
Mereka semua diam membisu saat melihat kawanan ular besar, serigala besar, gorila besar, babi hutan, dan masih banyak yang lainnya yang terlihat menyeramkan. Mereka datang di setiap malam untuk bermain dengan gurita itu, awalnya mereka tidak percaya namun melihat keakraban kumpulan hewan itu akhirnya mereka paham dan mengerti.
"Lenora,kau tahu apa yang sedang mereka katakan?" Tanya Archon dengan berbisik, dia sesekali melirik gorila itu yang sedang membawa pisang, pisang itu terlihat besar dan nampaknya sangat enak.
"Untuk gurita itu aku paham tapi yang lainnya, aku tidak tahu apa yang sedang mereka katakan." Balas Lenora.
Entah apa yang di katakan gurita itu pada mereka, yang jelas gorila itu mendekati Lenora dan memberikan 3 buah pisang yang ukurannya begitu besar itu bahkan tidak bisa di pegang oleh Lenora sendiri, ukurannya hampir sama seperti dirinya.
"Terimakasih." Ucap Lenora dengan tersenyum senang dan segera membagikan pisang tersebut setelah berhasil memotongnya.
Mereka terlihat kerdil di antara kumpulan hewan itu, bahkan semua buah yang ada di hutan tersebut sangat besar bentuknya.
"Lenora, besok teman-temanku akan mengantarkan mu ke tempat tumbuhnya buah dewa kehidupan itu." Ucap gurita yang membuat Lenora tersenyum senang.
"Baik, terimakasih." Senang Lenora.
"Apa yang dia katakan?" Heran mereka.
"Mereka akan mengantarkan kita ke tempat buah itu tumbuh." Ucap Lenora dengan santai.
"Wah benarkah?" Senang yang lainnya, bukankah dengan begitu mereka akan merasa aman dan terjaga?
"Ya." Angguk Lenora.
"Lenora, kau sedang mengandung?" Tanya gurita lagi dengan menatap Lenora yang langsung terdiam.
"Hmm, kenapa?" Balas Lenora.
"Tidak, kata temanku kau terlihat semakin cantik saat sedang mengandung seperti ini." Ucapnya dengan menunjuk seekor beruang besar yang ukurannya lebih besar dari Diego dulu.
"Woahh, beruang?" Senang Lenora yang langsung bangkit dari duduknya.
"Kau jantan?" Tanya Lenora dengan mengelus bulu di tangannya, beruang itu mengangguk dengan cepat.
"Lenora! aku jauh lebih tampan darinya!" Ucap Diego tak senang, dia segera menghampiri Lenora dan menariknya untuk segera menjauh dari beruang itu.
"..... Kau beruang?" Tanya Envios yang membuat Diego terdiam, begitu pun dengan Lenora.
__ADS_1
"Ya, aku makhluk spiritnya." Balas Diego dengan menahan tangan Lenora yang hendak pergi lagi.
"....." Mereka saling pandang dan langsung terdiam, pantas saja Diego dan Archon begitu menempel pada Lenora.
"Untung saja Lenora tidak terlalu menyukai ular." Lega Archon karena dengan begitu dia tidak perlu iri melihat Lenora berdekatan dengan ular selain dirinya.
"Benarkah? aku rasa kau berbohong...." Ucap Molly dengan menatap Lenora yang sedang memegang kepala ular itu, bahkan Lenora terlihat mengecil di sana.
"Lenora!" Kesal Archon, hal itu membuat Simon dan Molly beserta Diego tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa Lenora tidak merasa takut sedikitpun?" Heran Nina dengan merinding saat ular itu menggesekkan tubuhnya pada Lenora.
"Itu karena nona bukan wanita lemah seperti kalian!" Balas Simon dengan tersenyum puas, hal itu membuat para wanita yang ada di sana langsung tersinggung. Memang benar, bahwa Lenora bukan wanita yang lemah.
"Ughhhh!!" Lenora memejamkan matanya saat perutnya tiba-tiba saja merasakan sakit dan linu secara bersamaan, perutnya terasa bergejolak dan itu rasanya benar-benar sakit. Bahkan, Lenora sampai mengeluarkan darah dari sela-sela bibirnya.
"Lenora!!!" Pekik mereka semua dan segera menghampiri Lenora yang sudah terbaring di atas rumput segar.
"Apa yang terjadi?" Kaget Diego dengan menatap Simon yang langsung mengeryitkan dahinya.
"Tunggu sebentar!" Ucap Simon dengan memeriksa kondisi Lenora sebelum akhirnya dia melotot kan matanya.
"Ada apa!" Tanya Archon dengan cepat.
"Tunggu sebentar, bisakah kalian sedikit menjauh dari tempat ini?" Tanya Simon dengan serius.
"Tapi..."
"Cepatlah!!!" Marah Simon dengan sorot mata yang begitu tajam, hingga akhirnya mau tidak mau mereka segera menjauh dari sana.
Simon menyuruh beruang besar itu untuk menutupi tempat mereka agar tidak terlihat oleh yang lainnya, Simon segera membantu Lenora untuk duduk bersandar pada tubuh beruang itu dan segera memeriksa perutnya.
"Nona! kenapa anda tidak jujur padaku jika anda bukanlah manusia biasa?!" Tanya Simon dengan datar.
"A-apa maksud mu?" Tanya Lenora dengan keringat yang sudah membanjiri wajahnya.
"Bukankah anda sudah tahu, iblis dan.... Dan Dewi tidak mungkin bisa bersatu!!" Geram Simon dengan rahang yang mengeras, bagaimana bisa dia tidak tahu mengenai hal ini.
__ADS_1
"Apakah itu sangat berbahaya?" Tanya Lenora dengan pelan.
"Sangat! bayi yang ada dalam perut nona akan tersiksa karena dua kekuatan yang bertabrakan antara milik iblis dan Dewi, keduanya sangat bertolak belakang! Hal ini juga akan menyiksa nona untuk setiap minggunya." Jelas Simon.
Lenora melihat ke atas langit yang memperlihatkan indahnya bulan purnama, apakah saat ini sedang kambuh? di raba nya perutnya yang terasa mulai membesar itu padahal kemarin masih sama.
"Tidak apa-apa, selagi anakku baik-baik saja aku tidak akan mempermasalahkannya." Balas Lenora dengan memejamkan matanya.
"Astaga nona, jika yang mulia tahu... Dia, dia tidak akan melihat nona seperti ini." Cemas Simon.
"Lalu, kau pikir aku harus menggugurkan bayiku ini? jangan bodoh Simon! ibu mana yang tega untuk melakukan hal itu?!" Datar Lenora dengan melihat ke sekeliling dan tatapannya berhenti pada seekor serigala dengan taring yang panjang dan mulut yang sudah mengeluarkan air liur.
"Ada apa?" Tanya Lenora pada serigala itu tanpa rasa takut sedikitpun.
Tiba-tiba saja, serigala itu melemparkan sesuatu di hadapan Lenora. Buah aneh berwarna hitam? apa ini?
"Nona, ini adalah buah dewa kehidupan!!" Ucap Simon dengan cepat.
"Ehh benarkah?" Kaget Lenora, buahnya sangat besar seperti kelapa namun semuanya berwarna hitam pekat.
"Nona, cepat makan." Ucap Simon antusias.
"Oh oke." Angguk Lenora dan segera memakannya, rasa manis dan segar dapat di rasakan oleh Lenora. Hal tersebut membuat perutnya tidak lagi merasakan sakit, tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan segar.
"Kau mau?" Tawar Lenora pada Simon.
"Nona, buah itu tidak berlaku pada kami." Balas Simon dengan tersenyum kecil.
"Kenapa?" Heran Lenora.
"Karena buah tersebut memang berasal dari dunia iblis." Balasnya dengan santai.
"Ehh benarkah? kenapa Bing tidak memberikan aku buah ini dulu?!!" Kesal Lenora.
"Nona, buah itu hanya ada di dunia asli kami saja. Mungkin, saat nona sudah bertemu dengan tuan nanti nona baru bisa mendapatkannya." Jelas Simon.
"Ah baiklah, aku.... Ehh perutku?!" Kaget Lenora karena perutnya sudah terlihat sedikit besar dari sebelumnya, padahal dia baru dua bulan. Tapi Lenora lupa, usia kandungannya cuma sampai 5 bulan saja.
__ADS_1
"Nona, ini sudah biasa. 3 bulan lagi nona akan melahirkan, saya harap saat itu juga nona sudah bertemu dengan yang mulia." Balas Simon dengan tersenyum miris, seharusnya wanita hamil selalu di temani oleh suaminya, tapi Lenora?