
Semua orang terkejut dengan sosok Diego yang ternyata dia bukan manusia, Diego kembali ke tubuh aslinya yang tak lain adalah seekor beruang besar yang terlihat mengerikan. Mereka semua tidak ada yang berani mengeluarkan suaranya, hingga akhirnya mereka mengerti kenapa Lenora dan Diego terlihat sangat dekat.
Ternyata, Diego adalah hewan spiritual milik Lenora yang artinya mereka memang sudah lama hidup, tapi Kenapa Diego menjadi anak kecil?
"Dari pada kalian berwajah bodoh seperti itu, lebih baik kalian latih kekuatan kalian. Jangan sampai kalian hanya menjadi beban nona saja..." Ucap Zitao dengan sedikit sinis.
"....." Yudha menyuruh anak buahnya untuk berpencar, mereka juga melatih kekuatannya. Bukankah mereka tidak perlu berjaga? siapa yang berani masuk kedalam wilayah Zitao?
•••••
Bing yang sedang memejamkan matanya langsung beranjak dari tempatnya dan segera pergi dari sana, Bing masuk kedalam ruang dimensi yang sudah dia berikan pada Lenora dulu. Bing tersenyum lembut saat melihat sosok Lenora yang sedang duduk di atas danau dengan wajah cantiknya.
Bing tidak bisa mendekati nya, hingga akhirnya Bing hanya bisa duduk di pinggir dengan terus menatap Lenora.
"Papa....!! papa dimana..."
Bing tersentak dari tempatnya dan segera keluar dari ruang dimensinya itu, dia melihat anak laki-lakinya sedang mencarinya.
"Ada apa?" Tanya Bing dengan menggendongnya.
"Aku tidak bisa tidur pa..." Jujurnya.
"Tutup matamu..." Ucap Bing yang langsung di angguki oleh Zaphier.
Bing tersenyum dan langsung membawanya masuk kedalam dimensinya, Bing duduk dengan memangku Zaphier.
"Bukalah matamu." Bisik Bing.
"....." Zaphier terkejut saat melihat tempat yang baru pertama kali ia lihat ini, namun yang membuatnya semakin terkejut adalah sosok Lenora yang terlihat duduk di atas batu dengan mata yang terpejam dan tubuh yang di penuhi dengan cahaya berwarna putih.
"Papa... Itu....Mama?" Tanyanya dengan senang.
__ADS_1
"Benar sayang, itu mama." Angguk Bing dengan melepaskan Zaphier yang terus berontak dalam pangkuannya, Zaphier hendak pergi mendekati Lenora namun tidak bisa karena terhalang oleh cahaya tersebut yang terlihat seperti kaca.
"Papa, kenapa aku tidak bisa mendekati mama?" Ucapnya dengan pelan.
"Zaphier, bukankah kau sudah tahu bahwa mama mu sedang menjalani hukuman? dia tidak bisa melihat kita dan kita pun tidak bisa menyentuhnya." Jelas Bing yang membuat Zaphier terdiam dengan terus menatap Lenora.
"Zaphier...." Panggil Bing dengan khawatir.
"Aku tidak apa-apa pa, aku hanya sangat senang karena aku bisa melihat mama lagi. Mama terlihat sangat cantik seperti dulu, apakah papa tidak takut jika mama akan tergoda dengan laki-laki lain?" Tanya Zaphier dengan kembali duduk di pangkuan Bing.
"Memangnya siapa laki-laki yang berani merebut nya dari papa? apa kau lupa, papa mu ini adalah laki-laki yang paling tampan!" Ucap Bing yang justru membuat Zaphier tertawa renyah.
"Apa yang kau tertawa kan hah? kau tidak percaya?" Tanya Bing dengan kesal, setiap dia mengatakan hal itu Zaphier pasti selalu tertawa.
"Papa bilang papa laki-laki yang paling tampan, dan mama adalah wanita yang paling cantik bukan?" Tanya Zaphier yang di balas anggukan oleh Bing.
"Bukankah sudah jelas, akulah yang paling tampan? aku memiliki gen dari mu dan dari mama, jadi..... Berhentilah mengaku diri paling tampan, karena disini akulah yang paling tampan pa." Ucap Zaphier yang membuat kedua sudut bibir Bing berkedut.
"Hhhh... Merepotkan."
Zaphier dan Bing segera menatap ke arah Lenora yang sedang berjalan, Zaphier hendak menghampirinya namun lagi-lagi terhalang oleh cahaya putih yang terlihat seperti kaca.
Mereka memperhatikan Lenora yang berjalan kearah buah dewa kehidupan yang tumbuh banyak di sana, Lenora mengambil satu dan mulai memakannya dengan santai. Lenora duduk di salah satu kursi dengan tatapan yang melihat kearah depan.
"Bagaimana kabar kalian? apa kalian baik-baik saja? maafkan aku yang tidak bisa menjadi istri dan juga ibu yang baik untuk kalian...." Ucap Lenora dengan menatap ke atas agar air matanya tidak turun.
Bing diam membisu, dia ingin sekali mendekati Lenora dan memeluknya untuk menguatkan Lenora yang terlihat sedang rapuh.
"Mama, aku baik-baik saja. Tunggu aku, aku akan menjemput mama untuk pulang dan membantai habis mereka yang sudah membuat mama dan papa seperti ini." Ucap Zaphier dengan mengelus kaca transparan tersebut.
Lenora tersenyum, entah kenapa hatinya merasa lega. Lenora mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, sebuah mantel yang terlihat lembut dan halus. Lenora meletakkan di meja tersebut...
__ADS_1
"Sebentar lagi musim salju, aku harap kalian saling melindungi satu sama lain." Ucap Lenora dengan memejamkan matanya sebelum akhirnya menghilang dari sana.
Setelah kepergian Lenora, Zaphier segera mengambil mantel tersebut dan segera memakainya dengan ekspresi yang terlihat sumringah.
"Aroma mama sangat harum." Jujur Zaphier yang duduk di tempat Lenora tadi, tempat tersebut masih terasa hangat.
"Itu memang benar." Gumam Bing dengan memegang mantel tersebut dan mencium aromanya, Bing tersenyum lirih. Jika saja tidak ada Zaphier, mungkin dia tidak segan-segan untuk meneteskan air matanya. Tapi untuk sekarang, Bing tidak mau terlihat lemah di hadapan anaknya. Jika dia lemah, siapa yang akan melindungi Zaphier?
•••••
Satu minggu Lenora dan Diego melakukan latihan tertutup, padahal bagi Lenora itu hanya beberapa jam saja.
Semua orang melihat sosok Lenora yang keluar dengan cahaya berwarna putih yang ada dalam tubuhnya, aura yang begitu agung langsung menguar dalam dirinya hingga membuat mereka langsung menunduk seketika.
Mereka sendiri tidak tahu kenapa tubuh mereka seperti itu, seperti ada kekuatan yang menekan mereka untuk patuh.
"Zitao, bagaimana ini?" Tanya Lenora, dia hanya mengeluarkan 15% aura nya saja tapi nampaknya sudah membuat mereka semua tidak kuat.
"Nona, berapa persen aura yang anda keluarkan?" Tanya Zitao dengan mendongakkan kepalanya untuk menatap Lenora yang terlihat sangat jauh berbeda dengan wajah sebelumnya, ini adalah wajah asli Lenora yang sangat cantik dan memukau. Bahkan, mereka tidak ada yang berani untuk menatapnya secara langsung.
"Aura? hanya 15% saja." Jujur Lenora.
"Uhhh nona, bagaimana jika 5% saja? jika seperti ini terus, kami semua akan mati karena aura mengintimidasi mu itu." Jujur Zitao.
"Benarkah? maafkan aku..." Lenora segera menghilangkan 10% auranya lagi hingga membuat mereka bernafas lega, mereka segera bangkit dari tanah dan sesekali melirik Lenora yang terlihat berbeda dari wajah sebelumnya.
"Yang mulia, maafkan atas kelancangan hamba. Tapi, sejak awal saya sudah merasa aneh dengan anda... Siapa anda sebenarnya?" Tanya Yudha yang justru malah membuat Lenora tersenyum.
"Jika aku memberitahu mu itu sama saja dengan mencelakakan diriku Yudha." Balas Lenora dengan santai hingga membuat Yudha langsung menunduk kembali.
"Maafkan atas kelancangan saya yang mulia, mohon yang mulia mengampuni kelancangan hamba ini." Takutnya.
__ADS_1