
"Jadi, kau beranggapan bahwa para penduduk desa gunung sudah mengkhianati kerajaan Balveron karena ikut bersekutu dengan kekaisaran Vandoria?" Tanya Lenora pada Yudha.
"Benar yang mulia, kekaisaran Vandoria sudah terkenal karena kebaikannya pada rakyat miskin. Mereka akan di tanggung semua biaya hidupnya jika berjasa pada kekaisaran..." Ucap nya dengan yakin.
"Heh... Entah kenapa aku merasa ada udang di balik batu." Ucap Lenora dengan ekspresi yang serius.
"Yang mulia, udang tidak pernah muncul di balik batu. Dia lebih sering bersembunyi di balik daun-daun yang sudah mati, atau bersembunyi di balik ranting." Ucap Yudha yang membuat ekspresi serius Lenora kini berubah menjadi tampang yang bodoh.
"Itu pribahasa, kau yang bodoh diam saja!" Kesal Lenora karena Yudha mengganggu ekspetasi nya saja.
"...." Yudha tertunduk karena dia tidak tahu bahwa perkataannya salah.
Diego menahan tawanya, dia sungguh prihatin pada Yudha yang selalu menjadi sasaran kekesalan Lenora, wanita itu memang selalu meledak-ledak jika sudah dalam mode yang kesal.
Saat mereka sedang asik berbincang, mereka mendengar suara derap langkah kaki kuda yang terdengar begitu memburu. Lenora segera bangkit dari duduknya dan menyuruh mereka untuk bersembunyi di belakangnya, Lenora segera membuat pelindung agar mereka tidak menyadari keberadaannya.
"Yang mulia, sepertinya dugaan anda salah. Tidak ada siapapun disini..." Ucap salah seorang laki-laki yang terlihat begitu berwibawa, di sana juga terlihat seorang wanita yang sedang duduk di atas kuda dengan aura keagungan nya, sosoknya memang cantik bahkan sangat cantik, cantik dalam tingkatan mereka.
"Firasat ku tidak pernah salah, selidiki tempat ini." Tegasnya dengan turun dari atas kuda dan berjalan masuk, para prajurit Yudha hanya bisa pasrah saat mereka mulai masuk dan mendekati mereka, kecuali Lenora dan Diego yang nampak tenang dan santai duduk di atas bebatuan.
"Jadi, dia adalah kaisar Vandoria?" Tanya Lenora pada Yudha yang hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara karya takut ketahuan oleh mereka.
Bagaimana pun, di luar sangat banyak sekali pasukan dari kekaisaran Vandoria, bukankah jika mereka ketahuan itu sama saja dengan menyerahkan nyawa mereka secara cuma-cuma?
"Yang mulia, saya melihat banyak sekali jejak kaki. Sepertinya mereka berjumlah 13 orang dengan satu wanita karena memiliki langkah kaki yang kecil." Jelas prajurit mereka yang membuat Lenora merutuki kebodohannya.
__ADS_1
"Aku lupa jika kita datang karena berjalan kaki, bukan melayang." Ucap Lenora dengan menatap mereka semua yang langsung pucat pasi, hanya Diego yang terlihat menggelengkan kepalanya saja, bagaimana bisa Lenora masih bercanda di saat seperti ini? namun bukan berarti Diego takut, dia hanya kasihan pada para prajurit di belakang mereka yang terlihat begitu ketakutan.
"Mundur!! sepertinya mereka berada disekitar sini, langkah kaki mereka berhenti tepat di depan gua ini." Ucap Bertha, sang kaisar Vandoria dengan sedikit waspada.
"Yang mulia..." Mereka segera melindungi Bertha dan terlihat menyelidiki tempat sekitar.
"Hong, keluarlah. Periksa mereka, apakah mereka ada di sekitar sini? kenapa aku tidak bisa melihatnya?" Tanya Bertha pada seekor burung Hong yang langsung keluar.
Terlihat seekor burung yang terlihat sangat cantik namun ganas, Lenora menatap kagum burung tersebut.
"Lenora, jangan berpikiran yang aneh-aneh! kau tidak ada niatan untuk mencuri burung jelek itu kan?" Tanya Diego yang membuat para prajurit Yudha terkejut, apakah benar Lenora memiliki pemikiran seperti itu? bahkan, mereka tahu bahwa Lenora memiliki banyak hewan spiritual yang tentunya mereka tidak lemah, apakah Lenora sangat serakah?
"Tidak, aku tidak akan mencurinya. Aku hanya mengaguminya saja, tapi dia tidak terlihat keren seperti Ramon kesayangan ku. Terlalu lemah..." Ucap Lenora yang membuat Diego terdiam, kenapa burung jelek itu di samakan dengan Ramon? bukankah sudah jelas, Ramon adalah raja dari semua hewan spiritual?
Meskipun milik Bing adalah dewa dari semua hewan, jadi.... Sudah jelas bukan?
"Apa yang terjadi?" Kaget Bertha dengan mengambil burungnya yang terlihat tak sadarkan diri.
"Haish, lemah sekali." Ucap Lenora.
"Sudah, hentikan. Jangan bermain-main lagi Lenora, jika anakmu tahu kau seperti ini mungkin kau akan di tertawa kan olehnya." Ucap Diego yang membuat senyum Lenora langsung hilang.
Lenora teringat dengan mantel buatannya, apakah Bing sudah menemukannya? Perubahan ekspresi Lenora dapat di lihat dengan jelas oleh mereka yang nampak heran, terlebih bagi Diego yang langsung merasa sangat bersalah.
"Lenora, aku tidak bermaksud untuk...."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku hanya merindukan mereka saja." Senyum Lenora dengan kembali melihat pada mereka yang nampak panik karena burung tersebut tidak juga bangun.
"Kau masih belum harus mati, bangunlah." Ucap Lenora dengan sedikit tekanan pada burung tersebut yang kembali tersadar dan langsung mengepakkan sayapnya.
"Ada apa?" Tanya Bertha dengan penasaran.
"Nona, mereka bukan orang sembarangan. Sebaiknya nona pergi, mereka bukan orang yang mudah di lawan....." Jelas burung tersebut dengan panik dan terus mengepakkan sayapnya hingga terlihat kobaran api di sekelilingnya, Bertha yang melihat itu sangat terkejut. Jika Hong mengeluarkan api tanpa ia suruh, itu berarti keadaannya memang sangat darurat.
"Baiklah, ayo kita mundur. Sepertinya mereka sengaja bersembunyi agar kita tidak menemukannya...." Ucap Bertha yang kembali pergi dan naik ke atas kudanya sebelum akhirnya pasukan itu kembali pergi.
Lenora berjalan ke depan gua dan melihat kepergian mereka yang tiba-tiba saja langsung hilang? aneh.... Apakah ada dimensi juga di sana?
"Lenora, mereka benar-benar menyiapkan semuanya dengan sangat baik. Bahkan, jejak kaki mereka saja menghilang..." Ucap Diego dengan kagum.
"Itulah kenapa mereka sampai bisa berbuat sejauh ini, ayo pergi." Ajak Lenora yang mencari dimensi lainnya.
"Yang mulia, Kenapa mereka bisa memiliki banyak dimensi? maksud saya, membuat dimensi dalam jarak yang sangat jauh itu membutuhkan waktu yang lumayan lama. Sekitar setengah tahun untuk membuat satu dimensi, itu pun jaraknya tidak terlalu jauh." Heran Yudha.
"Aku tahu, karena itu lah aku sangat penasaran dengan kekaisaran Vandoria ini, sepertinya mereka memiliki sesuatu yang luar biasa di istananya.
"Kau benar, aku juga sangat penasaran. Jika di lihat, kaisar Bertha juga tidak terlalu kuat dalam bertarung. Sepertinya memang ada sesuatu di sana...." Setuju Diego.
"Jadi, tujuan kita sudah berubah sekarang? kita akan berkelana yang mulia?" Tanya Yudha dengan takut-takut.
"Kenapa? kau takut? pulanglah jika kau takut." Ucap Lenora yang membuat Yudha terkejut.
__ADS_1
"Tidak yang mulia, saya akan mengikuti kemana pun anda pergi. Bahkan, saya sangat senang karena akhirnya saya bisa mengabulkan keinginan saya untuk berkelana ke berbagai kekaisaran." Ucap Yudha dengan senyum lebarnya yang membuatnya terlihat tampan.
"......Bagus, dengan begini aku bisa memanfaatkan kalian semua." Ucap Lenora dengan tersenyum aneh, semua laki-laki yang ada di sana langsung merinding seketika, begitu pun dengan Diego yang merasakan firasat buruk pada dirinya. Semoga saja Lenora tidak melakukan hal yang aneh-aneh.... Ya, semoga saja.