
Arsyad menunggu di luar ruang ganti berukuran 1 x 1 meter itu. Dirinya merasa tak sabar menanti Nada untuk keluar. Tak lama setelahnya, terdengar pintu itu terbuka. Saat Arsyad menoleh, terlihatlah seorang gadis cantik dengan balutan busana muslim yang sangat cocok untuknya. Entah syetan apa yang merasuki fikiran Arsyad. Dia memandang Nada tanpa berkedib.
"Haloo... Mas Arsyad... Haloo. Mas..." Nada melambaikan tangan di depan wajah Arsyad. Saat telah sadar, iya tergagap menyahut panggilan Nada.
"Mas Arsyad lihat apa? Dipanggil-panggil ngga nyahut sama sekali" Ucap Nada. Terdengar suara kasak-kusuk dari para karyawan toko baju itu. Mereka terlihat tersenyum memandang ke cengoh an Arsyad.
"Maaf... Anu tadi... Ehh, ya sudah ayo kita pulang" Arsyad merasa malu dengan apa lakukan. Iya segera menarik tangan nada untuk menuju ke kasir. namun sebelum melangkah menjauh dari para karyawan toko baju tersebut, harga berhenti dan mengatakan sesuatu.
" teruslah tersenyum sendiri, jangan menyesal kalau besok kalian sudah tidak bisa bekerja di sini lagi" Arsyad segera berlalu meninggalkan mereka yang langsung terdiam tak berkutik.
Setelah tiba di kasir, masjid segera mengeluarkan dompetnya. Iya mengambil sebuah kartu dan menyerahkan kepada petugas kasir.
" ini beneran mas yang bayar?" bisik nada di belakang Arsyad. namun Arsyad hanya terdiam tak menjawab apapun. setelah petugas kasir tersebut mengembalikan kartunya, Arsyad kembali menarik lengan nada menuju ke mobil. setelah membukakan pintu untuk gadis SMA tersebut, Arsyad kembali menutupnya. Iya pun berlari menuju kursi kemudi.
di dalam mobil, mereka awalnya tak berbicara sama sekali. namun Nada bertanya untuk mencairkan suasana.
" kita mau ke mana. ini kan bukan jalan menuju rumahku? " nada terlihat heran ke mana Arsyad akan membawanya pergi.
"Ke tempat kak Haidar" Jawab Arsyad singkat. Nada tak berbicara lagi. Iya terdiam menatap jalanan yang terlihat padat.
"Nad..." Panggil Arsyad kepada gafis cantik disampingnya sambil fokus pada setir kemudinya.
"Iya" Nada tanpa menoleh menjawab.
"Pertanyaan aku waktu itu bagaimana? " Arsyad bertanya dengan suara pelan. Iya tak berani menatap Nada yang saat ini sudah menoleh ke arahnya.
"Per... Pertanyaan yang mana? " Nada terlihat bingung. Iya tak ingat pertanyaan Arsyad yang mana yang sedang dibahasnya saat ini.
__ADS_1
"Aku serius mau ngajakin kamu nikah Nad" Ucapan Arsyad mampu membuat Nada terdiam. Iya tak menjawab apapun.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah rumah mewah milik keluarga Mandala. Terlihat jelas keluarga Mandala adalah keluarga yang berada.
"Ayuk turun" Arsyad membuka pintu disamping Nada duduk. Dengan langkah berat Nada mengikuti Arsyad.
Flashback Off.
"Bagaimana bisa kalian membuat panik Arsyad. Dan kamu Arsyi... Kenapa usil sekali kepada kakakmu? " Tanya kakek Wira sambil menahan tawa. Terlihat Nada yang menunduk karena malu.
"Entahlah kek... Itu ada orangnya. Kakek tanya ya. Kalau perlu hukum saja mereka berdua kek" Arsyad bersungut_sungut kesal menatap kearah kedua saudaranya. Terdengar gelak tawa di ruangan tersebut. Dan Nada pun semakin malu.
"Hari sudah hampir sore. Kita makan dulu ya" Kakek mengajak mereka semua. Dan dengan sigap Haidar mendorong kursi roda kakek.
Di Meja Makan.
"Ambilkan telur balado dengan sayur sop saja" Kakek menjawab.
"Kakek makan yang banyak. Biar tetap sehat dan kuat" Ucap Arsyad sambil meletakkan mangkok nasi didepannya kembali
"Kakek ini sudah tua. Makan sudah ngoyo Arsyad. Bisa makan ini itu saja sudah bersyukur. Tidak perlu banyal-banyak" Kakek wira mwnyendokkan makanan ke dalam mulutnya sambil menjawab celotehan Arsyad.
"Tapi kakek masih sehat, alhamdulillah lo kek. Di umir yang sudah senja seperti ini badan kakek masih bugar" Arsyad berkata lagi.
" Alhamdulillah... Cuma kaki kakek saja kalau buat jalan terasa sulit" Kakek melanjutkan bicaaranya.
"Kita ngobrolnya nanti lagi ya kek. Makan dulu" Haidar menyela pembicaraan adik dan kakeknya itu.
__ADS_1
"Iye lah iye lah" Arsyad menyebikkan bibirnya. Dan setelah itu mereka makan dengan tenang.
Acara makan sore di rumah Haidar telah selesai. Arsyad segera bangkit dan meraih kursi roda kakek lalu mendorongnya menuju ke ruang tamu. Setelah berhenti iya langsung mendaratkan pantatnya di atas sofa empuk itu.
"Kakek... Bisa cerita ke Arsyad apa yang kakek rasakan. Tadi kan kita ngobrolnya kepending" Setelah duduk Arsyad segera berkata. Iya memandang ke arah kakek Wira di depannya. Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat. Setelah menoleh, ternyata Nada mengikuti mereka berdua.
"Sini, duduk dulu" Arsyad menepuk kursi kosong di sebelahnya. Gadis cantik itu mengangguk dan tersenyum. Selanjutnya iya duduk di samping Arsyad.
"Kek... Cerita aja. Arsyad siap mendengarkan cerita kakek" Arsyad berkata dengan sopan. Sedangkan gadis cantik disampingnya itu mendengarkan.
"Jadi begini Syad. Kakek ini merasa kaki kakek semakin berat saja untuk di gerakkan" Kakek Wira mulai bercerita.
"Awal mulanya bagaimana kek? " Arsyad pun bertanya lagi.
"Sore itu, kakek baru saja dari kantor. Selepas kakakmu kembali. Kamu ingat kan saat Haidar baru pulang dari London beberapa tahun yang lalu? " Kakek bertanya untuk memastikan Arsyad mengingatnya.
"Ingat kek. Saat itu pagi kakak baru datang. Siangnya iya langsung ke kantor untuk mengambil semuanya" Arsyad mengingat dengan jelas semuanya.
"Iya... Saat itu. Saat itu kakek menemani kakakmu. Sepulang dari kantor, kakek merasa tidak enak badan. Badan terasa sangat lelah dan terasa sedikit lemas. Kaki pun terasa sangat berat. Entah apa yang terjadi sama kakek. Kakek hanya berfikir jika itu semua efek dari kelelahan. Kakek langsung pulang sama kakakmu. Sampai dirumah kakek langsung istirahat. Tengah malam saat kakek terbangun. Kakki semakin berat di gerakkan. Kakek masih berfikir positif. Mungkn karena lelahnya. Kakek mencoba untuk tidur lagi. Dan saat bangun pagi. Kaki kakek rasanya sungguh berat" Kakek Wira bercerita dengan mengenang saat-saat iya tidak bisa berjalan kembali.
"Kakek tidak langsung memeriksakan ke dokter? " Arsyad yang penasaran pun segera bertanya kembali.
"Tidak... Karena kakek berfikir jika itu semua mungkin efek dari kecapekan. Ternyata kakek salah. Dan sudah terlambat untuk melakukan pengobatan" Jawab sang kakek dengan raut wajah sedihnya.
"Jadi... Sebenarnya apa yang terjadi kek? " Arsyad tak ingin membuat kakek Wira sedih. Iya bertanya dengan penuh kehati-hatian.
"Entahlah... Sampai sekarang juga belum diketahui penyebabnya. Kakakmu tidak pernah berhenti memperjuangkan kesembuhan kakek" Jawaban sang kakek membuat Arsyad tak mengerti. Mengapa kakek dari kakak iparnya ini sakit seperti itu.
__ADS_1
"Kakak sudah berusaha keras melakukan yang terbaik untuk kakek Syad. Tapi belum membuahkan hasil" Tiba-tiba suara Haidar terdengar dari berlakang Arsyad dan Nada. Mereka semua menolah menatap ke arah asal suara tersebut.