
Perjalanan yang Lenora tempuh bersama rombongannya mulai terasa melelahkan, mereka berjalan sudah hampir 1 minggu namun mereka masih belum juga menemukan tempat bersalju, terlebih mereka kini sudah sampai di gurun tempat Lenora kemarin bersama dengan Diego dan Yudha juga. Mereka istirahat di gua karena hari sudah mulai malam, Lenora sendiri tidak istirahat karena dia lebih memilih untuk mengecek keadaan sekeliling.
"Kau yakin ada energi baru di sekitar sini?" Tanya Lenora pada Ramon dalam benaknya.
"Benar ibu, aku merasakan auranya yang masih lemah namun dia terasa luar biasa." Balasnya yang membuat Lenora diam.
"Dari arah mana?" Tanya Lenora.
"Dalam gua, kemarin ibu dan yang lainnya belum masuk kesana. Sepertinya disana ada sesuatu...." Ucap Ramon.
"Oh baiklah." Angguk Lenora dengan berjalan secara perlahan-lahan ke arah dalam gua, Diego yang melihat itu hendak menyusulnya namun segera di hentikan oleh Lenora.
"Kau disini saja, aku tidak akan lama." Ucap Lenora dengan tersenyum kecil.
"Tapi..."
"Diego.." Ucap Lenora yang membuat Diego menghela nafas berat dan mengangguk saja, meskipun dia tidak ingin melihat Lenora pergi seorang diri.
Lenora mulai menyusuri gua tersebut yang tiba-tiba saja terdapat sebuah pintu, Lenora segera masuk dan pintu itu langsung tertutup seketika. Hal itu membuat Lenora terkejut karena dirinya langsung masuk kedalam sebuah lubang, Lenora memejamkan matanya dengan sedikit sakit karena kencangnya angin yang menghantam tubuhnya.
Semakin lama Lenora merasakan dingin yang menembus pori-porinya, Lenora tidak bisa membuka matanya karena dia masih dalam posisi jatuh.
BRUGHHHHHHHH
"Ughhh" Lenora mengaduh kesakitan saat dirinya jatuh tergolek di atas hamparan yang terasa sangat dingin, Lenora baru membuka matanya dan langsung terlonjak kaget.
"Salju?" Gumamnya dengan melihat sekeliling yang hanya terdapat hamparan salju saja.
__ADS_1
Lenora bangkit dari tempatnya dan mulai berjalan ke sekeliling, dia merasa sangat dingin dan giginya bahkan sampai bergemelutuk menahan dingin nya udara.
"Ramon? apa kau mendengarkan aku?" Tanya Lenora dalam benaknya, namun tidak ada balasan dari Ramon. Sepertinya sudah tidak terhubung lagi...
Dengan hanya mengandalkan diri sendiri, Lenora segera bergegas mencari bunga lotus salju yang di inginkan oleh kaisar Yasha itu. Dengan sedikit tertatih, Lenora mulai menyusuri tempat tersebut hingga akhirnya Lenora melihat sebuah tempat persinggahan di tengah-tengah salju tersebut.
Tak membutuhkan waktu lama, Lenora segera menghampiri rumah tersebut dan segera memeriksanya. Aneh, rumah tersebut terlihat kosong namun terasa hangat seperti ada pemiliknya.
Tanpa berlama-lama, Lenora mulai duduk di dekat perapian. Dia merasakan tubuhnya yang mulai menghangat, meskipun begitu Lenora tetap harus siap siaga karena dia tidak tahu siapa pemilik rumah yang ada di tengah-tengah salju ini.
"Dingin sekali, apakah ada badai salju di luar?" Gumam Lenora dengan terus menggigil, terdengar suara hembusan angin yang begitu kencang hingga membuat atap juga mulai di penuhi salju.
"Aku tahan terhadap panas nya api tapi kenapa tidak dengan salju?" Gumamnya dengan terus menggerutu kesal, hidungnya terasa memerah bahkan Lenora sudah berkali-kali bersin.
Saat Lenora mulai melamun, dia mendengar suara derap langkah kaki seseorang yang mulai mendekatinya. Dengan cepat Lenora bangkit dari tempatnya dan terkejut dengan kemunculan seseorang yang terlihat..... Aneh.
Telinganya yang runcing, sorot matanya yang tegas membuat Lenora tersadar bahwa laki-laki di hadapannya bukan manusia.
"Siapa kau?!" Tanyanya dengan mengeluarkan kuku tajamnya yang membuat Lenora terkejut.
"Maaf, aku tidak sengaja datang kemari. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa ada disini, aku benar-benar tidak tahu bahwa ini... Ini rumah mu, aku hanya ingin menghangatkan diri sebentar." Balas Lenora dengan setenang mungkin.
"Bagaimana bisa manusia seperti mu ada disini?" Tanyanya dengan menghampiri Lenora yang nampak tak bergeming, justru Lenora merasa ingin bersin lagi karena laki-laki di hadapannya membuat keadaan semakin dingin.
Akhirnya Lenora pun menceritakannya, bagaimana bisa dia ada disana termasuk tentang firasat nya juga dari Ramon.
"Kau memiliki naga lain?" Kagetnya.
__ADS_1
"Ahh iya, dia pemberian suamiku." Angguk Lenora yang membuat laki-laki itu terdiam.
Terlihat laki-laki di hadapannya langsung memejamkan matanya dan mulai menatap Lenora dalam, Lenora yang di tatap seperti itu hanya diam tak bergeming.
"Benar, kau memiliki naga api yang masih muda. Sepertinya, suami mu benar-benar luar biasa." Ucapnya dengan duduk di salah satu kursi yang ada disana.
"Itu memang benar, suamiku sangat kuat. Kenapa? kau mengenalnya?" Tanya Lenora dengan heran.
"Hanya ada satu pemilik naga api di dunia ini, bukankah itu raja iblis? dia memiliki seekor naga yang umurnya sudah ratusan ribu tahun. Sama seperti ku, untuk yang ada padamu dia hanya keturunannya saja." Jelasnya dengan santai.
"Ternyata memang benar jika kau mengenal suamiku.... Kau juga, apakah kau seekor naga?" Tanya Lenora dengan menelitinya, dia memang tidak pernah melihat wujud naga dalam bentuk manusia karena Ramon belum pernah menunjukkan nya.
"Menurut mu?" Ucapnya dengan santai.
"Hmm... Apa kau hidup disini selama ratusan tahun?" Tanya Lenora penasaran.
"Apalagi? naga membutuhkan banyak waktu untuk hibernasi, apakah naga mu tidak pernah melakukannya? atau naga suamimu juga sering muncul?" Tanya nya dengan salah satu alis yang terangkat.
"....." Lenora tidak menjawab, dia memang tidak pernah melihat hewan spirit milik Bing. Bukan karena apa, tapi Lenora tidak ingin terlalu tahu karena mereka pun membutuhkan privasi nya masing-masing. Terlebih, dia sudah yakin jika Bing memiliki hewan spirit yang kuat sehingga Bing tidak ingin memperlihatkannya.
"Dia memiliki naga api, usianya sama sepertiku karena hanya kami berdua yang sudah hidup lama. Untuk penerus kami, dia sudah mendapatkan nya dan itu ada padamu. Sedangkan penerus ku, aku masih belum memberikannya pada siapapun karena dia masih dalam tahap pengembangan." Jelasnya lagi.
"Memangnya berapa lama proses pengembangan itu?" Penasaran Lenora, apakah begitu lama?
"Kurang lebih seratus tahun, itu pun hanya untuk pengembangan nya saja. Belum lagi pembentukan roh, melakukan hibernasi untuk mensterilkan kekuatannya, di tambah waktu yang lumayan lama untuk dia agar bisa menjadi manusia. Semakin lama proses pembentukannya maka semakin bagus juga fisik yang akan dia dapatkan. Naga tidak sama seperti hewan roh lainnya yang mungkin hanya membutuhkan waktu seratus tahun saja untuk bisa menjadi sempurna." Ucapnya dengan terus menjelaskan semuanya pada Lenora yang hanya mengangguk paham.
"Sepertinya, aku memiliki takdir dengan putra mu. Meskipun dia lebih banyak energi iblis nya, tapi dia memiliki tubuh yang istimewa karena terdapat energi suci juga yang ia dapatkan darimu. Bukankah anakmu lahir saat badai salju turun?" Tanya nya dengan tersenyum kecil.
__ADS_1