
"Yang mulia....." Cemas mereka dengan menghampiri sosok laki-laki yang terbaring di atas ranjang dengan tubuh pucat nya.
"Kondisi yang mulia semakin memburuk, jangan sampai mereka tahu kondisi yang mulia saat ini. Jika tidak, mereka akan....... Melenyapkan yang mulia!"
"Baik nona."
"Segera beritahu yang lain untuk tidak terlalu menonjol, kita akan menunggu beberapa waktu lagi untuk memastikan bahwa kondisi yang mulia akan kembali seperti semula."
"Perintah kami terima.."
Seorang wanita berpakaian putih itu mendekati ranjang Bing, dia memegang pipi Bing yang terasa dingin. Wanita tersebut terlihat cantik dengan pakaian tersebut, meskipun terlihat mencolok namun dia tidak peduli.
"Aku akan melakukan apapun untuk bisa melihat mu kembali seperti semula, Bing."
•••••
"Ukhukk Ukhukk Ukhukk!!!"
Lenora terbangun dari tidurnya, dia melihat teman-temannya yang sedang tertidur. Hanya Simon saja yang berjaga dengan Archon, dia melihat ke sekeliling yang sebentar lagi akan pagi.
"Berapa lama aku seperti ini?" Tanya Lenora dengan bersandar pada pohon.
"Nona? syukurlah, nona sudah tertidur selama 3 hari dan kami masih belum menemukan pintu keluarnya. Peta yang kita bawa, itu sudah hancur." Jelas Simon dengan memberikan air pada Lenora.
"Aku tahu di mana pinta nya..." Ucap Lenora dengan bangkit dari tempatnya, perutnya semakin membesar dan itu membuatnya kesulitan untuk berjalan.
"Bantu aku...." Ucap Lenora dengan mengulurkan tangannya pada Archon yang langsung membantunya itu.
"Lenora,kau yakin sudah baik-baik saja?" Tanya Archon dengan perasaan cemasnya.
"Aku tidak apa-apa, aku ingin segera bertemu dengan Bing dan..... Menghajar para lalat itu!" Datar Lenora, entah kenapa Lenora merasakan sesuatu yang tidak enak dalam hatinya.
"Baiklah, aku akan membangunkan semuanya dulu." Ucap Simon.
__ADS_1
Lenora memejamkan matanya, dia bermimpi melihat seorang wanita yang sedang merawat Bing disana, apakah kepergiannya terlalu lama?
"Nona? kau sudah baik-baik saja?" Tanya Nina yang memanggil Lenora dengan panggilan Nona itu.
"Mereka sudah tahu siapa kau..." Ucap Diego yang datang menghampiri Lenora dan mengecek suhu tubuh Lenora.
"...." Lenora hanya diam dan segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, Lenora melihat tempat yang masih sama seperti sebelumnya, dia menatap mereka semua.
"Nona, itu.... Sebenarnya kami sudah hampir ratusan kali mengelilingi tempat ini. Namun, kami masih saja berada disini." Jujur mereka.
"Ikuti aku dan jangan pernah lihat kebelakang, apapun yang terjadi jangan pernah melihatnya oke?!" Ucap Lenora dengan tegas.
"Kami mengerti."
Lenora melangkahkan kakinya kembali, banyak sekali sesuatu yang terjadi di belakang namun mereka tidak ada yang berani melihatnya karena takut di marahi oleh Lenora, hingga akhirnya mereka melihat sebuah cahaya berwarna putih yang ada di balik pohon itu.
"Itu...." Senang mereka.
"Oke, kita akan melakukan teleportasi sekarang." Ucap Lenora dengan memegang mereka semua.
Sebuah istana besar yang begitu megah dan mewah kini terpampang di hadapan mereka semua, gerbang yang menjulang tinggi membuat mereka menelan ludahnya bulat-bulat. Siapa pemilik istana ini?
"Nona Lenora.... Selamat datang di istana yang mulia." Ucap Simon dengan menundukkan tubuhnya di hadapan Lenora.
Semua yang mendengar itu langsung shock, bagaimana bisa mereka sampai disini? dan lagi, mereka.....
"Tidak apa-apa, kalian butuh istirahat juga. Setelah istirahat kalian cukup, kalian akan kami kirim kembali ke tempat asal kalian." Ucap Simon dengan mata yang memerah seperti menahan tangis, mungkin karena Simon sudah sangat merindukan tempat tersebut.
"Baiklah..." Patuh mereka.
Lenora dan yang lainnya segera masuk kedalam istana itu yang terlihat sepi, kemana yang lainnya?
"Ini.... Sepertinya ada yang tidak beres!" Ucap Simon yang langsung berlari masuk menggunakan kekuatannya, yang lainnya pun segera menyusulnya termasuk Lenora sendiri.
__ADS_1
PRANGGGGGG!!!! BRUGHHH!!!
"Astaga!!" Pekik Nina dengan tubuh yang terjatuh, mereka semua sampai di belakang istana yang sudah sangat ramai ini.
Mata Lenora memerah menahan amarah, tangannya terkepal kuat, bahkan air matanya mengalir dengan sendirinya saat melihat sosok laki-laki yang tergantung di atas dengan tubuh yang sudah di penuhi dengan luka cambuk, banyak orang-orang yang berpakaian putih bersih tengah menatap sosok laki-laki yang tergantung itu dengan tatapan yang sangat puas.
Tangisan para iblis yang memenuhi lapangan itu membuat suasana semakin suram dan gelap, mereka bahkan sudah menangis darah saat melihat pimpinan mereka sudah tidak berdaya seperti ini, namun mereka semua tidak bisa melakukan apapun selain menangis karena tubuh mereka juga terikat rantai.
Melihat kedatangan Lenora dan yang lainnya, mereka semua yang ada di lapangan itu langsung menatap ke arahnya. Mereka di buat heran dengan Lenora yang terlihat diam dengan sorot mata yang tajam, wajahnya yang cantik terlihat mengerikan saat sedang berekspresi seperti ini.
Langkah demi langkah Lenora berjalan menghampiri sosok Bing yang terlihat sedikit sadar, tidak ada yang berani menghentikan langkah kaki Lenora.
Lenora naik ke atas tangga yang terdapat Bing disana, bahkan Lenora tak segan-segan untuk menghempaskan seseorang yang berdiri di samping Bing dengan tangan yang memegang cambuk emas itu.
Tangan Lenora terulur untuk menyentuh pipi Bing, jari-jari tangannya bergetar saat tatapannya bertabrakan dengan mata Bing yang terlihat begitu menyedihkan, terlebih sorot mata tersebut terus berusaha untuk memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kau datang?" Ucap Bing dengan suara yang parau, dia menatap ke arah perut Lenora yang terlihat sudah membesar.
"Apa ini anak kita?" Ucap Bing dengan air mata yang menetes, tangannya ingin sekali terulur untuk menyentuh perut Lenora, namun apa daya? keduanya teringat dengan kencang.
Lenora semakin di buat marah, dia mundur beberapa langkah dan membalikkan tubuhnya untuk menatap semuanya.
"Lancang!" Suara Lenora dengan sedikit bergetar.
"Siapa kau?!" Tanya seorang wanita yang terlihat anggun dan cantik itu.
"Hahahaha!.... Aku? aku siapa? aku adalah orang yang AKAN MELENYAPKAN KALIAN SEMUA SIALAN!!!" Marah Lenora dengan kondisinya yang langsung berubah.
Angin kencang bertiup seperti sedang melampiaskan amarah yang ada pada Lenora, langit yang semula nampak terang kini berubah menjadi hitam, sosok Lenora berubah menjadi semakin mengerikan dengan rambut merah darahnya, gaun hitam yang terlihat berapi-api, tak lupa di tangannya terdapat sebuah pedang yang terlihat tajam dan mengerikan.
"Kau!!" Kaget mereka dengan bangkit dari duduknya.
Tidak hanya mereka semua yang kaget, namun Bing pun sangat kaget kecuali Simon yang sudah tahu bahwa Lenora merupakan seorang Dewi. Tapi melihat perubahan Lenora yang seperti ini, Simon pun tak menyangka.
__ADS_1
"Dewi kehancuran sudah berganti?" Ucap salah seorang dari kumpulan dewa dewi itu dengan sedikit tak percaya, kenapa mereka tidak tahu?