
Nada membuka pintu di pagi yang cerah. Namun ia tak bisa pergi ke sekolah pagi ini. Ada hal penting di kantor pusat yang mengharuskan Nada datang ke sana untuk menyelesaikan tugas yang telah diembannya selama ini.
" Duh ngapain sih mesti ke kantor pusat. Kalau kayak gini aku bisa ketinggalan pelajaran. Mana bentar lagi ujian lagi" Nada menggerutu sambil menuntun sepeda motornya keluar dari halaman rumah.
" Udah tahu aku sekolah, masih aja dikasih tugas. Seberat ini lagi..." Sambil menyandarkan sepeda motornya, Nada masih tetap menggerutu. Setelah selesai menutup pintu gerbang dan menguncinya, ia mengenakan helm lalu berangkat. Sepagi ini iya berangkat karena tak ingin ada orang yang mengetahui jika ia akan pergi ke kantor pusat.
" Bismillahirohmanirohim... bismilahi tawakaltu alallah La haula wala quwwata illa Billah" doa yang ada baca sebelum dia keluar dari rumahnya. Dan di belakangnya dua orang yang selalu setia menjaga dirinya mengikuti pelan-pelan. Mereka juga tak ingin jika orang lain mengetahui jika Nada ada yang menjaga atau mengawal.
Di tengah perjalanan yang belum terlalu ramai, nada mengemudikan sepedanya sedikit kencang. Kecepatan melajunya di atas rata-rata biasa ia mengendarai. agar supaya dia cepat sampai di tempat tujuan.
" Bismillahirohmanirohim... mumpung jalanan masih sedikit sepi Lebih baik aku cepat saja" gumam nada yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
Pov Arsyad dan Keluarga.
" Papa Pagi ini kita bisa memulainya kan? " Arsyad yang menghadap ke layar monitor bertanya ke Papanya karena ia tak ingin gegabah dalam bertindak.
" kita tunggu informasi dari pengawal yang mengantarkan Prayoga. Semalam Prayoga sudah pergi beserta keluarganya. sebenarnya Papa tidak tega membiarkan semoga membawa kedua orang tuanya yang masih sakit dan istrinya yang sedang hamil. tapi papa lebih tidak tega jika harus melihat kekejaman Alisa menyiksa mereka. Papa akan sekali lagi memastikan jika Prayoga dan keluarganya sudah benar-benar aman" sambil berkata ternyata Daffa sudah mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
'Tut tut tut' suara panggilan menyambung. dan tak lama setelahnya seseorang menjawab dari seberang telepon.
" bagaimana... Apakah mereka sudah benar-benar aman? " tanya Daffa ketika panggilan telah tersambung dan suara dari seberang telepon telah dia dengar.
" sudah tuan... mereka aman di tempat baru ini. kami memastikan jika orang-orang suruhan Nona Alisa tidak akan ada yang tahu jika Prayoga beserta keluarganya pindah ke sini" jawab seseorang di seberang telepon kembali.
" bagus... perintahkan dua orang untuk tetap menjaga mereka sampai keadaan kembali aman" Daffa memberikan perintah.
" baik tuan akan kami laksanakan dengan baik" jawabnya kembali.
" terima kasih" setelah mengucapkan terima kasih Dafa pun memutus sambungan telepon.
"Baik pa... Semua akan aku lakukan dengan baik" Arsyad mengangguk, dan iya mulai mengotak-atik layar yang sedang menyala di atas meja di depannya. Di perhatikan oleh sang Mama, Arsyad tak menoleh sedikitpun. Iya sedang fokus pada apa yang telah diperintahkan Daffa. Tak boleh terlewat sedikitpun dan tak boleh membuat kecewa Daffa.
Beberapa kali Arsyad mengetikkan sesuatu, lalu memencet mouse di tangan kanannya. Entah apa yang sedang dilakukan. Faris hanya bisa menahan diri untuk membantu. Dia akui dia juga bisa, tapi masih kalah jika dibandingkan dengan Arsyad dan Hana. Jadi dia hanya memandang saja. Sesangkan Daffa menyandarkan punggungnya di sofa lalu meletakkan kepalanya juga. Menatap langit-langit kantor perusahaan. Tangan yang semula iya letakkan di tangan dan kirinya kini berpindah menutupi wajahnya.
" Astaghfirullahaladzim..." terdengar suara Daffa menghembuskan Nafas panjang. sejenak iya memejamkan matanya. terasa begitu tenang dan menghanyutkan. dinginnya ruangan ber-ac membuatnya semakin hanyut dirangkul rasa kantuk.
__ADS_1
"Beres pah" belum sempat bilang rasa kantuk yang dirasakan oleh Daffa, Arsyad sudah memanggilnya.
" Papa bisa lihat nggak lama aku bekerja dan semuanya pekerjaanku sudah selesai" Arsyad tersenyum memandang ke arah monitor.
" kita lihat sebentar lagi pasti akan ada berita tentang kehancuran seorang Alyssa" ucap Arsyad.
" Biar Papa periksa terlebih dahulu" Daffa pun mendekat ke arah monitor yang menyala lalu mengamatinya. tak lama Ia pun kembali duduk sambil tersenyum.
" kamu memang selalu bisa diandalkan. tak sia-sia mamamu mengajari semuanya" Daffa menepuk pundak putranya dengan bangga.
" tak ada yang sia-sia, Semua demi kebaikan bersama" kali ini Hana ikut berbicara.
" jangan berbangga hati Sayang, semua yang kita miliki hanyalah titipan. jika Tuhan sudah berkehendak, semuanya akan hilang dalam sekejap. termasuk ilmu" Hana melanjutkan ucapannya.
Sedangkan di belahan dunia yang tak jauh-jauh amat dari tempat Daffa dan keluarganya berada. seluruh staf Kantor Perusahaan milik Alyssa merasakan panik. terutama mereka yang berada di staff it. Bagaimana tidak, seluruh sistem yang mereka gunakan mendadak berhenti dan tak dapat digunakan sama sekali.
" Eh lololo... Kenapa ini komputernya kok macet" celoteh seorang staf administrasi di perusahaan Alisa.
__ADS_1
" Paling juga lagi gangguan... lumayanlah bisa nyantai sebentar" jawab salah seorang staf di samping staf yang berbicara tadi. Iya langsung meregangkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya ke kursi yang diduduki. namun di bagian lain juga sama seperti itu.
Sedangkan staff it sedang berusaha keras untuk membuat sistem kembali normal. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan tepat di saat itu pula Alyssa Tengah berada di ruangannya bersama suaminya. Mereka belum menyadari semuanya.