
"Kau mau kemana hmm? setelah membuat ibuku sibuk karena mengurus mu dan sekarang kau ingin kabur?" Tanya Zaphier dengan aura yang begitu mengerikan bahkan mereka terkejut saat melihat aura hitam dari tubuh Zaphier yang terlihat begitu menyeramkan.
"Y-yang mulia, saya...." Takut iblis itu dengan menundukkan tubuhnya di atas tanah, dia tidak berani menatap ke arah Zaphier yang terlihat sangat murka.
"Kesalahan mu sudah melebihi batas, kau semakin memperburuk bangsa iblis dengan sikap mu yang menjijikkan ini. Aku tidak akan melakukan apapun padamu karena....... Papa ku yang akan mengurus mu, jadi bersenang-senang lah!" Senyum Zaphier dengan mengangkat tangannya sehingga iblis itu pun menghilang bagaikan asap.
Tercengang, semuanya diam tercengang saat keadaan disana menjadi hening. Terlebih saat mereka melihat sosok Bertha yang sangat berbeda jauh, dia terlihat tua dan bahkan seperti nenek-nenek yang mungkin sebentar lagi akan mati.
"Hhh..... Paman, aku sudah mengurus permasalahan intinya. Untuk semua penduduk yang ada di kerajaan ini, lakukan sesuatu perintah mama. Hancurkan mereka dan lenyap kan semuanya tanpa ada yang tersisa, setelah itu.... Barulah giliran ku lagi." Senyum Zaphier pada Diego yang langsung mengangguk, dia tidak heran dengan kepribadian Zaphier yang sesekali mirip Lenora maupun Bing.
"Baik, kau akan menunggu atau..." Tanya Diego.
"Aku akan berkeliling, lakukan saja dengan cepat." Balas Zaphier dengan memutar kembali kudanya dan pergi dari sana dengan ekspresi yang tegas, bagaimana bisa anak seusianya memiliki aura yang agung?
"Tuan, bagaimana?" Tanya mereka dengan penasaran.
"Apa? bukankah kalian sudah mendengarnya? lakukan dengan cepat, bunuh mereka semua dan jangan ada yang lolos satupun. Jika itu sampai terjadi, kalian lihat saja nanti." Senyum Diego dengan berjalan maju kedepan dengan menunggangi kudanya, melihat kepergian Diego mereka segera menyusulnya dengan pasukan yang begitu banyak, kenapa harus mereka yang lagi-lagi turun tangan? bukankah Zaphier bisa dengan mudah melakukannya?
"Ukhukk Ukhukk Ukhukk.....!!"
Terkejut, semuanya kaget saat melihat beberapa pasukan yang terjatuh dari atas kudanya dengan darah yang keluar dari mulut mereka. Apa yang terjadi sebenarnya?
"Kalian memang benar-benar tidak tahu diri! bagaimana bisa ibuku mau membantu orang-orang seperti kalian ini?" Tanya Zaphier dengan sorot mata yang tajam, dia tidak lagi berada di atas kuda. Kini dirinya tengah berdiri di hadapan mereka dengan jubah hitamnya dan cadar hitamnya juga.
"A-apa maksud anda yang mulia?" Heran mereka dengan pucat.
"Hah, benar-benar sampah!" Ucap Zaphier dengan benar-benar pergi dari sana setelah meledakkan kerjaan tersebut hingga terlihat seperti serangan yang menyeramkan, bagaimana bisa terdengar suara ledakan yang terjadi secara bertubi-tubi?
Kini, kobaran api mulai memenuhi kerajaan Vandoria yang mungkin sudah terbakar habis sekarang.
"M-maafkan kami yang mulia, kami..." Tunduk mereka yang sebelumnya terluka itu, mereka terus bersujud di bawah kaki raja mereka masing-masing.
__ADS_1
"Dengan begini, apakah ada hadiah yang pantas untuk Lenora yang sudah menyelamatkan kalian semua? bahkan, jika kalian menghadiahkan kerajaan kalian pun kalian tidak akan bisa membalas Budi nya." Ucap Diego dengan terkekeh.
"Kak..." Panggil Raiza dan Raize pada Diego yang terlihat berbeda, seperti nya Diego memang benar-benar marah.
"Untuk kalian berdua, percaya tidak percaya kalian akan menjadi kaisar di antara tiga kekaisaran sampah ini. Setelah saatnya tiba, maka kerajaan kalianlah yang akan selalu mendapatkan perhatian Lenora." Ucap Diego dengan tenang.
"...." Kedua anak kembar itu hanya menundukkan kepalanya, apakah mereka bisa menjadi raja?
•••••
"Nona, kenapa anda tidak membiarkan Qilin salju saja untuk menghancurkan kerajaan sampah itu?" Tanya Jeje dengan memberikan potongan apel yang sudah terbuka.
"Aku tahu anakku punya rencana, jadi biarkan saja dia bermain." Balas Lenora dengan santai.
"Saya mengerti..." Angguk Jeje dengan tersenyum.
"Menurut mu, bagaimana dengan Yudha?" Tanya Lenora pada Jeje yang langsung terdiam.
"Ahh begitu, apa kau menyukai salah satu di antara mereka berdua?" Tanya Lenora dengan penasaran.
"Suka? aku memang suka mereka, tapi yang aku cintai hanyalah Diego." Cengir nya yang justru malah membuat Lenora menghela nafas berat, ternyata susah membuat Jeje berpaling dari Diego.
"Ma...." Panggil Zaphier yang datang dan segera memeluk Lenora dari belakang dan mengecup kedua pipi nya, Jeje yang melihat itu seakan-akan melihat pasangan kekasih saja karena keduanya tidak terlihat seperti sepasang anak dan ibu.
"Bagaimana?" Tanya Lenora dengan tersenyum lebar.
"Seperti dugaan ku, mereka sangat menyebalkan." Gerutunya dengan menyandarkan kepalanya di pundak Lenora yang saat itu juga langsung menyuapi Zaphier dengan apel yang sudah Jeje kupas.
"Anak mama paling hebat." Bangga Lenora dengan mencium puncak kepala Zaphier yang saat itu juga langsung berhenti dari kegiatannya.
"Ma, kapan kita pulang? papa sudah mengatakan padaku untuk tidak berlama-lama disini karena, karena papa sendirian disana....." Jujur Zaphier yang membuat Lenora terdiam.
__ADS_1
"Malam ini, malam ini kita akan pulang...." Senyum Lenora.
"Aku sangat senang mendengarnya..." Lega Zaphier dengan semakin mengeratkan pelukannya pada Lenora yang hanya tersenyum.
••••••
Berita tentang kepergian Lenora membuat semua orang terkejut, mereka segera datang ke aula dan sibuk bertanya-tanya apakah Lenora benar benar akan pergi?
Bahkan, Oliver sudah tidak peduli dengan citra nya sebagai seorang kaisar. Dia tidak sungkan untuk menangis di sana, bahkan pasukan Yudha pun ikut menangis. Mereka tidak rela melepaskan kepergian Lenora tapi mereka tidak bisa egois bahwa Lenora juga sudah memiliki keluarga disana.
"Nona, kami sangat berterimakasih kepada anda. Berkat anda kami memiliki banyak sekali pengalaman...." Tunjuk Yudha dan pasukannya juga yang sudah menganggap Lenora seperti guru mereka sendiri.
"Baguslah jika kalian bertumbuh dengan kuat, kedepannya jangan sungkan untuk bertemu dengan adik-adik ku, Riza dan Rize. Mereka berada di kekaisaran Luminos." Ucap Lenora dengan tersenyum.
"Tentu saja nona..." Tunduk mereka.
"Lenora...." Ucap Oliver dengan memeluk Lenora yang ikut memeluknya juga, dia tahu bagaimana Oliver selama ini.
"Kau sudah tumbuh dewasa Oliver, Bing pasti akan sangat bangga padamu." Ucap Lenora dengan menepuk pundak Oliver.
"Aku senang kau ada disini tapi aku juga sedih karena kau harus berpisah dengan Bing, jika kau melakukan kesalahan lagi jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan padaku." Ucapnya dengan lirih.
"Apa maksudmu? kau ingin aku di hukum lagi?" Kesal Lenora.
"Tidak, tidak. Bukan maksudku begitu Lenora..." Panik Oliver.
"Hhh, sudahlah. Aku hanya ingin menitipkan mereka berdua, perlakukan mereka dengan baik. Jika aku mendengar sesuatu yang buruk tentang mereka, kau yang pertama kali aku hukum Oliver!" Tegas Lenora.
"Tentu saja..." Angguk Oliver.
Lenora menatap Riza dan Rize yang hanya diam dengan menundukkan kepalanya, tangannya sibuk memainkan ujung baju mereka.
__ADS_1
"Ada apa? apa kalian tidak mau memeluk ku?" Tanya Lenora dengan suara lembutnya, hal itu membuat si kembar Riza dan Rize sontak menatapnya dengan mata yang memerah dan segera memeluk Lenora sudah mereka anggap seperti ibu mereka sendiri, kasih sayang yang Lenora berikan takkan pernah mereka lupakan sampai kapanpun.