
Lenora dan kawan-kawannya baru saja menyelesaikan sarapannya, namun mereka di kagetkan dengan rombongan istana yang sekarang memenuhi halaman rumahnya. Dengan perasaan penuh keheranan, Lenora dan yang lainnya segera keluar.
"Ada apa?" Heran Lenora pada Oliver yang datang dan langsung memegang tangannya.
"Lenora, apa kau bisa membantuku? di hutan yang dulu kau tinggali terdapat banyak sekali iblis yang mengamuk, mereka terus menyerang warga satu persatu..." Jelas Oliver dengan ekspresi yang ketakutan.
"Nona..." Simon membisikkan seseorang pada Lenora yang mengangguk paham.
"Aku akan memeriksanya, kau kembali saja ke istana." Balas Lenora.
"Aku akan menyuruh para prajurit untuk menemani mu juga." Balas Oliver.
"Tidak perlu." Tolak Lenora.
"Tapi...."
"Archon, Molly dan Diego. Kalian periksa saja di setiap penjuru desa, jangan sampai ada yang melukai rakyat. Aku akan pergi ke hutan dengan Simon, jangan membantah! aku tahu batasan ku juga...." Jelas Lenora dengan penuh penekanan karena dia tahu bahwa mereka bertiga akan menolaknya dan menginginkan untuk ikut bersamanya juga.
"Baiklah." Patuh Molly yang langsung bersiap juga.
"Kalau begitu aku dan Simon akan pergi." Ucap Lenora dengan menunggangi kudanya, Simon pikir Lenora akan ikut bersamanya ternyata tidak.
Kuda yang di bawa Lenora melaju dengan cepat, rakyat yang melihat itu segera menunduk penuh penghormatan. Lenora terlihat seperti seorang dewi kesatria, sorot matanya yang terlihat tajam dan menakutkan jika di hadapan orang-orang yang menurutnya patut untuk di perlakukan k
jahat.
"Simon, aku tahu di mana titik keberadaan mereka semua." Ucap Lenora dengan turun dari kudanya, kuda tersebut tidak berani masuk ke hutan itu.
__ADS_1
"Ya, saya akan mengikuti anda di belakang." Angguk Simon.
Mereka berjalan menyusuri hutan tersebut, tempat di mana semua hewan yang ada di sana terlihat ketakutan dan bahkan banyak sekali bangkai hewan yang tercium sangat bau, Lenora sendiri hampir muntah jika saja dia tidak ingat bahwa dia memiliki obat untuk menghilangkan bau tersebut.
Hingga saat di pertengahan hutan yang di penuhi dengan daging busuk dan tercium bau yang sangat menyengat, mereka bisa melihat sekumpulan mahluk aneh yang Lenora lihat mereka seperti zombie.
Merasakan kehadiran mereka berdua, sekumpulan iblis itu langsung menatapnya. Mereka diam setelah sekian lama sebelum akhirnya jatuh terduduk dengan membungkukkan tubuhnya di atas tanah, Lenora melirik Simon yang hanya mengangguk sebelum akhirnya maju ke depan dengan Lenora.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Simon.
"T-tuan, keadaan di istana iblis semakin hari semakin memburuk. Kawanan kami bahkan banyak yang mati karena ulah mereka, kami tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Untuk musibah yang terjadi dulu, itu.... Tuan pasti tahu." Jelas salah satu dari mereka yang tidak berani mengangkat kepalanya.
"Jadi, kalian adalah sekumpulan iblis yang di hukum oleh para dewa dan dewi di dunia atas?" Tanya Lenora.
"B-benar nona..." Angguk mereka dengan sedikit gugup, mereka bisa merasakan dengan jelas aura Lenora yang bercampur dengan sosok tuan mereka, Bing.
"Nona, untuk mereka yang di hukum memang akan seperti ini. Para dewa dan dewi sengaja melakukannya agar bangsa kami semakin buruk, dengan begitu mereka bisa melenyapkan kami dengan tuduhan bahwa kami melanggar hukum alam karena memakan manusia." Jelas Simon dengan menatap Lenora.
"Dewa Dewi? apa-apaan itu?! bahkan mereka lebih menjijikkan dari pada seorang pendosa sekalipun!" Kesal Lenora.
Bukankah dewa dan dewi itu seharusnya menjadi panutan dan bersikap baik? apa karena mereka bangsa iblis? memangnya kenapa? justru bangsa iblis terlihat lebih bisa menghargai dari pada dewi yang ia temui saat dia berada di gunung Merapi kemarin.
"Itu benar nona, perselisihan antara mereka dan kami sudah berlangsung sejak dulu. Padahal, sebelumnya kami terlihat baik-baik saja sebelum insiden itu terjadi...." Ucap Simon dengan pelan.
"Insiden? apa maksudmu saat seorang dewi yang menyukai Bing dan Bing menolaknya itu?" Tanya Lenora.
"Benar nona, dia tidak terima karena di permalukan oleh Bing. Dia memiliki paras yang cantik dan sempurna, sehingga dia ingin menjebak yang mulia agar bisa tidur dengannya namun..... Seseorang sudah menyamar menjadi dirinya sehingga yang tidur dengan wanita itu bukanlah yang mulia, namun semuanya kompak menuduh yang mulia hingga..... " Simon tidak lagi melanjutkan ceritanya karena dia tahu Lenora pasti mengerti jalan ceritanya.
__ADS_1
"Siapa laki-laki yang menyamar itu?!" Tanya Lenora dengan datar.
"Dia seorang dewa yang tergila-gila pada wanita cantik, sehingga mendengar wanita tercantik di sana menyukai bangsa iblis membuatnya tidak terima. Sehingga dia nekad melakukan hal tersebut, namun setelah mendapatkan kenikmatan itu dia tidak pernah mengaku bahwa dirinya lah yang sudah melakukannya." Simon memberikan sebuah gulungan kertas pada Lenora yang memperlihatkan seorang bayi perempuan kecil yang terlihat lucu dan menggemaskan.
"Ini, anak yang di lahirkan olehnya. Apakah menurut nona ada yang mirip dengan yang mulia?" Tanya Simon.
"Di lihat beribu kali pun tidak ada sedikitpun kemiripan di sana, ingatkan aku untuk menghajar wanita itu!!" Datar Lenora dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Nona, mereka..."
"Aku tidak peduli, meskipun dia seorang dewi dan aku hanyalah manusia biasa aku tidak akan pernah tunduk ataupun luluh! derajat kami saja tidak berbeda, namun untuk kekuatan? aku tidak akan kalah!" Serius Lenora dengan sorot mata yang tajam, hal itu membuat bangsa iblus yang sedang menunduk langsung menelan ludahnya bulat-bulat, mereka pikir Lenora hanyalah wanita biasa yang menyukai Bing karena ketampanannya saja, namun ternyata dugaan mereka salah besar!
"Saya mengerti.." Angguk Simon dengan tersenyum.
"Baiklah, untuk kalian... Tetap di area ini, jika kalian lapar aku akan memasakkan makanan untuk kalian. Hal tersebut untuk mengalihkan agar kalian tidak memakan manusia lagi, bagaimana?" Tanya Lenora.
"N-nona, kami tidak berani...." Takut mereka, bagaimana mungkin Lenora memasak untuk iblis rendahan seperti mereka?
"Tidak apa-apa, ada teman-temanku yang akan membantu untuk memasak. Jika kalian lepas kendali, aku harap kalian saling mengingatkan ataupun..... Menyakiti diri kalian sendiri agar teralihkan dari rasa lapar itu." Ucap Lenora dengan mengeluarkan beberapa pil dari ruang dimensinya.
"Baik nona...."
Setelah memberikan pil penyembuh itu, Lenora dan Simon segera berpamitan untuk pergi. Bagaimana pun mereka sudah lumayan lama di sana, melihat kepergian Lenora dan Simon, para iblis itu menatap punggung Lenora yang terlihat cantik meskipun sebelumnya memakai cadar.
"Yang mulia pasti beruntung karena mendapatkan wanita seperti nona Lenora." Ucap salah satu dari mereka.
"Aku juga rasa begitu." Angguk yang lainnya.
__ADS_1
Double upp terus mintanya 😭🤣 tapi gpp, terimakasih semuanya ♥️♥️