
Kepergian Lenora ternyata di tunggu oleh para rakyat yang terlihat sedih bahkan sampai menangis, Lenora bingung harus melakukan apa. Dia melirik Envios yang hanya mengangguk, Envios menghampiri Lenora dan membisikkan sesuatu padanya.
"Terimakasih karena kalian begitu menyayangi ku, tapi ini sudah menjadi tanggung jawab ku sebagai pemimpin kedua setelahnya. Untuk alasan kenapa tidak yang mulia yang pergi, itu karena selir agung sedang mengandung! dia tidak bisa jauh dari nya...." Jelas Lenora yang membuat semua orang terkejut, begitu pun dengan Nina dan Envios sendiri.
Lenora tersenyum dan menghampiri Nina yang terlihat shock, di usapnya perut tersebut yang masih rata.
"Jangan terlalu banyak pikiran, dan.... Kurangi kegiatan di ranjangnya." Bisik Lenora pada Nina yang terlihat memerah, begitu pun dengan Envios yang langsung memalingkan wajahnya.
Semua rakyat bingung harus senang atau sedih sekarang, senang karena berita tersebut dan sedih karena kepergian Lenora. Bagaimana pun, mereka tahu hubungan Lenora dan Nina yang tidak pernah berselisih seperti selir dan ratu pada umumnya, mereka terlihat akrab dan akur.
"Hati-hati...." Ucap Envios dengan memegang tangan Lenora untuk naik ke atas kuda, sosok Lenora terlihat seperti seorang jenderal yang begitu di takuti.
"Terimakasih, jaga Nina. Jangan biarkan dia kesusahan..." Ucap Lenora dengan tersenyum.
"Tentu saja..." Angguk Envios.
Lenora melirik Yudha yang terlihat sudah siap, begitu pun dengan Diego yang sudah duduk di kuda nya. Lenora mengangguk dan mulai melajukan kudanya dengan kecepatan tinggi, rambut panjangnya yang ia ikat terlihat berkibar dengan gagahnya, bahkan panglima Yudha pun terlihat begitu menyukainya, Lenora sadar itu.
Semua orang terus mengatakan bahwa panglima Yudha memiliki wajah yang tampan melebihi Envios, itu karena Yudha memiliki bentuk fisik yang bagus dan juga kulit yang eksotis sehingga membuat nya terlihat tampan dan gagah.
"Yang mulia, kita akan lewat jalur hutan saja agar lebih cepat sampai." Ucap Yudha yang ada di samping Lenora.
"Oke, pimpin jalan...." Ucap Lenora dengan tegas.
"Baik."
Yudha menyuruh anak buahnya untuk memimpin jalan di depan dengan membawa obor, dia akan tetap berada di belakang Lenora. Pasukan yang ikut berjumlah 10 orang, itu pun pasukan inti semuanya. Bagaimana pun, keamanan di istana harus di utamakan sehingga tidak banyak yang ikut dan untuk berjaga-jaga saja.
Yudha merasa aneh dan heran dengan keadaan hutan rimba tersebut, kenapa tidak ada satupun hewan yang muncul? apakah mereka sudah tidur?
Untuk Lenora dan Diego mereka tetap tenang dan santai, bagaimana pun mereka tahu bahwa Ramon berada di sekeliling mereka. Hanya saja tidak terlihat karena Lenora tidak mengizinkannya untuk muncul, kecuali dalam keadaan yang darurat barulah Lenora memanggil Ramon.
__ADS_1
Jalan yang mereka tempuh menuju desa yang ada di gunung membutuhkan waktu satu malam untuk sampai, sehingga saat pagi menjelang mereka sudah tiba di sana.
"Berhenti!!!" Tegas Lenora yang membuat semua kuda itu berhenti.
Lenora mengambil sesuatu di dalam tasnya dan langsung memakainya, Lenora menyuruh Diego untuk memberikan kain tersebut yang tak lain adalah masker yang sudah ia campuri dengan obat agar kebal terhadap virus.
"Yang mulia, apa ini?" Heran mereka.
"Pake saja, tidak usah banyak tanya!" Tegas Lenora yang membuat semuanya diam dan langsung menurut.
Mereka kembali melanjutkan perjalanannya dan terdiam dengan melihat kabut hitam yang mengelilingi gunung tersebut, Lenora turun dari kudanya dan mulai melakukan telepati dengan Ramon.
"Di depan adalah kabut wabah itu, jika kalian menghisap nya maka kalian semua akan langsung membusuk!" Jelas Lenora yang membuat semua orang langsung cemas dan panik.
"Kita harus mencari titik letak sumbernya wabah itu, dengan begitu kita harus masuk. Jika kalian takut mati, maka pulanglah...." Ucap Lenora dengan menatap mereka semua.
"Kami prajurit inti tidak pernah takut tentang kematian, kami sudah di takdirkan untuk mati demi kerajaan." Tegas mereka yang membuat Lenora tersenyum kecil.
"Kenapa kalian tidak bertanya mengenai obat itu? bagaimana jika aku memberikan racun di obat tersebut?" Heran Lenora.
"Tidak apa-apa, hidup kami memang berada di tangan yang mulia."
"Baiklah baiklah, ayo masuk..." Ucap Lenora dengan berjalan lebih dulu dengan Diego, mereka segera menyusulnya dan berdiri di depan Lenora dengan berjaga-jaga, Lenora yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya saja.
Kabut asap hitam itu langsung menyerang mereka namun Lenora tetap santai, awalnya mereka nampak takut namun melihat kabut itu tidak melukai mereka membuat nya kembali tenang, mereka melihat banyak tengkorak yang tergolek di tanah, melihat itu Lenora langsung menyentuhnya setelah menggunakan sarung tangannya.
"Sepertinya asap ini mengandung racun korosif." Gumam Lenora namun masih dapat di dengar oleh mereka.
"Racun korosif? apa itu?" Heran Diego dan yang lainnya.
"Itu akan akan membuat daging kita melebur dan hanya menyisakan tulang belulang saja." Jelas Lenora dengan kembali melihat ke sekeliling, rumah warga terlihat masih utuh dan kokoh. Hanya ada beberapa tempat saja yang rusak, Lenora menghampiri tempat pemandian umum yang terdapat sumur di sana.
__ADS_1
"Yudha, ambil airnya." Ucap Lenora pada Yudha yang langsung mengangguk dan segera menimba air tersebut, setelah itu memberikannya pada Lenora yang langsung memeriksanya, Lenora mencium dan mencicipinya.
"Yang mulia, hati-hati....!" Cemas mereka.
"Ini tidak berbahaya, jadi sumur ini masih bisa digunakan. Ayo cari ke tempat lain..." Ajak Lenora yang di balas anggukan oleh yang lainnya.
Anehnya, semakin dalam mereka masuk maka semakin aneh pula keadaan disana. Tidak ada warga asli, semua tulang belulang itu terlihat seperti para prajurit yang di kirim Envios karena ada sisa pedang di sana, tapi dimana semua penghuni desa itu?
"Ada yang aneh! sepertinya desa ini sudah tidak berpenghuni...!" Ucap Lenora.
"Itu benar yang mulia, saya juga menyadarinya. Barang bawaan mereka juga masih utuh, bahkan hewan peliharaan mereka juga mati karena asap ini." Setuju Yudha.
"Hati-hati, sepertinya ini memang masalah yang serius. Kekuatan kalian tidak ada pengaruhnya disini, jadi berlindung lah di belakang ku." Ucap Lenora yang membuat para prajurit itu terkejut, apakah tidak terbalik?
Saat mereka hendak melangkah lebih jauh, mereka mendengar suara tangisan anak laki-laki yang berada di bawah pohon. Laki-laki itu terlihat masih berusia 4 tahun, wajahnya yang di penuhi dengan debu membuatnya terlihat kasihan.
"Yang mulia, ada anak kecil. Saya akan membantunya...." Ucap salah seorang prajurit dengan berlari ke arah sana, namun segera di cegah oleh Lenora.
"Berhenti kau bodoh! apa yang kau lakukan? apa kau tidak bisa berpikir jernih? mana ada manusia yang bisa melawan asap ini..." Ucap Lenora dengan kesal, Lenora segera menghampiri anak kecil tersebut yang langsung berhenti dari tangisnya.
"Ibu...." Ucapnya dengan mengusap kedua matanya yang terlihat bersinar, wajahnya terlihat tampan dan memukau.
Lenora diam terpaku, tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Wajah anak tersebut sangat mirip dengan Bing, apakah Zaphier sudah datang untuk menjemputnya?
"Zaphier?" Ucap Lenora dengan kedua mata yang meremang, Diego yang mendengar itu langsung shock.
"Lenora! jangan main-main, dia bukan anak mu!" Marah Diego dengan menghampiri Lenora, namun tubuhnya tidak bisa di gerakan.
Begitu pun dengan yang lainnya, mereka tidak bisa bergerak.
"LENORA! DENGARKAN AKU!! SIALAN!!!" Diego terlihat marah-marah saat Lenora semakin mendekat ke arah anak tersebut, Diego sadar bahwa ini semua hanya ilusi dan tantangan untuk Lenora.
__ADS_1
Udahh kann duaa episode hari ini😂