Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran

Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran
Tak terduga


__ADS_3

Lenora bangun dari tempat tidurnya dengan sedikit rasa haus, dia melihat sekeliling dan tidak menemukan adanya air. Hingga akhirnya Lenora memutuskan untuk berbenah sesaat, Lenora memakai pakaian yang sebelumnya ia jahit dulu, pakaian yang di larang oleh Archon dan Diego saat pertama kali mereka keluar dari hutan.


Pakaian berwarna merah gelap yang sangat kontras dengan tubuhnya membuat Lenora terlihat sangat cantik, terlebih rambut hitam panjang nya ia biarkan terurai dengan sedikit bergelombang untuk menambah kesan kharisma nya.


Pundak dan lehernya yang terlihat dengan jelas membuat Lenora menjadi seksi, hanya saja perutnya terlihat semakin membesar hingga membuat Lenora cemberut.


"Aku sudah tidak seksi lagi..." Gumamnya dengan mengelus perutnya yang terasa bergerak, sepertinya anaknya tidak senang dengan hal itu.


"Maafkan mama sayang, mama hanya bercanda..." Ucap Lenora dengan terkekeh, anaknya sangat sensitif sekali.


Lenora melangkahkan kakinya untuk melihat keadaan sekitar, dia ingin bertemu dengan Bing. Para penjaga yang berada di luar pintu langsung menundukkan kepalanya penuh hormat, mereka terkejut dengan sosok Lenora yang terlihat begitu cantik dan mematikan.


"Dimana Bing?" Tanya Lenora.


"Di aula nona.."


"Aku tidak tahu jalan, bisakah kalian mengantarkan aku?" Tanya Lenora.


"T-tentu saja nona."


Mereka segera memimpin jalan meskipun dengan tubuh yang bergetar ketakutan, mereka masih ingat bagaimana marahnya Lenora tadi pagi. Namun, saat berada di lorong istana, Lenora melihat sosok wanita cantik yang tengah berjalan dengan begitu anggunnya.


"Siapa dia? bukankah didalam istana Bing tidak ada wanita manapun selain pelayan? jika di lihat, dia tidak seperti pelayan." Tanya Lenora.


"Nona, dia....." Mereka segera menjelaskannya secara rinci karena takut jika tidak rinci Lenora akan tidak puas, setelah mendengar cerita itu Lenora tersenyum miring. Dia segera pergi ke aula dengan langkah yang pasti.


Sedangkan di aula....

__ADS_1


"Apa maksud anda tuan? siapa wanita lain itu?"


"Tentu saja kau bodoh! bisakah kau tidak mendekati laki-laki ku? anakku sangat mual melihat wajahmu yang sok polos dan lembut itu ......!!" Balas Lenora dengan menatap tak senang pada sosok Tarra yang langsung menatapnya, Tarra diam membisu dan tidak berani untuk menatap ke arah Lenora yang sedang mengeluarkan aura Dewi nya.


Lenora berdiri di hadapan Bing yang langsung bangkit dari duduknya, Bing tersenyum dan hendak menyentuh Lenora namun segera Lenora hentikan.


"Berhenti! kau sudah melanggar janji kita Bing! kau membiarkan wanita lain ada di sekitar mu! buruknya, dia benar-benar menjijikkan!" Dingin Lenora dengan menatap Bing dalam.


"S-sayang, aku sendiri tidak tahu jika dia ada disini. Kau bisa bertanya pada yang lain, aku benar-benar tidak tahu...." Ucap Bing dengan cepat, dia benar-benar tidak bisa melihat Lenora marah seperti ini.


".......Apa kau lihat-lihat! cepat menyingkir dari samping suamiku!" Sinis Lenora pada Tarra, hal itu membuat Tarra langsung menyingkir dengan rasa malu yang amat sangat ia rasakan, dia pikir Lenora bukan siapa-siapa nya Bing. Tapi ternyata?


Melihat kepergian Tarra, Lenora menghela nafas panjang dan segera mengelus perutnya yang nampak terus bergerak.


"Sudah, apa kau sudah puas sayang?" Tanya Lenora dengan berlalu pergi dan memilih untuk duduk di samping Simon yang langsung berkeringat dingin.


"Sayang..." Panggil Bing namun Lenora tidak peduli, dia justru menyandarkan kepalanya di pundak Simon yang langsung tegang, jika tidak ada Bing mungkin dia akan mempertimbangkan nya lagi.


"N-nona...." Takut Simon dengan wajah pucat nya, dia baru saja tiba di istana yang sudah lama tidak ia tempati ini, apakah dia akan kembali lagi karena kemurkaan Bing?


"Lenora! apa maksudmu? jangan membuat ku seperti ini sayang...." Ucap Bing dengan sedikit rengekan pada Lenora, hal itu membuat semua bawahan Bing langsung melotot tak percaya dengan sikap Bing yang sangat aneh itu.


Tapi tidak untuk Simon yang sudah tahu bagaimana sikap Bing jika sudah bersama Lenora, Bing akan terlihat kekanak-kanakan!


"Cih! menjengkelkan!" Ketus Lenora dengan pergi begitu saja meninggalkan Bing, namun baru beberapa langkah Lenora pergi tubuhnya terasa sakit.


Iya benar, seluruh tubuhnya seperti terbakar oleh api yang begitu panas. Lenora jatuh terduduk dengan memegang perutnya yang terasa berontak, sakit, panas, perih, nyeri, dan pusing memenuhi dirinya.

__ADS_1


"Lenora!" Pekik Bing yang langsung menghampirinya, Bing memegang tubuh Lenora dan melihat wajah Lenora yang sudah pucat bahkan sedikit membiru, keringat membasahi wajah Lenora dan bahkan sampai menetes karena rasa sakit yang di rasakan nya.


"CEPAT PANGGIL TABIB WANITA!" Teriak Bing dengan menggendong tubuh Lenora dan membawanya pergi.


"Sepertinya nona akan melahirkan." Ucap Simon.


"Apa? bagaimana mungkin?" Kaget mereka dengan cepat, secepat itukah mengandung anak dari bangsa iblis?


Molly segera berlari mengikuti Bing, dia akan menemani Lenora dalam bersalin. Archon dan Diego menunggu di depan pintu dengan Simon dan yang lainnya yang nampak penasaran dengan kondisi Lenora.


"Gawat!! tuan, di luar terjadi badai salju yang di sertai awan hitam. Semuanya terlihat aneh dan tidak pernah terjadi sebelumnya..." Ucap seseorang yang datang dan melapor pada Simon.


"..." Simon segera bergegas ke arah jendela yang ada di sana, dengan cepat dia membukanya untuk memastikan perkataan penjaga tersebut yang memang benar. Entah sejak kapan salju itu turun yang di sertai dengan langit hitam dan gemuruh yang besar di langit, fenomena alam tersebut baru kali ini terjadi.


Dan, itu semua bertepatan dengan kelahiran anak Bing dan Lenora? apakah ini teguran dari alam bahwa hubungan mereka itu salah?


Sedangkan, di dalam. Lenora memegang tangan Bing dengan sisa tenaganya yang tersisa, begitu pun dengan Molly yang tidak menghiraukan kondisi tangannya yang sudah berdarah akibat kuku tajam Lenora.


Rambut Lenora terlihat berantakan, bibir berwarna ungu seperti keracunan dan tubuh yang mulai dingin. Bing terlihat begitu khawatir bahkan dia sampai meneteskan air matanya saat melihat betapa besar perjuangan Lenora untuk melahirkan calon anaknya.


"Yang mulia, bayi yang ada di dalam perut nona terus mengoyak habis perutnya agar bisa keluar. Kami tidak bisa mengeluarkannya...." Ucap sang tabib wanita dengan ketakutan.


"Apa kau bilang?!!" Marah Bing.


"Ampun yang mulia..." Tabib wanita itu langsung bersujud dibawah karena takut jika Bing akan membunuhnya tanpa ancang-ancang.


"M-molly.... L-lakukan...A-apa yang s-sudah kau pelajari....A-aku mohon...." Ucap Lenora dengan terbata-bata, hal itu membuat Molly terkejut dan diam.

__ADS_1


Yang Lenora maksud itu adalah melakukan operasi sesar, Lenora sudah mempersiapkan hal ini sejak dia mengandung. Pasti, tidak akan berjalan dengan normal. Karena itulah, Lenora mengajari Molly bagaimana caranya melakukan sesar.


"B-baik nona." Angguk Loly dengan cepat, ini menyangkut nyawa Lenora. Jika Molly salah melakukan, maka akibatnya akan sangat fatal.


__ADS_2