Kekasih Halal Ceo Tampan S2

Kekasih Halal Ceo Tampan S2
Keselamatan


__ADS_3

Dirumah Nada, gus Zidan merasa bersalah atas hilangnya Nada. Abah Ayub dan ummi Nafi pun tak kalah paniknya. Mereka mengkhawatirkan keselamatan Nada.


"Apa yang harus kita lakukan bah, kasihan Nada" Ummi Nafi berkata sambil mengusap air matanya.


"Zidan, kita harus nyari kemana Nada" Ummi Nafi terus melontarkan pertanyaan yang semakin membuat bingung.


"Ummi tenang dulu. Zidan sudah melapor ke kantor polisi. Kita berdo'a saja semoga Nada tidak apa-apa" Abah Ayub berkata dengan lembut kepada istrinya. Sedangkan Zidan hanya terdiam. Iya menyalahkan diri sendiri karena tidak becus Nada. Mereka semua dalam ketakutan.


Di villa tempat Nada disekap, Nada mendengar keributan diluar sana. Dia segera melompat keluar jendela. Diperhatikannya mereka sambil duduk. Mereka yang diluar sedang berjuang untuk melawan pengawalan dari Welly. Terasa sedikit sulit melumpuhkan mereka karena mereka terlalu kuat. Disaat yang sama, Hendra menyelinap menjauh dari klompotan mafia itu. dan bersembunyi di samping Gazebo. Dengan segera iya mendongak ke atas melihat dimana Nada berada. Setelah smartwatchnya menyala, iya menghubungi Nada. Nada dengan sigap menjawab.


"Keluarlah..." Ucap Hendra.


"Aku sudah dibalkon bang" Nada menjawab dengan pelan.


"Berdirilah, segera" Hendra mendongak memastikan Nada sudah berdiri. Setelah terlihat, iya segera melemparkan sesuatu ke Nada. Dengan cekatan Nada menangkapnya dan langsung bersembunyi kembali. Mereka memang sudah terlatih untuk melakukan hal-hal kecil dengan benar.


"Sekarang kembalilah" Hendra berkata lalu mematikan panggilan. Tiba-tiba seseorang mengarahkan pisau ke arahnya. Karena tanpa persiapan apapun, pisau itu mengenai punggung dan lengannya.


"Beraninya kalian menyerang pengawalan kami. Kalian memang mau cari mati" Ucap orang tersebut. Saat orang tersebut akan mengarahkan pisaunya kembali, Hendra segera menangkapnya. Akhirnya Hendra bertahan dengan memegang pisau ditelapak tangannya. Sedangkan musuh terus menyerang dengan menggerak-gerakkan pisau tersebut.


"Nada dengan cepat berjalan mengendap-endap masuk kekamar. Iya mendekat dan mencoba membuka pintu, tapi masih terkunci. Dengan terpaksa dia mengeluarkan pistol pemberian Hendra. Dengan cepat menarik pelatuk ke arah rumah kunci.


'Door' Suara tembakan terdengar menggema. Nada lupa mengaktifkan peredam suaranya. Setelah rumah kunci pintu itu rusak, Nada menyembunyikan pistolnya. Dengan segera iya membuka pintu didepannya. Namun baru akan keluar. Seseorang menghadangnya. Welly beserta ke dua anak buahnya.

__ADS_1


"Berani kabur? " Welly berkata dengan tatapan tajamnya. Nada segera menarik pistol yang dia sembunyikan. Dan mengarahkan ke arah Welly.


"Kalau kamu berani maju satu langkah pun. Aku akan meledakkan kepalamu" Ucap Nada dengan tenang. Namun sebenarnya iya sangat gugup. Welly dengan tubuh gemetaran terpaksa berhenti. Dia tidak memiliki senjata apapun. Sedangkan kedua pengawalnya hanya memiliki pisau sebagai senjata tajamnya. Welly menaruh senjata apinya dikamar. Sesaat setelah mendengarkan ledakan dikamar Nada, iya segera berlari untuk memeriksa. Dan ternyata Nada sudah meluluh lantakkan kunci pintu kamar tersebut.


"Sekarang berlututlah. Dan kalian, turunkan semua senjata kalian" Nada berkata dengan lantang.


"Nada... Kamu jangan main-main. Kamu bisa membunuh kita semua" Ucap Welly.


"Cepat lakukan apa yang aku katakan, sebelum aku menarik pelatuk ini" Nada Masih terus menodongkan pistolnya. Sambil sesekali iya berjaga-jaga jika ada yang memberontak.


Diluar, Hendra yang berjuang masih terus memegang pisau itu. Darah sudah menetes dari telapak tangannya. Punggung dan lengannya pun tak luput mengeluarkan darah. Hendra merasa sudah tidak mampu untuk melawan lagi. Iya kehabisan tenaga. Orang didepannya masih terus menyerangnya. Akhirnya Hendra ambruk. Hal itu tak di biarkan oleh musuh. Dia segera menghajar Hendra dengan membabi buta. Setelah dilihat Hendra sudah tak berdaya, Iya mengambil pisaunya lagi. Saat akan menancapkan pisau tersebut ke perut Hendra, Sebuah suara tembakan terdengar tak jauh dari lokasi mereka berdua. Seseorang berhasil melumpuhkan orang tersebut. Yaitu Vian, Iya menembak tepat di betisnya. Hingga orang tersebut ambruk tak mampu menopang berat berdannya sendiri.


"Hendra" Segera setelah orang tersebut ambruk, Vian membantu Hendra. Iya membopong Hendra dan meletakkannya di gazebo.


"Bertahanlah Hen, aku akan segera kembali" Ucap Vian. Hendra tak menjawab karena memang sudah tak berdaya.


'Sees sees' Suara pistol setelah peredam suara diaktifkan. Dengan segera 2 orang musuh jatuh seketika. Vian menembak tepat di betis mereka. Setelah musuh jatuh, Vian segera menyuruh pengawal untuk ke mobil sambil membopong Hendra yang sudah tak sadarkan diri.


Tampak dari dalam villa, Nada sedang menggiring 3 orang sambil menodongkan pistol ditangannya. Vian tersenyum melihat kejadian ini.


"Bang, urus mereka" Nada berkata dengan gugup.


"Kalian, ikat mereka" Vian menyuruh beberapa pengawal untuk mengikat Welly dan kedua anak buahnya. Setelah mereka semu diikat, Nada menurunkan pistolnya.

__ADS_1


"Nada, kamu ngga apa-apa? " Tanya Vian. Iya berlari mendekati Nada.


"Hubungi pusat kesehatan terdekat" Ardi menginstruksi. Seorang pengawal segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi puskesmas terdekat.


"Bang Hendraaa... " Nada berlari kearah mobil, namun ditahan oleh Vian.


"Nada, kita selesaikan dulu mereka. Kalian cepat bawa Hendra ke pusat kesehatan terdekat" Vian berkata. Iya segera mengajak Nada kembali mendekat.


"Nada... Tolong maafkan kami" Ucap Welly. Iya merasa menyerah. Seluruh pengawalnya sudah dilumpuhkan.


"Aku akan memafkanmu. Tapi dengan satu syarat" Nada berkata.


"Ternyata kamu bukan gadis biasa. Maafkan aku. Aku akan menuruti persyaratanmu" Welly dengan ketakutan menyanggupinya.


"Kalau kalian masih ingin melanjutkan hidup dengan baik dan tenang. Pergilah dari sini. Atau aku akan menghancurkan hidupmu lebih sadis dari yang kalian fikirkan" Nada berkata dengan tenang dan penuh penekanan. Hal itu membuat nyali Welly semakin menciut. Terdengar sangat menakutkan. Tiba-tiba suara deru mobil memasuki halaman. Sang pemimpin mafia datang dengan wajah penuh emosi. Dialah papa dari Welly. Iya mendapat telepon dari salah satu pengawalnya jika markasnya diserang. Dengan segera iya melihat, siapa yang berani merusak kesenangan putra kesayangannya. Dia turun dari mobil dengan raut wajah yang menakutkan. Pandangannya seolah akan membunuh siapapun yang ditatapnya.


"Kalau anda berani mendekati gadis itu, maka hidupmu akan berakhir detik ini juga" Tiba-tiba suara yang pernah ditakutinya terdengar sangat nyaring ditelinganya. Iya menoleh dan mendapati seseorang menatap dirinya dengan tatapan dingin.


"Tuan Vian... Anda... Anda yang...." Ucapan papa Welly terhenti saat tahu jika itu adalah suara orang yang pernah membuatnya terjatuh.


"Iya, aku disini. Berani kamu menyentuh gadis itu, aku akan menghancurkan hidupmu hanya dalam hitungan detik. Sekali jentik, kamu akan kehilangan semuanya. Termasuk putra kesayanganmu itu" Vian berkata dengan tanpa memandang ke arah lelaki paruh baya itu.


"Tuan Vian, saya dan anak saya tidak akan mengganggu gadismu lagi. Tapi tolong selamatkan hidup kami" Papa Welly berkata dengan ketakutan.

__ADS_1


"Pergilah... Dan anggap semuanya tidak pernah terjadi. Jika aku tahu kamu berurusan dengan kita semua, saat itu juga hidupmu akan hancur sehancur-hancurnya" Vian berjalan mendekat ke arah lelaki paruh baya itu dan berbisik.


"Ayo neng" Vian menarik tangan Nada dan mengajaknnya pergi dari tempat itu.


__ADS_2