Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran

Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran
Gua


__ADS_3

Setelah hampir sebulan mereka berada di atas kapal, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Mereka segera turun dan mulai membawa barang bawaan mereka masing-masing. Hutan yang begitu lebat dan terlihat sepi, bahkan para pelayan yang ikut juga nampak ketakutan dan sibuk berdoa untuk di selamatkan dari setiap bahaya.


Untuk Nina sendiri, wanita itu terlihat tidak bersemangat karena sudah lelah dengan apa yang mereka tempuh sekarang. Lenora yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, dia segera menghampiri wanita tersebut.


"Bukankah kau menyukainya, jika suka maka bersemangat lah dan buktikan bahwa kau bukan wanita yang lemah. Dengan begitu, kau bisa meluluhkan hatinya sedikit demi sedikit...." Ucap Lenora dengan pelan, hal itu membuat Nina terdiam dan menatap Lenora.


"Percayalah, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Kau sibuk berjuang untuk mendapatkannya, aku pun sama..... Berjuang untuk segera bertemu dengan laki-laki ku." Ucap Lenora dengan tersenyum sebelum akhirnya kembali ke tempatnya semula yang berada di urutan paling depan.


"Nona, sepertinya apa yang di katakan oleh nona Lenora itu ada benarnya." Ucap pelayan Nina yang nampak setuju dengan apa yang di ucapkan Lenora tadi.


"...." Nina hanya diam dengan menatap Lenora tak mengerti, kenapa wanita itu selalu baik padanya? padahal selama ini dia selalu mencari masalah dengannya.


Nina melirik sosok Envios yang sedang berjalan dengan begitu gagahnya, jika dilihat memang benar apa yang di katakan oleh Lenora. Untuk sosok sepertinya memang sudah seharusnya memiliki pendamping yang kuat dan bisa di andalkan, bukannya manja sepertinya.


Hingga akhirnya senyum Nina terukir dengan jelas, ekspresi yang semula penuh dengan keluhan kini justru terlihat semangat bahkan terkesan tidak lelah sedikit pun, hal itu membuat para anteknya menghela nafas lega, karena akhirnya wanita keras kepala itu sudah sadar akan sikapnya.


Nina berjalan di samping Lenora yang hanya menggelengkan kepalanya saja, awalnya Molly ingin menghentikannya namun segera di tahan oleh Lenora, mereka berjalan dengan penuh kehati-hatian. Takutnya mereka lengah dan tidak mengetahui bahaya yang ada di depan mata, terlebih untuk Simon yang nampak begitu ketat melindungi Lenora.


"Di mana letak gua nya?" Tanya Lenora dengan melihat petanya dari tangan Simon.


"Seharusnya ada didekat sini, tapi dimana?" Heran Simon dengan melihat ke sekeliling yang nampak hanya tanah lapang dengan dua tugu yang menjulang tinggi.


Lenora terdiam sejenak dengan melihat ke sekeliling, sudah beberapa menit dia meneliti keadaan sekitar dengan melihat petanya juga, Lenora melihat ke yang lainnya yang nampak bingung dan tidak bisa memecahkan teka-teki peta tersebut.


"Tunggu sebentar...." Ucap Lenora dengan sorot mata yang menyipit, sebelum akhirnya Lenora memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas tanah lapang itu dengan posisi menghadap ke atas langit.

__ADS_1


Mereka yang melihat itu nampak heran, tapi tidak dengan Lenora yang mulai menatap kearah dua tugu itu yang terlihat kembar, gambar tersebut terlihat sama dan...


Lenora terkekeh geli sebelum akhirnya dia bangkit dengan tersenyum lebar, sepertinya mereka memang sudah di bodohi oleh peta itu.


"Ada apa? kenapa kau tertawa?" Heran Archon dengan merebut peta itu lagi dan kembali melihatnya.


"Untung aku pintar." Ucap Lenora dengan berjalan ke salah satu tugu tersebut dan mengetuk batu itu beberapa kali sebelum akhirnya Lenora mengangguk paham, setelah itu Lenora kembali ke arah batu selanjutnya dan melakukan hal yang sama.


Dengan cepat Lenora memutar batu itu hingga tempat yang mereka pijak menjadi bergetar dan muncul sebuah gua yang sudah bertahun-tahun tertanam di sana, mereka mundur seketika namun nasib tidak berpihak pada mereka karena saat itu juga mereka langsung jatuh kedalam gua tersebut yang langsung tertutup dengan sempurna.


BRUGHHHHH!!!!


"Ughhh!!!" Mereka melenguh kesakitan karena punggung mereka menghantam batu yang ada di gua tersebut, Lenora pun sama kesakitan nya meskipun tidak terlalu sakit karena ada tubuh Diego yang menahannya.


Mereka kembali tersadar dan melihat ke sekeliling, terdapat banyak sekali mayat yang bergelantungan di atas dengan posisi terbalik, terlihat mayat itu masih segar dan bahkan ada yang sudah menjadi tulang belulang, Nina mundur beberapa langkah namun hal itu segera ia urungkan saat melihat sosok Lenora yang bergerak maju untuk memeriksa keadaan sekitar menggunakan korek api yang ia bawa.


"Mereka baru mati dua hari..." Ucap Lenora dengan melihat mayat-mayat itu, mereka yang melihat Lenora tidak jijik itu pun hanya bisa menatapnya heran, bagaimana bisa Lenora tidak mual?


"Tapi, kenapa tengkorak kepala mereka pecah? apakah ini perbuatan mahluk kecil itu....." Ucap Molly yang baru sadar bahwa di setiap gua pasti di huni oleh mahluk menjijikkan itu.


"Kau benar, ini sepertinya tempat yang ada buah dewa kehidupannya." Angguk Simon dengan serius.


"Kau benar, aku mencium aroma samar yang begitu harum." Setuju Lenora yang lagi-lagi membuat mereka mengeryit heran, tercium samar apanya? mereka justru hanya mencium aroma mayat yang begitu menjijikkan!


"Benar, aroma yang sangat manis." Tambah Diego yang memang memiliki Indra penciuman yang kuat, untuk Archon dia memiliki Indra penglihatan yang kuat dan Indra perasa juga.

__ADS_1


"Nona Lenora, sepertinya ini sangat berbahaya." Ucap Nina dengan hati-hati.


"Jika tidak berbahaya bukankah sudah banyak orang yang datang kemari dengan cuma-cuma?" Balas Lenora dengan santai.


"Semakin hebat buahnya maka semakin sulit juga jalannya." Ucap Simon.


"Itu memang benar...." Setuju yang lainnya juga.


Mereka dengan hati-hati terus berjalan menyusuri gua tersebut, sesekali Archon menatap ke sekeliling yang terlihat aneh, seperti ada sesuatu yang mengincar mereka dari jarak yang jauh.


"Lenora, kau merasakannya juga kan?" Bisik Archon.


"Ya, berhati-hatilah. Lindungi Diego dan Simon, aku akan melindungi Molly...." Balas Lenora dengan pelan.


"Aku bagaimana?" Tanya Nina yang ternyata mendengarkan pembicaraan Lenora dan Archon.


"...." Lenora dan Archon hanya diam dengan menghela nafas berat, mereka terus melangkahkan kakinya dengan penuh kewaspadaan. Hingga akhirnya.....


"ARCHON!!" Ucap Lenora dengan tegas, Archon yang mendengar itu langsung menembakkan peluru ke belakang salah seorang pengawal Envios yang langsung berkeringat dingin saat melihat tumbuhan merambat dengan gigi yang tajam dan berlendir itu.


"Ini rotan rambat pemakan daging, berhati-hatilah." Ucap Lenora dengan memeriksa kondisi tanaman itu yang sudah mati karena di tembak oleh Archon.


Mereka yang mendengar itu langsung merapatkan tubuhnya pada Lenora dan Archon, hal itu membuat Lenora memijat pelipisnya yang terasa pusing, apakah gelar mereka sebagai prajurit kerajaan sudah hilang?


"Lenora, lihatlah!!" Ucap Diego dengan menunjuk sebuah tempat yang gelap, namun beberapa detik kemudian tempat tersebut menjadi terang. Di sana terlihat sekumpulan rotan rambut yang sedang tertidur dengan jumlah yang banyak dan tentunya sangat besar, banyak potongan mayat di sana yang berceceran. Tidak hanya di sana, namun di sekeliling mereka pun ada banyak. Untung saja tembakan yang di keluarkan Archon tidak menimbulkan suara sehingga mereka masih bisa melihat kondisi di sekitar.

__ADS_1


__ADS_2