
Lenora menyerang mereka secara membabi buta, dia tidak peduli jika dia akan melanggar hukum alam. Kenapa ada dewa dan dewi yang memiliki pikiran buruk seperti itu? bukankah yang seharusnya musnah itu mereka?
DUARRRRRRR!!!!!
Para dewa dan dewi itu langsung terhempas saat Lenora menyerangnya, semua teman-temannya langsung berlindung di belakang sosok Bing karena mereka tahu bahwa Lenora tidak mungkin tidak mengenali mereka bukan?
"BERHENTI!!! kau itu seorang dewi yang tidak tahu apa-apa!!! apa kau tahu apa hukumannya jika saling menyakiti kami!!" Tanya seorang laki-laki yang terlihat lebih tua dengan pakaian putihnya, sosoknya terlihat agung dan bijaksana.
"Menyakiti kami? kau pikir aku peduli?" Senyum Lenora dengan begitu mengerikan.
"Kau!! mulai sekarang kau akan di usir dari dunia para dewa dan dewi!! meskipun kau seorang dewi kau akan menjadi dewi sampah!!" Marah nya yang lagi-lagi justru membuat Lenora tertawa terbahak-bahak.
"Kau pikir aku suka dengan sebutan itu? TIDAK!!!! SELAGI KAU MENYAKITI ORANG KU MAKA AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KALIAN HIDUP DENGAN TENANG, MESKIPUN KAU TUHAN SEKALI PUN!" Marah Lenora dengan sorot mata yang tajam.
"Ingat ini baik-baik! di setiap langkah ku, dan di setiap hembusan nafasku! akan selalu ada kehancuran yang menghampiri kalian! camkan itu....!" Dingin Lenora yang langsung terdengar suara petir yang saling bertabrakan, mereka terkejut dengan hal itu karena semua ucapan Lenora sudah didengar oleh langit dan itu seperti sumpahnya.
"Kau!! tunggu pembalasan kami." Ucap mereka dengan menghilang begitu saja, Lenora yang melihat itu sedikit puas karena setidaknya beberapa dari mereka mengalami luka yang fatal.
Lenora kembali turun, dia memegang dadanya yang terasa sakit dan sesak. Sebelum itu, Lenora tersenyum lebih dulu pada Bing dan segera menghampirinya.
Lenora segera masuk kedalam pelukan Bing yang saat itu juga langsung memeluknya meskipun kondisi tubuhnya sedang tidak baik-baik saja, Bing merasa lega karena akhirnya dia bisa bertemu dengan Lenora. Sebelumnya Bing sudah beranggapan bahwa dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan Lenora.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku terlambat...." Lirih Lenora dengan sedikit bergetar, dia sangat merindukan aroma Bing meskipun sudah tercampur bau darah sekalipun.
"...." Bing hanya diam dengan mempererat pelukannya, dia merasa senang dan tidak bisa mengeluarkan kata-katanya lagi.
Semua teman-temannya yang melihat itu hanya diam membisu, mereka masih tidak percaya dengan sosok Lenora yang sebenarnya. Bagaimana bisa Lenora menyembunyikan semuanya dengan baik? apakah Lenora sudah tidak mempercayai mereka lagi? tapi, mereka tidak langsung berprasangka buruk, mereka yakin Lenora pasti memiliki sebuah alasan untuk merahasiakan hal itu.
Lenora melepaskan pelukannya dan menatap Bing yang tengah tersenyum padanya, Lenora menatap sekitar yang hanya diam dengan terus memperhatikan mereka berdua.
"Tunggu didalam, masih ada sesuatu yang ingin aku urus." Ucap Lenora dengan pergi begitu saja, jubah berwarna hitam langsung berkibar mengerikan di udara, begitu pun dengan rambut hitamnya yang terlihat cocok untuk sosoknya yang sekarang.
Lenora seperti memiliki dua kepribadian dalam dirinya, saat sosoknya kembali seperti semula dia terlihat lembut dan manis, namun setelah berubah seperti sekarang, Lenora akan terlihat jauh lebih menyeramkan dan kejam.
"Lenora...." Panggil mereka saat melihat Lenora berdiri di atas tugu dengan mata yang terpejam, sinar berwarna merah gelap langsung menyelimuti tubuhnya dan begitu pun dengan istana milik Bing yang kini di selimuti oleh cahaya merah tersebut.
"Ukhukk....." Lenora terbatuk-batuk dan jatuh di atas tanah, Bing tidak menghiraukan tubuhnya lagi dan segera menghampiri Lenora yang nampak pucat dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Apa yang kau lakukan? bisakah kau tidak membahayakan dirimu sendiri?" Cemas Bing yang langsung mengangkat tubuh Lenora, anehnya setelah kedatangan Lenora kekuatan Bing kembali muncul.
"Aku ingin tidur sebentar...." Ucap Lenora dengan memejamkan matanya.
"Apanya yang sebentar? terakhir kali kau mengatakan itu kau sudah tidak sadar selama satu minggu!!!" Ucap Diego dengan kesal.
__ADS_1
Namun Lenora sudah memejamkan matanya dalam gendongan Bing, mereka semua langsung masuk dan pergi untuk istirahat. Bing sendiri sibuk memperhatikan Lenora yang tertidur di atas ranjang nya dengan perut yang membesar, Bing tersenyum melihat itu dan segera mengecup kening Lenora.
Akhirnya, Bing keluar dari kamarnya dan pergi ke aula. Di sana masih ada teman-temannya Lenora yang merupakan orang-orang Envios, mereka tidak ada yang berani mengeluarkan suaranya karena melihat keberadaan Bing di sana.
Nina sendiri hanya menggerutu kesal pada dirinya sendiri, bagaimana bisa dia menganggap Lenora yang tertarik pada Envios? sudah jelas Envios tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Bing.
"Tuan..." Panggil seseorang dengan suara yang lembut, mereka segera memalingkan wajahnya untuk melihat sosok tersebut. Terlihat sosok wanita cantik yang berjubah putih dengan wajah cantiknya tengah tersenyum pada Bing, di tangannya terdapat minuman untuk ia berikan pada Bing.
".... Pulihkan tubuh kalian terlebih dahulu setelah itu baru kalian pulang." Ucap Bing dengan tegas.
"B-baik yang mulia." Patuh mereka kecuali Archon dan kawan-kawannya yang tidak akan pergi kemana-mana, mereka akan pergi kemana pun Lenora pergi.
Sejak tadi, Archon, Diego dan Molly menatap datar sosok wanita itu yang tengah berdiri di samping Bing. Sudah jelas jika wanita itu begitu tertarik pada Bing, Archon melirik Molly dan Diego yang langsung berdecih tak suka. Apakah Bing memiliki wanita lain saat Lenora tidak ada sisinya?
"Dia nona Tarra, anak dari keluarga iblis yang sudah menolong orang tua yang mulia dulu. Dia baru saja kembali dari tempatnya bersemedi setelah sekian lama menghilang, dia datang karena mendengar yang mulia sakit." Jelas Simon dengan pelan, dia tahu bagaimana reaksi mereka sekarang.
"Cih! tetap saja, laki-laki yang sudah memiliki wanita tidak pantas ada wanita lain di sampingnya!" Ucap Diego dengan dingin, hal itu di dengar oleh mereka semua yang langsung menatap ke arah Diego yang tidak takut sekalipun, siapa pun yang berani menyakiti hati Lenora mereka tidak akan takut untuk melawannya!
"Apa maksud anda tuan? siapa wanita lain itu?" Tanya Tarra dengan suara halus dan lembutnya, dia seperti bunga teratai yang baru saja mekar, terlihat lembut dan mudah sekali rapuh.
"Tentu saja kau bodoh! bisakah kau tidak mendekati laki-laki ku? anakku sangat mual melihat wajahmu yang sok polos dan lembut itu......!!"
__ADS_1
Aku double upp nih, jangan lupa komen dan like nya yaaaaa