
Disebuah ruangan, Nada mulai terbangun dari pengaruh obat bius yang membuat dirinya pingsan.
"Sial... Siapa yang melakukan ini" Kepala Nada terasa pusing, Iya segera bangkit dan mencari tas selempang yang bawa tadi. Namun tidak ada.
"Huh, mereka mengambil tasku. Untung tadi aku ngga bawa tablet" Gumam Nada. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekati kamar. Dan saat pintu akan terbuka, Nada langsung membaringkan tubuhnya lagi. Iya berpura-pura tidur. Terdengar pintu terbuka, terdengar beberapa langkah orang masuk.
"Belum sadar juga dia? " Tanya seseorang. Namun Nada masih ingat dengan jelas suara itu.
"Itu suara Welly kan? " Batin Nada. Iya tak mungkin bangun dan melawan. Tubuhnya masih terasa lemas karena obat bius itu.
"Belum tuan" Jawab seorang lelaki.
"Biarkan dia sadar, setelah itu aku akan membuatnya menyesal" Ucap Welly dengan seringai jahat diwajahnya.
"Baik tuan muda" Sambil memejamkan mata, Nada terus mendengar perkataan mereka. Setelahnya, iya mendengar langkah kaki semakin menjauh dan pintu pun tertutup. Setelah merasa yakin tidak ada orang disana, Nada perlahan membuka mata.
"Welly? Aku ngga salah dengar kan. Itu tadi benar suara welly si berandal sekolah itu" Batin Nada masih dalam keadaan berbaring. Iya teringat akan smartwatchnya.
"Bang Vian, aku harus menghubungi mereka. Abah Ayub sama ummi Nafi juga pasti sedang bingung saat ini" Nada bergumam. Iya membuka jamnya perlahan. Lalu mengaktifkan fiturnya. Setelah aktif, ada beberapa panggilan di ponselnya. Memang jam tersebut terhubung dengan ponselnya. Untuk berjaga-jaga dalam keadaan darurat seperti saat ini. Nada segera mengirim pesan kepada tim nya meminta bantuan. Belum sempat melakukannya, tiba-tiba smartwatchnya bergetar. Panggilan dari Vian masuk, dan Nada segera mengangkatnya.
"Da, kamu dimana? " Tanya Vian.
"Ngga tahu bang, aku sharlok" Nada menjawab dengan berbisik.
"Ngga perlu Nad. Tadi pengawalmu bilang kamu dibawa sama orang saat keluar dari gramedia. Mereka tidak bisa membantumu karena mereka mengemudi terlalu kencang. Setelah tahu siapa yang bawa kamu, mereka kembali dan tidak berani langsung menyelamatkan kamu jika hanya berdua. Kamu dibawa ke sebuah rumah dan rumah itu pengawalannya sangat ketat" Bang Vian berkata. Sebenarnya iya sudah menuju ke lokasi dimana Nada di sekap. Namun iya menghubungi Nada untuk memastikan jika gadis itu baik-baik saja.
"iya, abang cepat kesini" Bisik Nada.
"Oke" Panggilan pun berakhir.
"Aku harus hubungin abah. Biar mereka tidak terlalu panik" Gumam Nada. Namun saat akan memencet nomornya, kunci pintu terdengar ada yang membuka. Nada segera memejamkan matanya lagi.
__ADS_1
"Siapkan senjata untuk Nada. Anak itu pasti tidak membawa apa-apa" Vian mengintruksi kepada seorang pengawal.
"Disana pengawalan ketat. Kita harus berhati-hati" Hendra mengingatkan. Semuanya mengangguk.
"Yang nyulik Nada benar-benar kelompok mafia itu ya? " Tanya Ardi. Iya terlihat berfikir.
"Entahlah siapa sebenarnya mereka. Kalau ada yang mengetahui identitas Nada yang sebenarnya. Dia tidak akan bisa berkutik. Kasihan Nada" Sahut Hendra.
"Tentunya pengawalan harus lebih ketat lagi terhadapnya. Sedangkan Nada tidak suka itu" Vian mengimbuhi.
"Sudah... Yang penting Nada selamat dulu ini" Mereka pun segera berangkat ke lokasi dimana Nada berada.
Welly masuk dan melihat Nada yang terpejam. Iya mulai mendekat dan duduk di ranjang disamping Nada. Dipandangnya wajah Nada yang terlihat tenang. Sangat cantik dalam balutan jilbab instan berwarna ungu. Tanpa sengaja Welly tersenyum saat memandang keindahan ciptaan Tuhan di depannya. Perlahan tangannya menyentuh wajah Nada. Menyusuri wajah halus Nada dengan mata yang terpejam.
"Bajingan... Brengsek... Berani sekali dia nyentuh aku" Batin Nada tidak suka pipinya mendapat sentuhan dari orang jahat seperti Welly. Terutama bukan muhrimnya.
"Kalian... Jangan Biarkan dia kabur dari sini. Aku tidak akan menyentuhnya malam ini. Tanganku masih belum sepenuhnya pulih"
"Alhamdulillah... Allah masih melindungiku" Setelah Welly keluar. Nada menghela nafas lega.
"Bang Vian kok belum datang ya. Kalau aku berontak, otomatis aku akan kalah karena mereka banyak. Aku tidak akan bisa melawan" Gumam Nada sambil berjalan ke arah jendela. Dibukannya gorden jendela lalu membuka daun jendela. Perlahan angin malam terasa menerpa tubuhnya. Nada melihat keluar dan menatap kebawah.
"Astaghfirullahaladzim... Setinggi ini. Kalau mau kabur gimana caranya. Dibawah mereka juga banyak. Mondar-mandir lagi" Nada bergumam.
"Aku tidak akan membiarkan kamu seenaknya sendiri Welly" Nada berkata dalam hati. Tiba-tiba smarwatchnya bergetar. Hendra menghubunginya.
"Iya bang" Ucap Nada sesaat setelah panggilan terhubung.
"Kamu siap-siap. Kamu ngga bawa senjata kan? " Ucap Hendra dari seberang telepon.
"Ngga bang. Tas aku aja diambil sama mereka. Ini pakai SW" Nada berkata.
__ADS_1
"Kamu disebelah mana? "
"Dilantai 2 bang ini" Nada memandang keluar mencari sosok Hendra, namun tak terlihat juga.
"Kamu cari tali. Setelah kita berhasil melumpuhkan penjaga, aku bakal gantungin pistol di tali itu" Hendra berkata.
"Bisa lempar aja bang. Ini jendelanya ga ada tralis. Juga ngga dikunci permanen, aku bisa keluar. Tapi ngga berani turun" Nada berkata.
"Oke"
"Nanti kalau abang sudah berhasil melumpuhkan penjaga, kamu loncat dari jendela ya. Menuju balkon, abang lemparin pistolnya" Hendra terdengar sangat khawatir.
"Oke" Nada mengangguk dan menjawab. Panggilan pun berakhir. Nada kembali menutup gorden dan jendela tanpa mengunci lalu kembali ke tempat tidur.
Sedangkan diluar, Vian, Hendra, Ardi dan beberapa pengawal mulai turun dari mobil. Sebelumnya, Vian memberi istruksi.
"Ingat, pistol kalian harus mode senyap. Jangan sampai menimbukan kebisingan. Cepat aktifkan peredam suaranya" Setelah Vian berkata, mereka perlahan berjalan mengendap-endap mendekat ke pintu gerbang.
"Biar aku mengalihkan perhatian mereka. Kalian masuk" Hendra mengusulkan.
"Jangan sendiri, bersamalah dengan salah satu pengawal. Ini sekelompok mafia besar. Jangan macam-macam" Ardi menjawab karena tidak ingin terjadi apa-apa dengan temannya. Hendra pun mengangguk.
"Bius kalian sudah siap? " Tanya Vian. Yang lain menjawab dengan anggukan kepala. Mereka mengeluarkan alat spray yang bisa menyemprotkan dari jarak jauh.
"Kamu urus 2 penjaga. Hendra urus mereka yang diteras. Dan aku bakal urus mereka bertiga yang digazebo. Masing-masing pengawal ikut kita satu-satu" Setelah Vian berkata. Mereka segera berpencar.
Ardi mendekat ke arah 2 penjaga yang mondar-mandir. Dengan cepat menyemprotkan bius Spraynya dengan tepat di hidung penjaga itu. Tak ada 2 menit, mereka terkapar tak berdaya. 2 orang di teras segera berlari saat tahu temannya pingsan.
"Kalian kenapa. Bangun" Ucap seseorang. Tanpa sadar mereka sudah diincar. Lalu dengan cepat Hendra menyemprotkan biusnya kembali. Mereka pun ikut pingsan. Melihat teman-temannya terjatuh, 3 orang di gazebo segera mendekat. Mereka sudah curiga karena pingsannya 4 orang teman mereka.
"Ada penyusup, Segera periksa seluruh tempat" Ucap seseorang dengan lantang. Tak lama kemudian dari dalam rumah keluar beberapa orang. Tim Vian yang bersembunyi tidak bisa melarikan diri. Mereka dengan segera keluar dari persembunyian. Akhirnya terjadilah perkelahian antara kelompok mafia itu dan kelompok Vian. Mereka berkewajiban menyelamatkan Nada walaupun harus mengorbankan nyawa sendiri. Karena Nada adalah seorang aset negara yang sangat penting.
__ADS_1