Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran

Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran
Raiza dan Raize


__ADS_3

Sosok Lenora yang sedang duduk di bawah pohon dan menyanyi kecil itu sejak tadi sudah di perhatikan oleh seseorang yang sedang duduk di salah satu tempat makan yang ada di lantai dua, sosoknya terus memperhatikan Lenora sejak tadi.


"Kakak..... Kami pikir kakak sudah pergi...." Ucap mereka yang datang dengan berbondong-bondong, mereka semua terlihat tampan dan cantik sehingga nampak lucu dengan pakaian baru nya.


"Memangnya kenapa jika kakak pergi?" Tanya Lenora dengan tersenyum lebar meskipun tidak dapat mereka lihat.


"Kakak, jika kakak pergi siapa yang akan membayar pakaian mahal ini?" Ucap mereka dengan cemberut, hal itu membuat Lenora terkekeh geli.


"Maafkan kakak, di dalam sangat sumpek sehingga memb...."


"Tamu yang terhormat, tolong maafkan toko kami yang tidak dapat memuaskan anda...." Ucap seorang laki-laki dewasa dengan menundukkan kepalanya pada Lenora.


"Ahh bukan begitu maksud saya paman, adik kecil ini ingin keluar dan mencari udara segar. Tolong maafkan perkataan saya jika sudah menyinggung anda..." Ucap Lenora dengan sedikit merasa bersalah.


"Tidak apa-apa nona, saya justru sangat berterima kasih pada kalian." Ucapnya dengan tersenyum lebar.


"Paman, saya ingin memberikan modal untuk toko anda agar semakin besar dan juga mewah. Saya tidak akan mengambil keuntungan berupa uang, tapi saya ingin anda memberikan pakaian yang layak kepada mereka setiap minggunya." Ucap Lenora dengan serius.


"Apa? nona... Anda serius?" Tanya nya dengan terkejut.


"Tentu saja.... YUDHA!!" Panggil Lenora pada Yudha yang asik memakan apel di sana.


"Ya nona?" Tanya nya dengan tersenyum kecil.


"Awasi pemilik toko ini agar bisa membangun sebuah toko pakaian yang besar, untuk semua biaya nya ada disini. Ambil saja...." Ucap Lenora dengan memberikan sebuah cincin dimensi pada Yudha yang nampak terkejut itu.


"Nona, bukankah kita akan....."


"Aku ingin istirahat beberapa hari disini, kalian juga butuh liburan bukan?" Senyum Lenora, sebenarnya Lenora merasa kurang enak badan. Entah kenapa, dia juga tidak tahu.

__ADS_1


"Baik nona." Angguk Yudha.


"Terimakasih banyak nona, mulai sekarang saya akan menjadi bawahan anda. Dan untuk anak-anak, nona tenang saja saya akan merawat mereka juga. Kebetulan, istri saya begitu menginginkan kehadiran seorang anak." Ucapnya dengan antusias, Lenora menatap dalam laki-laki itu untuk melihat apakah dia sedang berbohong atau tidak, ternyata laki-laki itu berkata dengan jujur hanya saja istrinya sedang sakit.


"Baiklah, kalau begitu kau bisa bebas menghidupi mereka dengan menggunakan uangku. Jika kau melakukan satu kesalahan pada mereka, aku benar-benar tidak akan mengampuni paman. Dan lagi..... Ini obat untuk istri anda." Ucap Lenora dengan memberikan satu pil obat pada laki-laki itu yang terlihat menangis haru dan segera bersujud di bawah kaki Lenora.


"Nona, terimakasih banyak. Anda sudah seperti Dewi bagi saya.... Saya tidak akan pernah mengecewakan anda." Ucapnya dengan terus menangis.


"Paman, jangan seperti ini. Bangunlah.... Saya hanya ingin anda menjaga mereka dengan baik, jangan pernah membeda-bedakan mereka semua." Ucap Lenora dengan tersenyum kecil.


"Saya tidak akan mengecewakan anda nona..." Angguk nya dengan cepat, dia terlihat begitu sumringah dan senang.


"Kakak...... Apakah kakak akan pergi?" Tanya mereka dengan menatap Lenora.


"Tentu saja, aku sangat suka berkelana. Karena itulah aku akan berpindah-pindah tempat untuk menolong orang yang sedang membutuhkan bantuan ku, sama seperti kalian ini." Angguk Lenora.


"Terimakasih kak, apakah kami bisa bertemu lagi dengan kakak?" Tanya mereka dengan menatap Lenora dengan penuh harapan.


"Kakakk......" Tangis mereka yang membuat Lenora terkejut, apakah dia mengatakan sesuatu yang menyakiti mereka?


"Ada apa? apa ada perkataan ku yang salah?" Tanya Lenora dengan cemas.


"Kenapa kakak sangat baik sekali? kami... Kami tidak punya apapun untuk membalas kebaikan kakak." Ucap mereka dengan terisak-isak.


"..... Kalian hanya perlu mendoakan anak dan suamiku, agar mereka tetap sehat dan hidup bahagia." Ucap Lenora pelan sehingga hanya dapat di dengar oleh mereka.


"Baik kak, kami akan selalu mendoakannya..." Angguk mereka yang membuat Lenora lagi-lagi tersenyum.


"Kalau begitu, kalian pergi lah makan bersama paman ini. Makanlah sepuas kalian...." Ucap Lenora.

__ADS_1


"Baik kak.." Senang mereka yang kembali berlari pergi untuk menyusul pemilik toko baju itu yang sedang membawa mereka pergi.


"Kak...." Lenora melirik kedua laki-laki kembar yang tengah menundukkan kepalanya itu.


"Kenapa? pergilah, makan yang banyak agar kalian cepat tumbuh besar." Ucap Lenora dengan pelan.


"Apakah kami bisa ikut dengan kakak? kami akan membalas kebaikan kakak yang sudah menolong adik-adik kami, kakak tenang saja.... Aku, aku sangat pintar membuat racun, adikku juga sangat ahli memecahkan penawar racun yang paling kuat sekalipun. Kami juga.... Bisa membuat obat." Jelasnya dengan penuh harap.


Kedua laki-laki kembar itu terlihat tampan memang, Lenora diam sejenak sebelum akhirnya menghela nafas panjang. Takdir kehidupan mereka akan salah jika berada di tangan yang salah, akhirnya Lenora mengangguk pelan.


"Baiklah, kalian akan ikut dengan ku tapi dengan satu syarat.... Jangan menanyakan apapun yang akan kalian lihat nanti di perjalanan, bagaimana?" Tanya Lenora.


"Baik, kami akan melakukannya kak." Senang mereka.


"Bagus, jadi siapa nama kalian berdua?" Tanya Lenora dengan menyuruh mereka untuk duduk di kursi tadi, yang sebelumnya sudah Lenora duduki. Mengenai bayi cantik tadi, Lenora sudah memberikannya pada paman pemilik toko sebelumnya.


"Raiza, dia adik saya Raize.." Jelasnya.


"Raiza dan Raize? bagaimana jika aku memanggil kalian dengan nama Riza dan Rize? agar lebih mudah...." Tanya Lenora.


"Tidak apa-apa kak, kami justru sangat senang." Angguk mereka dengan antusias.


"Mengenai kalian, apakah kalian sudah lama bersama dengan yang lainnya?" Penasaran Lenora, di lihat dari manapun kedua anak itu terlihat seperti anak bangsawan karena memiliki wajah yang tampan dan sedikit terurus.


"Sebenarnya, kami sudah di buang oleh ibu tiri kami. Ayah menikah lagi dengan seorang wanita yang berasal dari rumah bordil, ibu kami sudah lama meninggal karena racun. Kami di buang sejak kami berusia 4 tahun, hingga sekarang. Itu berarti, kami sudah ada bersama mereka selama 6 tahun." Jelas Riza dengan menundukkan kepalanya.


"Benar kak, ayah seorang menteri di kerajaan tetangga tapi dia selalu terhasut oleh ibu tiri sehingga tega membuang kami ke hutan yang di penuhi oleh bahaya." Jelasnya lagi yang membuat Lenora terdiam, ternyata kehidupan lalu lebih kejam dari pada kehidupan di era modern.


"Jadi, karena itulah kalian mencoba mempelajari racun dan penawar nya juga?" Tanya Lenora dengan tersenyum.

__ADS_1


"Benar kak, kami tidak ingin melihat orang terdekat kami mati seperti itu lagi." Angguk mereka yang membuat Lenora terkekeh, pantas saja anak-anak tadi terlihat sehat dan segar, ternyata mereka toh yang sudah merawat nya juga.


__ADS_2