Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran

Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran
Masuk perangkap


__ADS_3

Diego ingin sekali marah karena melihat kediaman yang di tempati Lenora saat ini benar-benar buruk! bahkan menurutnya kandang babi jauh lebih bersih dari tempatnya sekarang.


"Apa kau lupa? aku baru satu malam disini, sudahlah ayo pergi...." Ajak Lenora dengan membawa Diego untuk segera keluar lagi dari tempat tinggalnya.


Mereka menyusuri kediaman tersebut dengan hati-hati, hingga akhirnya mereka sampai di aula dan melihat semua keluarga sedang berkumpul disana dengan amat sangat bahagia. Mereka terlihat tertawa bersama-sama, entah apa yang mereka bahas dia tidak tahu.


"Ayo ke dapur." Ajak Lenora pada Diego yang hanya mengangguk.


Mereka melihat sekeliling dapur yang terlihat ramai, dengan cepat Diego melemparkan sebuah benda kecil yang tiba-tiba saja menjadi asap. Hal itu membuat semua pelayan yang ada di dapur langsung jatuh tertidur, dengan cepat Lenora masuk bersama Diego.


"Berikan semua bubuk gatal itu kedalam sumber air mereka, aku akan berada di dapur." Ucap Lenora.


"Baik."


Lenora segera memasukkan beberapa bubuk tersebut kedalam tong yang berisi air, kedalam semua bumbu, kedalam semua daging dan bahan makanan mereka bahkan Lenora juga menaburkannya di semua lap tangan yang di khususkan untuk para tuan dan nona.


"Sampai kapanpun kalian mencari penyebabnya, kalian tidak akan pernah bisa menemukannya hahah..." Senang Lenora, itu adalah bubuk gatal dan diare yang akan bekerja jika mereka meminum bir, besok ada pesta pasti mereka akan meminum bir bukan?


Lenora segera bergegas kesana dan terkejut dengan suara tangisan bayi yang berasal dari kamar pelayan, dengan perlahan-lahan Lenora membuka jendelanya. Lenora melihat seorang bayi laki-laki yang tengah menangis karena kehausan, bayi tersebut terlihat tampan meskipun tidak setampan anaknya namun itu terlihat dari matanya yang indah.


"Kemana ibunya? apakah di dapur tadi?" Tanya Lenora dengan melihat sekeliling, jiwa seorang ibunya keluar, Lenora masuk dan menghampirinya.


Di angkatnya bayi tersebut yang langsung diam dari tangis nya, Lenora terdiam dan segera membuka baju bagian atasnya. Lenora memberikan ASI nya pada bayi tersebut yang langsung menerimanya dengan senang, di elus nya bayi tersebut hingga tanpa sadar air matanya berlinang.


Lenora segera mendongakkan kepalanya ke atas agar tidak lagi menangis, dia benar-benar merindukan sosok Zaphier dan Bing. Dia ingin merasakan pelukannya, dia ingin merawat dan melihat pertumbuhannya, dia juga ingin melihat bagaimana Zaphier tumbuh.


"Lenora..." Ucap Diego yang langsung membalikkan tubuhnya saat melihat Lenora yang sedang memberikan asi nya.

__ADS_1


Setelah cukup Lenora kembali merebahkan bayi tersebut dan mengecup nya pelan...


"Semoga rasa ini sampai pada putraku juga, semoga tuhan memberkatimu...." Ucap Lenora dengan mengelus kepala bayi tersebut.


Lenora menghampiri Diego dan membawanya pergi dari sana, Diego melirik Lenora yang terlihat baik-baik saja namun dalam hati dia tahu bahwa Lenora benar-benar hancur.


"Lenora, kau sudah memberikan berkat mu sebagai seorang dewi pada bayi tadi." Ucap Diego.


"Aku tahu."


"Semuanya sudah aku selesaikan, apa masih ada lagi yang ingin kau lakukan disini?" Tanya Diego.


"Aku ingin seluruh keluarga ini di eksekusi!!" Ucap Lenora dengan datar.


"Itu mudah, kau bisa mengatakannya pada Envios."


"...."


••••••


Nina langsung menghampirinya dan membawanya untuk membicarakan sesuatu, sepertinya masalah pernikahan mereka yang akan di lakukan nanti.


"Nona, terimakasih sudah meyakinkan Envios untuk bisa menerima ku. Ayah juga sudah tahu mengenai hal ini, dia sangat berterimakasih pada mu." Ucap Nina dengan tersenyum lebar.


"Bukan masalah besar, ahh ya... Aku membutuhkan bantuan mu Nina, kau tahu bukan keluarga dari pemilik tubuh ini bagaimana?" Tanya Lenora pada Nina yang nampak mengeryit sebelum akhirnya mengangguk cepat.


"Saya tahu, nona pertama mereka sangat di kenal karena memiliki kekuatan yang luar biasa di umurnya yang sekarang, begitu juga dengan nona keduanya. Apakah mereka yang sudah menyiksa nona selama ini?" Tanya Nina dengan ekspresi yang terkejut.

__ADS_1


"Ya, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Dia begitu menyukai Envios dan berharap bisa menjadi ratunya, bagaimana menurutmu?" Tanya Lenora dengan tersenyum miring, Nina yang melihat itu ikut tersenyum kecil dan mengangguk paham.


••••••


Mendengar berita bahagia dari kerajaan, semua orang sangat berantusias untuk datang karena mereka juga mendengar bahwa Envios akan mengangkat seorang ratu. Mereka sangat penasaran dan ingin melihat siapa sosok yang sudah menarik perhatiannya itu.


Oliver datang dengan begitu gagahnya, semua rakyat kerajaan Balveron langsung menundukkan tubuhnya dan bersujud di lantai, mereka nampak terkejut dengan kedatangannya itu.


Tapi, yang mereka aneh kan lagi adalah sosok wanita cantik yang berjalan di belakangnya. Dia sangat cantik dan mempesona dengan aura yang begitu luar biasa, mereka pikir itu adalah salah satu selir Oliver yang ikut kesana.


"Salam yang mulia kaisar..." Sapa Envios dengan menundukkan kepalanya.


"Hmm..." Angguk Oliver yang langsung duduk di tempatnya.


"Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul maka saya akan membagikan kabar bahagia ini pada kalian semua wahai rakyat ku.... Saya, Envios akan menikahi adik semata wayang yang mulia kaisar yang sudah saya temukan beberapa waktu lalu saat saya melakukan perjalanan. Dia adalah putri Aurora yang selama ini hilang..." Jelas Envios dengan tersenyum lebar pada Lenora yang langsung bangkit dari duduknya dan menundukkan kepalanya pada mereka semua yang langsung bersorak gembira, pantas saja wajah Oliver dan Lenora mirip.


"Yang mulia!!! bukankah anda sudah berjanji akan menikahi putri saya?" Tanya seorang menteri yang merupakan ayah dari Nina, dia terlihat memainkan perannya dengan baik.


"Itu memang benar, tapi bukan sebagai ratu melainkan sebagai selir agung." Balas Envios yang membuat semua orang melotot tak percaya, bukankah Envios tidak pernah mau memiliki dua istri?


"Y-yang mulia....." Sedih Nina dengan air mata yang berlinang, mereka yang melihat itu turut sedih karena mereka tahu perjuangan Nina selama ini, mereka pikir Envios sudah mulai menerimanya karena beberapa hari ini sikap mereka sangat dekat.


"Maafkan aku Nina, tapi aku ingin posisi kerajaan ini semakin kuat! dengan adanya dukungan dari kaisar aku bisa dengan mudah memenangkan peperangan nanti." Jelas Envios dengan memegang kedua pundak Nina yang langsung menepisnya, Nina pergi dari sana dengan ekspresi penuh kesedihan.


Nina berlari ke luar aula dan duduk termenung di taman, Nina menangis sesenggukan hingga terdengar suara langkah kaki seseorang yang kini sudah berada di depannya.


"Nona, jangan menangis. Saya tahu bagaimana perasaan anda, saya bisa membantu anda agar bisa menjadi ratu tapi setelah itu tolong izinkan saya agar menjadi selir agung......" Ucap seseorang yang terlihat serius, Nina menatap ke arahnya dan mereka saling bertatapan.

__ADS_1


"Kena kau!" Gumam Nina dengan mengangguk kecil, hingga terlihat senyum wanita itu yang nampak puas.


"Tidak masalah tidak menjadi ratu, tapi itu bukan berarti aku menyerah untuk mendapatkan nya. Masih ada hari esok untuk bisa bergerak lagi...."


__ADS_2