
Mendengar kata hamil pada Lenora, semua orang menjadi berhati-hati agar tidak lagi membebani Lenora, bagaimana pun kondisi Lenora tidak boleh terlalu lelah.
"Aku sangat penasaran dengan suamimu." Ucap Envios dengan melirik Lenora yang sedang makan, saat ini mereka memilih untuk mendirikan tenda di tengah hutan.
"Dia sangat tampan dan kuat, kau tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan dirinya." Balas Lenora dengan santai, hal itu membuat teman Lenora mengangkat jempolnya sebagai tanda setuju, sedangkan semua anggota Envios hanya diam dengan ekspresi bodohnya, hal itu sama saja dengan merendahkan Envios.
"Ahh begitu..." Ucap Envios dengan sedikit malu, ucapan Lenora benar-benar blak-blakan.
"Aku hanya bercanda, dia sosok laki-laki yang lembut padaku namun galak pada orang lain. Dia sangat menyayangiku, bahkan..... Dia rela melakukan apapun demi diriku." Ucap Lenora dengan pelan, tangannya sibuk mengelus perutnya yang sedikit demi sedikit mulai membesar, jika di itung dia sudah dua bulan semenjak pisah dengan Bing, apakah usia kandungannya sama? tapi tidak mungkin, karena perutnya masih terlihat kecil.
"Tidak apa-apa, kau memang pantas mendapatkan laki-laki seperti itu." Ucap Envios dengan memberikan sepotong dagingnya pada Lenora yang nampak masih sangat lapar.
"Entahlah, seharusnya dia tahu bahwa aku berusaha mati-matian sekarang hanya untuk dirinya." Ucap Lenora dengan santai.
"Lalu bagaimana jika kau datang tapi dia sedang bersama wanita lain?" Tanya Nina yang datang dan duduk di samping Lenora, dia sangat tertarik dengan kehidupan Lenora yang terlihat begitu menyenangkan.
"Hmm, jika dia bersama wanita lain? aku tidak masalah, tapi sebelum itu aku harus melenyapkannya terlebih dahulu. Aku tidak suka berbagi!" Santai Lenora, namun hal itu justru membuat langit terang dan sebuah petir langsung menyambar dengan begitu keras hingga membuat mereka terlonjak kaget.
"Ucapan mu selalu di dengar oleh langit Ra." Ucap Diego dan Archon secara bersamaan.
"Mungkin." Balas Lenora dengan acuh.
Saat mereka sedang asik berbincang dan makan, mereka di buat waspada dengan suara rumput yang bergoyang dan bunyi aneh dari dalam hutan. Mereka saling pandang dan segera bersiap untuk berjaga-jaga, Lenora mengambil air dan mematikan api tersebut hingga suasana di sana menjadi gelap gulita.
Archon dan Diego yang memiliki Indra penglihatan yang kuat langsung memegang Lenora, Molly dan Simon. Namun tidak hanya mereka, hampir semuanya saling berpegangan tangan.
"Jangan berisik dan jangan ada yang mengeluarkan cahaya sedikitpun." Ucap Diego pelan.
Mereka saling berpegangan satu sama lain dan menunggu kedatangan mahluk itu, bunyi suara yang terdengar menyeramkan langsung terdengar jelas oleh mereka.
Lenora mengelus perutnya pelan dan berharap dia bisa melihat dengan jelas, namun hal aneh justru terjadi. Dengan tiba-tiba Lenora bisa melihat dengan jelas keadaan di depan, mata Lenora membulat sempurna saat melihat keberadaan seekor ular yang sedang bertarung dengan ular lainnya, ukuran mereka sangat besar dan menyeramkan.
__ADS_1
"Itu ular! Cepat bersembunyi!!" Ucap Lenora dengan cepat, mereka segera mencari tempat persembunyian yang cocok agar tidak bisa terdeteksi oleh ular itu.
Mereka bersembunyi di balik batu yang begitu besar itu, Nafas mereka terdengar memburu karena takut saat ular tersebut mulai mendekat. Archon yang memang seorang ular hanya diam dengan ekspresi anehnya, ular tersebut terlihat seperti ular biasa dengan ukurannya saja yang besar.
Apakah dia bisa berbicara dengan ular itu?
"Jangan mengada-ada Archon! dia bukan seperti mu!" Tegas Lenora yang tahu apa yang saat ini tengah di pikirkan oleh Archon.
"Kenapa kau bisa melihat dengan jelas bahwa itu ular?" Heran Envios.
"Entah.." Heran Lenora namun aslinya dia tahu bahwa dia mendapatkan kekuatan tersebut dari anaknya.
"Bagaimana ini? sepertinya ini.... Sarang ular!" Ucap Nina yang merasa bahwa tempat tersebut memang sedikit aneh, bagaimana mungkin ada tanah lapang di tengah hutan ini?
"Kau benar!" Setuju Lenora dengan mengeluarkan sesuatu dalam tasnya, sebuah senter kecil yang langsung mengeluarkan cahaya.
"Bagaimana bisa batu ruang berfungsi disini?" Heran mereka semua.
"Oh..." Paham mereka.
Mereka berjalan dengan Lenora yang ada didepan, mereka terus menyusuri hutan itu hingga akhirnya berhenti di sebuah danau yang lumayan besar. Danau tersebut terlihat indah karena banyak kunang-kunang disana.
"Tunggu sebentar...." Lenora menajamkan sorot matanya ke arah sekeliling danau tersebut, dia tidak menemukan bahaya apapun disana selain mahluk yang ia kenal ya ada di dalam danau itu.
"Ketemu!" Senyum Lenora dengan memberikan senter itu pada Simon dan dia segera pergi menuju danau tersebut, Lenora menceburkan dirinya secara tiba-tiba hingga membuat mereka terkejut bukan main.
"Lenora!!"
Lenora sendiri sudah berada di dalam air, dia melihat seekor gurita yang ukurannya tidak terlalu besar seperti sebelumnya. Gurita tersebut terlihat kesepian, anehnya gurita itu kenapa bisa ada disini? apakah mahluk yang membawanya itu ular?
Gurita tersebut hendak marah namun melihat sesuatu yang berkilau di kening Lenora akhirnya dia tahu bahwa itu milik ibunya, dengan cepat dia menghampiri Lenora membantunya untuk naik ke atas permukaan dengan menggunakan tentakelnya.
__ADS_1
"Hah....Hah....Hah...Akhirnya aku menemukanmu." Ucap Lenora dengan tersenyum lebar.
Semua yang ada di darat langsung bernafas lega dan merasa aneh dengan kemunculan gurita tersebut, mereka saling pandang dengan penuh keheranan.
"Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Lenora pada gurita tersebut.
"Ular itu yang membawaku." Balas gurita tersebut dengan suara anehnya, namun dapat di pahami oleh Lenora.
"Kenapa kau bisa di bawa?dan, ibu mu pun terluka parah di laut." Heran Lenora.
"Aku tidak tahu, yang jelas ular itu terlihat marah pada ibuku. Hingga akhirnya dia membawa ku pergi namun dia tidak melukai ku, justru dia menjagaku disini. Aku terluka karena, karena ada seseorang yang mau membunuh ku." Jelasnya yang membuat Lenora terheran-heran.
"Apa ibumu pernah terlibat masalah dengannya?" Tanya Lenora.
"Aku tidak tahu, ibu tidak memberitahuku."
"...." Lenora menghela nafas berat, sepertinya memang telah terjadi sesuatu pada kedua induk ular dan gurita tersebut, jika ular itu jahat mungkin gurita ini sudah mati bukannya di jaga seperti ini.
"Didalam hutan sangat berbahaya, banyak sekali hewan dan tumbuhan yang menyeramkan. Bahkan, ada mahluk aneh juga yang suka memakan manusia." Ucap gurita itu dengan cepat.
"Aku tahu, apa kau mau kembali? tapi aku tidak tahu bagaimana caranya membawamu. Kau terlalu besar untuk aku yang kecil ini." Heran Lenora, jarak dari danau ini ke laut sangatlah jauh!
"Tidak apa-apa, aku sudah nyaman berada disini. Dan lagi, di laut sangat berbahaya, ibu pasti sudah tiada...." Ucapnya dengan pelan.
"Itu memang benar juga, tapi jika kau disini kau akan kesepian...."
"Kesepian? tidak, aku memiliki banyak teman disini. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang...." Ucapnya.
Lenora mengeryit, hingga akhirnya Lenora mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dan tatapannya langsung terhenti pada teman-temannya yang terlihat ketakutan saat melihat banyaknya hewan buas yang datang dengan begitu mengerikannya.
Terimakasih atas dukungan kalian semua, ceritanya langsung masuk rekomendasi dan juga dapat sampul dari pihak editor, jangan lupa tetap dukung author yaa♥️
__ADS_1