
Mereka semua menatap Lenora yang terlihat asik duduk di atas serigala besar itu dengan memakan buah-buahan yang sudah di potong oleh Molly sebelumnya, mereka ingin sekali naik seperti Lenora namun hal itu tidak mungkin karena semua hewan di sana hanya mau di naiki oleh Lenora seorang, bukankah itu tidak adil?
"Ini tempatnya?" Tanya Lenora dengan melihat sebuah bebatuan tinggi yang menjulang begitu tajam, suasana di sana dalam seketika di penuhi oleh kabut hitam yang membuat mereka tidak bisa melihat ke sekelilingnya. Lenora yang berada di atas hanya diam dengan memikirkan cara, bisa saja mereka di bantu oleh hewan itu untuk naik ke atas namun Lenora tidak mau melakukannya. Bagaimana pun, dia ingat pesan gurita bahwa mereka di larang mendekati tempat tersebut.
"Lenora, bagaimana ini?" Tanya Evios dengan meminta bantuan dari Lenora.
"Apanya yang bagaimana? tentu saja naik!" Heran Lenora dengan sedikit ketus, pasalnya buah yang akan ia makan jatuh karena panggilan Envios yang membuatnya sedikit terkejut.
"Panjat? itu, tinggi sekali...." Ucap mereka dengan ketakutan.
"Hhhh.... Diego, keluarkan tali yang ada di dalam tas mu. Aku akan melemparkannya..." Ucap Lenora dengan menghela nafas berat.
"Baik." Diego segera mengeluarkan tali tambang yang panjang itu, mereka yang melihat persiapan Lenora begitu detail hanya menatapnya kagum, sepertinya Lenora sangat tahu mengenai hutan ini.
"Bantu aku naik..." Ucap Lenora pada seekor burung elang yang begitu besar.
Burung elang itu segera mencapit tubuh Lenora dengan pelan dan segar membawanya ke atas, setelah sampai di atas Lenora di buat kagum dengan pemandangan yang ada di sana. Hutan, gunung, laut, semua pemandangan di sana terlihat dengan jelas.
"Wahh!" Kagumnya dengan melihat ke sekeliling dan Lenora di buat terkejut dengan tempat yang ada di belakangnya, apa-apaan ini?! kenapa tempat tersebut sangat familiar?
Sebuah taman yang asri dengan ranjang berwarna putih di sana, tirai berwarna putih yang berkibar membuat tempat tersebut menjadi indah. Lenora melangkah maju dan hendak menghampiri tempat tersebut namun....
KAKKKKK!!!! KAKKKK!!!"
Burung elang itu segera menyadarkan Lenora, dengan cepat Lenora mundur dan menggelengkan kepalanya. Dia lupa, bahwa di atas tersebut terdapat asap ilusi yang membuatnya mengingat kebersamaan nya dengan Bing dulu.
"Maafkan aku, aku lupa..." Ucap Lenora dengan sedikit bersalah, dia hampir mati jika saja elang itu tidak menyadarkannya.
__ADS_1
Dengan cepat Lenora mengikat tali tersebut ke sebuah batu yang besar, setelah di rasa kuat barulah Lenora turun kembali dengan elang tersebut.
Mereka yang melihat Lenora sudah kembali langsung menghampirinya dan menyerbunya dengan pertanyaan pertanyaan yang membuat Lenora pusing seketika.
"Dengarkan aku, aku akan mengatakannya hanya satu kali!! di atas, kalian akan mengalami ilusi yang menyenangkan, entah itu momen kalian bersama keluarga, kekasih ataupun dengan hal yang lainnya yang terasa membahagiakan, jika kalian tidak segera sadar dan masuk kedalam ilusi itu maka kalian akan jatuh dan.... Mati!" Jelas Lenora yang membuat semuanya langsung terkejut bukan main.
"Kalau begitu, ayo..." Ajak Archon yang langsung memegang tali itu, setelah itu disusul oleh Diego dan Molly, Lenora melirik Simon yang masih diam.
"Kau takut?" Tanya Lenora.
"Tidak, saya akan naik setelah anda." Balas Simon dengan yakin.
"Baiklah, jika kalian semua takut silahkan pulang. Aku tidak peduli...." Ucap Lenora dengan santai dan segera naik mengambil tali itu, tapi sebelum itu Lenora kembali lagi dan menghampiri kumpulan hewan yang tengah menatapnya itu.
"Terimakasih, suatu saat nanti aku akan menemui kalian lagi." Ucap Lenora dengan mengeluarkan sesuatu dari balik kantongnya, mereka yang melihat itu langsung melotot kan matanya saat melihat benda kecil yang berkilauan di tangan Lenora.
Itu adalah sebuah inti api yang sangat langka, dari mana Lenora mendapatkannya? dan... Di berikan begitu saja pada mereka?
Melihat Lenora yang sudah pergi, Simon pun ikut menjaganya di bawah dan segera naik ke atas setelah di rasa cukup jauh dengan Lenora.
Bagi Lenora itu bukanlah hal baru baginya, naik seperti ini sudah biasa ia lakukan dulu. Tapi kenapa sekarang rasanya melelahkan? apakah karena kondisinya yang sedang mengandung?
"Kenapa sangat tinggi?" Gumam Lenora dengan menatap ke atas yang lumayan jauh lagi.
Dengan susah payah, Lenora terus memaksakan untuk naik hingga akhirnya dia sampai di atas. Lenora terkejut melihat Diego, Molly dan Archon yang jatuh pingsan.
"Hhhh...." Lenora menghampiri mereka dan segera memeriksanya, nampaknya mereka tertidur karena ilusi itu. Jika kalian tanya, kenapa tidak jatuh? karena Lenora berbohong mengenai hal tersebut, efek dari ilusi itu hanya membuat mereka mengantuk dan tidur.
__ADS_1
"Nona..." Panggil Simon dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Istirahatlah.... Mereka masih jauh." Ucap Lenora yang memilih untuk duduk di bawah pohon.
"Tidak nona, saya akan menjaga nona." Ucapnya.
"Tidurlah, aku tahu kau lelah. Aku yang akan menjaga kalian..." Ucap Lenora dengan melihat pemandangan sekitar.
"..... Baiklah." Pasrah Simon, dia juga sebenarnya lelah. Bahkan sangat lelah!
Satu persatu dari mereka mulai datang dengan ekspresi yang kelelahan, bahkan mereka sudah langsung tertidur di sembarang tempat. Hanya Lenora saja yang nampak membuka matanya, itu karena Lenora merasakan sesuatu yang aneh di tempat ini.
"Dimana sebenarnya buah dewa kehidupan itu? kenapa namanya buah dewa? jika tumbuhnya di tempat iblis? aneh memang....." Gumam Lenora dengan berjalan di sekitar tempat tersebut yang nampak sejuk dan indah.
Langkah kaki Lenora terus berjalan ke sembarang arah, hingga akhirnya dia berhenti di sebuah pohon yang besar dan tinggi. Pohon tersebut nampak gersang dan hanya ada buahnya saja yang lebat, mata Lenora membulat sempurna dan tersenyum lebar.
Dengan sedikit berlari kecil Lenora menghampiri pohon tersebut dan segera memanjatnya, Lenora mengambil satu buah itu dan segera melahapnya. Rasa segar dan manis dari buah itu membuat Lenora terkekeh senang, sudah 5 buah yang ia makan namun tak membuatnya kenyang juga.
"Nona berhenti!!!" Teriak Simon dengan cepat, ekspresinya benar-benar panik dan cemas.
"Ehh ada apa?" Heran Lenora dengan terus mengunyah buah tersebut.
"Nona, itu.... Setiap tubuh hanya mampu memakan satu buah saja. Jika tidak, tubuh nona akan meledak!" Jelasnya dengan wajah yang pucat.
"Oh benarkah? aku sudah memakan 5 buah dan ini juga, hampir 6 buah." Polos Lenora.
"Astaga nona... Apa yang harus saya katakan nanti pada yang mulia?" Ringis nya dengan duduk berselonjor di atas rumput dan terus menggerakkan kakinya seperti anak kecil yang menangis, Lenora yang melihat itu hanya diam dengan penuh keheranan.
__ADS_1
"Kenapa?" Herannya.
"Nona, saya lelah..... Lebih baik saya mengasuh 100 anak dari pada anda...." Jujurnya dengan wajah yang penuh kelelahan.