
Mereka berjalan dengan berjinjit pelan, meskipun mereka sangat ketakutan namun mereka berusaha bersikap tenang seperti Lenora dan teman-temannya, bagi Lenora menyelamatkan rekannya bukanlah hal yang sulit namun sekarang mereka tidak hanya berlima, karena itulah Lenora memilih jalan yang aman.
"Akhirnya..." Lega Lenora dengan melihat ke belakang, dimana Nina?
"N-nona, kaki Nona Nina tersangkut. Tolong bantu dia Nona, dia sengaja tidak mengatakannya karena takut membuat tanaman itu bangun." Ucap seorang pelayan yang bersujud di bawah kaki Lenora.
"Apa? tersangkut?" Kaget Lenora, dia segera berlari kecil untuk kembali kesana meskipun sudah di larang oleh Molly, Archon, Diego dan Simon. Namun, Lenora selalu mengatakan, selagi dia mampu kenapa tidak?
Lenora melihat sosok Nina yang terduduk dengan terus menangis tanpa suara, dengan cepat Lenora menghampirinya dan segera memotong dahan kayu yang terlihat lengket itu.
"K-kau? Kenapa kau kembali? disini sangat berbahaya! cepat pergi." Ucap Nina dengan suara yang pelan.
"Diam!" Datar Lenora dengan terus berusaha memotong dahan tersebut hingga putus.
"Ayo..." Ajak Lenora dengan membantunya berjalan, di lihat dari kaki Nina yang memar sepertinya itu terasa sangat sakit.
KRAKKKKK!!!
"Sial!!!" Geram Lenora karena dia tidak sengaja menginjak tulang hingga menimbulkan suara yang lumayan keras, Nina yang melihat tumbuhan itu langsung bergerak hanya bisa pasrah, namun detik berikutnya dia merasakan sesuatu yang mendorongnya.
Ternyata Lenora sudah mendorongnya untuk segera menjauh, sedangkan Lenora? dia berusaha menghindari tumbuhan tersebut agar tidak mengejar Nina yang tidak tahu harus melakukan apa.
Lenora sudah berguling kesana kemari untuk mengindari tanaman tersebut, sebelum akhirnya Simon dan Diego datang bersama dengan Archon. Untuk Molly? dia segera membantu Nina agar menjauh dari tempat itu.
"Lenora! aku membawa benda bulat ini, bagaimana cara meledakkan nya?!" Tanya Simon dengan mengangkat sebuah granat pada Lenora yang langsung melototkan matanya, bagaimana bisa Simon memegang tali dari granat itu!
"Bodoh!!!" Ucap Lenora yang langsung bergegas menghampiri Simon yang sudah mencabut tali dari granat tersebut, dengan cepat Lenora mengambil granat tersebut dan melemparkannya ke sekumpulan rotan rambat itu hingga akhirnya....
Meledak!!! gua tersebut terasa bergetar bahkan banyak batu-batu yang berjatuhan, dengan cepat Simon melindungi tubuh Lenora tanpa berniat untuk memeluknya, Diego segera bersembunyi di tempat yang aman dengan Archon, mereka tidak tahu serangan dadakan itu. Jika saja Simon tidak ceroboh mungkin mereka masih bisa kabur dengan baik-baik.
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu." Ucap Simon dengan menatap teman-temannya yang nampak kotor karena debu, bahkan Lenora pun terlihat kotor.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, lain kali tanyakan dulu padaku." Ucap Lenora dengan terus terbatuk-batuk.
Mereka segera menghampiri sekumpulan orang-orang Envios yang nampak tak percaya dengan keberanian mereka, lagi dan lagi mereka berhutang nyawa pada Lenora yang selalu berada di depan.
"Nona, anda baik-baik saja?" Tanya Molly yang langsung memeriksa kondisi Lenora.
"Aku baik-baik saja, hanya saja.... Perutku terasa keram, aneh sekali." Ucap Lenora dengan memijat pinggangnya.
"Nona.... Maafkan saya jika saya lancang, bolehkah nona mengulurkan tangannya?" Tanya salah seorang wanita dengan pakaian lusuhnya yang semula memberikan coklat pada Lenora.
"Ahh baik." Angguk Lenora dengan santai dan mengulurkan sebelah tangannya pada wanita itu yang langsung memegangnya meskipun sedikit gugup dan takut.
"Nona, dugaan saya ternyata benar." Ucapnya dengan tersenyum kecil.
"Apa maksudmu? apa aku sakit parah? kau yakin?" Tanya Lenora dengan terus berbicara.
"T-tidak nona, maksud saya.... Nona sedang mengandung, usia kandungan nona seharusnya masih lemah namun setelah saya memeriksanya, ternyata itu sangat kuat dan baik-baik saja." Jelasnya yang membuat Lenora terdiam dengan wajah polosnya.
Begitu pun dengan Archon, Diego, Simon dan Molly yang nampak aneh dengan perkataannya. Mereka menatap Lenora lalu beralih ke perutnya, hal itu mereka lakukan secara berulang-ulang sebelum akhirnya....
"Benar tuan." Angguknya dengan cepat.
"Woah!" Kagum Diego dengan menatap Lenora yang hanya diam.
"Nona, selamat!" Senang Molly karena akhirnya dia bisa melihat Lenora yang akan memiliki anak nantinya.
Hanya Simon yang terlihat tidak bahagia, hal itu membuat yang lainnya terheran-heran. Bukankah seharusnya Simon bahagia?
"Simon, kenapa kau berekspresi seperti itu?" Tanya Diego.
"Itu, nona.... Bisakah kita berbicara hanya berlima? ini rahasia kami." Ucap Simon dengan serius, yang lainnya hanya mengangguk dan segera memisahkan diri.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Lenora dengan penasaran, dia tahu bahwa ada hal buruk yang akan terjadi!
"Nona, dengan kehamilan nona ini seharusnya membuat yang mulia melemah....." Ucap Simon dengan serius.
"Apa maksudmu melemah?" Tanya Lenora dengan ekspresi yang dingin.
"Nona, anda tahu sendiri yang mulia di hukum ke dunia ini agar memiliki anak dengan wanita pilihan seperti nona, hal itu agar yang mulia memiliki anak dan..... Selama anak ini berada dalam kandungan nona, kekuatan yang mulia akan menghilang karena terserap olehnya." Jelas Simon yang membuat Lenora diam membisu.
"Kau yakin?" Tanya Archon pada Simon.
"Tentu saja, inilah hal yang saya takutkan. Sepertinya yang mulia masih belum tahu mengenai hal ini, karena saya tidak pernah memberitahukan nya...." Jujur Simon dengan menundukkan kepalanya.
"Apakah dengan hilangnya anak ini kekuatan Bing akan kembali?" Tanya Lenora dengan ekspresi yang sendu.
"Nona, bukan begitu maksud saya. Hanya saja, dendam yang mulia mungkin akan di urungkan setelah anak ini lahir, bukankah itu lebih bagus?" Tanya Simon.
"Tapi...."
"Lenora, jika Bing tahu mungkin dia juga akan merasa sangat senang. Aku harap, kau bisa menjaganya dengan baik." Ucap Diego dengan tersenyum dan mengelus pundak Lenora.
"Benar nona, ini akan menjadi kejutan untuknya nanti." Tambah Molly.
"Ngomong-ngomong, apakah usianya sama saja seperti manusia pada umumnya?" Tanya Lenora penasaran.
"Tidak nona, bayi yang tercampur antara manusia dan iblis umumnya hanya 5 bulan. Tapi nona tenang saja, selama nona hamil nona tidak akan merasakan lelah karenanya, kekuatan yang mulia yang membantunya untuk tetap hidup aman di dalam perut nona." Jelas Simon.
"Aku mengerti." Angguk Lenora dengan mengelus perutnya yang ternyata memang sedikit membesar, kenapa dia baru menyadarinya?
"Aku, aku tadi berguling guling di sana. Apakah akan membahayakan nya?" Tanya Lenora dengan polos.
"Nona, itu saya tidak tahu karena saya bukan tabib." Polos Simon juga hingga membuat ketiga orang itu menepuk keningnya bersama-sama, bagaimana mungkin ada bawahan dan atasan yang sama-sama polos seperti ini?
__ADS_1
"Sudah, sebaiknya mulai sekarang kau jangan terlalu lelah Lenora. Bagaimana bahaya nya pun kau harus tetap diam dengan santai oke?" Ucap Diego dengan merangkul Lenora yang hanya mengangguk.
"Tapi, aku ingin makan kepiting sekarang. Apakah ini gejala ngidam?"