje? nama yang imut dan cocok untuk mu." Ucap Lenora dengan tersenyum.


"Apa yang imut, jangan terkecoh oleh wajahnya Lenora! dia tidak seperti yang kau kira." Ucap Diego dengan kesal.


"Diam Diego!" Ucap Lenora yang membuat Diego langsung diam seketika.


Lenora bisa melihat betapa suka nya Jeje pada Diego, entah apa yang dia sukai pada sosoknya itu hingga membuat nya seperti ini.


"Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Lenora.


"Aku? aku memang tinggal di tempat seperti ini, sudah hampir 20 tahun aku ada disini karena harus hibernasi....kondisi ku yang kritis harus membuat ku ada disini." Ucapnya dengan menunjukan cengiran nya.


"Kritis? bagaimana bisa?" Kaget Lenora.


"Itu...." Jeje menundukkan kepalanya hingga membuat semua orang penasaran, namun Lenora paham dengan itu dan langsung menepuk pundaknya.


"Tidak apa-apa jika tidak ingin cerita." Ucap Lenora.


"Ahh tidak, aku hanya tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Setelah, setelah aku memutuskan untuk menolak pernikahan dari rekan ayahku... Saat itu, mereka membantai habis keluarga ku hingga akhirnya ibu dan ayah mati karena harus mengirim ku kemari. Bukankah ini cerita yang tidak harus di dengar hahaha..." Tawanya namun di lihat dari tatapannya terlihat penuh kesedihan dan juga kesepian.


Bahkan, Diego pun di buat terkejut. Dia tidak tahu bagaimana keadaan kedua orang tuanya itu, tapi Diego yakin bahwa mereka dalam keadaan baik-baik saja karena inti kehidupan mereka ada padanya.

__ADS_1


"Kau benar-benar hebat!" Kagum Lenora.


"Aku tidak lebih hebat dari mu nona, apakah kau mau membawa ku?" Tanya nya dengan penuh harap.


"......Tentu saja." Angguk Lenora, dia begitu kesepian karena tidak ada teman wanita. Dulu, selalu ada Molly yang menemaninya, namun sekarang dia tidak memiliki teman wanita lagi.


"Terimakasih nona...." Senangnya dengan memeluk Lenora yang terkejut itu, bukan apa-apa tapi sikap Jeje terlihat begitu ceria di balik sikapnya yang penuh dengan kesedihan.


"Lenora!" Kesal Diego namun malah di acuhkan oleh Lenora.


"Apa kau tahu di mana letak bunga aster salju dan........Telur naga?" Tanya Lenora dengan sedikit berbisik.


"Ahh itu, ada di dalam nona. Namun, udaranya sangat dingin hingga membuat tubuh menjadi beku." Balasnya dengan yakin.


"Tidak apa-apa, aku akan pergi sendiri." Ucap Lenora dengan bangun dari duduknya.


"Aku akan ikut." Ucap Diego.


"Tidak usah, kau temani saja Riza dan Rize." Tolak Lenora.


"Terserah." Ketus Diego yang di balas senyuman oleh Jeje, Lenora berangkat dengan Jeje namun.....


"Nona, hati-hati...." Ucap Yasha pada Lenora yang hanya mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya.


Di dalam, udara memang semakin dingin bukannya semakin hangat. Lenora mengeluarkan energi panasnya sehingga tubuhnya mulai menghangat, Jeje yang melihat itu begitu kagum namun dia segera menahannya agar tidak semakin penasaran.


"Kenapa kau begitu menyukai Diego? padahal sudah tahu bahwa dia tidak menyukai mu." Tanya Lenora.


"Ahh itu, aku menyukainya saja sudah cukup. Untuk di balas atau tidak nya, aku tidak masalah...." Senyumnya.


"Cinta boleh tapi jangan sampai membuat mu bodoh, meskipun Diego sangat dekat dengan ku seperti adik sendiri tapi perihal menyakiti wanita seperti ini aku tidak akan mendukungnya, sebaiknya kau jangan terlalu berlebihan menyukainya, laki-laki jika seperti itu maka akan semakin menjadi-jadi!" Jelas Lenora.


"Tapi aku sudah menyukai nya sejak dulu..." Tunduk nya.


"Aku paham." Senyum Lenora.

__ADS_1


Mereka kembali fokus pada jalan di depan, hingga setelah beberapa saat mereka tiba di tengah-tengah gua yang terdapat danau es di sana. Melihat tempat indah itu, Lenora menginginkan nya dan berharap dia bisa memilikinya di kediaman Bing nanti.


"Nona, itu bunga aster salju dan.... Telur naga salju." Tunjuk nya pada tumpukan bunga aster dan telur naga yang terlihat bersinar disana.


"Itu apa?" Tunjuk Lenora pada hewan yang tertidur disana.


Jeje terlonjak dari tempatnya dan segera menarik Lenora untuk mundur, di sana terlihat hewan besar seperti seekor rusa yang Lenora tahu itu adalah Qilin.


Qilin berwujud menyerupai kura-kura bersisik berkepala singa bertanduk rusa, Lenora sangat takjub melihatnya.


"Nona, dia Qilin yang sangat berbahaya. Dia bertugas melindungi telur dan juga bunga aster salju. Dia sudah tertidur selama ribuan tahun, aku lupa dengan hal ini." Cemasnya.


"Tidak apa-apa.."


Lenora bergegas mendekati bunga itu dengan sedikit hati-hati dan hanya mengambil satu doang, setelah itu Lenora bergegas ke arah telur naga yang ada disana namun saat Lenora menyentuhnya tempat tersebut langsung bergetar hingga membuat Qilin itu terbangun.


Tubuh besarnya membuat Lenora harus mendongakkan kepalanya ke atas, anehnya Qilin itu tidak melakukan apapun selain menatap Lenora dan kembali merebahkan tubuhnya disana.


"Kau tidak mau menyerang ku?" Tanya Lenora dengan memegang telur itu.


"Untuk apa? seharusnya aku berterimakasih karena dengan kedatangan mu aku bisa bebas dari tempat ini." Ucapnya dengan menggeliatkan tubuhnya hingga terdengar suara seperti retakan.


"Oh iyakah? kalau begitu aku tidak akan sungkan." Santai Lenora yang kembali mendekati Jeje yang hanya diam di tempat.


"Kau tidak mau membawaku?" Tanya Qilin itu pada Lenora.


"Tidak, terimakasih." Balas Lenora dengan santai dan segera pergi dari sana dengan Jeje yang lagi-lagi hanya diam, padahal Qilin itu berinsiatif untuk menawarkan dirinya pada Lenora, namun Lenora?


Lenora tidak menenteng telur itu, tapi Lenora memasukkannya kedalam ruang dimensi agar segera menetes. Setelah itu barulah Lenora kembali ke tempat yang lainnya dengan membawa bunga aster salju yang terlihat indah, melihat kedatangan Lenora semuanya langsung waspada dengan ekspresi yang sangat ketakutan.


"Ada apa dengan kalian?" Tanya Lenora dengan penuh keheranan.


"Nona, mungkin karena.....Dia." Bisik Jeje pada belakang tubuhnya yang memperlihatkan sosok Qilin yang nampak memiringkan kepalanya saat Lenora menatapnya jengah.


"Apa? aku hanya ingin keluar."

__ADS_1


__ADS_2