Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran

Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran
Bertemu Zaphier


__ADS_3

Terlihat sosok laki-laki tampan berusaha 17 tahun tengah duduk di salah satu kursi kebesaran ayahnya, dia terlihat begitu tegas dengan sorot mata yang tajam. Kedua alis yang tajam seperti pedang, serta rambut hitamnya yang berkilau membuat sosoknya terlihat begitu sempurna.


"Zaphier, apa yang kau lakukan? kenapa kau tidak berada di ruang belajar?" Tanya Bing yang datang dengan pakaian kebesarannya, dia terlihat semakin tampan dan berwibawa.


"Pa, aku ingin segera melakukan pelatihan yang papa sebutkan itu. Kenapa papa terus mencegah ku?" Kesal nya dengan ekspresi yang lucu dan menggemaskan.


Bing yang mendengar itu hanya menghela nafas berat, sejak kecil hingga sekarang Zaphier benar-benar mirip seperti Lenora! bahkan, dia sudah membuat barang-barang yang menurutnya sangat aneh namun itu berfungsi sangat luar biasa.


Mungkin benar apa kata Zaphier dulu bahwa kecerdasan Lenora menurun padanya, untung saja tidak darinya hahaha....


"Baiklah, tapi kau harus berjanji satu hal pada papa...." Ucap Bing dengan serius.


"Apa pa?" Tanya Zaphier dengan serius juga


"Kau, jika nanti kau sudah bertemu dengan mama mu kau harus segera membawanya pulang. Jangan terlalu lama disana karena papa.... Papa hanya sendirian disini." Ucap Bing dengan tersenyum kecil.


"Tentu saja.." Angguk nya dengan memeluk sosok Bing yang terlihat seperti kakaknya saja karena tidak ada perubahan pada Bing sedikit pun.


••••


Setelah beberapa bulan Lenora dan ketiga kekaisaran itu berdiskusi, akhirnya mereka sepakat untuk menurunkan tahta Vandoria dan menghapusnya dari sejarah. Bahkan semua penduduknya juga akan di hapuskan, semuanya sudah tercemar oleh iblis itu.


"Nona Lenora, kita sudah sepakat untuk berangkat hari ini ke istana Vandoria. Semuanya sudah berkumpul di gerbang, di hutan dekat kota dan di alun-alun juga." Jelas Yasha dengan yakin.


"Aku tahu, hal ini sudah terdengar sampai ke telinga mereka. Mungkin, saat ini mereka sedang menyiapkan sebuah rencana besar untuk membuat kalian semua tunduk pada mereka." Jelas Lenora.


"Lalu apa yang harus kita lakukan nona?" Tanya mereka dengan cemas, untuk melawan bangsa iblis mereka masih tidak yakin karena itu sangat berbahaya dan mereka juga memiliki mantra halusinasi yang kuat.

__ADS_1


"Nona, seseorang ingin bertemu dengan anda." Ucap kaisar Derrick dengan membawa seorang laki-laki yang terlihat memakai cadar.


Lenora awalnya biasa saja namun setelah bertatapan dengan sosoknya membuat Lenora langsung bangkit dari tempat duduknya, tubuhnya diam mematung. Matanya memerah, meskipun tidak pernah melihatnya namun Lenora merasakan sesuatu yang hangat dalam hatinya.


"Zaphier...." Ucap Lenora pelan.


Laki-laki itu segera menghampiri Lenora dan langsung memeluknya, merasakan pelukan hangat sang ibu yang sangat ia rindukan itu membuat Zaphier tersenyum haru. Tubuh Lenora yang kecil hampir sama seperti Zaphier namun masih lebih tinggi Zaphier sedikit.


Semua orang diam, tidak ada yang berani mengeluarkan suaranya terlebih mereka juga melihat Diego yang nampak ikut bahagia, mereka mendengar isakan tangis Lenora yang semakin membuat mereka penasaran.


"Lenora, sebaiknya pindah tempat saja..." Bisik Diego yang di balas anggukan oleh Lenora.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Lenora segera membawa Zaphier pergi dari sana dan membawanya masuk kedalam kamar. Lenora membuka cadar Zaphier yang memperlihatkan sosok laki-laki tampan yang hampir mirip dengan Bing.


"Kau sudah tumbuh dewasa sayang..." Ucap Lenora dengan tersenyum dan mengecup kedua pipi Zaphier yang nampak tersenyum sejak tadi.


"Aku selalu memperhatikan mama setiap mama ada di ruang dimensi, papa begitu merindukan mu ma..." Jujur Zaphier dengan memegang tangan Lenora.


"Aku dan papa tidak marah, mama tenang saja.... Aku sudah menjaga papa selama ini dan, bibi Molly juga sudah punya anak yang usianya di bawah ku." Jelas nya.


"Ada banyak cerita yang mama tidak tahu, mama ingin mendengar semuanya..." Lembut Lenora pada Zaphier yang langsung mengangguk semangat dan mulai menceritakan kesehariannya selama ini, atau bahkan tentang pertengkarannya dengan Bing yang membuat Lenora sesekali tertawa.


Diego tersenyum melihat kebahagiaan Lenora dan juga Archon yang ternyata sudah memiliki anak, Diego ikut senang karena hal itu. Dia berjalan kembali ke aula untuk melihat mereka semua yang masih diam di sana karena masih belum ada perintah dari Lenora, bahkan disana juga sudah ada Oliver yang nampak lari terburu-buru ke arahnya.


"Apakah tadi anaknya Lenora dan Bing?" Tanya Oliver dengan penasaran, Diego hanya mengangguk hingga membuat Oliver kembali pergi untuk melihat nya.


Sudah tidak heran memang dengan hubungan Lenora dan Oliver yang sudah terlihat seperti saudara, mereka iri karena hal itu.

__ADS_1


••••


Lenora tersenyum dengan tangan yang terus mengelus rambut Zaphier yang tertidur pulas dalam pelukannya. Meskipun Zaphier sudah tumbuh dewasa, namun bagi Lenora dia tetaplah anak-anak untuk nya.


"Kakak... Apakah dia anak kakak?" Tanya Riza dan Rize dengan kagum karena melihat wajah Zaphier yang begitu tampan dan sempurna, mereka juga tidak bisa melihat tingkat kekuatan nya sama seperti Lenora.


"Hmm, dia anakku yang selama ini aku ceritakan. Bagaimana? mirip dengan ku bukan?" Tanya Lenora dengan tersenyum namun si kembar itu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena tidak tahu harus mengatakan apa, wajah Zaphier tidak ada yang mirip dengan Lenora sedikit pun.


"Ma..." Panggil Zaphier dengan suara manjanya, jika Bing tahu mungkin Zaphier akan mendapatkan tendangan darinya karena sudah manja pada istrinya.


"Ya sayang? apa kau lapar?" Tanya Lenora dengan tersenyum lebar.


"Tidak, aku hanya ingin mengatakan hal penting mengenai aku." Ucapnya dengan serius, Lenora melirik Riza dan Rize yang paham dan segera pergi dari kamar itu.


"Ada apa?" Tanya Lenora dengan lembut.


"Sama seperti mama, aku.... Aku sebenarnya aku bukan orang yang berasal dari dunia ini. Aku mati saat umurku 15 tahun, sejak kecil aku hidup dengan seorang mafia yang begitu kejam hingga akhirnya aku... Mati karena terkena bom, saat aku terbangun aku sudah menjadi bayi dalam gendongan mu." Jujurnya dengan menatap Lenora yang terlihat shock.


"Kau yakin?" Kaget Lenora.


"Benar ma." Angguk nya yang membuat Lenora terdiam.


"Apa papa mu tahu?" Tanya Lenora namun hanya di balas gelengan kepala oleh Zaphier.


"Tidak apa-apa, bagaimana pun juga kau tetaplah anakku." Senyum Lenora dengan mengelus puncak kepala Zaphier yang langsung menyandarkan kepalanya di pundak Lenora dan memeluknya dari samping.


"Sejak kecil, aku tidak pernah merasakan pelukan orang tua. Aku di latih seperti robot oleh mereka, namun saat berada dalam gendongan mu dulu... Aku, aku merasakan kenyamanan meskipun hanya sementara tapi aku sangat berterimakasih. Meskipun begitu, papa selalu memberikan yang terbaik untuk ku..." Jelas Zaphier dengan suara yang sendu.

__ADS_1


"Jadi, karena itulah kau bertekad untuk menyusul ku kemari hmm?" Tanya Lenora karena dia merasa sesuatu yang aneh dari gelang yang di pakai Zaphier, seperti sebuah belati yang di desain sedemikian rupa.


"Benar ma, bahkan aku juga sudah menyiapkan banyak peledak untuk meledakkan mereka...." Ucapnya dengan memperlihatkan banyaknya bom dan granat dalam cincin dimensinya yang ia yakini itu di desain khusus untuk peralatan nya.


__ADS_2