Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran

Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran
Panggilan


__ADS_3

Bing melangkahkan kakinya menuju aula, dia tidak melihat sosok Zaphier di ruang makan dan juga di ruang baca. Bahkan, di perpustakaan pun dia tidak melihatnya. Apa yang terjadi?


"Dimana Zaphier?" Tanya Bing pada para bawahannya yang ada di ruang latihan.


"Salam yang mulia, tuan Zaphier pergi ke gunung barat untuk melakukan pelatihan tertutup." Balas mereka yang membuat Bing terkejut.


"Pelatihan tertutup? kau yakin?" Kaget Bing, bukankah Zaphier sendiri yang mengatakan ingin selalu berdekatan dengan Lenora?


"Benar yang mulia, tuan terlihat bersemangat sekali pagi tadi. Bahkan, dia juga selalu tersenyum pada kami." Jelas mereka yang lagi-lagi membuat Bing terdiam, apa yang terjadi pada Zaphier? apakah Zaphier marah padanya karena tidak membiarkan Lenora berdekatan dengannya?


"Aku akan menyusulnya, katakan pada istriku." Ucap Bing dengan pergi dari sana.


"Yang mulia dan tuan sangat mengerikan, hanya permaisuri saja yang bisa menaklukkan mereka berdua." Mereka merinding ketika mengingat anak dan ayah itu bertarung dulu.


•••••


"Bibi, jadi kau ibu dari kak Zaphier? ternyata benar jika bibi sangat cantik. Apakah bibi mau menjadi pacarku?" Tanya Vetter dengan tersenyum lebar.


"Kau berani tidak pada Bing?" Tanya balik Lenora.


"Maksud bibi, paman Bing? ahh tidak, dia sangat menyeramkan." Takutnya.


"Nah, jika kau mau bibi jadi pacarmu maka kau harus melawannya dulu. Ahh tidak hanya Bing, tapi Zaphier juga." Cengir Lenora.


"Hahaha bibi, aku tidak berani pada mereka berdua. Mereka sangat mengerikan!" Takutnya.


Molly dan Archon hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat Lenora yang berbincang dengan anaknya, Archon menatap Lenora yang nampak berbeda dari yang dulu. Sekarang Lenora terlihat jauh lebih dewasa dan juga nampak lembut, meskipun terkadang sikap anehnya sesekali muncul namun Archon benar-benar bangga dengan nya.


"Lenora, lihatlah dia. Dia terus-menerus mengikuti ku, aku hanya ingin bersantai!!" Gerutu Diego yang datang dan memilih untuk duduk di samping Molly dengan ekspresi cemberutnya.

__ADS_1


"Tidak nona, aku hanya ingin pergi ke tempat itu dan kebetulan ada dia disana." Jujur Jeje yang lagi-lagi membuat Diego marah.


"Apa kalian bisa diam? jika terus seperti ini maka aku sendiri yang akan menikahkan kalian berdua!!" Kesal Archon, sejak kedatangan Diego istana tersebut terasa berisik karena Diego terus-menerus merengek padanya.


"Diego, apa kau benar-benar tidak mau menemui orang tua mu? bagaimana pun juga, kau sudah pergi begitu lama." Ucap Lenora dengan menatap Diego yang langsung terdiam.


"Itu benar, aku sendiri sudah tidak punya keluarga jadi aku bebas pergi kemana pun aku mau." Ucap Archon dengan menatap Diego yang nampak bungkam.


"Jangan pernah menyia-nyiakan orang-orang yang sudah menyayangi mu, Diego. Penyesalan akan selalu datang terakhir..." Ucap Jeje dengan pelan.


"Baiklah, aku akan pergi setelah beberapa saat disini." Tunduk nya.


"Kalau begitu, aku juga akan ikut." Ucap Jeje yang membuat mata Diego melotot tak senang namun melihat tatapan Lenora yang tengah menatapnya datar membuat Diego menghela nafas berat.


"Ngomong-ngomong, di mana suami dan anakmu?" Tanya Diego heran karena tidak melihat keberadaan Bing dan Zaphier.


"Ahh mereka berdua sedang melakukan latihan tertutup, ada apa? apa kau membutuhkan sesuatu dari mereka?" Tanya Lenora.


"Entahlah..." Lenora tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka berdua, yang jelas mereka adalah harta berharganya saat ini.


"Permaisuri.... Titah dari pengadilan dewa telah datang."


••••••


Lenora melangkahkan kakinya menuju aula yang nampak seperti melayang karena di setiap lantainya terlihat seperti asap putih sehingga tak terlihat lantainya, semua para dewa dan dewi sontak menatap kearahnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.


Mungkin, di antara semua para dewa dan dewi hanya Lenora lah yang berbeda. Karena apa? karena Lenora memakai pakaian berwarna hitam dengan corak merah yang terlihat seperti sulaman Phoenix dan juga rambutnya yang berwarna merah terang, sorot mata Lenora juga sangat tajam dan bahkan ada sedikit aura hitam dalam dirinya.


"Salam, yang mulia dewa agung." Sapa Lenora dengan menundukkan sedikit kepalanya.

__ADS_1


"Angkat kepala mu, dewi." Balas dewa agung dengan menatap Lenora lekat lekat.


Lenora sedikit terkejut saat melihat sosok dewa agung yang ternyata berbeda? dia...... Masih muda?


"Sepertinya kau sangat terkejut bukan? saya sudah menjabat sebagai dewa agung sejak 10 tahun yang lalu dan saya juga sudah tahu apa penyebab mu di hukum." Ucapnya dengan bangkit dari singgasananya dan berjalan mendekati Lenora yang nampak tak bergeming sedikitpun.


"Kau itu seorang dewi, tapi sikap dan tingkah mu lebih memperlihatkan sebagai seorang iblis, Lenora." Tegasnya.


"Bukankah sudah saya katakan sejak dulu, saya tidak menginginkan kemuliaan ini. Saya hanya ingin hidup baik dengan keluarga saya...." Balas Lenora dengan datar.


"Keluarga? hahahaha.... Kau egois Lenora, semua orang berbondong-bondong agar bisa menjadi mahluk yang mulia seperti kita. Tapi kau? benar-benar egois, ahh apa karena suami mu itu yang tidak berguna?" Tanyanya dengan mendekati Lenora hingga dia bisa mencium aroma Lenora yang memang memiliki ciri khas tersendiri.


"Yang mulia, sebaiknya anda perbaiki sikap dan ucapan anda. Hal ini sangat tidak pantas di katakan oleh seorang dewa yang agung..." Lenora menghempaskan tangan dewa agung itu yang hendak menyentuh rambutnya.


"Kau!!" Geramnya dengan menatap Lenora tajam.


"Menurut peraturan, saya sudah terbebas dari hukuman dan juga..... Bukankah saya sudah di usir? lantas, untuk apa anda memanggil saya lagi? jika anda menginginkan saya untuk kembali, maaf.... Saya tidak tahan berada di tempat yang kotor." Ucap Lenora yang membuat semua dewa dan dewi bangkit dari duduknya, mereka menatap tajam Lenora.


"Jangan sombong kau!" Marah salah satu dari mereka dengan menatap Lenora penuh kebencian.


"Hhh... Aku lelah, aku juga sibuk. Kalian bermainlah sendiri tanpa membawa ku, aku pamit." Pergi Lenora namun segera di tahan oleh para pengawal yang datang dengan berbondong-bondong, Lenora melihat ke dewa agung yang nampak menatapnya dengan tersenyum miring.


"Benar-benar menjijikkan." Ucap Lenora dengan menghempaskan mereka semua hingga berterbangan dengan membentur dinding, hal itu membuat semuanya terkejut namun yang lebih anehnya mereka melihat Lenora tersenyum miring pada mereka semua, seperti meremehkannya.


"Dia!! benar-benar kurang ajar!" Marah mereka dengan ekspresi yang menggebu-gebu.


"Kenapa dia semakin kuat?" Aneh mereka.


Tapi untuk Lenora, dia merasa ada yang janggal. Kenapa dia tidak melihat dewa agung terdahulu? apakah ada masalah?

__ADS_1


Jika kalian bertanya, bagaimana kehidupan para dewa dan dewi di tempat Lenora? itu sama hal nya seperti sebuah kekaisaran, di mana ada rakyat dan para menteri yang menjabat. Hanya saja, mereka memiliki kekuatan jauh lebih tinggi dari orang-orang biasa.


__ADS_2