Kekasih Halal Ceo Tampan S2

Kekasih Halal Ceo Tampan S2
Penculikan


__ADS_3

"Itu anaknya pa" Welly menunjuk ke arah Nada yang berjalan keluar dari gerbang sekolah.


"Cuma anak gitu aja kamu kalah. Sampai membuat tanganmu cidera? " Ucap ayah Welly yang menjadi seorang mafia.


"Dia tidak bisa diremehkan pa. Kelihatannya saja sepele" Welly mengatakan dengan bergidik. Iya teringat bagaimana Nada hampir mematahkan lengannya.


"Dua anak buahku juga terluka karena dia. Ditambah satu lagi kakinya hampir patah" Welly menceritakan.


"Serahkan kepada papamu ini. Pasti akan beres"


"Ingin kamu apakan dia? " Tanya ayah Welly sambil menyeringai.


"Aku ingin membuatnya menyesal telah berani menyentuhku. Aku ingin masa depannya hancur. Papa tolong culik dia dan bawa ke rumah kosong kita di vila" Welly berkata dengan senyum jahat diwajahnya.


"Itu hal yang mudah Welly. Datanglah nanti malam ke villa. Besok hari minggu, bersenang-senanglah dengannya" Papa Welly terlihat bangga dengan apa yang akan dilakukannya.


"Makasih pa" Welly tersenyum penuh arti. Iya akan membalaskan dendamnya.


Sedangkan Nada masih menunggu bus di halte dekat sekolahnya. Iya sengaja tidak membawa sepeda motor karena hatinya masih kacau. Jiwanya sedikit terguncang atas apa yang di ketahuinya. Lukanya masih menganga. Tadi saat berangkat sekolah iya sengaja menghindari gus Zidan. Walau tersenyum, namun tetap saja melihat gus Zidan adalah sesuatu yang ingin di hindari. Bus sudah terlihat, Nada segera bergegas untuk naik. Dan mobil yang ditumpangi Welly beserta papanya juga berjalan.


"Astaghfirullahaladzim... Kenapa sih kata-kata gus Zidan membekas sekali" Batin Anna sambil menyandarkan punggungnya di kursi bus. Lalu pandangannya menuju luar jendela. Entah berapa lama iya melamun, terdengar suara kernet bus berteriak.


"Halte majumapan, halte majumapan" Nada tersentak dan langsung berdiri. Iya harus turun.


"Kiri bang" Nada segera membayar tarif dan segera turun. Dua orang yang mengendarai mobil dibelakangnya mengambil foto Nada. Mereka langsung beranjak pergi.


Nada berjalan dengan langkah gontai. Dengan perlahan berjalan menuju rumahnya.


"Assalamualaikum" Ucap Nada saat memasuki rumah. Iya tersenyum sumringah saat orang-orang didalam rumahnya menjawab sapaannya.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam... Sudah pulang nduk" Ucap ummi Nafi sambil menyambut uluran tangan Nada.


"Ganti baju dulu ya, terus nanti kita makan bersama" Ucap ummi Nafi dengan lemah lembut. Nada mengangguk dan tersenyum.


"Nada ke kamar dulu ya ummi" Tanpa menoleh lagi, Nada beranjak ke kamarnya.


Tak butuh waktu lama, Nada sudah keluar kamarnya dengan sudah berganti baju dan sekalian sholat dzuhur. Iya segera menuju meja makan. Disana semua orang sudah menunggu.


"Nada, sini nduk... Kita makan dulu" Ummi Nafi memundurkan satu kursi untuk Nada.


"Terimakasih ummi" Nada menunduk menatap piring depannya. Sebenarnya, iya juga ingin menyembunyikan matanya yang sembab.


"Makan yang banyak ya nduk, ummi tadi masak seadanya" Abah Ayub kali ini berkata dengan ramah. Nada mengangguk dan tersenyum lagi. Dan gus Zidan. Jangan tanya bagaimana reaksinya. Iya terus menatap Nada yang menunduk. Sambil makan iya terus memperhatikan Nada.


Malam berlangsung, karena besok pagi sekolah libur. Nada berencana untuk keluar membeli peralatan sekolah yang sudah habis. Ada beberapa buku dan alat tulis yang sudah tidak dapat digunakan lagi.


"Biar aku antar Da" Gus Zidan menawarkan diri.


"Terimakasih gus, tapi biarkan Nada pergi sendiri saja" Nada berkata tanpa memandang gus Zidan.


"Tidak baik ning Nada keluar sendiri. Apalagi malam-malam seperti ini. Biar kita mengantarkan ning Nada ya" Kang Ali berkata dengan sopan.


"Tapi..." Ucapan Nada terpotong oleh perkataan abah Ayub.


"Benar apa yang dikatakan mereka nduk. Biarkan kamu diantar sama mereka" Abah Ayub berkata. Jika sudah begini, Nada tak berani membantah. Akhirnya iya mengangguk dan setuju.


"Baiklah, mari, Nada tunggu diluar" Nada berjalan.


"Assalamualaikum" Iya mengucap salam sebelum pergi. Gus Zidan dan kang Ali segera ke menyusul Nada sambil menyambar jaket dan kunci mobil.

__ADS_1


"Gus... Biar saya saja" Kang Ali meminta kunci mobil itu lalu masuk ke kursi kemudi. Nada masih memandang gus Zidan akan duduk dimana. Setelah tahu gus Zidan masuk ke kursi depan, iya segera membuka pintu belakang dan ikut masuk.


"Kita mau kemana ning Nada" Tanya kang Ali.


"Ke gramedia kang" Nada menjawab sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Mereka melaju dalam keheningan. Kang Ali pun tak berani berkata duluan. Hingga mereka sampai ke tempat tujuan, mereka tetap terdiam.


"Nada masuk dulu ya" Ucap Nada membuka pintu dan langsung keluar. Tanpa menunggu jawaban dari dua lelaki dewasa yang tadi didepannya. Iya melangkah masuk ke gramedia.


Melihat itu, Gus Zidan beserta kang Ali segera keluar dari mobil dan menyusul langkah Nada. Mereka masuk bersamaan. Nada segera mencari apa yang dia butuhkan. Setelah itu mereka kembali ke mobil lagi.


"Sudah dapat ning apa yang dicari? " Tanya kang Ali.


"alhamdulillah... Sudah kang. Ayok kita pulang" Ajak Nada. Merekapun kembali.


Perjalanan terasa begitu horor dengan diamnya mereka semua. Hingga sebuah mobil menghadang mobil yang dikendarai Nada, gus Zidan dan kang Ali. 2 orang turun dan menggedor-nggedor kaca mobil. Semua panik. Gus Zidan memberanikan diri membua kaca mobilnya.


"Maaf, ada apa ya" Tanya gus Zidan pelan.


"Cepat turun" Seseorang berkata.


"Maaf, kami akan pulang" Gus Zidan berusaha melindungi. Dengan memaksa, 2 orang itu membuka pintu mobil. Menyeret semua penumpang turun. Namun saat sudah berada di luar mobil, gus Zidan dan kang Ali melawan. Akhirnya terjadi perkelahian sengit diantara mereka. Nada masih berdiri disamping mobil dengan perasaan was-was, iya tak berani membantu. Tanpa sadar, seseorang mengendap-endap dan membekap mulut Nada hingga pingsan. Lalu membawa Nada masuk ke mobilnya. Dengan segera lelaki itu menyalakan mobil. Menekan klakson memanggil kedua temannya. Mereka berdua pun langsung berlari dan masuk ke dalam mobil. Dengan cepat gus Zidan juga berlari ke mobilnya bersama kang Ali dan mengejar mobil yang sudah membawa Nada. Hanya karena kecepatan mobil penculik itu. Gus Zidan kehilangan jejak. Dan sekarang mereka berdua tidak tahu kemana mobil tadi pergi.


"Nada... Bagaimana ini? " Gus Zidan panik bukan main. Sekarang iya sangat mengkhawatirkan keselamatan gadis yang pernah menempati ruang hatinya.


"Gus, tenang dulu gus. Kita cari bantuan" Kang Ali terlihat sedang berfikir.


"Nada... Bagaimana nanti dengannya. Kita harus melakukan sesuatu" Ucapnya terdengar sangat parau. Tak terasa air matanya menetes.


"Kita ke kantor polisi sekarang. Gus Zidan turun biar saya yang nyetir" Kang Ali membuka pintu kemudi. Gus Zidan segera keluar dan duduk disamping kang Ali. Mereka mengemudi menuju kantor polisi terdekat.

__ADS_1


__ADS_2