Kekasih Halal Ceo Tampan S2

Kekasih Halal Ceo Tampan S2
Rencana


__ADS_3

Meeting yang dilakukan di perusahaan utama Group berjalan dengan lancar. Arsyad dapat bernafas lega karena klien menyetujui dengan apa yang telah menjadi kesepakatan perusahaan. Dan kini pikiran Arsyad kembali kepada Nada. Sebelum meeting seorang pengawal yang ia tugaskan untuk menjaga nada memberi kabar jika Nada kedatangan tamu 4 orang lelaki ke rumahnya. Arsyad pun segera melakukan sesuatu. Iya memeriksa Siapa empat lelaki yang dimaksud oleh pengawal nada.


"Nada..." Panggil Arsyad dalam pesan singkat yang ia kirimkan ke gadis pujaannya. Namun lama menunggu hampir setengah jam pesan tersebut belum juga dibalas. Jangankan dibalas dibaca saja belum. Arsyad pun memutuskan untuk menunggu sambil menyelesaikan pekerjaannya. Saat sedang yang sibuk dengan pekerjaannya, pintu rumahnya dibuka oleh Arsyida. Masuklah saudara kembarnya itu dan duduk di depannya.


"Arsyad... Sibuk kah?" Tanya adik kembarnya itu yang sudah di depannya.


"Enggak juga... Ada apa?" Balas Arsyad menatap Arsyida.


" Jangan bahas masalah Nada dulu saat ini. Aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu. Nanti kita keluar bareng kita bicarakan di luar" Arsyad Berkata sambil menatap ke depan.


"Biar aku bantu. Coba bawa sini" Arsyida meraih beberapa dokumen yang berada di depannya lalu memeriksa dengan detail. Namun ada sebuah dokumen yang menarik perhatiannya.


"Arsyad... Ini bener laporannya. Kok ada pengembalian barang yang kita kirimkan minggu lalu" Ucap Arsyida sambil menunjukkan sebuah dokumen ke Arsyad. Arsyad pun dengan cepat meraih Dokumen itu dan memeriksanya.


"Ini kan... kalau nggak salah ini... Ini pesanan dari Menteri Pertahanan" Arsyad Berkata sambil mengingat-ingat barang apa yang dikembalikan.


"Kenapa dikembalikan. Apa ada masalah?" Arsyida pun mencoba bertanya.


"Fahri Coba kamu ke sini. Ini kamu tahu kan masalah yang ini? " Arsyad memberikan Dokumen itu kepada Fahri. Fahri pun segera bangkit dari tempat duduknya dan mendekat menuju Arsyad.


"Oh itu... Bukannya masalah ini yang menangani Om Dafa sendiri? " Fahri kembali bertanya.


"Apa ini yang ada hubungannya dengan pengiriman senjata yang ilegal itu?" Tanya Arsyad. Fahri pun mengangguk.

__ADS_1


"Berarti Papa yang menyelesaikan masalah ini. Tapi kenapa papa nggak bilang sama kita" Arsyida pun merasa bingung.


"Kita selesaikan pekerjaan yang mudah dulu. Nanti kalau misalnya papa ke sini kan kita bisa tanya masalah ini" Arsyad pun duduk kembali ke kursinya. Fahri dan arsyida pun juga begitu. Mereka kembali berkutat dengan pekerjaan masing-masing.


~Nada~


"Kita harus mikirin cara bagaimana caranya kita bisa menghentikan tindakan mereka" Tuan Voltus kali ini berkata.


"Kita tidak bisa bergerak sendiri. Mereka tidak bisa dihadapi dengan tangan kosong. Kalau mereka sudah berani melangkah sejauh itu berarti kita juga harus mengimbangi dengan sebuah strategi yang cerdas" Nada pun tak tinggal diam.


"Kamu punya rencana? " Tanya Hendra. Dan saat itu juga tim memandang ke arah Nada.


"Kita harus menghubungi aparat kepolisian dan pertahanan. Tlapi sebelumnya aku bakal ngelakuin sesuatu" ucapan Nada Terdengar sangat serius.


"Apa yang bisa kamu lakukan? " tanya Ardi. Nada menaikkan kedua bahunya sambil tersenyum.


"Bang kalau kayak gini bagaimana? " Sambil menatap ke tabletnya, menunjukkan suatu sistem yang telah dirancang untuk menjaga keselamatan seluruh timnya.


"Ini fungsinya untuk apa?" Fian berkata.


"Jadi kalau misalnya ada seseorang yang membawa senjata tajam dan ingin menyerang kita, alarm di sini akan berbunyi. Ini hasilnya. dan Smartwatch kalian juga yang sudah aku rancang untuk alarm, ya jadi kita harus memakainya" Nada pun menjelaskan semuanya.


"Kamu lupa kita juga membawa senjata untuk melindungi diri? " tanya Hendra.

__ADS_1


"Aku sudah mensetting supaya alat yang kita bawa dikenali dengan baik oleh alat ini. Jadi alat ini hanya akan berbunyi jika ada alat asing yang mendekat ke arah kita" Nada tersenyum dan menjelaskan dengan detail.


"Luar biasa... Bahkan aku pun belum bisa membuat sistem secanggih ini. Aplikasi ini benar-benar bisa diandalkan" Tuan Voltus tiba-tiba berdiri di belakang Nada dan memujinya.


"Kita akan melakukan uji coba pada senjata kita masing-masing. Karena yang akan berangkat kita berempat, Tuan Voltus akan menjadi orang asing yang membawa senjata itu" Nadapun tersenyum dan cengengesan di depan timnya.


"Oke... kalau begitu kita coba saat ini" Vian berkata.


"Abang bawa semuanya? " Nada bertanya sambil menyalakan masing-masing dari smartwatch siang sudah dia setting.


"Ini kita pakai Smart Watch kita masing-masing kan? " Hendra pun bertanya.


"Iyalah Bang Masa iya kita mau pakai smartwatch double double. Satu aja cukup" Nada menjawab dengan tersenyum.


"Bisa kita mulai. Aku sudah memasukkan serial number yang berada di senjata kalian masing-masing. Jadi di saat nanti Tuan Voltus mendekat, alarmnya akan berbunyi. Kalau misalnya nanti belum berhasil kita setting sama-sama lagi" terlihat Tuan Voltus yang mengeluarkan pistolnya dari jarak beberapa meter di antara Nada dan timnya.


' pip pip pip' Suara alarm yang tidak terlalu keras sudah terdengar. Sontak tepuk tangan seluruh tim yang berada di sana menggema.


"Nada kamu berhasil" Puji Tuan Voltus.


"kalau begini kita bisa berangkat dengan tenang. Oh ya Ada beberapa sistem keamanan yang harus kita lumpuhkan terlebih dahulu" Ardi mengingatkan.


"Aku tadi juga berpikir seperti itu, tapi kita belum tahu sistem keamanan seperti apa yang mereka miliki. Kita harus tetap mengotak-atik dan kayaknya belum bisa hari ini kita berangkat menyelidiki semuanya. Kita memang harus melumpuhkan sistem keamanan mereka dulu. Satu lagi, aku mengira jika kelompok terselubung yang melakukan ini semua adalah sekelompok mafia yang sudah terkenal. Buktinya mereka tidak asal dalam melakukan sesuatu. Kita harus lebih waspada karena lawan kita bukan lawan yang mudah" Vian mengatakan semuanya.

__ADS_1


"Kalau begitu biar aku coba mencari sistem keamanan seperti apa yang mereka gunakan" Nada segera mendekat kearah komputernya. Iya kembali berkutat dan sibuk dengan komputer tersebut. Sedangkan yang lain juga melakukan hal yang sama. Mereka sama-sama bekerja sama untuk mencari jalan keluar dari sebuah permasalahan yang sedang dialami oleh negara. Terkadang juga mereka hingga lupa waktu karena tugas itu. Mereka adalah pilihan, dan mereka harus mengabdikan diri dengan penuh totalitas. Royalitas adalah sebuah keharusan dalam hidup mereka.


Sedangkan di bagian dunia lain, Arsyad sedang menunggu balasan dari Nada. Iya bahkan yidak bisa fokus pada pekerjaannya. Beberapa kali terdiam melamun. Dan hal tersebut membuat Arsyida menghembuskan nafas kasar memandang saudara kembarnya.


__ADS_2