Kekasih Halal Ceo Tampan S2

Kekasih Halal Ceo Tampan S2
Prasangka Arsyad


__ADS_3

Arsyad melihat dan menatap sekelilingnya. Terlihat om dan tante Haidar yang juga sepertinya khawatir.


"Sepertinya mereka tidak sedang ketakutan. Tapi... dari ekspresi wajahnya, mereka terlihat khawatir. Apa aku yang salah" Gumam Arsyad dalam hati. Iya terus memperhatikan dua orang itu tanpa terlihat.


"Kalau bukan mereka yang merencanakan semuanya, lalu siapa? " Arsyad berfikir. Namun di tengah-tengah kebingungannya, ada yang menepuk pundaknya.


"Ini pesanannya" Arsyi menyadarkan Arsyad.


"Apa da? " Arsyi mengerutkan kening mendengar pertanyaan Arsyad.


"Ini, orang suruhan papa bawain yang kamu minta" Arsyida mengatakan sambil melirik ke belakang. Dan Arsyad pun berbalik ke belakang.


"Oh, maaf... Taruh aja dulu diruangan biasa, letakkan di meja" Setelah berkata orang suruhan Daffa yang datang itu langsung masuh ke ruangan yang dimaksud. Tak lama setelah itu Daffa datang.


"Kamu ke sana saja Syad. Lakukan aja apa yang mau kamu lakukan. Nanti papa kabari kalau kakek sudah keluar dari ruang ICU" Ucap Daffa.

__ADS_1


"Arsyi ikut Arsyad ya pa" Arsyi yang merasa lelah juga ingin ikut Arsyad agar bisa istirahat. Daffa pun mengangguk. Iya mengerti jika putrinya itu juga lelah. Dan disaat Arsyi hendak melangkah, iya menatap ke arah Haidar.


"Tapi aku ngga tega ninggalin kak Haidar" Batin Arsyi. Ternyata pandangannya diikuti oleh Daffa.


"Bilang aja dulu, Haidar pasti tahu" Ucap Daffa mengerti maksud tatapan putrinya.


"Kamu ikut Arsyad saja ya sayang. Aku nungguin kakek disini" Haidar berkata dengan lembut kepada Arsyi. Berkat ucapannya itu, Arsyi merasakan suatu getaran aneh didirinya. Seakan hatinya berdesir bagai tertiup dinginnya angin, menembus relung hati hingga darahnya mengalir lebih deras. Iya pun tersenyum lalu menunduk.


"Iya" Sambil menjawab Arsyi tersenyum. Membuat Haidar semakin merasa gemas kepada calon istrinya itu. Iya meletakkan tangannya ke atas kepala Arsyi lalu mengusapnya pelan. Iya balas tersenyum lalu mengangguk.


"Istirahat ya, jangan terlalu capek" Haidar menambahkan ucapannya. Arsyi lagi-lagi menjawab dengan mengangguk.


Di ruang yang dirancang khusus untuk keluarga pemilik rumah sakit, Arsyad segera mecharger tabnya. Lalu menyalakan laptopnya. Sedangkan Arsyida, iya merebahkan tubuhnya ke sofa. Merasakan pegal diseluruh tubuhnya.


"Siapa sebenarnya yang sudah berani menggangu keluarga kita" Gumam Arsyad disaat laptopnya sudah menyala. Arsyi yang mendengar itu pun segera bangkit dari tidurnya lalu mendekati Arsyad.

__ADS_1


"gimana? " Arsyi duduk disamping saudara kembarnya lalu melihat tampilan di laptop.


"Masih proses" Jawab Arsyad tanpa menoleh. Setelah saling diam karena memperhatikan tampilan di layar laptop beberapa saat, Arsyad menoleh karena sejak datang dan bertanya, Arsyi tidak ada suaranya.


"Ya elah... bocah. Baru aja ngomong ngga ada 5 menit udah pules. Baru saja selesai berkata, pintu terbuka. Datanglah Hana dan menghampiri kedua anaknya.


"Mama..." Arsyad berkata sambil melihat siapa yang datang.


"Adekmu tidur ini? " Hana berjalan mendekat ke arah Arsyad dan Arsyi.


"Baru aja ma, kirain mau bantuin, ternyata malah molor" Jawab Arsyad kepada mamanya.


"Arsyi, bangun nak. Sana pindah ke dalem" Ucap Hana lembut sambil mengusap punggung tangan putrinya itu. Namun tak ada pergerakan sama sekali. Dan yang ada malah terdengar suara tenang hembusan nafas Arsyi.


"Syad, tolong angkat saja adikmu, nanti mama bantu. Mungkin dia lelah" Hana meminta tolong. Tanpa menjawab, Arsyad segera mengangkat Arsyi, membopongnya dengan hati-hati. Sedangkan Hana membukakan pintu. Setelah meletakkan Arsyi, Arsyad keluar dari kamar dan kembali duduk.

__ADS_1


"Ampun sih Arsyi, pules banget tidurnya" Gumam Arsyad sambil mendaratkan pantatnya di sebuah kursi di depan lapto yang sudah menyala.


"Namanya juga lelah Syad, Sini mama bantu. Biar cepat selesai" Ucap Hana dengan menggeser kursi untuk bisa melihat dan membantu sang putra.


__ADS_2