Kekasih Halal Ceo Tampan S2

Kekasih Halal Ceo Tampan S2
Meminta Nada


__ADS_3

"Annisa... Kamu tinggal disini sebentar ya nduk" Tiba-tiba ummi Nafi menghentikan langkah Nada. Dan membuat semua orang menoleh kepadanya. Dan Nada pun mengangguk setelahnya iya kembali duduk di sofa. Umi kembali duduk di samping Nada. Setelah semua keluarga Daffa meninggalkan ruangan itu.


"Hmmm... Nisa, makasih ya nduk. Ummi berharap kamu bisa datang sebenarnya. Dan akhirnya kamu datang juga" Umi Nafi memeluk nada dengan terharu.


" Umi... Jangan bersikap seperti ini. Nada tidak mungkin melupakan orang-orang yang pernah menyayangi Nada" ucapan nada membuat hati Ummi navy terbebas dari belenggu rasa bersalah.


" kalau diijinkan, nanti sehabis salat ashar Nada mau ke makam ibu. Nada udah lama nggak ke sana Umi" Nada kembali berkata mengutarakan maksudnya.


" Iya Nduk, kamu nanti ke sana lah. Tapi kami tidak bisa mengantarkan. Kamu lihatkan banyak kamu berdatangan sejak tadi" Umi Nafi Berkata sambil tersenyum.


" Tidak apa-apa Umi, Nada bisa ke sana sendiri. nanti Nada pinjam salah satu kendaraannya ya" sebelumnya Nada sudah meminta izin. Dan Umi Nafi pun mengangguk.


" Istirahatlah di sini. Masih ada kamar kosong" Ummi Nafi Nada untuk beristirahat di dalam.


"Tidak ummi, biarkan Nada ke tempat tamu saja. Disana ada bu Hana yang mungkin sudah menunggu" Nada menolak dengan halus permintaan dari guru orang tuanya tersebut.


" Nada izin untuk ke sana dulu Umi... assalamualaikum" setelah berkata Nada pun meninggalkan Umi Nafi yang saat ini juga berjalan keluar rumah untuk menghampiri para tamu.


" Assalamualaikum..." ucap Nada ketika sudah berada di depan pintu rumah tamu.


" Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh" semua keluarga Daffa yang saat ini sedang duduk di sofa ruang tamu menjawab salam Nada secara bersamaan.


" o nggeh Neng Nada, silakan neng kamar Neng nanti ada di sebelah sana" Ucap Kang Ali, salah satu santri dalem.

__ADS_1


"Terimakasih kang" Nada mengatupkan kedua tangannya sambil sedikit menunduk. Setelah kang Ali pergi, Nada menghampiri Hana.


" Istirahatlah... Kamu pasti lelah" Ucap Hana dan Nada pun mengangguk. Nada segera menuju ke kamar yang telah di sediakan. Begitu pun dengan keluarga Daffa. Mereka menuju ke kamar masing masing. Karena waktu yang begitu terik serta perjalanan jauh yang melelahkan, akhirnya mereka semua beristirahat.


" sudah hampir jam 03.30, aku harus ke makam Ibu terlebih dahulu. supaya nanti tidak kesorean pulangnya" Nada yang selesai melaksanakan salat ashar langsung berdiri melipat mukenanya. setelah mengenakan hijabnya, Iya Pun mengambil tas kecil yang telah Ia persiapkan sejak tadi. Berjalan menuju ke arah pintu, Nada membuka pintu secara perlahan. Diperhatikannya di luar masih belum ada siapa-siapa.


" Nggak usah pamit aja ya, kasihan mereka masih istirahat, toh juga udah pamit sama ummi" Gumam Nada sendirian. Dengan perlahan ia melangkah kan kaki menuju ke luar rumah. Setelah memakai sandal, ia bergegas untuk pergi. Namun Sebuah panggilan menghentikannya.


" nada..." suara yang didengar nada terlihat begitu familiar di telinganya. Iyaapun segera menoleh dan memastikan bahwa yang memanggil dirinya adalah benar Daffa.


" Bapak Daffa? " Nada kembali bertanya setelah Daffa mendekat ke arahnya.


" Kamu mau ke mana? " Daffa bertanya kemana Nada akan pergi.


" Saya mau ke makam Ibu saya Pak, Mohon maaf saya tadi tidak sempat berpamitan karena takut mengganggu istirahatnya Bapak dengan keluarga" Nada yang merasa tak enak hati menjelaskan kepada lelaki paruh baya di depannya.


" Tapi Pak Lebih Baik bapak di rumah saja untuk beristirahat. Karena makamnya pun tidak jauh dari sini. Insya Allah saya bisa pergi sendiri" Nada seakan menolak dengan halus apa yang diinginkan oleh Daffa.


" Ayo biar diantarkan sekalian sama Pak sopir. Saya juga ingin tahu kota Reog ini" alasan yang begitu kuat membuat Nada tak mampu menolak apa yang dikatakan oleh Daffa.


" Baiklah... Jika Bapak ingin ikut" akhirnya Nada pun tak bisa menolak. Dan mereka berjalan menuju ke mobil yang tadi mereka tumpangi.


" Masuklah ke belakang di sana sudah ada Ibu Hana" tanpa mendengarkan jawaban dari Nada, iya membuka pintu mobil bagian depan lalu masuk dan menutupnya kembali. Nadapun tak ingin ambil pusing, Segera membuka pintu di kursi penumpang lalu duduk di sebelah Hana.

__ADS_1


" Mohon maaf ya Bu, Nada merepotkan kembali" Nada yang merasa tak enak hati pun segera meminta maaf kepada Hana.


" Tidak ada kata merepotkan, ibu malah seneng bisa sama kamu" jawabannya tersenyum manis. Dan hal tersebut membuat Nada ikut tersenyum juga.


" Kita kemakam yang sebelah sana tadi Pak, yang sebelum kita belok ke sini kan ada jalan kecil. nah di situ kita belok nanti makamnya ada di sebelah situ" Nada memberikan arah ke mana mobil itu harus melaju menuju ke makam sang ibu.


" Baik non" pengemudi mobil itu seakan patuh dengan apa yang dikatakan oleh nada. Ia pun melajukan mobilnya secara perlahan.


Tak ada 5 menit waktu perjalanan menuju ke makam. Mereka telah sampai di sebuah pemakaman umum di desa tersebut. Tanpa permisi nada pun membuka pintu dan langsung keluar dari mobil menuju ke tempat di mana ibunya berada. Berjalan-jalan mencari di sekitar Komplek pemakaman. Iya melihat sebuah nisan yang bertuliskan nama ibunya. Dengan cepat Nada menghampiri dan menunduk.


"Ibuu... Nada kangen" Ucapnya dalam hati. Iya tak peduli jika Daffa dan Hana sudah berada di belakangnya. Tak ada suara yang keluar dari bibir mungil Nada. Hanya terdengar suara isakan. Terdengar begitu menyayat hati. Hana yang sudah tak kuat menahan diri mendengar kesedihan Nada, iya segera merangkul Nada dari samping.


"Bersandarlah sayang... Lepaskan semua kesedihanmu. Ibu siap menghapus semua kesedihanmu" Ucap Hana dengan menahan deraian air mata yang akan terjatuh. Tanpa ragu, Nada pun memeluk Hana dengan erat.


"Terlihat luka yang menggores begitu perih dari sorot mata Nada" Hana berkata dalam hati. Nada pun masih memeluknya.


Beberapa saat kemudiqn, Nada melepaskan pelukannya pada Hana. Iya segera mengatur nafasnya dan menetralkan suasana. Setelah mengusap air matanya, Nada kembali menghampiri batu nisan di depannya. Terlihat terawat dan rapi. Tak ada rumput liar tumbuh di atasnya.


"Pasti abah sama ummi merawat makam ibu dengan baik. Makanya tidak ada rumput liar disini" Gumamnya sambil memandang kearah Hana.


"Bapak bisa mimpin tahlil? Nada boleh minta tolong untuk ngirim do'a ke ibu ya" Nada meminta kepada Daffa. Dan Daffa pun menganghuk. Akhirnya mereka pun dengan khusyu' mengirimkan do'a.


Hampir 1 jam Nada dan yang lain berada di sana. Mereka pun kembali ke pesantren. Kecuali Daffa. Iya masih berdiri di samping makam ibu Nada.

__ADS_1


"Bu... Saya minta izin untuk meminang Nada untuk anak saya Arsyad. Saya pastikan jika Nada akan bahagia bersama putra saya. Karena putra saya sangat mencintai anak ibu" Ucap Daffa lirih tanpa di dengar oleh Nada ataupun Hana yang sudah terlebih dahulu pergi.


"Nada... Ada hal yang ingin saya bicarakan sama kamu" Ucap Daffa kepada Nada setelah mereka berada di dalam mobil.


__ADS_2