
Akhirnya Lenora mengerti, Kenapa hanya kekaisaran Luminos yang tidak di buru oleh Bertha, ternyata mereka tahu bahwa kekaisaran yang di pimpin oleh Oliver saat ini terdapat beberapa titik yang Bing simpan kekuatannya untuk melindungi orang-orangnya sehingga tidak ada yang berani melangkah maju.
"Lenora, aku paham sekarang. Ternyata, mereka tidak menyerang secara langsung. Mereka menggunakan cara ini agar tidak ada laki-laki di kekaisaran mereka, bukankah dengan begitu mereka bisa lebih berkuasa?" Bisik Diego.
"Itu benar, jangan banyak tingkah Diego. Bersikap lah seperti wanita!" Ucap Lenora sendiri berjalan untuk memasuki istana tersebut tidak terlihat megah namun aura disana membuat Lenora mual, bau sekali. Hanya Lenora yang dapat menciumnya karena mereka masih tidak setara dengannya, sehingga mau bagaimana pun di tutupi bau tersebut Lenora masih bisa merasakannya.
"Nona Giselle, yang mulia sudah menunggu anda di aula." Ucap seorang Kasim dengan menundukkan kepalanya.
"Hmm.." Angguk Lenora.
Lenora menatap para prajurit itu yang terlihat terus menundukkan kepalanya atas perintah Lenora, Lenora menghampiri mereka dari dekat.
"Apa kalian percaya padaku?" Tanya Lenora dengan menepuk pundak Yudha yang terlonjak kaget itu.
"Iya nona." Angguk nya.
"Bagus, turuti apa yang mereka perintahkan. Jangan gugup dan takut, aku tidak akan membiarkan kalian terluka." Ucap Lenora dengan tersenyum.
"Baik nona." Angguk mereka tanpa beban sedikitpun, hal itu membuat Lenora menghela nafas lega dan segera masuk kedalam aula dengan Diego yang ada di sampingnya.
Saat sudah berada di aula, Lenora di buat terkejut dengan sosok Bertha yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan di belakang tubuhnya yang terdapat mahluk aneh, dia hitam dengan mata yang merah, kuku tajam, lidah panjang hingga menyentuh lantai, gigi tajam dan aura hitam di sekelilingnya.
"Lenora..." Gumam Diego dengan memegang tangan Lenora, bagaimana kuatnya Diego dia tetap lemah tidak seperti Archon yang tidak takut apapun.
"Salam yang mulia." Ucap Lenora dengan menundukkan kepalanya sedikit.
"Hahah Giselle, duduklah.... Aku sangat dengan kedatangan mu kali ini, apakah ada kendala lain yang kau alami saat di perjalanan?" Tanya Bertha dengan tersenyum lebar.
"Tidak ada yang mulia, saya hanya terlambat karena singgah sebentar di tempat makan yang ada di pusat kota." Jelas Lenora dengan tersenyum meskipun tidak terlihat sedikit pun.
__ADS_1
"Syukurlah, berapa banyak laki-laki yang kau bawa kali ini?" Tanya nya.
"11 yang mulia." Balas Lenora.
"Hahahaa bagus!! aku akan memberikan mu hadiah, kemarilah...." Ucapnya dengan memberikan gelas yang berisi cairan merah, apakah itu darah yang berasal dari kelamin laki-laki? tapi jika di lihat oleh yang lainnya, mereka akan menganggap itu hanyalah segelas arak.
"Maafkan saya yang mulia, perut saya sedikit tidak enak sekarang. Saya benar-benar sedang tidak enak badan, mungkin karena perjalanan kali ini benar-benar sangat jauh." Tolak Lenora.
"Ahh begitu ya, kalau begitu beristirahatlah..." Ucapnya dengan tersenyum.
"Terimakasih yang mulia."
Lenora beranjak dari sana dengan Diego, tapi sebelum mereka pergi Bertha kembali memanggil mereka.
"Tunggu! sejak kapan kau memiliki pelayan wanita?" Herannya dengan menatap Diego.
"Yang mulia, dia adalah pelayan yang saya jadikan sebagai umpan untuk menangkap para laki-laki. Apa yang mulia tidak melihatnya? dia jauh lebih seksi dari saya...." Ucap Lenora dengan melirik dada Diego yang memang lebih besar ukurannya dari dirinya.
"Terimakasih yang mulia..." Ucap Lenora dan Diego sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Setelah berada jauh dari aula, Lenora melirik Diego yang terlihat ingin muntah. Dengan cepat Lenora membawanya kedalam ruang dimensi, di sana Diego langsung jatuh tak sadarkan diri karena energinya terhisap secara tidak sengaja karena bagaimanapun Diego adalah laki-laki.
"Diego.... Kau baik-baik saja?" Tanya Lenora dengan menepuk-nepuk pipi Diego yang terbaring di atas rumput.
"Ughhhh.... perutku benar-benar mual Lenora, aku tidak sanggup menahannya." Jujur Diego dengan meringis, bahkan wajahnya sudah memucat.
"Maafkan aku Diego, aku benar-benar minta maaf...." Lenora terlihat khawatir karena kondisi Diego benar-benar buruk sekarang.
Percakapan keduanya di lihat oleh Bing yang langsung mengeryit kan dahi nya, dia tahu apa yang di hadapi oleh Lenora sekarang.
__ADS_1
"Ramon, katakan pada istriku untuk memakaikan giok pemberian ku pada Diego. Itu akan membuat Diego tidak mudah di serap oleh iblis itu...." Ucap Bing dengan geram, bagaimana bisa dia tega melihat istrinya seperti ini?
"Baik yang mulia..."
Setelah itu, Ramon segera mengatakannya pada Lenora. Tentu saja tidak memberitahukan bahwa itu perintah Bing, Lenora yang mendengar itu segera memberikannya pada Diego yang perlahan-lahan mulai membaik, bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Lenora dengan membantu Diego untuk duduk.
"Ya, bukankah ini giok pemberian suamimu?" Tanya Diego dengan melihat giok tersebut yang sudah menyatu dengan tubuhnya.
"Ya, dengan begitu kau tidak akan mudah di serap oleh mereka. Ayo...." Ajak Lenora yang di balas anggukan oleh Diego.
"Maafkan aku Lenora, aku tidak sekuat Archon." Ucap Diego pelan.
"Apa yang kau katakan? jangan mengatakan hal itu lagi, kau dan Archon sama-sama berarti untuk ku." Ucap Lenora dengan merangkul Diego, sama seperti dulu saat mereka berada di hutan.
"Ya.... Kau pun sangat berarti untuk ku." Angguk Diego dengan tersenyum lebar, tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi Diego selain melihat saudara-saudaranya bahagia.
•••••
Yudha dan kesepuluh bawahannya di bawa ke ruangan yang indah, namun bukannya senang mereka justru merasa semakin cemas dan takut karena saat mereka membayangkan sosok Lenora tempat tersebut berubah seketika menjadi tempat yang sangat menyeramkan dengan banyak darah dan tubuh laki-laki yang tergolek di sana.
Ternyata, di dalam sana tidak hanya mereka. Bahkan masih banyak laki-laki yang terlihat masih muda, mereka terlihat sangat senang dan antusias karena mereka mengira akan di jadikan laki-laki Harem bagi Bertha.
"Kau terlihat jauh lebih tampan dari kami, pasti kau yang pertama kali di pilih oleh yang mulia. Tapi, meskipun begitu aku sangat ahli dalam urusan ranjang." Ucap seorang laki-laki yang terlihat berpakaian terbuka hingga memperlihatkan dada bidangnya itu.
Bukannya senang, Yudha malah merasa mual karena mendengar itu. Namun dia teringat apa kata Lenora untuk tetap bertahan sebelum sosoknya datang, jadi Yudha dan yang lainnya memiliki untuk ikut bergabung dengan mereka agar tidak terlihat mencurigakan.
Rata-rata semua pembahasan mereka mengenai Harem, banyak uang yang akan mereka dapatkan setiap bulannya karena itulah mereka berlomba-lomba menjadi laki-laki idaman Bertha.
__ADS_1
"Mereka tidak tahu bahwa ini bukanlah solusi untuk hidup mereka, melainkan akhir hidup yang mengerikan." Ucap Yudha dan kesepuluh bawahannya dengan menatap para laki-laki yang nampak berantusias sekali karena di pilih oleh Bertha.