Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran

Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran
Terkena obat tidur


__ADS_3

Lenora menarik mereka semua untuk segera bersembunyi di balik bebatuan yang penuh dengan darah dan bau tak sedap itu, Lenora sendiri pun ingin muntah rasanya. di


Mereka harus menahannya untuk sementara waktu, di tempat mereka berdiri tadi banyak rombongan manusia kecil namun wajah mereka terlihat aneh dan menjijikkan! mereka membawa mayat-mayat itu dengan cara menggusurnya hidup-hidup setelah mereka lumpuhkan agar tidak bisa kabur.


"Akhhhhhhhhhh.....!!" Seorang wanita yang terlihat mengenaskan itu di pukul habis di bagian kepala menggunakan palu yang begitu besar, darah muncrat kemana-mana.


Wanita itu langsung mati dengan mata yang menonjol keluar, Molly yang melihat itu segera memejamkan matanya saat para mahluk kecil itu mencongkel matanya dan memakannya tanpa rasa jijik sedikitpun.


Bahkan, Archon sendiri pun terlihat jijik melihatnya. Hanya Lenora yang nampak biasa saja, dia sudah sering melihatnya. Entah itu secara langsung ataupun di film, semuanya sudah pernah ia saksikan.


Setelah berhasil memakan bagian dalam organ wanita itu, sekumpulan mahluk kecil itu pun terdengar saling berbincang satu sama lain. Bahasa yang mereka gunakan sangat asing sehingga Lenora tidak tahu apa yang sedang mereka katakan itu.


"Nona..." Bisik Molly namun segera di bungkam oleh Lenora.


Para mahluk itu segera mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, hal itu membuat mereka panik namun segera di tenangkan oleh Lenora dengan melemparkan sesuatu ke tempat yang sedikit jauh dari sana.


"Diam, mereka sangat sensitif terhadap suara." Ucap Lenora dengan hanya menggunakan gerakan bibir saja.


Mereka berempat mengangguk cepat, setelah itu kembali memantau ke arah mahluk itu yang kembali pergi ke luar.


Setelah menunggu beberapa saat, barulah mereka bisa bernafas lega dan segera bersiap untuk pergi dengan keadaan yang hati-hati.


"Ishh...!" Archon menggelengkan kepalanya saat melihat mayat wanita yang nampak sudah tidak beraturan itu, tubuhnya terkoyak begitu mengerikan!


"Aku sangat penasaran, sebenarnya dari mana mereka berasal?" Heran Lenora dengan melihat ke sekumpulan mayat yang begitu banyak di sana.


"Nona, sepertinya mereka itu mahkluk penjaga buah kehidupan dewa. Ada banyak orang dari berbagai daratan yang datang kemari untuk mendapatkannya, namun seperti yang saya katakan tadi.... Disini sangat berbahaya!" Jelas Simon.


"Ngomong-ngomong buah kehidupan itu, memangnya apa fungsinya?" Tanya Lenora dengan ekspresi yang begitu polos.


Mereka yang mendengar pertanyaan santai itu hanya bisa menghela nafas penuh kesabaran, bagaimana bisa Lenora baru menanyakannya sekarang?

__ADS_1


"Nona, buah itu sangat penting! siapapun yang memakannya, mereka akan mendapatkan kekuatan yang abadi. Seperti nona saat ini, jika nona memakannya kemungkinan kekuatan nona akan bertambah semakin tinggi. Bahkan, nona bisa menghidupkan kembali orang yang sekarat dengan buah itu...." Jelas Simon yang membuat Lenora mengangguk paham.


"Aku mengerti..." Angguk Lenora dengan tersenyum kecil.


Mereka terus menyusuri hutan tersebut dengan penuh kehati-hatian, hingga saat berada di pinggir danau mereka di kejutkan dengan kemunculan sosok mahluk kecil itu yang jumlahnya lumayan banyak dari jumlah mereka saat ini.


"....." Para mahluk itu terlihat bersemangat saat melihat sosok Lenora yang hanya diam dengan acuh, dia menatap jijik pada mereka.


"Apakah kalian tidak pernah mandi? jika tidak tampan setidaknya kalian rajin mandi!" Celetuk Lenora yang langsung mendapatkan cubitan kecil dari Diego dan Archon, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakan hal seperti itu.


"Nona..." Molly segera melindungi Lenora dan berdiri di depan Lenora yang langsung mengeryit tak senang, dia tidak ingin di perlakukan seperti itu.


"Mundur lah..." Ucap Lenora dengan mengeluarkan pistolnya.


"Tapi..."


"Tutup telinga kalian jika tidak ingin tuli!" Santai Lenora, dulu juga Lenora seperti itu saat dirinya masih belum terbiasa dengan suara pistol yang bahkan pernah membuatnya tuli untuk beberapa waktu.


"Kalian lihat kegunaan pistol ini..." Ucap Lenora dengan menembak salah satu dari mereka.


DORRR!!!


"Akhhhhhhhhhh!"


Salah satu dari mahluk kecil itu pun terbaring dengan tubuh yang hancur seketika, Lenora tersenyum ternyata pandai besi itu benar-benar bisa di andalkan.


Melihat salah satu rekannya mati, para mahluk itu langsung menatap Lenora penuh kebencian. Mereka mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, sebuah jarum yang terlihat tajam dan sepertinya itu beracun juga.


"Mundur!! jarum itu beracun!" Tegas Lenora dengan mundur beberapa langkah.


"Lenora hati-hati!!" Takut Diego.

__ADS_1


"Hrrr.....!!" Para mahluk itu segera menyerang Lenora dengan membabi buta, hal itu membuat teman-teman Lenora cemas dan takut terjadi sesuatu pada Lenora.


"Sial!" Lenora bergumam dengan penuh kekesalan, dia segera mengeluarkan serbuk berwarna yang di balut oleh kain tipis sehingga saat dia melemparkannya, serbuk itu langsung pecah dan terlihat seperti asap.


"Ayo pergi!!" Ajak Lenora dengan berlari kecil, meskipun tidak bisa membunuh para mahluk kecil itu setidaknya Lenora bisa membuat mereka tidak sadar selama beberapa jam kedepan.


"Lenora, mahluk apa tadi?" Tanya Archon dengan begitu penasaran.


"Entahlah, mereka seperti hewan pemakan daging. Namun wujud mereka persis seperti manusia kerdil...." Balas Lenora dengan tubuh yang berkeringat dingin.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Simon dengan mendekati Lenora yang terlihat pucat.


"Sepertinya aku terkena jarum yang mereka lemparkan tadi." Jujur Lenora dengan memegang kepalanya yang terasa pusing, dia juga mengantuk.


"Astaga..." Panik mereka yang langsung membantu Lenora untuk beristirahat sejenak.


"Tidak perlu, kita lanjutkan saja perjalanan." Tolak Lenora, dia tidak tahu ada berapa banyak bahaya yang ada di hutan itu. Dia ingin segera pergi dari sana.....


"Tapi..."


"Tidak apa-apa, biar aku yang menggendong mu." Ucap Archon yang di balas anggukan oleh Lenora, dia sudah terbiasa berada dalam gendongan mereka berdua. Bahkan, saat mereka masih dalam wujud hewannya juga.


"Aku akan tidur sebentar, jika ada bahaya kalian bisa gunakan pistol kalian masing-masing. Usahakan jangan terlalu menghabiskan banyak peluru..." Ucap Lenora dengan mata yang sudah terpejam.


"Baik." Patuh mereka.


Selama perjalanan, mereka terlihat hati-hati karena dengan tidurnya Lenora mereka merasa ketakutan. Mereka juga tidak tahu kenapa itu, namun saat Lenora tersadar mereka justru merasa sangat aman dan terjaga.


Mereka menyusuri hutan tersebut dengan begitu hati-hati dan berharap agar tidak di pertemukan lagi dengan sekumpulan mahluk aneh tadi, meskipun di setiap langkah dan jalan mereka terdapat banyak sekali mayat dan aroma tak sedap yang mereka cium hingga membuat mereka semua pusing dan mual, namun mereka harus tetap berjalan maju agar segera sampai dan bisa beristirahat dengan tenang.


Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Lenora pergi hanya berdua dengan Simon, mungkin mereka akan merasa tenang karena tidak membebani Lenora di sana.

__ADS_1


Hingga setelah matahari mulai terbenam, dan langit pun sudah mulai gelap mereka sudah sampai di pinggir danau yang begitu luas dan nampak tenang, mereka teringat apa kata Lenora yang mengatakan bahwa di setiap air yang tenang terdapat banyak bahaya yang tersimpan, karena itulah mereka memiliki menunggu Lenora untuk bangun, dan mereka juga butuh istirahat untuk memulihkan tenaganya yang terkuras habis karena jalan yang mereka tempuh benar-benar jauh.


__ADS_2