
Lenora tak berhenti tertawa saat Diego menceritakan semua kedatangannya itu, padahal sebelumnya Diego sedang makan bersama mereka di aula yang besar namun tiba-tiba saja tubuhnya mulai memudar dan hilang dari sana, setelah itu Diego sudah berada di pasar dan berubah menjadi laki-laki muda berusia 12 tahun yang baru saja mencuri roti hingga membuat nya di pukuli oleh beberapa orang.
"Hahaha... Kau tidak separah diriku, kau lihat tubuh ini? benar-benar buruk." Ucap Lenora dengan membuka cadarnya, mereka berdua terkejut melihat wajah Lenora yang buruk rupa.
"Nona..." Ucap Envios dengan penasaran.
"Sebenarnya, aku...."
"ENVIOSSSSS!!! APA YANG KAU LAKUKAN? KENAPA KAU MEMBAWA MASUK WANITA LAIN HAH? APA AKU BELUM CUKUP UNTUK MEN....Nona?"
Lenora menggelengkan kepalanya saja saat melihat sosok Nina yang datang dengan suara cempreng nya, namun suara tersebut langsung menghilang saat melihat dirinya.
"Apa apaan kau ini? apakah kau tidak bisa bersikap lembut?" Tanya Envios dengan ekspresi yang kesal.
"Aku..." Nina hanya menundukkan kepalanya saja.
"Tidak apa-apa.." Ucap Lenora dengan tersenyum, dia memaklumi hal itu. Lenora pun akan melakukan hal yang sama jika Bing membawa masuk wanita asing, tapi dengan cara yang berbeda dan tentunya lebih terhormat.
"Astaga, ternyata ada yang seperti itu?" Kaget Nina saat Lenora selesai menceritakan semuanya.
"Tapi... Untuk menjadi ratu.." Ucap Envios dengan sedikit gugup.
"Kau tenang saja, aku tidak tertarik padamu." Balas Lenora dengan santai hingga membuat Nina tertawa terbahak-bahak.
"Diam!" Kesal Envios namun Nina tidak peduli dan semakin menertawakan Envios.
"Bisakah kau membantuku mengirimkan ini pada Oliver?" Ucap Lenora dengan memberikan sebuah kain yang entah kain apa itu yang jelas warnanya hitam.
"Tentu saja, tapi itu membutuhkan waktu yang lumayan lama. Kecuali aku sendiri yang pergi..." Ucap Envios.
"Tidak perlu, kirimkan saja seperti biasa agar tidak terlalu menonjol." Ucap Lenora dengan tersenyum.
"Baiklah, lalu apa tujuan mu selanjutnya?" Tanya Envios dengan serius.
__ADS_1
"Yang pertama aku lakukan adalah menyembuhkan diri ini terlebih dahulu, setelah itu barulah aku memikirkan bagaimana caranya agar aku memiliki kekuatan dengan cepat. Tubuh ini terlalu lemah...." Jelas Lenora dengan tenang.
"Aku memiliki kolam herbal yang efektif untuk mengeluarkan semua racun meskipun membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk menetralkan nya kembali, kau bisa menggunakannya. Tapi maaf, itu tidak sehebat milik mu." Ucap Envios dengan ekspresi yang terlihat sedih karena tidak bisa membantu Lenora dengan mudah.
"Tidak apa, aku berterimakasih karena kau masih mau menolongku." Senyum Lenora.
"Nona, jangan katakan hal seperti itu. Bukankah sudah pernah saya katakan dulu, bahwa suatu kehormatan bagi kerajaan Envios untuk menerima kehadiran anda." Jelasnya dengan penuh ketegasan.
"Aku mengerti." Angguk Lenora.
"Nona, aku juga memiliki obat kecantikan yang di dapatkan ayahku dari berbagai acara lelang. Aku akan mengambil dan memberikannya pada nona, tunggu sebentar...." Ucapnya dengan pergi terburu-buru, Lenora yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Sudah lihat bukan? dia sebenarnya sangat baik hanya saja tingkah nya yang memang sedikit berlebihan, jika kau merubahnya sedikit demi sedikit mungkin dia akan menjadi sosok wanita yang sempurna." Ucap Lenora dengan menepuk pundak Envios.
"......" Envios hanya diam tak menanggapi ucapan Lenora.
••••••
Seperti sekarang ini, terlihat seorang anak berusia 2 tahun tengah duduk bersila di samping laki-laki yang sama duduknya juga, mereka terlihat mirip bahkan seperti sama namun itu dalam versi kecilnya.
"Papa..." Tanya anak tersebut yang tak lain adalah Zaphier
"Ada apa?" Balas Bing dengan membuka matanya.
"Tidak ada." Balasnya dengan kembali memejamkan matanya.
Puk! Puk! Puk!
"Jangan terlalu di paksa, istirahat lah. Papa tidak ingin mama mu marah karena melihat mu terus berlatih seperti ini..." Ucap Bing dengan menepuk-nepuk kepala Zaphier yang nampak fokus pada pelatihan nya.
"Tidak apa-apa, aku tahu batasan ku. Dan lagi, aku tidak ingin merepotkan mama lagi..." Balas Zaphier dengan suara lucu nya, hal itu membuat Bing terkekeh.
"Kau ini baru berusia 2 tahun, kenapa tingkah mu sama seperti laki-laki dewasa hm?" Tanya Bing dengan tersenyum.
__ADS_1
"Itu karena papa, sikap mu juga sama seperti ini." Balas Zaphier dengan santai.
"Hahaha kau benar, semua sikap papa menurun padamu ternyata. Tapi jangan seperti ini, nanti mama mu marah karena tidak ada satupun yang mirip dengannya..."
"Ehh tidak, kepintaran ku menurun semua dari mama." Balas Zaphier dengan berlari dengan kakinya yang kecil.
"Maksud mu papa bodoh? Zaphier! kau harus papa hukum!!" Panggil Bing yang mengejar Zaphier, namun sudah tidak terlihat di sana.
Semua orang yang melihat itu hanya tersenyum dan berharap agar Bing tidak berpura-pura senang lagi, mereka tahu bahwa di setiap malam Bing selalu menangis dalam diam karena merindukan Lenora.
"Bibi, kenapa Vetter belum bisa duduk?" Tanya Zaphier dengan menggoyangkan tubuh Vetter yang langsung menangis karena ulahnya.
"Aduh tuan muda, jangan mengganggu Vetter. Bibi sangat kelelahan karena dia terus menangis sejak tadi." Ucap Molly dengan segera memangku anaknya, Zaphier memang sering mengganggu anaknya.
Setelah kepergian Lenora, Molly dan Archon setelah beberaha hari kemudian. Itu karena Lenora menuruti perintah Lenora untuk menikahi Molly, hidup Molly berada di tangannya tapi kepergian Lenora membuat nya cemas karena itulah menyuruh Archon untuk menikahinya agar ada yang bertanggung jawab atas dirinya.
Molly dan Archon di karuniai seorang anak yang baru beberapa bulan, namun Vetter tidak seperti Zaphier yang sudah bisa bergerak kesana kemari dengan lincah di usianya yang masih kecil.
"Zaphier, apa kau mengganggu Vetter lagi?" Tanya Archon dengan menatap Zaphier yang langsung melengos pergi.
"Sepertinya Zaphier masih marah padamu.." Ucap Molly dengan menggelengkan kepalanya saja.
"Hhhh... Aku tahu, bagaimana mungkin dia menginginkan adik perempuan dan menyuruh Vetter untuk di ganti?" Ucap Archon dengan memijat pelipisnya yang terasa pusing.
•••••
Satu bulan berlalu, Lenora membuka matanya dan melihat sekujur tubuhnya yang sudah mulai membaik dan kembali seperti semula, yaitu dalam keadaan kurus namun tidak terlalu kurus karena berisi di bagian tertentu.
Lenora hendak mual karena kolam obat tersebut berubah menjadi hitam yang sangat bau dan kental, Lenora segera beralih ke tempat pemandian biasa untuk menghilangkan bau dalam kulit nya.
"Terlihat cantik dan seksi." Ucap Lenora dengan melihat dirinya di cermin, meskipun tidak secantik dirinya yang asli namun wajah tersebut tidak bisa di katakan jelek.
"Lenora, aku juga sudah berubah..." Ucap Diego yang terlihat lebih tampan dari sebelumnya meskipun dalam keadaan anak-anak juga.
__ADS_1