Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran

Kehidupan baru sang Dewi Kehancuran
Kembali nya Bing


__ADS_3

Semua yang ada di aula mendadak hening dan terdiam saat melihat sosok Lenora yang datang seorang diri, mereka celingak-celinguk mencari keberadaan Bing namun tetap saja mereka tidak menemukannya.


"Bing berpesan, dia bilang terimakasih karena sudah memperlakukannya dengan baik selama ini." Ucap Lenora dengan duduk begitu saja, bisa mereka lihat kedua matanya yang biasanya mereka lihat selalu cerah dan senang, namun sekarang? terlihat merah dan sedikit sembab.


".....Aku mengerti." Angguk Oliver setelah diam beberapa saat, melihat sikap dan ekspresi Lenora sudah mereka pastikan bahwa Bing sudah pergi.


"Maaf, aku harus pulang. Aku ingin istirahat..." Ucap Lenora pada Oliver.


"Tidak perlu sungkan, bagaimana pun kau sudah aku anggap seperti Bing. Bahkan, aku akan memberikan mu hak istimewa atas kerajaan ini, mohon bantu aku jika terjadi sesuatu pada rakyat ini...." Tunduk Oliver pada Lenora.


"Ya..." Angguk Lenora sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana.


Archon, Molly dan Diego segera mencari keberadaan Lenora namun mereka tidak bisa mengejarnya bahkan di rumah pun tidak ada sosoknya.


"Sepertinya nona membutuhkan waktu untuk sendiri..." Ucap Molly.


"Itu benar, ayo.." Ajak Diego.


Lenora sendiri hanya menghela nafas, saat ini dia berada di atap rumahnya. Dia juga melihat kedatangan Archon, Diego dan Molly tadi namun untuk saat ini Lenora benar-benar ingin menenangkan hati dan pikirannya untuk kehidupannya yang akan datang.


Di keluarkan nya seekor naga kecil yang terlihat tertidur itu, melihat itu Lenora hanya tersenyum kecil dan mengelusnya pelan hingga membuat naga tersebut menggeliat dan bangun.


"Halo.." Sapa Lenora karena naga tersebut menatapnya tanpa berkedip, warnanya yang hitam legam dan sorot matanya yang berwarna merah terlihat sangat menyeramkan jika sudah besar nanti.


"Ibu...." Ucap naga tersebut dengan naik ke tangan Lenora dan terus merayap hingga ke pundaknya, di gesek geseknya pipi Lenora olehnya yang nampak menggemaskan itu.


"Ibu? kenapa kau memanggilku ibu?" Heran Lenora.


"Ibu..." Ucapnya lagi dengan bersikap manja pada Lenora yang langsung tersenyum.


"Aku lupa kau baru saja menetas, mulai sekarang nama mu adalah Ramon! kau dengar?" Tanya Lenora mengangkatnya dan untuk melihatnya dari dekat.


"Iya ibu..." Angguk nya.


"Apa kau bisa menjadi manusia?" Polos Lenora.


"...." Namun Ramon hanya diam dengan memiringkan kepalanya hingga membuat keduanya terlihat seperti orang bodoh.


"Lupakan, ayo masuk." Ajak Lenora dengan membawanya pergi ke dalam kamar.


"Nona..."

__ADS_1


"Akhhhhhhhhhh...... BRUGHHH!"


Lenora jatuh ke belakang karena suara tersebut yang datang entah dari mana, punggungnya yang masih terasa sakit kini justru malah semakin sakit, Lenora menatap keberadaan Simon yang nampak terkejut itu.


"Kau? ada apa?!" Tanya Lenora dengan datar, dia memilih untuk duduk di atas ranjang dengan terus mengelus punggungnya.


"Nona, yang mulia menyuruh saya untuk melindungi anda. Sekaligus, menuntun anda juga..." Jujur Simon.


"Benarkah?" Kaget Lenora dengan menatap Simon.


"Benar nona, untuk naga ini.... Dia akan mengenali nona sebagai induknya, di usianya yang baru beberapa hari ini dia akan terlihat seperti bayi pada umumnya. Tubuhnya akan membesar setiap harinya jika nona ingin, dia juga bisa menjadi manusia jika terus anda latih." Jelas Simon.


"...." Lenora menatap Ramon yang nampak tertidur lagi di telapak tangannya.


"Nona, untuk makanannya.... Dia memakan daging, saya akan membantu anda agar dia tidak memakan manusia yang ia lihat." Jelasnya dengan sedikit pelan.


"Memakan manusia?!" Pekik Lenora.


"Benar nona, karena itulah nona harus sering melatihnya dan mengajaknya berbicara agar tidak menjadi ganas dan liar." Sambung Simon.


"Baiklah, aku mengerti sekarang. Kau boleh pergi aku mau tidur, sekalian tutup jendela dan bersihkan bekas kaki mu, aku tidak suka tempat yang kotor!" Ucap Lenora dengan membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menutupnya menggunakan selimut sebelum akhirnya tertidur pulas, bahkan Simon saja belum mengeluarkan suaranya sepatah katapun.


••••


Bing melangkahkan kakinya dengan penuh ketegasan, sorot matanya sangat jauh berbeda dengan sebelumnya. Semua orang yang melihat kedatangannya langsung terdiam sebelum akhirnya menjatuhkan dirinya untuk bersujud, di sekeliling tempat tersebut terdapat banyak sekali api yang menyala.


Gelap, sunyi dan menyeramkan membuat keadaan di sana semakin panas dan berbeda, Bing menghentikan langkahnya dan berdiri tak jauh dari tempat singgasana yang ada di hadapannya.


"Y-yang mulia raja iblis?" Ucap seseorang yang datang dengan membawa sebuah gulungan di tangannya, gulungan tersebut bahkan sampai terjatuh.


Mereka semua yang mendengar itu segera melihatnya dan kompak bersujud di hadapan Bing yang kembali melangkahkan kakinya dan duduk di singgasananya, Bing diam dengan memejamkan matanya sejenak. Sudah lama sekali dia meninggalkan tempat tersebut, ternyata auranya masih sama seperti dulu.


"Hormat kami yang mulia, terimakasih karena anda sudah kembali lagi...." Senang mereka dengan tetap bersujud di bawah.


"Bangunlah." Ucap Bing dengan suara yang terdengar datar dan dingin.


"Yang mulia, di mana tuan Simon?" Heran mereka, mereka sangat ingat dengan jelas saat kepergian Bing, Simon pun segera menyusulnya karena tidak bisa memberikan Bing sendirian.


"Dia ada di dunia bawah." Balas Bing.


"....."

__ADS_1


"Apa saja yang sudah terjadi disini selama aku pergi?" Tanya Bing.


"Itu, para dewa dan dewi mereka.... Mereka sering membunuh beberapa bawahan kita yang tidak bersalah untuk mereka lampiaskan amarahnya, mereka juga sudah mengambil beberapa anggota yang menurut mereka memiliki kekuatan lebih di usianya yang masih muda." Jelas salah satu dari mereka.


"Cih! julukan dewa dan dewi sangat tidak cocok untuk mereka yang begitu menjijikkan!" Datar Bing dengan begitu murka, padahal dulu Bing dan bawahannya tidak pernah melakukan sesuatu yang melanggar hukum alam namun mereka?


"Benar yang mulia, bahkan saya masih ingat dengan jelas bagaimana mereka melakukan sesuatu pada anda."


"Hal itu tidak akan pernah terlupakan olehku seumur hidup!" Dingin Bing dengan mengepalkan kedua tangannya, sorot matanya terlihat tajam dan penuh aura pembunuhan yang kuat namun.....


"Yang mulia, bagaimana rasanya tidur dengan wanita? apakah dia cantik? apakah dia kuat? apakah dia hebat? apakah dia seksi? siapa dia?" Celetuk salah seorang dari mereka.


"...." Bing menghela nafas berat sebelum akhirnya menatap orang tersebut.


"Dia calon ratu kalian!" Ucap Bing dengan penuh tekanan sebelum akhirnya menghilang dari sana.


"...."


"....."


"......"


"APA?!!!"


•••••


"Ukhukk Ukhukk Ukhukk."


"Pelan-pelan.."


Lenora segera mengambil air minum yang di berikan Diego padanya setelah itu Lenora segera meneguknya hingga habis, Lenora menghela nafas lega dan tersenyum lebar pada mereka.


"Terimakasih.." Senyumnya.


"Nona, jangan tersenyum seperti itu.." Ucap Simon.


"Kenapa?" Heran Lenora.


"Saya tidak ingin mati di bunuh yang mulia karena berkhianat padanya, anda sangat cantik sehingga membuat saya ingin memiliki anda..." Ucap Simon tanpa dosa yang membuat Archon, Diego dan Molly langsung menatapnya datar dan dingin. Bahkan, Archon sudah mengangkat pisau daging nya, Molly memutar mutar garpu depan menatap datar Simon, untuk Diego? dia mengetuk-ngetuk sumpit pada meja dengan tersenyum miring.


"KAU MAU MATI?!" Kompak mereka bertiga yang membuat Simon terlonjak dari tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2