
Sepasang anak muda datang dan mendekat ke arah Haidar, Arsyi dan kakek Wira duduk.
"Arsyi... Jelaskan kepadaku" Ucapnya sambil duduk di sofa. Terlihat gadis itu tersenyum sambil memandang ke arah Haidar.
"Penjelasan apa adikku yang tampan" Kinni Haidar berkata dengan pelan sambil tersenyum. Iya memandang ke arah calon istrinya dengan wajah menyeringai.
"Kenapa kamu berbohong kepadaku? " Arsyad berkata sambil menatap tajam ke arah calon suami istri itu.
"Tuan muda... Tenang lah dulu. Apa ada masalah" Ucap kakek Wira. Iya tahu jika Arsyad sedang dalam mood yang buruk.
"Astaghfirullah..." Gumamnya dalam hati. Arsyad tak menyadari jika disana juga ada kakek.
"Kakek... Mohon maaf atas ketidaksopanan saya. Saya sudah seenaknya sendiri" Ucap Arsyad lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri kakek. Dengan segera iya meraih tangan renta sang kakek. Nada pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Arsyad.
"Apa ini calon cucuku juga? " Tanya Kakek penuh penasaran sambil menatap ke arah Nada. Nada pun tersenyum sambil menunduk.
"Do'akan saja kek, secepatnya Arsyad bisa menikahinya" Ucapan Arsyad dengan tiba-tiba. Sontak suara itu mendapat tatapan dari Nada. Namun tiba-tiba sebuah bantal sofa melayang ke kepala Arsyad tanpa iya sadari.
"Aduh" Arsyad memegang kepalanya yang terkena timpuk bantal tersebut.
"Awas kamu macam-macam" Arsyi berkata sambil menunjuk rendah ke arah Arsyad. Hal tersebut membuat semua yang ada di sana tersenyum, termasuk Nada.
"Hah... Ngomong apa kamu... Aku ngga denger" Arsyad pura-pura tidak mendengar. Setelahnya iya duduk disamping kakek Wira.
"Cucu kakek ini sudah besar ternyata. Lama sekali tidak kesini. Kakek rindu pada kalian" Kakek Wira teringat dulu Arsyad pernah kesini ketika Daffa datang berkunjung. Tentunya tanpa Haidar. Karena saat itu Haidar masih mengenyam pendidikan di sebuah Universitas di luar negeri.
"Maaf ya kek, Arsyad bukan bermaksud untuk tidak datang kesini, tapi Arsyad sibuk kek" Haidar berkata sambil tersenyum.
"Kakek tahu tuan muda. Bagaimana tidak sibuk, jika bisnis keluarga utama bukan bisnis abal-abal" Kakek Wira berkata dengan bijaksana.
__ADS_1
"Dan sebenarnya apa yang membuat tuan muda datang kesini. Apakah karena akan menyusul Arsyi? " Tanya Kakek.
"Tepat sekali kek... Arsyad kesini karena cucu-cucu kakek sudah mengerjai saya" Ucap Arsyad. Tiba-tiba terdengar tawa yang berasal dari Arsyi dan Haidar. Keduanya menertawakan apa yang baru saja iya lakukan terhadap Arsyad.
Flashback On.
'Tring Tring Tring' Beberapa pesan masuk ke ponsel Arsyad saat iya baru saja keluar dari ruang meeting. Dengan berjalan masuk ke dalam ruangannya, iya masih mengabaikan pesan tersebut. Setelah duduk di kursi, Arsyad melepas jas dan menyandarkan punggungnya. Tangannya perlahan merogoh saku untuk mengambil ponsel yang tadi berdering. Sebuah foto yang membuat tubuh Arsyad bergetar hebat. Iya segera menghubungi nomor Arsyi meminta penjelasan.
'Tuuut... tuuut... tuuutt.... tuuutt...' Tak diangkat. Arsyad merasa gusar sendiri.
"Arsyi... Angkat dong" Gumam Arsyad ditengah kekhawatirannya. Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan sosok ayah yang bijaksana. Melihat putranya yang sepertinya tengah cemas, iya pun mendekat.
"Arsyad... Kenapa? " Tanya Daffa karena putranya terlihat cemas. Arsyad tak menjawab, iya hanya menyodorkan ponselnya. Daffa yang melihat itupun juga merasa kaget.
"Ini... Bukannya ini Nada? " Tanya Daffa.
"Iya pah..." Suara Arsyad terdengar pelan.
"Ini yang mengirim Arsyi? " Tanya papanya.
"Cepat hubungi Arsyi! " Daffa juga terlihat sangat cemas. Tangan Haidar pun segera meraih ponsel itu lalu menghubungi saudara kembarnya.
"Arsyi... Ada apa sama Nada? Kalian dimana? Tanya Arsyad ketika Arsyi sudah mengangkat panggilannya.
"Rumah sakit Harapan Mulya" Ucap Arsyi singkat, setelahnya iya menutup panggilan tersebut sepihak. Arsyad yang merasa khawatir langsung meraih jas nya. Iya segera melangkah dengan cepat keluar ruangan.
"Pah... Arsyad tinggal dulu" Sebelum membuka pintu, iya menoleh dan menatap Daffa. Setelahnya iya berkata.
"Pergilah, biar papa yang mengurus meetingnya" Ucap Daffa. Tanpa berkata lagi, Arsyad segera melangkah. Iya menghubungi sopirnya.
__ADS_1
Di depan lobby kantor, sebuah mobil mewah terparkir. Seorang lelaki yanh belum tua datang mendekati Arsyad.
"Tuan..." Belum sempat sopir itu menyelesaikan ucapannya, Arsyad langsung membuka pintu kemudi.
"Aku berangkat sendiri" Ucapnya dingin. Setelah itu mobil melaju, meninggalkan sopir yang kebingungan itu.
Arsyad melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju rumah sakit. Fikirannya kalut memikirkan apa yang terjadi kepada Nada. Setibanya din rumah sakit iya segera turun di depan UGD. Melihat mobil Arsyad, seorang satpam mendekat.
"Parkirkan" Arsyad keluar dari mobil lalu berkata kepada satpam yang mendekat tersebut. Iya berlari ke dalam menuju ke UGD. Dan ternyata Nada tak ada disana. Arsyipun juga tak ada. Namun iya melihat seorang ibu paruh baya. Iya mendekat menanyakan apa yang dicarinya. Ibu tersebut menceritakan semuanya. Arsyad pun bernafas lega karena bukan Nada.
"Terimakasih bu" Arsyad segera pergi dan menyusul Nada di ruang administrasi. Namun disana iya dikejutkan oleh staff administrasi rumah sakit yang melayani Nada dengan buruk. Arsyad semakin geram karena petugas tersebut terlihat meremehkan Nada.
Setelah mendekat, petugas tersebut terlihat ketakutan. Setelah mengatakan banyak hal, Arysad mengatakan sesuatu kepada petugas tersebut.
"Tunggu panggilannya" Iya mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang. Setelah itu menyusul Nada. Bertemu dengan ibu si anak korban tabrak lari, Arsyad menemani Nada. Setelahnya iya memaksa untuk mengantarkan Nada pulang.
Diperjalanan, Arsyad berhenti disebuah toko baju ternama. Yang terkenal dengan baju-bajunya yang berharga fantastik.
"Nada... Kita turun dulu ya" Arsyad mematikan mesin mobilnya lalu mengajak Nada turun. Namun sebelumnya Nada sempat protes.
"Mau ngapain, rumah aku sudah dekat mas" Nada berkata dengan sopan.
"Kita ke rumah kak Haidar dulu. Kita temui Arsyi disana. Dia sudah berbohong kepadaku" Arsyad berkata dengan tegas.
"Terus apa hubungannya dengan kita berhenti disini" Tanya Nada.
"Kamu mau pakai baju yang terkena banyak darah itu? Nanti dikira kamu habis melakukan kejahatan apa lagi" Arsyad turun. Iya segera berlari menuju pintu samping lalu membukanya.
"Ayo turun" Ajak Arsyad. Karena dirasa Nada begitu lama, Arsyad menarik lenganya. Mau tak mau Nada pun ikut turun. Mereka berjalan bersama memasuki toko baju itu. Sesampainya didalam, ternyata kosong, tak ada seorang pun didalamnya kecuali karyawan yang sedang bekerja. Mereka semua menyambut kedatangan Arsyad dan Nada dengan antusias.
__ADS_1
"Ambilkan baju terbaik untuk dia" Perintah Arsyad. Seketika para karyawan tersebut berhambur mencari baju yang pas dan terbaik untuk Nada. Tak lama kemudian, mereka kembali dengan masing-masing membawa baju yang disiapkan untuk gadis SMK yang cantik itu.