Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran

Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran
Terluka karena rotan


__ADS_3

Kini, dua kekaisaran itu bergabung. Ralat, Derrick dan pasukannya kini sudah berada di bawah Lenora yang berarti Lenora memimpin dua kekaisaran. Yudha sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan, yang jelas dia benar-benar bangga karena bisa menjadi bawahan Lenora yang berarti berada di atas kedua kaisar itu.


"Lindungi diri kalian masing-masing, di depan sana ada rotan rambat pemakan daging. Jika kalian salah melangkah, kalian akan mati!" Ucap Lenora dengan tegas, semua orang yang mendengar itu langsung mengangguk paham.


Mereka segera berjalan dengan hati-hati, hingga akhirnya salah satu dari pasukan Derrick terseret dan langsung masuk kedalam lumpur penghisap yang entah dari mana munculnya itu.


"Hati-hati, jangan sampai kalian menginjak lumpur itu." Tegas Lenora dengan segera mengeluarkan pedang nya, dia segera memotong habis rotan tersebut yang mulai mendekati nya. Melihat kelincahan Lenora, semuanya sangat kagum.


"Apa yang kalian lihat bodoh! cepat bergerak!" Kesal Lenora, apakah Lenora topeng monyet yang harus mereka tonton?


"Baik." Takut mereka pada tatapan mata Lenora.


Terjadi pertikaian antara mereka dengan banyaknya rotan dan juga lumpur hisap, Lenora terkejut saat melihat Yudha yang terhisap lumpur itu.


"Sial!" Jika saja Yudha tidak ikut dengannya dari awal, mungkin dia tidak akan peduli tapi Yudha dan kesepuluh anggota nya sudah menjadi rekan Lenora sekarang.


"Kakak...."


Lenora melirik ke arah Riza dan Rize yang sedang di bawa oleh kedua rotan itu, Lenora bingung harus memilih siapa sekarang namun Lenora melihat inti dari rotan rambat itu yang berada di ujung gua yang terlihat besar dan terlihat seperti pohon biasa.


"Mati kau!" Geram Lenora dengan terus menyerang membabi buta, Lenora tidak peduli jika tangan dan lengannya sudah berkali-kali tergores oleh rotan tersebut hingga membuat pakaiannya terkoyak, setelah beberapa kali melawan akhirnya tumbuhan itu hancur setelah Lenora melemparkan api dewi nya tanpa sepengetahuan mereka hingga akhirnya pohon itu meledak dan Lenora jatuh terpental hingga membentur dinding gua.


"Ukhukk Ukhukk Ukhukk...."


"Lenora!!" Pekik Diego yang langsung menghampiri Lenora.


"Bantu Yudha dan kedua adikku, aku tidak apa-apa." Ucap Lenora dengan menatap Diego yang langsung mengangguk dan segera menarik tangan Yudha yang sudah terlihat lemah, begitu pun dengan Riza dan Rize yang terlihat ketakutan, namun tetap berusaha untuk tenang karena tidak ingin membuat Lenora khawatir.

__ADS_1


Mereka diam membisu saat melihat Lenora yang berjalan dengan kaki yang terluka, tubuhnya pun di penuhi dengan darah. Lenora menggeram kesal karena dia tidak bisa melenyapkan tumbuhan jelek itu dengan cepat, jika saja tidak ada orang selain Diego mungkin dia bisa memusnahkannya dengan cepat tanpa membuat nya terluka seperti ini, benar-benar sangat merepotkan.


"Nona, anda tidak apa-apa?" Cemas Yasha dengan menghampiri Lenora.


"Hanya luka kecil." Balas Lenora dengan duduk di atas batu dan mulai memejamkan matanya, semua orang diam saat melihat Lenora yang tertidur tapi mereka tahu bahwa Lenora sedang menyembuhkan dirinya.


Cahaya putih mulai menyelimuti Lenora yang membuat mereka silau, tidak ada yang berani menatap ke arah Lenora dan semuanya hanya memejamkan matanya.


Kini, sosok Lenora sudah kembali seperti semula dengan pakaian yang berbeda juga. Sosoknya yang agung mulai terlihat kembali, mereka sangat kagum dengan kecepatan sembuh Lenora.


"Nona, saya..." Ucap Yudha dengan sedikit tak enak hati karena sudah merepotkan Lenora.


"Diam, jangan berlagak lagi. Sembuhkan luka mu..." Ucap Lenora sendiri memberikan sebuah pil pada Yudha yang langsung menerimanya, setelah itu Lenora menghampiri kedua anak kembar itu yang sedang duduk dengan memegang perutnya yang terlihat terluka karena terlilit rotan berduri tadi.


"Bukalah...Tahan sebentar." Ucap Lenora dengan memberikan bubuk berwarna hijau gelap pada luka mereka yang terlihat melilit perutnya, Riza dan Rize meringis kesakitan bahkan sampai meneteskan air matanya. Lenora mengelus kedua rambut mereka agar tenang, tanpa ada yang tahu sebenarnya Lenora sedang menyalurkan energi nya pada mereka berdua agar tidak mudah lelah dan terluka.


"Baik nona."


Para bawahan Yudha langsung menggendong Riza dan Rize yang terlelap, mungkin karena obat yang di berikan Lenora tadi. Mereka sedikit sedih karena rekan mereka banyak yang mati, namun Lenora sudah menegaskan bahwa Lenora akan melindungi orang-orangnya saja. Bukannya membedakan, tapi Lenora tidak sekuat itu untuk bisa menyelematkan mereka semua, meskipun dia bisa saja namun untuk apa? dia tidak ingin terlihat semakin mencolok disana.


"Aneh, kenapa kita tidak bertemu dengan hewan spirit?" Ucap Derrick pada mereka semua yang baru saja keluar dari gua dan kini sedang beristirahat di bawah pohon.


"...." Tidak ada yang menjawabnya karena mereka semua tidak ada yang tahu juga, Lenora juga memilih untuk menyiapkan makan untuk anggota nya yang baru saja menangkap ayam hutan dan beberapa kelinci liar juga.


Semua pasukan yang melihat itu segera berburu juga, mereka sangat lapar setelah melihat cara masak Lenora yang tercium sangat harum. Lenora tidak peduli karena dia hanya mementingkan anggotanya, sekali lagi Lenora katakan bahwa dia tidak sebaik itu untuk berbagi. Selagi mereka mampu melakukannya, kenapa harus dia yang bergerak? iya kan.


"Bangun, makan dulu." Ucap Lenora pada Riza dan Rize yang mulai membuka matanya.

__ADS_1


"Kakak, maafkan kami yang tidak berguna ini." Ucap mereka dengan menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, jadikan saja pelajaran. Ayo isi perut kalian dulu..." Ucap Lenora dengan memberikan beberapa potong daging pada mereka berdua yang langsung melahapnya dengan cepat, sepertinya mereka memang sudah sangat kelaparan.


Lain kali, Lenora akan memperhatikan waktu makan mereka yang tidak sama seperti dirinya dan juga Diego yang jarang sekali makan karena sudah sering memakan buah roh yang memiliki khasiat banyak sehingga membuat mereka tidak merasakan lapar.


Mereka berdua akan makan jika ingin saja, karena itu juga tidak terlalu berpengaruh bagi mereka berdua.


"TOLONG.....!!! YANG MULIA DI DEPAN SANA ADA ULAR...." Teriak salah seorang yang datang dengan terburu-buru, nafasnya terdengar ngos-ngosan dan wajahnya juga pucat.


"Ular?" Tanya Lenora dengan bangkit dari duduknya.


Benar saja, seekor ular berkepala tujuh sedang bergerak ke arah mereka. Ular tersebut berwarna emas dengan salah satu kepala yang memakai mahkota.


"Ular hydra?" Gumam Lenora dengan menatap ular itu yang terlihat ganas.


"Hati-hati, dia beracun kak." Ucap Riza dengan bangkit dari duduknya.


"Aku tahu, apakah kalian mau memburunya? silahkan, dia hewan roh tingkat legend!" Angguk Lenora dengan menatap mereka semua yang langsung berbinar.


"Kami akan menundukkan nya nona." Ucap mereka yang di balas anggukan oleh Lenora yang memilih untuk mundur dan duduk di bawah pohon dengan memakan buah-buahan.


Begitupun dengan anggota nya yang nampak ikut bersantai dengan Lenora, awalnya mereka panik karena ular itu terlihat besar dan mengerikan namun melihat Lenora yang tenang, bukankah itu tidak berbahaya?


"Kalian mau ular itu?" Tanya Lenora pada Riza dan Rize yang terkejut.


"Aku tidak kak, karena tidak cocok untuk keahlian ku. Tapi untuk kak Riza, mungkin cocok." Ucap Rize dengan menatap Riza yang hanya menunduk, dia memang sangat menyukai racun.

__ADS_1


"Aku akan memberikannya padamu jika mereka sudah menyerah." Ucap Lenora dengan tersenyum, hal itu membuat yang lainnya terkejut. Apakah semudah itu?


__ADS_2