Kekasih Halal Ceo Tampan S2

Kekasih Halal Ceo Tampan S2
Bertemu


__ADS_3

"Sialan... Siapa yang sudah berani mengusik perusahaan ku. Siapa yang sudah berani bermain-main denganku? " Pertanyaan yang timbul dari dalam diri Alisa yang di sebabkan oleh emosinya yang meluap.


"Sayang... Tenang dulu. Jangan terbawa emosi" Sang suami berusaha menenagkan istrinya yang sudah membuat ruangan tersebut hancur tak berbentuk lagi.


"Bagaimana aku bisa tenang? Sedangkan perusahaan induk, perusahaan terbesar kita sudah hancur. Sudah tidak ada harapan lagi" Balas Alisa dengan suara tingginya.


"Terus kalau kamu marah-marah apa semuanya akan kembali seperti semula? Semuanya akan baik-baik saja? " Ucapan suami Alisa membuatnya sedikit luluh.


"Hiks hiks hiks hiks" Dengan menunduk, Alisa menangis. Iya mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya.


"Kita harus tenang, kita harus berfikir bagaimana agar perusahaan kita tidak tambah hancur" Suami Alisa menasihati sambil memeluk istrinya.


"Kita harus pegi dari sini. Kita sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang" Alisa bangkit menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Setelah ini kita akan mencari tahu siapa yang sudah mengusik Karya Buana" Alisa hanya terdiam. Sedangkan suaminya terus berkata.


Di siang dengan serbuan panas yang begitu menyengat, Alisa dan suaminya berjalan keluar dari rumahnya. Lebih tepatnya rumah yang telah disita oleh pihak yang sudah membeli rumah tersebut.


" Kita cari taksi terlebih dahulu untuk ke bandara" ucap sang suami. Mereka akan meninggalkan Indonesia dan menuju ke tempat dimana salah satu usaha yang masih berkembang. Alisa merasa sangat terpukul dengan keadaan yang saat ini menimpanya. Ia menjadi jarang berbicara dan enggan untuk berkomunikasi, bahkan dengan suaminya sendiri. Belum lama menunggu sebuah mobil berhenti tepat di depan Alisa dan suaminya. Dan seorang lelaki paruh baya turun dari mobil tersebut.

__ADS_1


" Alisa..." panggilnya kepada alisa. Alisa pun melihat siapa yang datang. Ternyata lelaki tersebut adalah Daffa. Alisa heran mengapa Daffa bisa berada di sini.


"Daffa..." Sahut Alisa.


"Kamu... Ngapain kamu kesini? " tanya Alisa.


" Untuk memastikan bahwa orang-orang yang telah berani menyentuh keluarga saya akan merasakan sebuah rasa jera yang cukup dalam" jawab Daffa sambil melepas kacamata hitamnya.


" Maksud kamu apa? " suami Alyssa pun kini ikut berbicara.


" Kamu pikir aku tidak tahu apa yang telah kalian lakukan untuk membuat keluargaku celaka? Kamu pikir aku tidak tahu apa yang telah kamu lakukan terhadap kakek Wira" Daffa pun berkata dengan nada yang tenang.


" Apa maksud kamu... aku sudah tidak prnah lagi berhubungan dengan keluargamu ataupun mengusik mereka" kini Alisa berbicara dengan suara emosi. Seketika itu juga Arsyad keluar dari mobil dan menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat.


Namun hal tak terduga terjadi setelah Alisa dan suaminya melihat apa yang berada di dalam amplop tersebut. Semua bukti tindak kejahatan yang telah mereka lakukan benar-benar telah Daffa miliki.


"Kamu....!!! Alisa ingin memukul Daffa saat itu juga. Karena semua kebusukannya sudah diketahui.


" jangan mengelak lagi, semuanya sudah jelas" Daffa pun tersenyum sambil memakai kacamata hitamnya kembali.

__ADS_1


" Kamu lupa siapa aku? kamu lupa jika aku mampu melakukan apa yang aku inginkan. Kamu lupa tentang kehebatan keluarga utama? " Daffa tersenyum sambil membuang muka dari memandang Alisa.


" Jangan bilang kalau kamu yang sudah..." ucapan Alyssa terhenti begitu saja sambil memandang Daffa di depannya.


" Kamu pikir siapa lagi yang bisa melakukan semua itu kalau bukan aku? " Daffa tersenyum sambil berkata sedemikian rupa. Sedangkan suami Alisa terdiam mendengar percakapan istrinya dan Daffa.


" Ini belum seberapa dengan semua yang telah kamu lakukan kepada keluargaku. kalau kamu berani melakukannya lagi, aku tidak akan segan-segan menghancurkan semua bisnismu yang berada di luar negeri" Daffa memberikan peringatan sebelum ia masuk ke dalam mobil. Setelahnya mobil yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan Alisa dan suaminya yang masih terkejut dengan ucapan Daffa.


" Jadi dia orang yang sudah menghancurkan perusahaan kita? " tanya suami Alisa dengan nada geramnya. Alisa pun hanya menjawab dengan anggukan.


" Aku akan membalas..." ucapan suami Alisa terpotong ketika Alisa mengatakan sesuatu.


" Kita lebih baik tidak melakukan apa-apa. Karena Daffa bukan orang sembarangan. Kita akan lebih sengsara jika kita berani melakukan kesalahan lagi" Alisa berkata dengan nada lesu. Tak lama setelah Dafa pergi, sebuah taksi datang mendekati mereka, Mereka pun langsung masuk ke dalam taksi tersebut.


" ke bandara ya pak" suami Alisa memberi tahu sopir taksi yang ditumpanginya.


Pov Daffa


" aku nggak nyangka pa, Ternyata semua ini benar-benar tante Alisa. Aku kira dengan mengirimnya ke rumah sakit jiwa, akan merasakan jera. Ternyata ngga sama sekali" Arsyad yang duduk di samping Daffa pun berkata.

__ADS_1


" Ya begitulah kalau orang tidak pernah bersyukur. sudah dikasih kelebihan masih ingin yang lebih lebih dan lebih. mereka tidak memikirkan akibat dari apa yang mereka tanam. mereka hanya berpikir jika orang akan menyelesaikan semua permasalahan" siapapun menjawab dengan begitu bijaksana apa yang dikatakan oleh putranya.


" bener sih Pa, Semoga aja mereka benar-benar bisa memperbaiki semua kesalahannya" Daffa mengangguk kembali mendengarkan penuturan putranya. Dan mereka kembali ke kantor.


__ADS_2