
Para serangga itu terlihat begitu banyak bahkan langsung masuk kedalam kulit dengan cara menggerogotinya, Lenora segera masuk kedalam kapal dan melihat banyak orang yang sudah terkapar dengan kondisi yang begitu buruk.
Lenora membantu mereka yang menurutnya masih dapat di bantu, di semprotkan nya cairan yang sebelumnya berada dalam tas Lenora hingga membuat serangga itu menjauh dan tidak mengerubunginya lagi, di pojok kapal Lenora melihat sosok Nona yang terus berteriak heboh dengan kondisi yang berantakan.
Dengan senyum kecil, Lenora mengambil tangki minyak dan segera mengguyurkan minyak tersebut pada tubuh Nina, namun mulut Lenora langsung terbuka lebar saat melihat cairan tersebut yang ternyata berwarna hitam, apakah itu oli?
"K-kau?!" Kaget Nina karena sekarang tubuhnya berwarna hitam.
"Jangan banyak bicara, cepat bantu rekan mu yang lain." Datar Lenora padahal dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak karena ternyata itu bukan minyak, namun Lenora harus tetap bersikap biasa seolah-olah tidak terjadi masalah sama sekali.
"Bagaimana caranya? serangga itu jumlahnya sangat banyak!" Heran Nina pada Lenora.
"Olesi tubuh kalian dengan cairan yang pahit, serangga itu tidak suka pada cairan yang seperti itu." Jelas Lenora dengan segera melihat ke yang lainnya.
"Ukhukk Ukhukk Ukhukk....!!"
Lenora melihat keberadaan Envios yang sedang terbatuk-batuk di atas tong besar, tubuhnya sedang di kerumuni oleh serangga tersebut, dengan cepat Lenora menyemprotkan minyak padanya sehingga sedikit demi sedikit serangga itu mulai menjauh dan pergi meninggalkan Envios yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Lenora dengan membantunya untuk duduk, tubuhnya di penuhi dengan ruam merah bahkan tak sedikit darah yang keluar dari lubang kecil bekas gigitan serangga itu, jika saja Lenora telat menolongnya mungkin Envios akan bernasib sama seperti penjaganya yang sudah tidak berdaging dan hanya menyisakan tulang belulang saja sekarang.
"Terimakasih..." Ucap Envios dengan suara yang parau, serangga tadi benar-benar membuatnya shock.
"Tunggu disini, aku akan melihat yang lainnya." Ucap Lenora dengan berlari keluar dari ruangan tersebut, ternyata keadaan di luar sudah membaik karena sudah tidak berada dalam kabut lagi, banyak sekali tengkorak yang ada di atas lantai kapal, anehnya tengkorak tersebut tidak meninggalkan darah setetes pun.
Semuanya di makan habis oleh serangga tersebut, Lenora merinding seketika, untungnya dia sudah menyiapkan pakaian yang ia pikir akan di gunakan untuk melindungi diri dari lebah, takutnya Diego ingin memakan madu.
"Nona, anda baik-baik saja?" Tanya Simon dengan nafas yang ngos-ngosan, sepertinya mereka juga sama-sama terkejut dengan kemunculan serangga yang jumlahnya tidak sedikit.
__ADS_1
"Ya, di mana yang lainnya?" Tanya Lenora dengan melihat teman-temannya, dia tidak peduli pada pasukan dari kerajaan Balveron itu yang penting teman-temannya selamat.
"Kami ada disini, ngomong-ngomong.... Serangga apa itu tadi? mereka sangat ganas! bahkan, lebih ganas dari sekumpulan mahluk kecil itu." Heran Diego dengan menghampiri Lenora.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu...." Balas Lenora dengan melihat ke sekeliling, beberapa dari pengawal Envios terluka dan itu sama seperti Envios, terdapat bintik merah banyak dengan darah yang mengalir seperti cacar pada umumnya.
"APA INI CARA BALAS BUDI MU PADA KAMI? KENAPA KAU TIDAK MEMBERIKAN KAMI PAKAIAN ITU?!!" Marah Nina pada Lenora yang hanya mengeryit kan dahi nya sebelum akhirnya terkekeh.
"Memberikan pakaian ini? kau pikir kau siapa nona?" Ejek Lenora dengan wajah yang penuh penindasannya, dia pikir dia takut? tidak!
"Kau!!"
"Ingat! aku berhutang pada raja mu, bukan pada kau yang hanya seorang benalu!" Sinis Lenora dengan pergi begitu saja.
"K-kau!! siapa yang kau sebut benalu!!" Marahnya lagi namun segera di hentikan oleh raja Envios yang terlihat mengenaskan itu.
"Y-yang mulia?saya akan mengobati anda...." Cemasnya.
"Tidak perlu, tubuhmu kotor!" Datarnya, lagi dan lagi Nina tersadar bahwa saat ini penampilannya begitu buruk! dia sangat malu..
"Nona memberikan ini, obati semua pasukan mu. Cukup tidak cukup ini harus cukup!" Ucap Simon dengan sedikit enggan.
"Baik, terimakasih..." Ucap Envios dengan tersenyum kecil, dia menatap sebuah cream yang jumlahnya memang tidak seberapa namun bukan itu masalahnya, tapi kebaikan Lenora yang terlihat biasa saja namun aslinya sangat tidak tegaan.
Untuk Lenora sendiri, dia sibuk duduk santai di ujung kapal dengan tangan yang memegang pancing, dia menemukannya di gudang tadi. Lenora sangat lapar, dia tidak ingin memintanya pada Envios karena dia tidak mau merepotkan orang, selagi bisa dia akan melakukannya.
"Hhhh.... Aku merindukanmu Bing." Gumam Lenora dengan menatap ke atas langit, cuaca yang panas namun terasa sejuk.
__ADS_1
Ucapan Lenora dapat di dengar oleh beberapa orang yang ada di sana termasuk teman-temannya juga, mereka saling lirik dan hanya diam.
"Kira-kira berapa lama kita akan sampai ke tempat tujuan?" Tanya Archon pada salah satu pengawal yang sedang mengobati lukanya itu.
"Kurang lebih satu bulan lagi, itu pun karena kita lewat jalur air. Jika lewat darat, mungkin sampai 3 bulan, itu pun belum tentu sampai." Balasnya dengan tersenyum kecil.
"Lama sekali..." Gumam Molly, dia melirik Lenora lagi yang sibuk dengan kegiatannya.
"Kita tidak tahu ada bahaya apa saja yang akan datang sekarang, namun Lenora bilang untuk saat ini kita bisa sedikit bersantai, tapi bukan berarti harus lengah." Jelas Simon.
"Baik, kami mengerti. Mulai sekarang, kami akan mendengarkan apa kata nona Lenora. Maaf, kado sebelumnya kami tidak percaya padanya." Ucap mereka dengan sedikit menyesal.
"Tidak apa-apa, bukankah itu adalah hal yang wajar karena kita juga tidak saling mengenal, tapi percayalah.... Lenora bukan orang yang seperti itu." Ucap Archon dengan santai.
"Kami mengerti, untuk itu.... Sepertinya nona Lenora sedang merindukan seseorang, apakah itu suaminya?" Tanya mereka dengan penasaran.
Archon, Diego dan Molly serentak menatap Simon yang hanya diam.
"Ya." Angguk Simon, meskipun mereka belum menikah namun keduanya sudah melakukan hubungan suami istri, bagi mereka yang seorang iblis akan menganggap itu adalah simbol pernikahan mereka.
"Astaga, aku pikir nona Lenora masih belum menikah." Ucap mereka dengan terkejut.
"Tapi, aku yakin suami dari nona Lenora sangat luar biasa. Di mana dia? kenapa tidak ikut?" Heran mereka juga dengan begitu penasaran.
"Itu..." Mereka tidak ada yang berani menjawab, terlebih Simon yang memilih untuk pergi. Bagaimana pun, dia juga sangat merindukan tempat tinggalnya.
"Maaf, kami terlalu lancang..." Ucap mereka dengan penuh penyesalan, di lihat dari raut mereka sudah bisa mereka simpulkan bahwa keberadaan suami Lenora sangatlah di rahasiakan, dan itu tentunya sangat luar biasa.
__ADS_1