Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran

Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran
Tantangan


__ADS_3

Bing terpesona oleh sorot mata Lenora yang lembut namun sangat tajam secara bersamaan, seperti ada sesuatu yang menarik nya untuk terus menatap mata indah Lenora. Hingga saat di putaran terakhir, Bing nampak kurang fokus hingga membuat Lenora hampir jatuh namun hal itu segera di sadari oleh Bing yang langsung menahan pinggang Lenora hingga membuat tubuh Lenora menabrak dada bidang nya.


"Lenora!" Pekik Diego dan Archon secara bersamaan.


Cadar yang di pakai Lenora terjatuh, hal itu lah yang membuat Diego kaget dan juga Archon yang cemas.


Sebagian orang bisa melihat wajah Lenora yang cantik melebihi siapa pun, bahkan semua wanita yang ada di sana pun mengagumi kecantikannya yang begitu tinggi.


"Cadar ku..." Gumam Lenora pada Bing.


"Tutup mata kalian semua!" Datar Bing dengan menutupi wajah Lenora yang berada di dada nya.


Hingga akhirnya semua orang yang ada di sana langsung menutup kan matanya penuh ketakutan, mereka yang sudah melihat wajah Lenora tersenyum diam-diam karena setidaknya rasa penasaran mereka terobati.


"Sudah." Ucap Lenora dengan melepaskan tangan Bing yang masih melingkar di pinggang nya.


"Kau yakin?" Tanya Bing dengan kedua alis yang mengerut.


"Hmm..." Angguk Lenora.


Akhirnya semua orang bisa membuka matanya kembali, kini tepuk tangan mulai terdengar riuh di sana. Mereka menatap Lenora penuh kekaguman sekaligus penasaran dengan hubungan keduanya yang nampak tidak biasa.


"Terimakasih, kau memang sangat tampan!" Jujur Lenora dengan mengecup pipi Bing dengan menyingkap kan sedikit cadar nya sambil berjinjit.


"....." Mata Bing membulat, dia merasakan benda lembut dan kenyal yang baru saja menempel di pipi nya. Terlihat Lenora yang sudah berjalan kembali ke tempatnya, dia tidak marah, tidak juga jijik, bahkan... Dia menginginkan nya lagi.


Lenora melakukan itu karena melihat ekspresi iri dari Aeera yang terlihat menatap Lenora penuh ke bencian meskipun dia tersenyum sedikit, namun di balik senyum itu tersimpan banyak sekali siasat.


Tepuk tangan kembali memenuhi tempat tersebut, Bing menatap Lenora yang sudah duduk dengan tenang di kursi nya. Bisa di lihat senyum Lenora di balik cadar nya saat berbincang dengan Aeera yang nampak penasaran.


"Kau ada hubungan apa dengannya Bing?!" Tanya Oliver dengan penuh selidik.

__ADS_1


"...." Bing hanya diam dengan kembali menatap lurus ke depan.


"B-baiklah, penampilan yang mulia dengan nona Lenora sangat luar biasa dan juga sangat tidak terduga. Untuk acara selanjutnya saya persilahkan wanita yang lainnya untuk menunjukkan bakat kalian...." Ucap sang Kasim dengan menatap Lenora penuh keterkejutan, dia sangat ketakutan karena pernah memarahi Lenora di danau siang tadi.


"Lenora, sepertinya hubungan mu dengan yang mulia sangat dekat." Ucap Aeera dengan penuh iri.


"Tidak, kami bahkan baru pertama kali saling sapa." Santai Lenora.


"Jangan berbohong!! kami sangat tahu bagaimana yang mulia itu..." Tegas Aeera yang justru malah membuat Lenora terkekeh geli, dia kembali diam dengan memperhatikan penampilan yang lainnya.


Namun, Lenora merasa tidak fokus karena terus di tatap oleh Archon dan Diego dari kursinya yang menatap tajam Lenora. Lenora tahu, pasti setelah ini dia akan di ceramahi habis-habisan oleh mereka berdua.


"Yang mulia!! saya menantang nona Lenora untuk bertarung!!!" Ucap seorang wanita yang terlihat begitu dingin dan datar, bahkan pakaian nya pun seperti laki-laki.


Di belakang punggung nya terdapat sebuah pedang yang ia simpan, sepertinya wanita itu seseorang yang hebat.


"Bagaimana nona?" Tanya sang Kasim pada Lenora.


"....... Oke!! jika kau menang, aku akan memberikan pedang spirit ku yang sangat berharga ini dan menjadi budak mu! tapi, jika kau kalah..... Aku ingin kau menjadi budak ku untuk selamanya!" Tegas nya.


"Astaga!! kekuatan nona Molly hampir setara dengan jenderal di kerajaan ini. Sepertinya nona Molly sengaja melakukannya karena nona Lenora masih berada di tingkat sedang sedangkan dirinya di berada di tingkat puncak level 8, sangat jauh berbeda!" Heboh mereka yang terdengar jelas hingga membuat tempat itu ramai.


"Bagaimana? apakah kau takut?" Tanya Molly dengan tersenyum miring.


"Takut? apakah aku terlihat takut? aku hanya bingung.... Bagaimana jadi nya jika kekasih dari yang mulia Bing ini sampai terluka? aku harap kau akan baik-baik saja nona Molly!" Balas Lenora yang lagi-lagi membawa Bing, bahkan mengatakan bahwa dia kekasih nya.


"APA?" Kaget mereka semua yang mendengar ucapan Lenora tadi, mereka sontak menatap ke arah Bing yang hanya diam dengan sorot mata yang tajam. Mereka pikir, Bing marah pada Molly karena sudah berani menantang Lenora, padahal asli nya Bing sedang menatap Lenora.


Terlihat ekspresi ketakutan dari diri Molly, hal itu membuat Lenora terkekeh. Dia naik ke atas podium tempat nya berdansa tadi, Lenora menatap ke arah Bing dan mengedipkan sebelah matanya.


"Jika aku mati, tolong jangan menangis...." Ucap Lenora dengan lembut.

__ADS_1


"BERHENTI!" Tegas Bing, dia tahu isyarat Lenora yang tengah meminta bantuan pada nya. Bagaimana pun, Lenora masih lemah sekarang.


"Tidak mau, aku tidak akan mempermalukan mu tenang saja." Ucap Lenora dengan mengikat rambutnya hingga memperlihatkan tengkuknya yang begitu bersinar.


Bing yang melihat segera beranjak dari duduknya dan dalam sekejap sudah berada di samping Lenora yang hampir kejengkang lagi.


"Aku akan pinjamkan pedang ku untuk kau gunakan....." Ucap Bing dengan memberikan sebuah pedang pada Lenora yang terlihat luar biasa keren itu.


Mata Lenora langsung berbinar, padahal dia masih belum mengeluarkan pedang nya karena berada di ruang penyimpanan. Namun, melihat barang bagus di hadapannya, kenapa harus dia tolak?


"Terimakasih..." Senyum Lenora yang langsung terhenti saat Bing menarik ikat rambut nya hingga membuat rambut Lenora kembali terurai.


"....." Setelah melakukan itu Bing kembali ke tempat duduknya.


"Aneh..." Gumam Lenora yang tidak sadar dengan tingkah Bing.


"Nona, saya...." Ucap Molly dengan sedikit gugup.


"Tidak apa-apa, jangan hiraukan dia." Balas Lenora tenang.


"Baiklah, karena keduanya sudah sepakat.... Mari kita mulai!!" Tegas sang Kasim dengan kencang.


Molly mengeluarkan pedangnya dengan kekuatannya yang terlihat seperti angin, hingga membuat rambut Lenora berkibar dan cadar nya ikut terlepas.


Mendadak semua orang langsung menatap Lenora dengan penuh kekosongan, wajah cantik itu.... Mereka mengagumi nya.


"Haishh...." Gumam Lenora dengan membalikkan tubuhnya untuk mengambil cadar, namun kesempatan itu di gunakan oleh Molly untuk menyerangnya.


Namun, Lenora sadar akan hal itu. Jiwa seorang agen rahasia nya langsung aktif, dia bergerak cepat ke arah samping dan menendang tubuh Molly yang langsung mundur beberapa langkah itu.


"Maaf, aku lengah tadi...." Ucap Lenora dengan kembali memasangkan cadar nya tanpa ekspresi berdosa sama sekali, padahal Molly bisa saja menusuk nya dengan pedang tadi.

__ADS_1


__ADS_2