
Keadaan di kapal itu menjadi suram selama 10 hari ini, sejak kejadian lalu Lenora dan Archon masih belum membuka matanya. Mungkin mereka berdua terkena serangan sehingga membuat jantungnya berdetak sangat lambat, ini hari ke sepuluh Lenora dan Archon tertidur.
Mereka berada di kapal sudah 2 minggu lebih namun masih belum sampai di tempat tujuan, bahaya demi bahaya datang meskipun tidak terlalu besar namun cukup untuk membuat mereka bisa melindungi Lenora dan Archon.
Seperti sekarang ini, mereka sibuk melindungi Lenora dan Archon dari serangan buruk gagak yang entah datang dari mana. Mereka mematuk kepala hingga berlubang itu pun hanya dalam satu kali patukkan, Simon menyuruh mereka untuk tengkurap di atas kapal untuk tidak terkena serangan gagak tersebut.
"Aku mau pulang....." Tangis Nina karena dia sudah berkali-kali selamat dari maut, tapi sekarang sepertinya dia sudah menyerah. Terlalu banyak bahaya untuk dirinya yang begitu lemah dan hanya mengandalkan pertolongan dari orang-orang sekitarnya.
"Diam! saat ini bukan waktu yang pas untuk kau mengeluh!" Datar Molly dengan berjaga-jaga, mereka sibuk bersembunyi sampai kumpulan gagak itu pergi.
Untuk Lenora, dia bermimpi bertemu dengan Bing. Di sana dia melihat Bing sangat tampan dengan jubah kebesarannya yang terlihat cocok untuknya, Bing merentangkan kedua tangannya saat melihat sosoknya.
Dengan cepat, Lenora segera berlari kedalam pelukannya. Pelukan yang sangat ia rindukan, pelukan yang membuatnya merasa aman dan nyaman, aroma Bing yang masih sama seperti dulu membuat Lenora ingin terus berada dalam dekapannya.
"Aku merindukanmu..." Ucap Lenora di sela-sela pelukannya.
"Aku juga sangat merindukanmu, aku mohon. Bertahanlah, aku menunggumu disini Lenora....." Ucap Bing dengan memegang kedua pipi Lenora dengan kedua tangannya.
"Aku.... Aku lelah, terlalu banyak bahaya Bing. Aku..." Ucapan Lenora langsung terhenti saat Bing dengan lembutnya mengecup keningnya sehingga Lenora merasa sesuatu yang hangat mengalir kedalam hatinya, rasa cemas dan putus asa yang sebelumnya ia rasakan kini justru tergantikan dengan rasa semangat yang membara.
"Aku tahu kau kuat, aku yakin kau bisa menghadapinya Lenora. Dunia memang kejam, tapi ada aku yang akan selalu menjadi tempat untuk mu pulang." Ucap Bing dengan tersenyum lebar.
"Aku mengerti.." Angguk Lenora dengan memegang tangan Bing dan menggenggamnya kuat.
Lenora kembali memeluk Bing sebelum akhirnya Lenora tersadar, Lenora menatap langit-langit kapal tempatnya tertidur sekarang. Dia melihat ke sekeliling yang terasa sepi, apakah semua orang tidak ada?
Dengan kepala yang sedikit pusing akhirnya Lenora mencoba untuk bangkit, namun Lenora di kejutkan dengan sosok Archon yang berbaring di sampingnya dengan tubuh yang sudah mulai membaik, di sentuhnya kening Archon yang terasa dingin sebelum akhirnya Lenora tahu bahwa pecahan inti kehidupan dari gurita itu ada padanya semua.
__ADS_1
"Archon bodoh!" Geram Lenora dengan menatap Archon yang masih saja tertidur lelap, dalam dunia Lenora mungkin keadaan ini di sebut dengan koma.
Dengan sedikit kesusahan, Lenora mengambil sesuatu dari balik bajunya. Sebuah batu kecil berwarna merah delima yang sebelumnya ia dapatkan dari Bing untuk membuat tubuhnya kebal dan tidak mudah sakit, Lenora belum menggunakannya karena menurut Lenora dia tidak terlalu membutuhkannya.
Dengan cepat Lenora memasukkan batu merah delima itu kedalam mulut Archon yang mulai melebur dalam mulutnya, melihat itu Lenora hanya tersenyum dan segera bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar.
DUGHHH!!!
"Astaga!" Pekik Lenora dengan mengelus dadanya, Lenora baru saja membuka pintu kaca tersebut namun seekor burung gagak langsung menyerangnya, untungnya Lenora memiliki kecepatan yang luar biasa sehingga burung tersebut menabrak kaca dengan kencang.
"Lenora?!" Kaget Diego dengan senang, melihat Diego yang lengah Lenora segera melemparkan pisau kecil tersebut hingga melayang di samping Diego, Diego yang merasakan itu langsung diam mematung. Hampir saja telinganya putus, ternyata di belakangnya ada seekor gagak yang hendak mematuk kepalanya.
"Jangan lengah bodoh!" Tegas Lenora dengan mengeluarkan pistolnya dan segera menyerang mereka secara membabi buta, banyak sekali burung yang sudah mati.
"...." Seperti obat pada umumnya, Diego, Molly dan Simon langsung semangat dan ceria. Mereka ikut menyerang dengan begitu bringas sehingga membuat pasukan Envios terdiam, memang benar bahwa obat untuk mereka kembali seperti semula adalah Lenora.
"Aku pikir hari ini aku bisa bersantai." Ucap Lenora dengan mengelap keringatnya,dia mendekati Diego yang tiba-tiba saja langsung memeluknya, Diego nampak meneteskan air matanya saat merasakan tangan Lenora yang menepuk-nepuk punggungnya.
"Aku tidak peduli, mereka tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku." Balas Diego dengan menggandeng Lenora dan menyandarkan kepalanya di pundak Lenora dengan mesra.
Lenora hanya menggelengkan kepalanya saja dan membiarkan Diego seperti itu, orang-orang yang melihat sikap manja Diego hanya diam. Padahal sebelumnya Diego terlihat menyeramkan dan begitu kasar, tapi sekarang? entahlah.....
"Kau terlihat bahagia." Ucap Envios.
"Benarkah? mungkin karena asupan darinya yang membuatku seperti ini." Senyum Lenora dengan begitu lebar.
"Kau bertemu dengan yang mulia?" Tanya Simon dengan cepat.
__ADS_1
"Ya, dia datang kedalam mimpiku. Dia memelukku, mencium ku dan.... Menungguku." Senyum Lenora dengan begitu lebar.
"....." Mereka hanya diam, ekspresi Lenora benar-benar bahagia sekarang.
"Apakah yang mulia tidak menanyakan ku?" Tanya Simon penasaran.
"Tidak." Santai Lenora yang membuat Simon cemberut.
Lenora duduk di kursi panjang yang ada di sana, dia menatap ke arah langit. Dia teringat obrolannya dengan gurita tempo lalu, sepertinya gurita itu di serang oleh sesuatu yang sangat ganas dan berbahaya, anaknya juga di bawa oleh mahluk itu sehingga membuat induk gurita meminta bantuannya untuk menyelamatkan anaknya.
"Ada apa?" Tanya Simon yang datang dengan membawakan makan untuk Lenora yang langsung menerimanya, ternyata Simon tahu juga apa yang harus di lakukan sekarang.
"Sebelum aku tertidur, aku sempat berbincang dengan induk gurita itu. Dia bilang, dia di serang oleh hewan buas yang mengerikan, bahkan anaknya pun di bawa oleh hewan tersebut. Aku tidak tahu, hewan apa yang ia maksudkan itu..." Jujur Lenora dengan mata yang terpejam namun tangannya sibuk mengambil cemilan dan buah.
"Ganas? saya harap nona tidak kembali berulah lagi, kali ini biarkan saya yang turun tangan." Ucap Simon dengan serius.
"Aku tidak bisa diam saja saat aku bisa melakukannya, kau tenang saja. Aku baik-baik saja, dan lagi.... Aku ingin segera bertemu dengan Bing." Ucap Lenora dengan tersenyum kecil.
"Tapi...."
"Ngomong-ngomong, apa kau punya coklat? entah kenapa aku ingin makan coklat sekarang...." Ucap Lenora dengan tampang tak berdosa nya.
"Coklat? saya punya nona....." Ucap seseorang yang datang dengan membawa beberapa potong coklat yang terlihat enak itu.
"Ahh terimakasih, berapa aku harus membayarnya?" Tanya Lenora dengan mengambil semuanya.
"Tidak perlu, ini untuk nona." Senyumnya, sepertinya dia seorang pelayan karena pakaiannya pun terlihat lusuh dan kotor.
__ADS_1
"Terimakasih." Senang Lenora dan segera memakannya dengan lahap, tanpa menghiraukan orang-orang yang tengah menatapnya dengan heran. Bagaimana bisa Lenora memakan coklat dengan santai begitu? padahal, bagi mereka memakan sedikit saja sudah membuat pusing dan sakit kepala.
Udahh kan? jangan lupa ttp dukung author yaaa, meskipun author sibuk di kampus tapi author sempetin buat bikin dan rela ga istirahat ðŸ˜ðŸ¤£ðŸ¤£