
Haidar merasa heran dengan apa yang diserahkan kepadanya oleh orang di depannya itu. Iya Pun mengambil amplop putih itu. karena merasa tak mengerti dengan maksud orang di depannya, menoleh ke arah Arsyad. Mereka pun memberi isyarat dengan mengangguk.
"I... Ini orang yang sudah menyuruh saya. dia mengancam saya sebelum melakukan ini semua agar saya tutup mulut. Dia memberi saya uang yang cukup banyak, dan berharap agar saya menghilangkan semua jejak kejahatannya" jelas orang tersebut yang telah diketahui bernama Prayoga.
" saya sudah memberitahu kepada Anda tuan. jadi tolong selamatkan keluarga saya. Saya berjanji tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi. dan saya akan menjadi salah satu pekerja Tuhan yang setia" Ucap Prayoga dengan ketakutan. Arsyad dan Haidar yang Mendengar pun merasa jika orang tersebut benar-benar membutuhkan bantuan.
" kalau begitu untuk sementara, kamu harus mengerti semua yang saya inginkan. baru setelah kamu menepati janjimu saya pun juga akan menepati janjiku" ucap Haidar sambil membuka amplop putih yang berada di tangannya.
" sebenarnya motif orang tersebut melakukan ini semua apa? " tanya Haidar sambil menatap tajam ke arah orang yang bernama Prayoga tersebut.
" Untuk itu saya kurang paham tuan, Saya hanya disuruh dan diberi uang yang lumayan banyak untuk melakukan ini semua. dan orang tersebut tidak memberitahu apa motif dari semua ini" Prayoga tampak gugup menjawab pertanyaan dari Haidar.
__ADS_1
" Dari mana kamu kenal dia? " Haidar pun terus bertanya.
"Saya diperkenalkan oleh seseorang tuan" Jawab Prayoga.
"Apa kakek sudah bisa ditanyai kak? mungkin kakek masih punya urusan yang belum seleaai dengan orang ini. Bagaimana kalau kita tanya saja" Haidar mendengarkan apa yang di katakan oleh adik angkatnya. Iya pun mengangguk.
"Kamu tunggulah disini dulu. Jangan kemana-mana sebelum aku kembali kesini" Haidar bangkit dari duduknya lalu berjalan mengikuti Arsyad yang sudah terlebih dahulu melangkah menuju ke arah pintu.
"Akan semakin rumit kalau aku tidak jujur. Aku merasa tuan Daffa dan keluarganya akan lebih bermurah hati memaafkanku" Gumam prayoga dengan mata terpejam.
Setibanya di ruangan kakek Wira, Arsyad dan Haidar segera mendekati. beruntung kakek wira sedang dalam keadaan berjaga. sehingga harus siap dan hai ride lagi tak perlu membangunkan nya.
__ADS_1
" kakek... Kenapa tidak beristirahat" katanya Haidar saat ia sudah berada di dekat kakeknya sambil mendaratkan pantat di atas kursi yang tersedia. namun kakek Wira hanya tersenyum menanggapi apa yang cucunya katakan.
" apa ada sebuah petunjuk? " seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh cucu-cucunya itu, kakek Wira bertanya secara langsung.
" sebenarnya kek, kita sudah mengetahui Siapa yang sudah berencana buruk kepada kakek" Arsyad pun menjawab sambil menatap kakek yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
" katakan saja Sebenarnya apa yang ingin kalian sampaikan" kakek berbicara dengan menatap langit-langit kamar ruangan yang menurutnya begitu pengap.
" apa kakek mengenal seseorang yang bernama Alisa? " dengan secara langsung Haidar mengatakan tanpa harus menunda-nunda atau berbelit-belit.
"Alisa? " Kakek kembali tertanya. Iya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dan di detik berikutnya, kakek menggeleng. Harapan Arsyad dan Haidar pupus seketika. Dengan cepat, Haidar menunjukkan sebuah foto kepada kakek. Setelah mengamati beberapa saat, kakek masih tetap menggeleng. Tiba-tiba, Arsyad merasa pernah melihat dan ingat siapa orang di foto tersebut.
__ADS_1